Anda di halaman 1dari 44

PENATALAKSANAAN

KEGAWATDARURATAN MEDIK
PADA PRAKTEK KEDOKTERAN GIGI

8/29/2019
1

David B. Kamadjaja,
KEJADIAN EMERGENCIES DI TEMPAT
PRAKTEK

8/29/2019
 Pasien mendadak menurun kesadarannya saat
hendak dilakukan injeksi anestesi lokal
 Pasien mendadak ‘hilang’ kesadarannya saat
setelah injeksi anestesi lokal

2
CAPAIAN PEMBELAJARAN

8/29/2019
 Mampu menjelaskan perbedaan syncope dan
syok anafilaktik
 Mampu menjelaskan tujuan penatalaksanaan
kegawatdaruratan medik
 Mampu menjelaskan tatalaksana KGD medik
pada syncope dan syok anafilaksis

3
APA YG DIMAKSUD DENGAN
“KEGAWATDARURATAN MEDIK”

8/29/2019
A medical emergency is an injury or illness
that is acute and poses an immediate risk to a
person's life or long term health
(www. wikipedia.org/wiki/Medical_emergency)
 Kegawatdaruratan Medik: Sakit atau
cedera yang terjadi mendadak yang dapat
mengancam kelangsungan hidupnya atau
kesehatannya
4
KEGAWATDARURATAN MEDIK
PADA PRAKTEK KEDOKTERAN GIGI

8/29/2019
 Setiap penurunan, kehilangan, atau gangguan
kesadaran yg terjadi secara mendadak yang
berhubungan dgn perawatan gigi (langsung
atau tidak langsung)
• Langsung  reaksi fisiologis thd obat yang
diinjeksikan
• Tidak langsung  reaksi psikologis penderita dan
reaksi fisiologis yang mengikutinya
• Adanya masalah dengan kesadaran disebabkan
oleh terjadinya gangguan perfusi jaringan otak
(pusat kesadaran)
5
8/29/2019
Normal systemic blood
pressure maintain
adequate perfusion to
brain (center of
consicousness)

6
HOW THE CARDIOVASCULAR SYSTEM MAINTAINS
BLOOD PRESSURE

8/29/2019
Arterial blood pressure is
influenced by
• cardiac output
• diameter of arterioles
(‘peripheral resistance’)
• venous return
• blood volume in the vessel

BP ~ CO = HR X PR

7
KEGAWATDARURATAN MEDIS YANG
SERING TERJADI DI DALAM PRAKTEK
DOKTER GIGI

8/29/2019
 Penurunan kesadaran
 vasovagal syncope (95%)  extracranial
 Serangan epilepsi (seizure) (< 1%)  intracrannial
 Stroke (< 0.1%)  intracranial
 Syok anafilaktik (< 0.01%)  extracranial

 Gangguan kesadaran
 reaksi terhadap obat anestesi lokal (2%)
 Lain-lain: angina pectoris, infark miokardium,
hipoglikemi akut, serangan asmatik,
8
PENURUNAN KESADARAN
VASOVAGAL SYNCOPE

8/29/2019
 kegawatdaruratan medik yang paling sering terjadi
di tempat praktek dokter gigi
 definisi: penurunan kesadaran sementara akibat
berkurangnya cerebral blood flow sebagai akibat
hipotensi mendadak yang merupakan respon
terhadap adanya stres psikis (perasaan takut atau
tegang) atau rasa nyeri hebat.
 simptom: perasaan tidak nyaman, berkeringat
dingin, jantung berdebar-debar (palpitasi),
pandangan gelap dan perasaan akan jatuh pingsan
 klinis: kesadaran menurun, wajah pucat, akral
(tangan dan kaki) terasa basah dan dingin, frekuensi
nadi meningkat, dan tekanan darah menurun
(hipotensi) 9
SYOK ANAFILAKTIK

8/29/2019
 Merupakan salah satu manifestasi Reaksi
Anafilaksis  sangat jarang terjadi di dalam
praktek dokter gigi

 Bila terjadi  fatal, perlu penanganan cepat

10
DEFINITION OF ANAPHYLAXIS

 Systemic allergic reaction

 Affects body as a whole

 Multiple organ systems may be involved

 Onset generally acute

 Manifestations vary from mild to fatal


ANTIGEN TO ANTIBODY RELATIONSHIP
 Antigen
the foreign protein that when taken into the body
stimulates/ formulates specific protective
proteins called antibodies.
 Antibody
a protein produced in the body to response to a
specific antigen (foreign protein) to destroy or
inactivate the antigen. (IgE)
 IgE + antigen attach to mast cell  release
histamine into the blood stream which cause:
 Systemic vasodilation  hypotension, shock
 Increased permeability of blood vessels (arterioles
and capillaries)  edema
COMMON CAUSES OF IGE-MEDIATED
ANAPHYLAXIS
 Foods
 Insect venoms

 Latex

 Medications

 Immunotherapy

 Insect venom
 Inhalant allergens
CLINICAL MANIFESTATIONS OF ANAPHYLAXIS

 Skin: Flushing, pruritus,


urticaria, angioedema
 Upper respiratory:
Congestion, rhinorrhea
 Lower respiratory:
Bronchospasm, throat or
chest tightness, hoarseness,
wheezing, shortness of
breath, cough
CLINICAL MANIFESTATIONS OF
ANAPHYLAXIS
 Gastrointestinal tract:
 Oral pruritus
 Cramps, nausea,
vomiting, diarrhea
 Cardiovascular system:
 Tachycardia,
bradycardia,
hypotension/shock,
arrhythmias,
ischemia, chest pain
“APA TUJUAN PENATALAKSANAAN
KEGAWATDARURATAN MEDIK”

8/29/2019
Melakukan langkah-langkah cepat dan tepat untuk
mempertahankan suplai oksigen ke sel-sel otak, dengan
cara mempertahankan:
1. sistim pernapasan  airway (A), breathing (B)
2. sistim kardiovaskuler  circulation (C)
sampai dapat dilakukan penanganan yang definitif
terhadap penyakit yang mendasarinya

Kematian dapat terjadi dalam waktu 5 menit bila


terjadi kegagalan dalam A, B, C 16
Masalah dengan kesadaran !!!

8/29/2019
Perawatan Live Saving
Penyebab ?? cABC

ABC stabil
1. Syncope – extracranial (EC)
2. Syok anafilaktik (EC)
3. Stroke (CVA) – intracranial
(IC)
4. Epilepsi (IC)

Perawatan definitif
17
LANGKAH-LANGKAH
PENATALAKSANAAN KGDM

8/29/2019
1. Penilaian secara cepat terhadap tingkat
kesadaran (consciousness) AVPU 
intervensi
2. Penilaian secara cepat terhadap sistim
pernapasan & kardiovaskuler (Airway-
Breathing - Circulation)  intervensi

?!?! cABC
intervensi
18
PENILAIAN TINGKAT KESADARAN
“AVPU”

8/29/2019
No Tingkat
gejala klinis GCS
. kesadaran
kesadaran baik (membuka mata, bersuara,
1 Alert 15
gerakan motorik normal)

Kesadaran menurun, dapat merespon


2 Voice 13-14
komunikasi verbal

Kesadaran jauh menurun, ada respon


3 Pain 9-12
motorik terhadap rangsang nyeri

4 Unresponsive Kesadaran (-), respon thd nyeri (-) <9

Penilaian tingkat kesadaran dengan AVPU membantu menilai 19


patensi Airway dan potensi terjadinya obstruksi airway
8/29/2019
Posisi supine/syok  memperbaiki
sirkulasi darah ke otak (bukan untuk
memperbaiki tekanan darah sistemik)

20
POSISI SYOK DI DENTAL CHAIR

8/29/2019
21
Pemulihan Sirkulasi darah otak

8/29/2019
1. Assess Airway intervensi

2. assess Breathing intervensi

3. assess Circulation intervensi

22
AIRWAY
(JALAN NAPAS)

8/29/2019
23
PENILAIAN TERHADAP AIRWAY

8/29/2019
 Hasil penilaian terhadap airway atau jalan
napas meliputi:
 Jalan napas “bebas” atau tidak ada obstruksi
 Jalan napas “terhambat” atau terdapat obstruksi
sebagian
 Jalan napas “tersumbat” atau terdapat obstruksi
total

24
GANGGUAN AIRWAY

8/29/2019
 penderita yang mengalami penurunan kesadaran
(tingkat kesadaran < “Voice”)  potensial terjadi
obstruksi jalan napas.
 penurunan kesadaran yang berat menyebabkan:

1. penurunan tonus otot rangka  jatuhnya


pangkal lidah ke posterior menutup
hipofaring (snoring)
2. jalan napas tersumbat karena akumulasi
ludah, darah di daerah orofaring (gargling)
3. penurunan refleks batuk  aspirasi ke
dalam paru
25
OBSTRUKSI AIRWAY

8/29/2019
26
MEMPERTAHANKAN AIRWAY

8/29/2019
 Untuk mempertahankan jalan napas
pada penderita yang tidak sadar dapat
dilakukan beberapa tindakan yaitu:
1. membersihkan rongga mulut dari benda
asing (misalnya denture)
2. menghisap ludah yang terakumulasi di
orofaring dengan suction apparatus
3. melakukan chin lift, head tilt atau jaw
thrust yang bertujuan untuk mencegah
jatuhnya pangkal lidah ke posterior.
27
MEMPERTAHANKAN AIRWAY
CHIN LIFT & HEAD TILT

8/29/2019
Pada pasien dengan kesadaran menurun (< voice) 28
MEMPERTAHANKAN AIRWAY
JAW THRUST

8/29/2019
29
Pada pasien dengan tingkat kesadaran rendah (< Voice)
MEPERTAHANKAN AIRWAY
GUEDEL OROPHARYNGEAL AIRWAY

8/29/2019
Pada pasien dengan tingkat kesadaran rendah(< voice) 30
BREATHING
 Breathing = kemampuan sistim respirasi (paru)

8/29/2019
untuk memasukkan oksigen dan mengeluarkan
CO2 yang adekuat
 seseorang yang tidak sadar  berpotensi untuk
mengalami masalah breathing
 “look” gerakan naik turun dada penderita
 “listen” suara napas
 “feel” hembusan napas penderita

31
BREATHING

8/29/2019
Yang diperiksa pada “breathing”
 ada pernapasan spontan?

 respiratory rate (frekuensi napas)


 normal  12 -16 kali per menit,
 > 25 x/menit tachypneu (respiratory distress karena
gangguan pada saluran napas, parenkim paru, atau
rongga pleura)
 < 8 x/menit bradypneu (depresi pusat napas)

32
MEMPERTAHANKAN BREATHING

8/29/2019
 Pada penderita yang mengalami penurunan atau
kehilangan kesadaran diberikan terapi oksigen
dengan oksigen murni (100%) dengan kecepatan
aliran 6-8 liter per menit melalui face mask
 Ingat: airway dipertahankan dengan manuver
chin lift/jaw thrust

33
MEMPERTAHANKAN BREATHING
(OKSIGENASI )

8/29/2019
Pasien sadar Pasien tidak sadar

34
MEMPERTAHANKAN AIRWAY DAN BREATHING

8/29/2019
35
PERALATAN UNTUK OKSIGENASI

8/29/2019
1. Tabung oksigen (100% 3
2
oksigen)
2. Keran 5
pembuka/penutup
3. Manometer tekanan 4
udara (pressure gauge)
4. Keran pengatur (air
flow regulator) 1
5. Air flow meter
6. Moisture bottle 6
7. Selang penghubung 7
(ke face mask)

36
CIRCULATION

8/29/2019
 Circulation = kemampuan sistim
kardiovaskuler untuk menyediakan perfusi
jaringan yang cukup untuk transport oksigen
dengan mempertahankan tekanan darah
normal (normotensi)
 Parameter fungsi Circulation (sistim
kardiovaskuler):
 Nadi (pulse) yang meliputi: frekuensi (heart rate),
kekuatan, irama
 Tekanan darah (blood pressure)
37
CIRCULATION

8/29/2019
Bila penderita tidak sadar/kesadarannya
menurun  periksa nadi !
 Nadi arteri radialis
 teraba kuat  tekanan darah adekuat (dalam
batas normal)
 teraba lemah hipotensi (tek. sistolik < 80
mmHg)
 sangat lemah/tidak teraba dengan jelas 
periksa nadi arteri sentralis (arteri carotis)
 Nadi arteri carotis
 Masih teraba  tek.sistolik > 60 mmHg
 Tidak teraba  tek. Sistolik < 60 mmHg (…
syok!!) 38
CIRCULATION
PERABAAN NADI ARTERI CAROTIS

8/29/2019
39
PENANGANAN CIRCULATION
(MEMPERBAIKI TEKANAN DARAH)

8/29/2019
Hipotensi reversible  self limiting  pada
umumnya tidak memerlukan intervensi circulation

Hipotensi irreversible  progresif  syok 


memerlukan intervensi circulation

40
INTERVENSI CIRCULATION
(MEMPERBAIKI TEKANAN DARAH)

8/29/2019
1. Injeksi adrenalin sc/im  meningkatkan
kerja jantung dan vasokonstriksi pemb
darah perifer  mengembalikan
tekanan darah
2. Infus cairan kristaloid (PZ, RL) 
meningkatkan volume cairan
intravaskuler

41
PENANGANAN
VASOVAGAL SYNCOPE

8/29/2019
 posisi supine atau posisi syok
 longgarkan pakaian yang ketat  memperbaiki
venous return ke jantung
 hindarkan kerumunan orang banyak disekitar
penderita agar tidak mengganggu pernapasan
penderita
 beri oksigen dengan menggunakan face mask.
 Bila intervensi dapat dilakukan segera maka
biasanya kesadaran penderita akan kembali dalam
waktu relatif cepat (kurang dari satu menit)
 Setelah kesadaran pulih tetap pertahankan penderita
pada posisi supine, jangan tergesa-gesa
mendudukkan penderita pada posisi tegak karena
dapat terjadi pengulangan kejadian syncope yang
dapat berlangsung lebih berat dan membutuhkan 42
waktu pemulihan lebih lama.
PENATALAKSANAAN ANAPHYLAXIS
 Simple BLS (O2, position, etc)
 epinephrine injection
 Anti Histamines
 Benadryl (IV 25-50 mg, PO 50 mg adult, 25 mg ped)
 Corticosteroids
 Decadron, Solu-medrol, etc
 Mempertahankan tekanan darah
 IV fluids
 Dopamine 5-20 mcg/min
 Epi Drip 2-10 mcg/min
TERIMA KASIH.......

8/29/2019
44