Anda di halaman 1dari 16

‫بسم هللا‪ ,‬السالم عليكم و رحمة هللا و بركاته‬

‫‪KDK‬‬
‫‪Perioperatif‬‬
‫‪II‬‬
FILOSOFI PEMBEDAHAN
Gustiana Satra Dewi Risa Khairunnisyah Linda Safitri Iis Komang Reni Rizqo Aditya Utama
1614301041 1614301042 1614301043 1614301044 1614301045
Filosofi & Pembedahan

Filosofi
Menurut KBBI Pengertian filosofi adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan
menggunakan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab adanya
sesuatu, asal adanya sesuatu dan hukumnya. Misalnya alam semesta, dari
mana asal muasal alam semesta? atau mengapa alam semesta terbentuk?
Pembedahan
Bedah atau pembedahan (Bahasa Inggris: surgery, Bahasa Yunani: cheirourgia
"pekerjaan tangan") adalah spesialisasi dalam kedokteran yang mengobati
penyakit atau luka dengan operasi manual dan instrumen. (Wikipedia)

Filosofi Pendidikan
Hasil perenungan serta aliran pemikiran yang mendalam mengenai
dunia pendidikan, Contoh filosofi pendidikan adalah : hidup dan belajar
dengan melakukan sesuatu.

Filosofi Organisasi
Patokan yang dijadikan tolak ukur organisasi dalam suatu badan agar
berjalan baik. Contoh filosofi organisasi adalah memberikan pelayanan
yang terbaik dengan harga yang menarik

Filosofi Pembedahan
Pengetahuan yang mengawali munculnya serangkaian proses medikal
dalam menuju kesehatan yang lebih baik.
RIWAYAT
Perkembangan
Ilmu Bedah
Keperawatan perioperatif tidak lepas
dari salah satu lmu medis yaitu ilmu bedah.
Dengan demikian, ilmu bedah yang semakin
berkembang akan memberikan implikasi pada
perkembangan keperawatan peroiperatif.

Sejarah tentang bedah sejalan


dengan perkembangan penting dalam bidang
aseptis, anestesi, dan teknik pengendalian
pendarahan. Bukti sejarah menunjukan bahwa
pembedahan telah dilakukan pertama kali
ratusan tahun yang lalu. Saat itu, pembedahan
dilakukan tanpa tindakan untuk mengendalikan
nyeri, pendarahan, atau infeksi.
… RIWAYAT
Perkembangan
Ilmu Bedah
Bedah modern sebenarnya dimulai
oleh ahli bedah militer. Dimedan perang jumlah
dan keparahan cedera mendorong ahli bedah
militer untuk terus menerus melakukan inovasi,
ekperimen, dan berusaha mencapai
keberhasilan baru. Amputasi sering dilakukan
dan infeksi pasca bedah sering terjadi. Hal ini
mendorong penemuan berbagai inovasi untuk
mengatasinya, seperting pemberian minyak
mendidih yang digunakan untuk puntung yang
diamputasi, besi panas yang digunakan pada
luka ringan, dan sebagainya.
B A PA K B E D A H M O D E R N
F I L O S O F I P E M B E D A H A N

ANASTESI
Perubahan dunia anestesi berkembang begitu
cepat. Kejadian yang paling hebat dalam sejarah bedah
adalah penggunaan anestesi umum. Sebelum anestesi
diperkenalkan untuk mengurangi nyeri operasi pasien
hanya diberikan alkohol, laudanum, morfin, atau ditangani
dengan hipnotis. Pada tahun 1772 Joseph Priescly
menemukan nitrogen oksida (NOx), tetapi masih belum
mengetahui sifat anestetiknya. Tahun 1799 Unpray Dafi
melaporkan sifat anestetik nitrogen oksida. Pada
publikasinya, ia menjelaskan preparat ini sebagai “gas
tertawa” dan direkomendasikan untuk digunakan dalam
pembedahan.
Perkembangan
Filosofi Pembedahan Anastesi
.

ANASTESI
Pada 16 oktober 1846 ia berhasil
memberikan eter kepada pasien muda yang
menjalani pangangkatan kista dari lehernya setelah
kejadian itu dipublikasikan, anestesi umum secara
inhalasi mulai digunakan oleh ahli bedah. (Retrock,
2000).
Hanya dalam waktu 100 tahun, anestesi
yang tersedia untuk tindakan pembedahan telah
berkembang. Dari proses sederhana pemberian eter
dengan metode terbuka sampai sedasi, blok
regional, dan teknik endotrakeal umu yang canggih.
Kemajuan di sebagian besar spesialisasi bedah Perkembangan
sangat dibantu oleh penemuan berbagai jenis Anastesi.
anestesi baru, perkembangan teknologi pemantau,
dan identifikasi metode yang lebih baik untuk
mengatasi penyulit.
FILOSOFI PEMBEDAHAN

PENGENDALIAN INFEKSI
& KEMAJUAN TEKNIK ASEPSIS

Setelah pembedahan tanpa nyeri dapat dilakukan


hal ini memungkinkan ahli bedah untuk mulai
memperbaiki ekstremitas yang sakit daripada
mengamputasi nya. Namun demikian, kemajuan
dini mendapat tantangan keefktifan pembedahan,
yaitu resiko infeksi.

Dengan pengetahuan tentang mikrobiologi yang


minim, ahli bedah biasanya menghubungkan
tingkat infeksi dengan niasma atau darah yang
buruk( Gruendemann, 2006).
Pada tahun 1842 Oliver Wendel Holmes menuduh Pengendalian
dokter sebagai pembawa demam masa nifas dari ruang otopsi
ke bangsal perawatan. Holmes mengatakan bahwa mencuci
tangan dalam larutan kalsium klorida mencegah penyebaran
Infeksi
infeksi. Praktik mencuci tangan ini dimulai oleh seseorang dokter
Austria bernama ignaz phillip semmelweis di viaenna. CUCI TANGAN
Penelitian Semmelweis

Semmelweis mengamati bahwa tingkat mortalitas


terjadi lebuih tingggi dibangsal perawatan yang
didatangi mahasiwa kedokteran dari pada bangsal
yang didatangi bidan. Ia mengamati lebih jauh bahwa
mahasiswa kedokteran tersebut keluar dari ruang
otopsi tanpa mencuci tangan, perawat kemudian
melakukan pemeriksaan vagina dan menolong
persalinan. Berdasarkan observasi ini, ia menyurus
seluruh mahasiswanya untuk mencuci tangan
dengan melakukan kalsium klorida. Tahun berikutnya,
mortalitas turun drastis dari 9,92 % menjadi 3,8% ,
bahkan tahun berikutnya turun lagi menjadi 1,27 %.
Semmelweis mempublikasikan temuan ini berulang-
ulang antara tahu 1847 sampai 1861, tetapi ia tetap
terus ditertawakan oleh para koleganya, sama halnya
seperti Holmes (retrock, 2000).
Pada akhir tahun 1800. Riset Pateur adalah tentang hubungan antara mikroorganisme dan
Gagasan Lowuis Pateur & penyakit, sedangkan temuan Lister adalah pengendalian mikroorganisme ( yang saat ini kita
01 Joseph Lister
kenal dengan istilah teknik aseptic) dapat mengontrol infeksi. Lister memperkenalkan teknik
aseptic dengan menyemprot udara di dalam ruang operasi dengan asam karbolat juga mulai
melaksanakan pembersihan kulit dan tangan dengan zat yang sama ( Gruendemann, 2006).

William Halsted mendengar ceramah Lister yang saat itu sedang berkeliling Amerika Serikat.
Kemudian, ia mulai menggunakan antiseptic. Sewaktu seorang perawat mengalami iritasi

02 William Halsted
hebat ditangan akibat asam karbolat, Halsted menghubungi Goodyear Tire Company dan
memperoleh sepasang sarung tangan karet. Sarung tangan tersebut dipakai untuk melindungi
perawat dan ahli bedahnya sedangkan topi dan baju bedah pertama kali digunakan pada tahun
1881, serta tahun 1896 masker mulai digunakan untuk pertama kalinya (Gruendermann, 2006)
INSTRUMENT
BEDAH

Instrumen yang paling diketahui digunakan untuk prosedur


pembedahan dibuat sekitar 35000 tahun lalu. Pada zaman
batu, manusia Neander mengasah sepotong batu api untuk
digunakan dalam trephining atau pengangkatan sekeping
jaringan dengan alat seperti plong. Sampai pertengahan
abad ke 19, instrumen yang dibuat hanya sekitar 200
instrumen. Pada tahun 1900, teridentifikasi sekitar 1000
jenis instrumen. Sedangkan saat ini, 1 pabrik saja dapat
memiliki lebih dari 4500 produk dalam 1 katalok yang lebih
dari 7500 instrumen ( Gruendemann 2006).
Perspektif Historis
Sebelum pertengahan 1840 an, perawat biasanya tidak
berada di dalam kamar operasi. Asisten laki-laki yang kuat ada
untuk menahan pasienselama prosedur operasi yang menyakitkan.
Peran perawat selama fase perioperatif tercatat selama sejarah
Nightingale selama perang Crimean. Perawat berperan untuk
menenangkan, mendukung, dan membantu pasien dalam
mengambil keputusan terkait operasi (Ruthrock 2000). Pada kondisi
tersebut Florence Nightingale selama perang cimean adalah
penurunan tajam angka kematian akibat terluka, dari 42% menjadi
2,2% karena dilakukan pengenalan tentang tindakan sanitasi.
(Donahue,1985 dikutip Grudemann 2006)
Dalam Negeri !
Di indonesia, organisasi yang menaungi peran perawat perioperati
adalah Himpunan Perawat Kamar Bedah Indonesia (HPKABI) yang merupakan
salah satu organisasi dibawah Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).
Organisasi HIMKABI bertujuan meningkatkan profesionalisme perawat kamar
bedah dengan menyusun standar kompetensi kamar bedah. Selain itu juga
bertujuan meningkatkan persatuan dan profesionalisme perawat bedah Indonesia.
Pada Rakernas HIPKABI tahun 2007, tersusunlah 19 standar kompetensi perawat
kamar bedah indonesia yang ditujukan bagi terselenggaranya pelayanan
keperawatan yang bermutu yang dilaksanakan oleh tenaga keperawatan yang
sesuai dengan tingkat kompetensi. Walaupun pada pelaksanaannya akreditasi
terhadap kompetensi serta pengakuan sertifikasi yang dimiliki perawat kamar bedah
belum diatur dalam suatu sistem yang baku ( HIPKABI 2007), tetapi ini merupakan
terobosan awal yang sangat penting dalam menghimpun dan mengorientasikan visi
kamar bedah perawat kamar bedah di kemudian hari.
Thank You
Insert the Sub Title of Your Presentation