Anda di halaman 1dari 34

Askep Pre Operasi

Tn. H dengan Close Fraktur Femur


1/3 Distal

Disusun oleh:
Anugrah Bachrodin Adhnan
Istiqomah Rosidah
Muhamad Ilham
Resty Ayu Kurniantari
Tya Kusumawati
Tujuan
Memahami asuhan keperawatan pre operasi
pada pasien dengan fraktur femur
Definisi
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang,
tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis baik yang
bersifat total maupun parsial (PERMENKES RI, 2014).
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh
trauma atau tenaga fisik (Price dan Wilson, 2007).
Fraktur kolum femur merupakan fraktur
intrakapsular yang terjadi pada bagian proksimal femur
Klasifikasi Fraktur Kolum Femur
Fraktur Kolum Femur
Fraktur collum femur dapat disebabkan oleh trauma langsung
yaitu misalnya penderita jatuh dengan posisi miring dimana
daerah trochanter mayor langsung terbentur dengan benda
keras (jalanan) ataupun disebabkan oleh trauma tidak langsung
yaitu karena gerakan exorotasi yang mendadak dari tungkai
bawah, dibagi dalam :
• Fraktur intrakapsuler (Fraktur collum femur)
• Fraktur extrakapsuler (Fraktur intertrochanter femur)
Fraktur Subtrochanter Femur

• tipe 1 : garis fraktur satu level dengan


trochanter minor
• tipe 2 : garis patah berada 1 -2 inch di bawah
dari batas atas trochanter minor
• tipe 3 : garis patah berada 2 -3 inch di distal
dari batas atas trochanterminor
Fraktur Batang Femur
Fraktur batang femur biasanya terjadi karena trauma
langsung akibat kecelakaan lalu lintas dikota kota besar
atau jatuh dari ketinggian, patah pada daerah ini dapat
menimbulkan perdarahan yang cukup banyak,
mengakibatkan penderita jatuh dalam shock. Dapat terjadi
pada anak-anak atau dewasa, dan dapat dalam bentuk
fraktur tertutup maupun terbuka.
• Fraktur Supracondyler Femur
• Fraktur intercondyler
• Fraktur condyler femur
Manifestasi Klinis
• Deformitas
• Edema
• Ekimosis dari perdarahan
• Spasme otot (involunter dekat fraktur)
• Tenderness
• Nyeri
• Kehilangan sensasi
• Pergerakan abnormal
• Syok hipovolemik
• Krepitasi
Asuhan Keperawatan

Pengkajian
Identitas Pasien Identitas Penanggung Jawab
Nama : Tn. H Nama : Ny. I
Usia : 49 tahun Umur : 49 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki Pekerjaan : IRT
Pekerjaan : Swasta Pendidikan : SD
Pendidikan : SD Alamat : Muntilan
Alaman : Muntilan Hub. dengan : Istri
Tanggal : 14 Oktober pasien
masuk 2017
Dx Medis : Fraktur
femur 1/3
distal
• Keluhan utama: nyeri pada paha kanan terasa seperti tertusuk
dengan skala nyeri 6.
• Riwayat kesehatan sekarang:
Pasien mengalami kecelakaan sepeda motor pada tanggal 13
Oktober 2018, sewaktu pulang dari bekerja jam 19.00 WIB. Pasien
mengatakan mengendarai sepeda motor sendiri untuk menuju ke
rumah kemudian terserempet sepeda motor lain dan terjatuh
dengan posisi tengkurap ke kanan. Kemudian kaki sebelah kanan
tertimpa sepeda motor. Beberapa saat setelah kecelakaan pasien
dibawa ke RS Muntilan tidak diberikan pengobatan hanya
dilakukan pembidaian dan diberi perban. Pasien dirawat di RS
Muntilan satu hari. Kemudian atas permintaan keluarga pasien
dirujuk ke RSO Prof. Dr. R. Soeharso, Surakarta pada anggal 14
Oktober 2017 jam 10.00 WIB. Pasien mengeluh nyeri timbul jika
untuk bergerak, nyeri seperti tertusuk-tusuk, nyeri berlangsung
terus menerus berhenti jika posisi nyaman dan tidak bergerak.
• Riwayat Kesehatan Dahulu
Tidak memiliki riwayat kecelakaan dan rawat
inap di rumah sakit
• Riwayat Kesehatan Keluarga
Tidak ada riwayat penyakit menurun dan menular
• Pola Nutrisi MRS: mendapatkan diit RKTP
• Pola Eliminasi MRS: pasien terpasang dower
catheter
Pola Aktivitas MRS
4
Kemampuan 0 1 2 3 0: Mandiri
perawatan diri 1: dibantu alat
Makan/minum V 2: dibantu orang
Mandi V lain/keluarga/
Toilet
perawat
V 3: dibantu orang
Berpakaian V lain dan alat
Mobilitas V
4: tergantung
ditempat
sepenuhnya
tidur

Berpindah V
ambulasi
(ROM)
Pemeriksaan Fisik
• Kesadaran: Compos mentis
• Tekanan darah: 130/90
• Nadi: 80x/menit
• Suhu: 36,7˚C
• RR: 24x/menit
• GCS: E=4; V=5; M=6
• Genetalia: terpasang kateter ukuran 16 sejak
tanggal 14 Oktober 2017
• Ektremitas atas: tangan kanan dan kiri dapat
melawan tahanan pemeriksa dengan kekuatan
maksimal, terpasang infus RL 20 tpm sejak
tanggal 14 Oktober 2017 di tangan kanan, tidak
ada luka, dapat bergerak bebas, tidak ada edema.
• Ekstremitas bawah: kaki kanan pasien hanya
mampu menggeser tidak mampu mengangkat
kaki. Kaki kiri mampu melawan tahanan dengan
kekuatan penuh.
5 5
• Kekuatan otot:
2 5
Pemeriksaan Lab tanggal 14 Oktober 2017
Jenis pemeriksaan Hasil Satuan Normal
Hb 14,9 gr/dl 13-16
Leukosit 17.300 /mm3 5.000-10.000
Trombosit 266.000 /mm3 200.000-500.000
HCT 44 Vol % 40-48
Masa perdarahan 2 Menit 1-3
Masa pembekuan 4 Menit 2-6
GDS 198 mg/dl 70-100
Uric acid 2,4 mg/dl 3,4-7
Cholesterol acid 173 £ 220
• Pemeriksaan rontgen pada tanggal 14 Oktober
2017 tampak gambaran fraktur femur 1/3 distal
• Pemeriksaan GDS (Gula Darah Sewaktu) 16
Oktober 2017: 146 mg/dl
Terapi tanggal 16 Oktober 2017
• Infus RL 500 ml 20 tpm per intravena
• Injeksi Cefotaxime 2×1 gram per intravena
• Injeksi Ketorolac 3×1 ampul per intravena
• Asam mefenamat 3×1 tablet per oral
• Cascidin (calcium dan multivitamin) 2×1
tablet per oral
Analisis Data
No Data Masalah Penyebab
1 DS : Pasien mengatakan Nyeri akut Agen cedera fisik
P : Nyeri timbul jika
bergerak
Q : seperti ditusuk-tusuk
R : paha kanan
S : Skala nyeri 6.
T : terus menerus

DO : TD: 130/90 mmHg


N: 80 x/ menit
S : 36,7̊C
RR: 24 x/ menit
2 DS : Pasien mengatakan infus dan kateter terpasang Risiko infeksi Prosedur
sejak tanggal 14 Oktober 2017 invasif

DO : Terpasang iv plug di tangan kanan.


Terpasang kateter ukuran 16
Injeksi Cefotaxime 2×1 gram per intravena

3 DS : Hambatan Kerusakan
mobilisasi fisik muskuloskeletal
Pasien mengatakan takut untuk bergerak dan nyeri pada kaki
sebelah kanan jika untuk bergerak
DO :

Pasien tampak bedrest,


Pasien tampak lemah
Kaki kanan pasien bagian paha tampak ada balutan bidai
ADL dibantu oleh keluarga/ perawat
Kekuatan otot
5 5
2 5
Diagnosis Keperawatan
• Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik ditandai dengan pasien

mengatakan nyeri tertusuk-tusuk, dipaha kanan, skala nyeri 6, nyeri terus

menerus.

• Risiko infeksi dengan faktor risiko prosedur invasif ditandai dengan pasien

mengatakan infus dan kateter terpasang sejak tanggal 14 Oktober 2017,

terpasang iv plug di tangan kanan dan terpasang kateter ukuran 16.

• Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan muskuloskeletal

ditandai dengan pasien mengatakan takut untuk bergerak, nyeri pada kaki

sebelah kanan jika untuk bergerak dan pasien tampak bedrest, pasien tampak

lemah, kaki kanan pasien bagian paha tampak ada balutan bidai, kekuatan otot

kaki kanan 2
Intervensi Keperawatan
No Diagnosa Tujuan Intervensi
1 16 Oktober 2017 16 Oktober 2017 16 Oktober 2017
Nyeri akut berhubungan Setelah dilakukan asuhan
a. Kaji karakteristik nyeri
dengan agen cidera fisik keperawatan selama 3 x 24 jam,
pasien.
ditandai dengan: nyeri akut sebagian dengan
b. Berikan teknik non-
DS : Pasien mengatakan kriteria hasil:
farmakologi untuk
P : nyeri  Mampu mengenali
mengurangi nyeri.
q : seperti ditusuk karakteristik nyeri.
r : kaki paha kanan c. Ajarkan teknik relaksasi.
 Mampu mengontrol nyeri
s : skala 6
dengan teknik non- d. Kolaborasikan dengan
t : terus menerus
farmakologi. dokter pemberian analgesik.
Ketorolac 30 mg/ml
 Nyeri berkurang dengan
DO :
skala nyeri 4 dan ekspresi
TD: 130/90 mmHg
wajah rileks. Tanggal 16 Oktober 2017
N: 80 x/ menit
S : 367 oC
RR: 24 x/ menit
No Diagnosa Tujuan Intervensi
2 16 Oktober 2017 16 Oktober 2017 16 Oktober 2017
Risiko infeksi dengan faktor Setelah dilakukan asuhan
a. Observasi tanda dan gejala
risiko prosedur invasif keperawatan selama 3 x 24
infeksi pada pasien.
ditandai dengan: jam, infeksi tidak terjadi
b. Ganti letak iv plug dan
DS : Pasien mengatakan infus dengan kriteria hasil:
dressing sesuai petunjuk
dan kateter sudah terpasang  Pasien terbebas dari tanda-
umum.
sejak tanggal 14 Oktober tanda infeksi (kalor, tumor,
2017. rubor, dolor, fungsio laesa) c. Dressing kateter

 Menunjukkan kemampuan d. Informasikan kepada


DO : Terpasang iv plug di
untuk mencegah timbulnya pasien dan keluarga
tangan kanan. Terpasang
infeksi. mengenai tanda dan gejala
kateter ukuran 16
infeksi.
 Pasien dan keluarga
mengetahui tanda dan e. Kolaborasikan dengan
gejala infeksi. dokter pemberian
antibiotik.
No Diagnosa Tujuan Intervensi
3 16 Oktober 2017 16 Oktober 2017 Setelah 16 Oktober 2017
Hambatan mobilitas fisik berhubungan dilakukan tindakan
 Ajarkan pasien teknik
dengan kerusakan muskuloskeletal ditandai keperawatan selama 3×24
ambulasi dengan
dengan jam diharapkan hambatan
keadaan saat ini
DS : mobilitas fisik pasien
 Latih ADL pada pasien
Pasien mengatakan takut untuk bergerak teratatasi dengan kriteria
secara mandiri
dan nyeri pada kaki sebelah kanan jika hasil:
semampu pasien
untuk bergerak  Keluarga mampu
 Dampingi pasien saat
DO : membantu ADL pasien
melakukan ADL dan
1. Pasien tampak bedrest,  Pasien mampu
ambulasi
mengetahui teknik
2. Pasien tampak lemah  Motivasi pasie dalam
3. Kaki kanan pasien bagian paha tampak ambulasi dengan
melakukan kegiatan
keadaan saat ini
ada balutan bidai  Monitor kegiatan
4. ADL dibantu oleh keluarga/ perawat sehari hari pasien
5. Kekuatan otot 5 5
2 5
Implementasi dan Evaluasi
Nyeri akut b.d agen cedera fisik
Implementasi Evaluasi
Tanggal 16 Oktober 2017 Tanggal 16 Oktober 2017
Pukul 11.30 WIB Pukul 14.30 WIB
 Melakukan pengkajian Evaluasi Hasil
nyeri pada pasien. S:
P : nyeri
q : terus menerus
Perawat
r : kaki paha kanan
s : skala 6
t : terus menerus
O:
TD : 130/90 mmHg
N: 80 x/ menit
S: 367 oC
RR : 24 x/ menit
A : Nyeri akut
P : Lanjutkan intervensi a,b,c, dan d.
Perawat
Tanggal 17 Oktober 2017 Tanggal 17 Oktober 2017
Pukul 09.00 WIB Pukul 09.10 WIB
 Memberi injeksi ketorolac 30 mg/ml S:pasien mengatakan sedikit sakit saat obat masuk
O: Ketorolac 30 mg/ml intravena

Perawat
Pukul 09.30 WIB
S : pasien mengatakan lebih lega
Pukul 09.15 WIB
O: pasien tampak mengikuti teknik napas dalam
 Memberikan teknik napas dalam

Pukul 09.35 WIB


Perawat S: Pasien mengatakan mengerti cara mengurangi nyeri dan sekala nyeri berkurang
menjadi 5
O : Pasien dapat melakukan teknik yang diajarkan namun belum tepat.
Pukul 09.20 WIB Perawat
 Mengajarkan teknik relaksasi napas
dalam, dan skala nyeri Evaluasi Hasil
S:Pasien mengatakan sedikit sakit saat obat masuk. Pasien mengatakan merasa lebih
Perawat
nyaman dan mengerti cara mengurangi nyeri. Skala nyeri 5.
O: Ketorolac 30 mg/ml intravena. pasien tampak mengikuti teknik napas dalam. Pasien
dapat melakukan teknik yang diajarkan namun belum tepat.
A:Nyeri akut teratasi sebagian (mampu mengontrol nyeri, skala nyeri masih 5)
P:Lanjutkan intervensi a, c dan d.

Perawat
Risiko infeksi dengan faktor risiko prosedur invasif
Implementasi Evaluasi
Tanggal 16 Oktober Tanggal 16 Oktober 2017
2017 Pukul 11.50 WIB
Pukul 11.40 WIB S : Pasien mengatakan infus dan kateter terpasang sejak tanggal 14 Oktober
Mengobservasi tanda 2017.
dan gejala infeksi pada O :
pasien. Terpasang iv plug pada tangan kanan pasien. Tidak terdapat bengkak maupun
kemerahan di sekitar tusukan iv plug.Terpasang infus dan kateter ukuran 16
sejak 14 Oktober 2017
Perawat
Perawat

Pukul 12.45 WIB


Pukul 12.30 WIB
S: pasien mengatakan sakit saat ditusuk
Mengganti letak iv plug.
O : infus lancar, tusukan baru ditangan kiri
Perawat Perawat
Implementasi Evaluasi
Pukul 13.00 WIB Pukul 13.10 WIB
Memberikan Cefotaxime 2x1 S:-
O: antibiotik Cefotaxime 2x1 intravena
Perawat

Evaluasi Hasil
Pukul 14.30 WIB
S : Pasien mengatakan infus dan kateter sudah terpasang sejak tanggal 14 Oktober 2017
O : Terpasang iv plug pada tangan kanan pasien. Tidak terdapat bengkak maupun kemerahan di sekitar tusukan
iv plug. Iv plug diganti di tangan kiri. Antibiotik Cefotaxime 2x1

A : Risiko infeksi teratasi sebagian. (tidak tampak bengkak dan kemerahan)


P : Lanjutkan intervensi a,b,c,d dan e.
Perawat

Tanggal 17 Oktober 2017


Tanggal 17 Oktober 2017 Pukul 09.15 WIB
Pukul 09.00 WIB
Menginformasikan kepada pasien S : Pasien dan keluarga mengerti tanda gejala infeksi dan dapat menyebutkan 3 tanda gejala infeksi.
dan keluarga tanda gejala infeksi. O: -
A : Risiko infeksi teratasi
P : hentikan intervensi
Perawat

Perawat
Hambatan mobilitas fisik b.d kerusakan muskuloskeletal
Implementasi Evaluasi
16 Oktober 2017 16 Oktober 2017

Mengajarkan pasien teknik S: pasien mengatakan susah saat melakukan ambulasi karena kaki bila bergeser
ambulasi yang benar (mandi) akan terasa sakit

Mendampingi pasien saat Keluarga mengatakan belum berani memandikan pasien

melakukan ADL dan ambulasi O: pasien melakukan ambulasi dan mandi di bantu oleh perawat
A: masalah belum teratasi (ADL pasien masih dibantu perawat)
Perawat
P: lanjutkan intervensi
Perawat

17 Oktober 2017
Memotivasi pasie dalam 17 Oktober 2017
melakukan kegiatan S: pasien mengatakan sudah mandi dan melalukan kegiatan seperti yang di ajarkan

Memonitor kegiatan pasien perawat kemarin dibantu dengan keluarga


pasien mengatakan masih takut melakukan ambulasi
Perawat
O : pasien tampak bersih
A: masalah teratasi
P: monitor secara kontinu kegiatan pasien
Perawat
Simpulan

• Diagnosa nyeri akut b.d agen cedera fisik teratasi


sebagian ditandai dengan pasien mengatakan skala
nyeri 5, pasien dapat melakukan teknik relaksasi napas
dalam
• Diagnosa risiko infeksi dengan faktor risiko prosedur
invasif teratasi ditandai dengan tidak tampak bengkak
dan kemerahan pada area tusukan infus, pasien dan
keluarga mampu menyebutkan tiga tanda dan gejala
infeksi
• Diagnosa hambatan mobilitas fisik b.d kerusakan
muskuloskeletal teratasi ditandai dengan pasien
melakukan mandi dan ambulasi dibantu oleh keluarga,
pasien tampak bersih.