Anda di halaman 1dari 26

SEJARAH PEKEMBANGAN

AKUPUNKTUR DUNIA
Pertengahan abad ke-XX ilmu
akupunktur bangkit dengan
mengadakan penyesuaian
terhadap tuntutan zaman serta
perkembangan yang ilmiah &
modern.
CINA
 Praktik akupunktur tidak hanya dilakukan
oleh akupunkturis (Pengobatan Cina) tetapi
juga oleh dokter-dokter lulusan Fak.
Kedokteran di Cina.
 Tahun 1951 berdiri INSTITUT PENGOBATAN
AKUPUNKTUR
 Tahun 1955, Ilmu akupunktur merupakan
salah satu mata pelajaran di Fakultas
Kedokteran.
 Tahun 1956 didirikan 5 buah COLLEGE
PENGOBATAN CINA di : Peking, Nanking,
Shanghai, Canton, Cheng Du.
 Tahun 1958 mulai mengintensifkan riset di
bidang pengobatan akupunktur.
 Sejak tahun 1968 dimulai riset penggunaan
akupunktur dalam pembedahan sebagai
ANESTESI.
 Sekitar 4000 kasus operasi yang dapat
dianestesi dengan akupunktur, seperti :
Tonsilektomi, Pencabutan gigi, Appendiktomi,
Sectio Cesaria, Ovariectomi, Pangangkatan
tumor otak.
 Saat ini pengobatan akupunktur mengarah
kepada spesialistik : misalnya Akupunktur
kecantikan (kosmetik) dll.
JEPANG

 Sejak 250 SM, ilmu akupunktur dikembangkan


oleh JOFKU, ahli pengobatan Jepang yang berasal
dari Cina.
 Saat ini banyak sekolah akupunktur di Jepang a.l.
Tokyo, Osaka, Kyoto, Yokohama.
 Diperkirakan ada 500 ribu akupunkturis yang
praktek di Jepang.
KOREA

 Ilmu akupunktur masuk sejak 2000 thn yang lalu.


 Tahun 1963 merupakan tahun kejayaan ilmu
akupunktur di Korea.
 Tahun 1963 Prof. Kim Bong Han ahli biologi dari
Universitas Pyongyang telah meneliti &
menemukan serta mendemonstrasikan secara
HISTOLOGI & ELEKTROBIOLOGIS tentang
MERIDIAN dan TITIK AKUPUNKTUR dalam teori
sistem KYUNG RAK.
 Kyung Rak = CING LUO =
MERIDIAN dinyatakan bahwa :
Titik akupunktur terletak di dalam
korpuskel yg banyak mengandung
DNA (Deoxyribo Nukleid Acid).
Yang berfungsi penting untuk
metabolisme tubuh.
BELANDA

 Akupunkturis WILHELM RHYNE seorang


dokter VOC mengungkapkan pengobatan
rheumatik dengan akupunktur dalam bukunya
yang diterbitkan di London tahun 1683.
PERANCIS
 Akhir abad XVIII LOUISE BERLIOZ mempelajari ilmu
akupunktur, tahun 1863 dalam bukunya
mengungkapkan secara jelas ilmu akupunktur.
 Tahun 1816 LOUISE mempelajari
ELEKTROAKUPUNKTUR.
 Tahun 1825 ELEKTROAKUPUNKTUR mulai
digunakan untuk pengobatan gout, rheumatik dll.
 Awal abad XX seorang konsul Perancis di Cina
bernama SOULIE DE MORAN mempelajari bahasa
Mandain dan ilmu aupunktur.
 Soulie De Moran menerjemahkan buku akupunktur
dari bahasa Mandarin ke Bahasa Perancis &
menganjurkan dokter Perancis belajar akupunktur.
 Buku Louise Berlioz tentang akupunktur & moksibusi
merupakan buku akupunktur pertama di negara
barat.
 Saat ini FRENC NATIONAL SERVICE telah mengakui
pengobatan akupunktur.
 Lebih dari 10 RS yg mempunyai pelayanan
akupunktur.
 Beberapa organisasi akupunktur di Perancis :
LA SOCIATE FRANCAISE D’ACUPUNCTUR ,
L’ORGANIZTION POUR ETUDE et LE DEVELOPMAN de
L’ACUPUNCTURE.
INGGRIS

 Awal abad XIV JHON TWEEDALE tokoh akupunktur


dari Lymne Regis pertama kali mengenalkan Ilmu
Akupunktur.
 Tahun 1827 dr.John Ecliotson dai St. Tomas Hospital
melaporkan hasil pengobatan akupunktur terhadap
100 kasus rheumatik menahun.
 FELIX MANN menyebarkan ilmu akupunktur dengan
menerbitkan buku :
1. The ancient Chinese art healing.
2. Acupuncture points.
3. Anatomical Chart’s Of Acupuncture Points.
4. Meridian & Extra Meidian Atlas Of Acupuncture.
JERMAN

 Tahun 1712 dr. Engelbrecht Kapter menulis


pengalamannya dalam buku Curatio Colicae
Per Acupuncturen Japoni Bus Usitata.
 Tahun 1959 dr. Gerhard Bachman judul
bukunya DIE ACUPUNCTUREN EINE ORDUNGS
THERAPI.
AMERIKA SERIKAT
 Ilmu akupunktur berkembang di New York & San
Francisco di lingkungan Cina Town.
 Di Elstein Hospital & Massachuset Hospital dilakukan
penyelidikan anestesi dengan akupunktur.
 Dr.Allen Russek ( Institute of Rehabilitation &
Medicine) New York berhasil mengobati nyeri kronis
dengan akupunktur.
 Di Michigan’s Hospital telah dilakukan anestesi
dengan akupunktur untuk pembedahan : Cangkok
kulit, eksisi tumor, operasi hernia, pencabutan gigi.
Semuanya berhasil memuaskan.
AKUPUNKTUR DALAM WORLD HEALTH
ORGANIZATION (WHO)

Upaya Badan Kesehatan Dunia/ WHO untuk


Akupunktur adalah sebagai berikut :
I. Nomenklatur tentang indikasi dan kontraindikasi
penggunaan akupunktur.
- Standardized by The WHO Western Pacific
Regional Consultation 1984
- Diperbarui di Genewa th.1991 sebagai Report of
a WHO Scientific Group yang disebut “Proposed
Standard International Acupuncture Nomenclature”
Pada dokumen tersebut tercantum :
- Indikasi Pengobatan Akupunktur
1. Saluran Pernafasan
berbagai radang yang ditujukan untuk mengatasi
kondisi
alergfi dan meningkatkan daya tahan tubuh.
2. Gangguan pada mata
Kelainan pada mata yang bersifat radang dan fungsional
3. Mulut
Untuk penanggulangan nyeri pada pencabutan gigi dan
kondisi radang
4. Saluran pencernaan dan lambung
5. Syaraf
6. Muskuloskeletal/ otot dan tulang
II. Guidelines on Basic Training and Safety in
Acupuncture, WHO/EDM/TRM/99.1
Tentang Tata Cara Pendidikan dan Pelatihan
Akupunktur yang dapat dipertanggungjawabkan
secara profesional.
WORLD FEDERATION OF ACUPUNCTURE
SOCIETY (WFAS)

Kongres diadakan setiap dua tahun sekali dengan


bergantian negara, WFAS kurang lebih beranggotakan
35 negara.
Yang pernah selenggarakan di Indonesia pada
tahun 2006 di Bali
Tahun 2012 yang akan datang Indonesia akan
menjadi tuan rumah kembali dan diselenggarakan
Yogyakarta
Dasar Hukum dan Perundang-Undangan Indonesia
yang Berhubungan dengan Akupunktur
1. SK Menteri Kesehatan RI No.037/Binhub/1973 tentang Wajib
daftar akupunktur
2. UU No.23 Th.1992 tentang Kesehatan pasal 47, yaitu pada
hakikatnya menuju upaya mensejahterakan masyarakat melalui
pelayanan pengobatan tradisional sebagai pengobatan
komplementer dan alternatif yang dapat
dipertanggungjawabkan.
3. Permenkes RI No.1186/MENKES/Per/VI/1996 tentang
Pelayanan Akupunktur dalam sistem pelayanan kesehatan
formal
5. Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1076/KEPMENKES/
VII/2003 tentang penyelenggaraan pengobatan tradisional.
6. Keputusan Menteri Kesehatan No.1277/KEPMENKES/
VIII/2003 tentang Tenaga Akupunktur lulusan Diploma Tiga
(D-III) merupakan salah satu tenaga kesehatan yang masuk
dalam rumpun keterapian fisik.
Bagaimana Mengaplikasikan Dasar Hukum dan
Perundangan di Masyarakat?

Perlu diketahui :
1. Sumber Daya Manusia Akupunktur di Indonesia :
a. Dokter : Sampai saat ini dihasilkan pendidikan
akupunktur dari non formal dalam bentuk kursus/
belajar dari luar negeri.
b. Paramedis : Pendidikan akupunktur dari kursus,
mulai tahun 2006/2007 mulai dihasilkan lulusan
akupunkur pertama dari D-III yaitu dari Akademi
Akupunktur Surabaya.
c. Non Medis/ Non paramedis : Dihasilkan dari
kursus baik di dalam maupun luar negeri.
2. Sarana Pelayanan Akupunktur di Indonesia
a. RS : Pemerintah maupun Swasta
b. Puskesmas
c. Klinik pemerintah maupun swasta
d. Praktik perorangan
3. Selain itu terdapat pelayanan yang dibentuk oleh
badan swasta sebagai kepanjangan tangan badan
asing, baik yang secara legal maupun ilegal
Dasar Hukum SDM Akupunktur
Diawali oleh SKB Direktur Jenderal Pembinaan
Kesehatan Masyarakat DEPKES:
365/Binkesmas/DI/III/1990 dan Direktur Jenderal
Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda, dan Olah Raga
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI
KEP.17/E/L/1996 tentang: “Pembinaan Pendidikan Luar
Sekolah yang Diselenggarakan Masyarakat dan
Pemanfaatan tenaga yang dihasilkan”.
Dijelaskan bahwa:
Kursus akupunktur sebagai pendidikan luar sekolah
menghasilkan tenaga praktisi yang pemanfaatannya
oleh DEPKES RI sebagai Pelayanan kesehatan untuk
Masyarakat.
 Sebelumnya telah diterbitkan SKB tiga
Departemen (Depdagri, Depdikbud, dan
Depkes) No.263/E.2/4/86 tentang Peleburan
organisasi profesi akupunktur dalam satu
wadah Persatuan Akupunkturis Seluruh
Indonesia disingkat PAKSI yang memenuhi UU
No.8 th.1985 tentang Organisasi
Kemasyarakatan
 Tahun 1990 – 1995
Tenaga akupunkturis masih sangat terbatas
dimanfaatkan oleh Pelayanan Kesehatan
Formal dan sebagian besar masih suka praktik
perorangan dengan rekomendasi PAKSI
sebagai mitra Diknasdepdikbub dan Dinas
Kesehatan Daerah.
 Setelah disahkan UU No.23 Tentang
Kesehatan Pasal 47
Diperkuat oleh GBHN 1993 tentang
pemanfaatan pengobatan tradisional, dirasa
perlu membentuk Sentra Pengembangan dan
Penerapan Pengobatan Tradisional (SP3T)
dengan dasar SK Menkes
No.0584/MENKES/SK/VI/1995, dimana SP3T
pertama ada di Surabaya, salah satunya
terdapat Laboratorium Penelitian,
Pengembangan, dan Pelayanan Akupunktur
(LP3A), kolaborasi dengan WHO.