Anda di halaman 1dari 14

KEPERAWATAN KRITIS

ISU END OF LIFE DAN PSIKOSOSIAL


ASPEK DARI KEPERAWATAN KRITIS

KELOMPOK 4 :
1.AGUS IMAM KUSAIRI
2.HENDI HERDIYAN
3.MARIANA OKTAVIANE NGULA
4.MERE RAHMAN
Latar Belakang
Semua orang akan mengalami apa yang dikenal sebagai
pengalaman akhir-hidup (end of life) dan proses-kematian
(dying). Hal ini dapat terjadi pada pasien kritis dengan
penyakit terminal atau yang tidak dapat disembuhkan,
baik dalam perawatan aktif maupun paliatif di rumah
sakit, maupun di dalam komunitas.

Banyak faktor yang mempengaruhi kualitas dari layanan


perawatan akhir-hidup (end of life), antara lain peran dan
kerjasama antara pasien,keluarga (serta pengambil
keputusan), dan petugas kesehatan termasuk dokter, perawat
dan lainnya, yang bekerja di rumah sakit maupun panti
perawatan. Kebutuhan Psikososial dari pasien perawatan
kritis bergantung dari kondisi serta latar belakang dari
pasien tersebut, termasuk kondisi kesehatan fisik, mental,
budaya, kepercayaan,keluarga dan sebagainya.
Isu End Of Life
A. Pengertian End of Life

End of life merupakan salah satu tindakan yang membantu mening


katkan kenyamanan seseorang yang mendekati akhir hidup
(Ichikyo, 2016)

End of life care adalah perawatan yang diberikan kepada orang-


orang yang berada di bulan atau tahun terakhir kehidupan mereka
(NHS Choice, 2015)

End of life akan membantu pasien meninggal dengan bermartabat.


Pasien yang berada dalam fase tersebut biasanya menginginkan
perawatan yang maksimal dan dapat meningkatkan kenyamanan
pasien tersebut. End of life merupakan bagian penting dari
keperawatan paliatif yang diperuntukkan bagi pasien yang
mendekati akhir kehidupan.
Prinsip-Prinsip End Of Life
Menghargai kehidupan dan perawatan dalam Transparansi dan akuntabilitas
kematian

Hak untuk mengetahui dan memilih Perawatan non diskriminatif

Menahan dan menghentikan pengobatan dalam Hak dan kewajiban tenaga kesehatan
mempertahankan hidup

Sebuah pendekatan kolaboratif dalam Perbaikan terus-menerus


perawatan
Teori The Peaceful End Of Life (EOL)
Teori Peacefull EOL ini berfokus kepada 5 kriteria utama dalam perawatan end of life pasien yaitu :

1. Bebas Nyeri
Bebas dari penderitaan atau gejala
5. Kedekatan dengan Keluarga distress adalah hal yang utama yang
Kedekatan adalah “perasaan menghubungkan diinginkan pasien dalam pengalaman
antara antara manusia dengan orang yang End of Life.
menerima pelayanan” (Ruland & Moore, 1998).
Ini melibatkan kedekatan fisik dan emosi 2. Merasa Nyaman
yang diekspresikan dengan kehangatan,
dan hubungan yang dekat (intim). “Sebagai kebebasan dari ketidaknyama
nan, keadaan tenteram dan damai, dan
4. Merasakan Damai apapaun yang membuat hidup terasa me
nyenangkan” (Ruland and Moore, 1998).
Damai adalah “perasaan yang tenang,
harmonis, dan perasaan puas, (bebas)
dari kecemasan, kegelisahan, khawatir,
3. Merasa berwibawa dan dihormati
dan ketakutan” (Ruland & Moore, 1998).
Tenang meliputi fisik, psikologis, dan di Setiap akhir penyakit pasien adalah “ ingin
mensi spiritual. dihormati dan dinilai sebagai manusia”
(Ruland & Moore, 1998).
Isu End of Life
“Do Not Resuscitate (DNR)”

a. Konsep Do Not Resucitation

Do Not Resuscitate (DNR) atau Jangan Lakukan Resusitasi


merupakan suatu tindakan dimana dokter menempatkan
sebuah instruksi berupa informed concent yang telah disetujui
oleh pasien ataupun keluarga pasien di dalam rekam medis
pasien, yang berfungsi untuk menginformasikan staf medis lain
untuk tidak melakukan resusitasi jantung paru (RJP) atau
cardiopulmonary resuscitation (CPR) pada pasien. American Heart Association (AHA) mengganti istilah DNR (Do Not
Resusitate) dengan istilah DNAR (Do Not Attempt Resuscitate) yang
artinya adalah suatu perintah untuk tidak melakukan resusitasi terhadap
pasien dengan kondisi tertentu, atau tidak mencoba usaha resusitasi jika
memang tidak perlu dilakukan, sehingga pasien dapat menghadapi
kematian secara alamiah, sedangkan istilah DNR (Do Not Resuscitate)
mengisyaratkan bahwa resusitasi yang dilakukan akan berhasil jika kita
berusaha (Brewer, 2008).
Saat Menghentikan RJP
Menurut AHA (2015). Part 3: Etichal Issues

1. Situasi membahayakan penolong (cedera serius atau ancaman kematian)


2. Tanda pasti kematian ireversibel
– Rigor mortis
– Decapitation
3. Valid advance directive
4. DNR order
b. Tahapan DNR
Beberapa standar yang harus dilakukan pada saat
diskusi menentukan keputusan DNAR yaitu, dokter
Formulir DNR harus ditandatangani oleh harus menentukan penyakit/kondisi pasien,
pasien atau oleh pembuatan keputusahan menyampaikan tujuan, memutuskan prognosa, potensi
yang diakui atau dipercaya oleh pasien jika manfaat dan kerugian dari resusitasi (CPR),
pasien tidak dapat membuat atau memberikan rekomendasi berdasarkan penilaian
berkomunikasi kepada petugas kesahatan. medis tentang manfaat/kerugian CPR.

1 2 3 4

Sebelum menulis form DNR, dokter harus Dokter dan pasien harus
mendiskusikannya dengan pasien atau menandatangani
. formulir tersebut,
seseorang yang berperan sebagai pengambil menegaskan bahwa pasien akan diakui
keputusan dalam keluarga pasien. Semua hal secara hukum keputusan perawatan
yang didiskusikan harus didokumentasikan kesehatannya ketika telah memberikan
dalam rekam medis. persetujuan instruksi DNR
c. Peran Perawat dalam Pelaksanaan DNR

Perawat sebagai care giver dituntut untuk tetap


memberikan perawatan pada pasien DNR tidak
berbeda dengan pasien lain pada umumnya,
perawat harus tetap memberikan pelayanan
sesuai dengan advice dan kebutuhan pasien
tanpa mengurangi kualitasnya. End of life care
yang perawat lakukan dengan baik diharapkan
dapat memberikan peacefull end of life bagi
pasien.

Perawat sebagai advokat pasien, menerima dan


menghargai keputusan pasien/keluarganya
sekalipun keputusan tersebut tidak sesuai
dengan harapan perawat, karena perawat tidak
dibenarkan membuat keputusan untuk pasien
/keluarganya dan mereka bebas untuk
membuat keputusan (Kozier et al, 2010).
d. Prinsip Etik Pelaksanaan DNR

2. Prinsip etik beneficence


1. Prinsip etik otonomy Pada etik ini, perawat memberikan informasi 3. Prinsip etik nonmalefecience
Perawat memberikan edukasi tentang akurat mengenai keberhasilan resusitasi,
Pada etik ini, perawat membantu dokter
proses tersebut dengan cara-cara yang baik manfaat dan kerugiannya, serta angka harapan
dalam mempertimbangkan apakah RJP
dan tidak menghakimi pasien/keluarga hidup pasca resusitasi, termasuk efek samping/
dapat dilakukan atau tidak terutama pada
dengan menerima saran/masukan, tetapi komplikasi yang terjadi, lama masa perawatan,
pasien dengan angka harapan hidup
mendukung keputusan yang mereka serta penggunaan alat bantu pendukung kehidu
relatif kecil dan prognosa yang buruk.
tetapkan. pan yang memerlukan biaya cukup besar
e. Dilema Etik
Di Indonesia, kebijakan DNR sudah lama diterapkan namun masih menjadi dilema bagi
tenaga medis termasuk perawat. Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 519/Menkes/Per/Iii/2011 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayan
an Anestesiologi dan Terapi Intensif di Rumah Sakit, disebutkan didalamnya bahwa
prosedur pemberian atau penghentian bantuan hidup ditetapkan berdasarkan klasifikasi
setiap pasien di ICU dan HCU yaitu semua bantuan kecuali RJP (DNAR = Do Not
Attempt Resuscitation), dilakukan pada pasien-pasien dengan fungsi otak yang tetap
ada atau dengan harapan pemulihan otak, tetapi mengalami kegagalan jantung, paru
atau organ lain, atau dalam tingkat akhir penyakit yang tidak dapat disembuhkan.

Tidak dilakukan tindakan-tindakan luar biasa, pada pasien-pasien yang jika diterapi
hanya memperlambat waktu kematian dan bukan memperpanjang kehidupan.Untuk
pasien ini dapat dilakukan penghentian atau penundaan bantuan hidup.Sedangkan
pasien yang masih sadar dan tanpa harapan, hanya dilakukan tindakan terapeutik/
paliatif agar pasien merasa nyaman dan bebas nyeri (Depkes, 2011).
Psikososial Aspek dari Keperawatan Kritis
Insert the title of your subtitle Here

1. Stress Pada Pasien 2. Kecemasan Pada Pasien


Pasien – pasien yang dirawat diruangan ICU adalah pasien
Pasien yang dirawat di ICU adalah pasien yang sakit gawat
– pasien yang sedang mengalami keadaan kritis.Keadaaan
bahkan dalam keadaan terminal yang sepenuhnya
kritis merupakan suatu keadaan penyakit kritis yang mana
tergantung pada orang yang merawatnya dan memerlukan
pasien sangat beresiko untuk meninggal. Pada keadaan
perawatan secara intensif.Pasien ICU yaitu pasien yang
kritis ini pasien mengalami masalah psikososial yang
kondisinya kritis sehingga memerlukan pengelolaan fungsi
cukup serius dan karenanya perlu perhatian dan
sistem organ tubuh secara terkoordinasi, berkelanjutan, dan
penanganan yang serius pula dari perawat dan tenaga
memerlukan pemantauan secara terus menerus
kesehatan lain yang merawatanya. Faktor Predisposisi
(Hanafie, 2012).
ansietas yaitu faktor biologis, faktor psikologis, sosial
Pasien ICU tidak hanya memerlukan perawatan dari segi
budaya. Faktor presipitasi ansietas adalah
fisik tetapi memerlukan perawatan secara holistik. Menjalani
- Ancaman terhadap integritas seseorang meliputi ketidak
perawatan di ruang ICU dapat menimbulkan stressor bagi
mampuan fisiologis yang akan datang atau menurunnya ka
pasien dan keluarga.Stressor yang dialami pasien dapat
pasitas untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari.
berupa stressor fisik, lingkungan serta psikologis.
- Ancaman terhadap sistem diri seseorang dapat membaha
Faktor- faktor yang berkontribusi terhadap kejadian stress
yakan identitas, harga diri, dan fungsi social yang terintegri
pada pasien hospitalisasi di ICU diantaranya pengalaman dirawat
tas seseorang.
sebelumnya, nyeri, kecemasan, lingkungan asing dan ketakutan.
Lanjutan

3. Kondisi Spiritual Pasien Kritis

Distress spiritualitas menyebabkan individu mencari tahu sesuatu yang terjadi pada dirinya yang menyebabkan
individu merasa sendiri dan terisolasi dari orang lain. Seseorang yang berada di ruang Intensive Care Unit umumnya
merasa ketakutan terhadap nyeri fisik, ketidaktahuan, kematian dan ancaman terhadap integritas.Pasien mungkin
mempunyai ketidakpastian tentang makna kematian sehingga mereka menjadi rentan terhadap distress spiritual.
Terdapat juga klien yang mempunyai rasa spiritual tentang ketenangan yang membuat mereka mampu untuk
menghadapi kematian tanpa rasa takut (Potter & Perry, 2010).

Pasien yang dirawat di ICU bukan hanya mengalami masalah fisik, psikis dan sosial, tetapi mengalami masalah pada
spiritualitas sehingga pasien kehilangan hubungan dengan Tuhan dan hidup tidak berarti. Perasaan-perasaan tersebut
menyebabkan seseorang menjadi stres dan depresi berat menurunkan kekebalan tubuh dan akan memperberat
kondisinya (Young & Koopsen, 2015).
Thank you
SEKIAN