Anda di halaman 1dari 19

UJIAN PROPOSAL

Hubungan Skor Kecemasan dengan Skor


Dispepsia dan Skor GERD Pada Pasien
Dispepsia Rawat Jalan

Afifa Intifadha H. / G0014009


LATAR BELAKANG
DISPEPSIA Overlap syndrome GERD
15 – 30 % orang dewasa 1 dari 5 orang dewasa di AS
menderita dispepsia. mengalami heartburn / 1 minggu,
Di negara Barat prevalensi dan > 40% mengalaminya /
dispepsia 7 – 41 %. 1 bulan.

10 – 20 % yang mencari pertolongan medis


(Djojoningrat, 2009) Indonesia? (Makmun, 2009)

EMS
Stimulasi SSO
KECEMASAN
(Jones et al., 2006)
Masalah kesehatan jiwa dengan
prevalensi tertinggi.
”Semakin tinggi tingkat kecemasan, semakin parah
1/3 populasi mengalami kecemasan. pula dispepsia fungsional”
(Chen et al., 2006)

Di Indonesia, 6% penduduk diatas 15 “Semakin tinggi skor kecemasan, semakin tinggi


pula skor dispepsia”
tahun mengalami kecemasan dan depresi. (Kusuma et al, 2011)
(Bandelow dan Michaelis, 2015; Riskesdas, 2013)
RUMUSAN MASALAH
Apakah ada hubungan antara skor kecemasan dengan skor dispepsia dan skor GERD pada pasien
dispepsia rawat jalan?

TUJUAN
Tujuan Umum
Mengetahui hubungan antara skor kecemasan dengan skor dispepsia dan skor GERD pada
pasien dispepsia rawat jalan.

Tujuan Khusus
1. Mengetahui hubungan antara skor kecemasan dengan skor dispepsia.
2. Mengetahui hubungan antara skor kecemasan dengan skor GERD.
MANFAAT PENELITIAN
Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber referensi ilmiah mengenai hubungan antara
skor kecemasan dengan skor dispepsia dan skor GERD pada pasien dispepsia rawat jalan.

Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan oleh dokter umum dan dokter spesialis dalam
mempertimbangkan tindakan atau tatalaksana pasien dispepsia dan GERD.
TINJAUAN PUSTAKA

KECEMASAN

DISPEPSIA

GERD

HUBUNGAN
TINJAUAN PUSTAKA
“Status perasaan tidak menyenangkan yang terdiri atas respon-respon
psikofisiologis terhadap antisipasi bahaya yang tidak riil atau yang
DEFINISI terbayangkan secara nyata disebabkan oleh konflik intrapsikis yang tidak
KECEMASAN diketahui” (Dorland, 2002)

• Respon Fisiologi : gejala pada fungsi tubuh.


• Respon Perilaku : gelisah, hiperventilasi, terkejut, bicara cepat, dst.
GEJALA • Respon Kognitif : konsentrasi buruk, pelupa, bingung, dst.
DISPEPSIA • Respon Afektif : curiga, tidak sabar, gugup, tegang, dst.
(Stuart dan Sundeen, 2007; Hawari, 2001; Suliswati, 2005)

• Keluarga
• Pengalaman Hidup
• Kepribadian
GERD FAKTOR •

Konsumsi Obat
Keadaan Medis Umum
• Pengetahuan
• Cemas Ringan (Fricchione, 2004; Maramis, 2005; Nevid et al., 2005;
• Cemas Sedang Kaplan dan Sadock, 2010)
HUBUNGAN DERAJAT •

Cemas Berat
Panik
(Videbeck, 2008; Stuart dan Sundeen, 2007)
TINJAUAN PUSTAKA
“Kumpulan gejala yang terdiri dari nyeri ulu hati, mual, kembung, muntah,
DEFINISI rasa penuh atau cepat kenyang, dan sendawa” (Djojoningrat, 2009)
Esofago-gastro-duodenal
KECEMASAN •
• Konsumsi Obat-Obatan
ETIOLOGI • Hepato-bilier dan pankreas
• Penyakit Sistemik
• Gangguan Fungsional
Genetik dan Riwayat Keluarga
DISPEPSIA
• (Djojoningrat, 2009)
• Konsumsi Rokok
FAKTOR Konsumsi Obat-Obatan

RISIKO • Konsumsi kopi dan alkohol
• Stress
• Hipersensitivitas Viseral
GERD • Infeksi Helicobacter pylori
Dismotilitas Gastrointestinal (Drossman dan Dumitrascu, 2006)

PATO- • Disfungsi Otonom
FISIOLOGI • Aktivitas Mioelektrik Lambung
• Hormonal
HUBUNGAN •

Diet dan Lingkungan
Psikologis

(Djojoningrat, 2009; Yarandi dan Christie, 2013)


GEJALA DISPEPSIA

“Kumpulan gejala yang terdiri dari nyeri ulu hati, mual, kembung, muntah, rasa penuh atau cepat kenyang, dan sendawa” (Djojoningrat, 2009)

Dispepsia Organik Dispepsia dengan kelainan struktural yang didapat melalui pemeriksaan endoskopi.

Dispepsia Fungsional
Kriteria Diagnostik Roma III

Gejala umum dispepsia fungsional:


• Rasa penuh setelah makan yang mengganggu
• Perasaan cepat kenyang
• Nyeri ulu hati
• Rasa terbakar di epigastrium
• Tidak ditemukan kelainan struktural

* Kriteria terpenuhi bila gejala-gejala di atas terjadi sedikitnya dalam 3 bulan terakhir, dengan awal mula gejala
timbul sedikitnya 6 bulan sebelum diagnosis.
(American Journal of Gastroenterology, 2010)
TINJAUAN PUSTAKA

“GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) adalah suatu gangguan berbaliknya


isi lambung ke dalam esofagus, menyebabkan berbagai gejala akibat
KECEMASAN DEFINISI
keterlibatan esofagus dan saluran napas” (Makmun, 2009)

• Refluks spontan pada relaksasi LES yang tidak adekuat.


ETIOLOGI • Aliran retrograd yang mendahului kembalinya tonus LES setelah
& PATO- menelan.
DISPEPSIA GENESIS • Peningkatan tekanan intraabdomen.
(Makmun, 2009)
1 dari 5 orang dewasa di AS mengalami heartburn sekali tiap minggu,
dan > 40% mengalaminya sekali tiap bulan.
EPIDEMI- Prevalensi esofagitis di AS ~ 7 %.
OLOGI
GERD Di RSCM 20 % dari pasien dispepsia yang diendoskopi mengalami esofagitis.

(Makmun, 2009; Syafruddin, 1998)


• Heartburn
• Rasa nyeri atau tidak enak di epigastrium atau retrosternal
• Kesulitan menelan makanan
HUBUNGAN GEJALA •

Rasa mual atau pahit di lidah (regurgitasi)
Bisa timbul odinofagi

(Makmun, 2009)
HUBUNGAN KECEMASAN DENGAN DISPEPSIA DAN GERD

Cemas
Stress Emotional Neuroendokrin Aktivasi CRF Sekresi adrenalin dan kortisol
Motoric
System
Saraf Otonom Saraf Simpatis Sekresi norepinefrin

Menggeser sistem kekebalan mukosa lambung

Nukleus motorik
dorsalis N. Vagus Sekresi asetilkolin,
Saraf Parasimpatis
gastrin, histamin

Dispepsia Keterlambatan pengosongan lambung


Overlap syndrome Peningkatan sekresi asam lambung
GERD Dismotilitas gastrointestinal

(Jones et al., 2006; Mayer dan Collins, 2002; Yarandi dan Christie, 2013)
KERANGKA PEMIKIRAN
HIPOTESIS
Terdapat hubungan antara skor kecemasan dengan skor dispepsia dan skor GERD
pada pasien dispepsia rawat jalan.
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian : Observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional
Lokasi Penelitian : Klinik pratama
Subjek Penelitian : Populasi : seluruh pasien rawat jalan dengan dispepsia di klinik pratama
Sampel : populasi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi
KRITERIA INKLUSI KRITERIA EKSKLUSI
• Pasien rawat jalan dengan dispepsia • Pasien dengan riwayat keluarga kanker saluran cerna bagian atas.
yang datang ke klinik pratama. • Pasien dengan penurunan berat badan karena sebab yang tidak jelas.
• Pasien berusia 18 - 45 tahun. • Pasien dengan perdarahan saluran cerna.
• Bersedia mengikuti penelitian dan • Pasien dengan disfagia progresif.
menandatangani informed consent. • Pasien muntah persisten.
• Pasien teraba massa atau limfadenopati.
• Pasien ikterus.
• Pasien mengonsumsi NSAID secara teratur.
• Pasien dengan riwayat operasi saluran cerna bagian atas dan pasien hamil.

Teknik Sampling : Purposive sampling


Besar Sampel : Dengan rule of thumb, untuk penelitian bivariat sampel minimal adalah 30.
METODE PENELITIAN
Rancangan Penelitian
METODE PENELITIAN
Definisi Operasional Variabel
VARIABEL JENIS DEFINISI ALAT UKUR SKALA
Skor Kecemasan Variabel Suatu reaksi emosional yang disertai dengan perasaan Taylor Manifest Anxiety Numerik
bebas ketidakpastian, rasa tidak aman, terisolasi dan Scale (TMAS) Skor : 10 - 50
kekhawatiran yang timbul akibat ancaman terhadap
dirinya.
Skor Dispepsia Variabel Kumpulan gejala atau sindrom yang terdiri dari nyeri Nepean Dyspepsia Index Numerik
terikat ulu hati, mual, kembung, muntah, rasa penuh atau (NDI) Skor : 10 - 50
cepat kenyang, dan sendawa.
Skor GERD Variabel Suatu keadaan patologis di mana cairan asam lambung Gastroesophageal Reflux Numerik
terikat mengalami refluks sehingga masuk ke dalam esofagus Disease Questionnaire Skor : 0 - 18
dan menyebabkan gejala. (GERD-Q)
Genetik, diet, dan Variabel - (Tidak diteliti) -
lingkungan perancu
METODE PENELITIAN
Instrumentasi Penelitian
• Kuesioner Lie Minnesota Multiphasic Personality Inventory (L-MMPI)
• Kuesioner Taylor Manifest Anxiety Scale (TMAS)
• Kuisioner Nepean Dyspepsia Index (NDI)
• Gastroesophageal Reflux Disease Questionnaire (GERD-Q)

Prosedur Penelitian
1. Mengurus perizinan penelitian.
2. Melakukan penelitian di klinik pratama.
3. Mengumpulkan data pasien rawat jalan yang didiagnosis dengan dispepsia.
4. Menjelaskan kepada subjek tentang penelitian yang akan dilakukan dan memperoleh informed consent.
5. Mengambil data dengan pengisian kuisioner L-MMPI, TMAS, NDI, dan GERD-Q oleh subjek penelitian.
6. Melakukan analisis data.
7. Menyusun laporan penelitian.
METODE PENELITIAN
Analisis Penelitian
Penelitian akan dianalisis dengan analisis bivariat menggunakan metode Spearman Rank Test dengan bantuan program SPSS.

Jadwal Penelitian
DAFTAR PUSTAKA
Appendix B: ‘Rome III Diagnostic criteria for functional gastrointestinal disorders’. 2010. American Journal of Gastroenterology. 105, 798–801.

Bandelow B. dan Michaelis S. 2015. ‘Epidemiology of anxiety disorders in the 21st century’. Dialogues in clinical neuroscience. 17(3), 327.

Chen T. S., Ying-Chiao L., Full-Young C., Han-Chan W. dan Shou-Dong L. 2006. ‘Psychosocial distress is associated with abnormal gastric myoelectrical activity in patients with functional
dyspepsia’. Scandinavian Journal of Gastroenterology. 41, 791-6.

Djojoningrat D. 2009. ‘Dispepsia Fungsional’ dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 5. Jakarta: Interna Publishing, 529-33.

Dorland, Newman. 2002. Kamus Kedokteran Dorland. Edisi 29. Jakarta: EGC.

Drossman D. A. dan Dumitrascu L. 2006. ‘Rome III: New Standar for Functional Gastrintestinal Diorders’. Journal Gastrointestin Liver Disorders. 15(3), 237-44.

Fricchione G. 2004. ‘Generalized Anxiety Disorders’. The New England Journal of Medicine. 351, 675-82.

Hawari, Dadang. 2001. Manajemen Stres, Cemas, dan Depresi. Jakarta: FKUI.

Jones M. P., Dilley J. B., Drossman D., dan Crowell M. D. 2006. ‘Brain-gut connections in functional GI disorders: Anatomic and Physiologic Relationships’. Neurogastroenterol Motil. 18, 91-103.

Kusuma N. H. S., Arinton I. G., dan Paramita H. 2011. ‘Korelasi skor dispepsia dan skor kecemasan pada pasien dispepsia rawat jalan klinik penyakit dalam di RSUD Prof. DR. Margono Soekarjo
Purwokerto’. Mandala of Health. 5(3).

Makmun D. 2009. ‘Penyakit Refluks Gastroesofageal’ dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 5. Jakarta: Interna Publishing, 480-7.

Maramis F. W. 2005. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press.

Mayer E. A. dan Collins S. M. 2002. ‘Evolving pathophysiologic models of functional gastrointestinal disorders’. Gastroenterology. 122, 2032-48.

Nevid J. S., Rathus S. A., et al. 2005. Psikologi Abnormal. Edisi 5. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Riset Kesehatan Dasar. 2013. Laporan Riskesdas 2013. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

Sadock B. J. dan Sadock V. A. 2010. Kaplan and Sadock's pocket handbook of clinical psychiatry. Lippincott Williams & Wilkins.

Stuart G. W. dan Sundeen S. J. 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 5. Jakarta: EGC.

Syafruddin A. R. L. 1998. Peranan derajat keasaman lambung dan tonus sfingter esophagus bawah terhadap esofagitis pada dispepsia. Laporan Penelitian Akhir, Bagian Ilmu Penyakit Dalam
FKUI.

Videbeck S. L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.

Yarandi S. S. Dan Christie J. 2013. ‘Functional Dyspepsia in Review: Pathophysiology and Challenges in the Diagnosis and Management due to Coexisting Gastroesophageal Reflux Disease and
Irritable Bowel Syndrome’. Gastroenterology Research and Practice. 2013, 8 hal.
Terimakasih