Anda di halaman 1dari 8

PENGARUH SENAM OTAK TERHADAP TINGKAT

STRES PADA LANSIA DI UPT PELAYANAN


SOSIAL TRESNA WERDHA BLITAR
KABUPATEN TULUNGAGUNG

KARUNIA WATI SUSANTI

Dosen Pembimbing :Paramita Ratna G., S.Kep.Ns.,M.Kes.

Wildan Akasyah, S.Kep.Ns.,M.Kep.


Latar Belakang
• Menua terjadi secara alamiah di dalam tubuh. Saat seseorang telah mencapai tahap ini, tubuh akan mengalami titik

perkembangan yang maksimal akibatnya tubuh juga akan mengalami berbagai penurunan fungsi secara perlahan (Maryam,

dkk., 2011). Di Jawa Timur, data kejadian stres pada lansia mencapai 7,18 % (Badan Pusat Statistik, 2012). Prevalensi kejadian

stres pada lansia yang tinggal bersama keluarga di Indonesia mencapai 8,34%. Prevalensi stres pada lansia yang tinggal di panti

sosial mencapai 30% (Riskesdas, 2013). Perubahan fisik, mental, dan sosial yang terjadi pada lansia dapat menjadi pemicu

stres. Lansia yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan berbagai peranan dan tugas perkembangannya dengan maksimal

akan mudah mengalami stres (Noorkasiani, 2011). Hawari (2011) menyatakan, terapi farmakologis dalam mengatasi stres bisa

menyebabkan ketergantungan yang cukup besar pada penderitanya. Sedangkan terapi non farmakologis yang dapat dilakukan

salah satunya adalah senam otak (Azizah, 2017). Maka dari itu, penulis melakukan penelitian dengan judul tersebut.
Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
a. Mengetahui pengaruh senam otak terhadap tingkat stres pada lansia di UPT Pelayanan Sosial Tresna

Werdha Blitar di Kabupaten Tulungagung.


2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi tingkat stres sebelum dilakukan senam otak pada lansia di UPT Pelayanan Sosial

Tresna Werdha Blitar di Kabupaten Tulungagung.

b. Mengidentifikasi tingkat stres sesudah dilakukan senam otak pada lansia di UPT Pelayanan Sosial

Tresna Werdha Blitar di Kabupaten Tulungagung.

c. Menganalisa pengaruh senam otak terhadap tingkat stres lansia sebelum dan sesudah diberikan

intervensi senam otak di UPT Pelayanan Sosial Tresna Werdha Blitar di Kabupaten Tulungagung.
Metode Penelitian
• Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pre-experimental design dengan one
group pretest-posttest design. Sampel penelitian terdiri dari 35 responden yang dipilih
menggunakan teknik purposive sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Pengumpulan data
dilakukan menggunakan kuesioner yang diadaptasi dari SAQ (Stress Assessment Questionnaire).
Data dianalisa dengan menggunakan uji Wilcoxon. Senam otak dilakukan 3 kali dalam seminggu
selama 4 minggu mulai tanggal 11 Maret - 17 April 2019 di UPT Pelayanan Sosial Tresna Werdha
Blitar Kabupaten Tulungagung
Hasil Penelitian
Pada penelitian ini didapatkan hasil, sebelum dilakukan senam otak lansia yang mengalami stres ringan

sebanyak 7 lansia (20,0%), 18 lansia (51,4%) mengalami stres sedang, kemudian 10 lansia (28,6%)

mengalami stres berat. Sesudah dilakukan senam otak, lansia yang mengalami stres ringan sebanyak 21

lansia (60%), kemudian 14 lansia (40%) mengalami stres sedang, dan tidak ada yang mengalami stres

berat. Rata-rata tingkat stres pre intervensi ialah 2,09 sedangkan rata-rata tingkat stres post intervensi ialah

1,40, terdapat perbedaan rata-rata tingkat stres sebesar 0,69. Berdasarkan analisa uji statistik Wilcoxon

menunjukkan nilai ρ value = 0,000, yang berarti ρ value < α (α = 0,05), maka H₀ ditolak dan H1 diterima.
Kesimpulan
1. Tingkat stres lansia sebelum dilakukan senam otak didapatkan hasil, sebagian besar responden mengalami

tingkat stres sedang mencapai 18 lansia (51,4%).

2. Tingkat stres lansia sesudah dilakukan senam otak didapatkan hasil, sebagian besar responden mengalami

tingkat stres ringan mencapai 21 lansia (60%).

3. Ada pengaruh pemberian senam otak terhadap penurunan tingkat stres pada lansia di UPT Pelayanan Sosial

Tresna Werdha Blitar di Kabupaten Tulungagung. Dari uji statistik Wilcoxon, menunjukkan nilai ρ value =

0,000, maka ρ value < α (α = 0,05) dimana H₀ ditolak dan H1 diterima dengan penurunan rata-rata tingkat stres

sebesar 0,69.