Anda di halaman 1dari 9

Sumber Historis, Sosiologis, Politik serta Argumen

tentang Dinamika dan Tantangan Ketahanan


Nasional dan Bela Negara

1. Arif Tri Widodo 111.160.188


2. Izul Guntur 111.160.189
3. Abi Zarkasyi 111.160.191
4. Aldino Fadlie S. 111.160.192
5. M. Iqbal Septiandi 111.170.018
6. Luthfan Fadhillah 111.170.047
Secara historis, gagasan tentang ketahanan nasional bermula pada
awal tahun 1960-an di kalangan militer angkatan darat di SSKAD yang
sekarang bernama SESKOAD (Sunardi, 1997). Masa itu sedang meluasnya
pengaruh komunisme yang berasal dari Uni Sovyet dan Cina. Pengaruh
komunisme menjalar sampai kawasan Indo Cina sehingga satu per satu
kawasan Indo Cina menjadi negara komunis seperti Laos, Vietnam, dan
Kamboja. Tahun 1960-an terjadi gerakan komunis di Philipina, Malaysia,
Singapura, dan Thailand. Bahkan gerakan komunis Indonesia
mengadakan pemberontakan pada 30 September 1965 namun akhirnya
dapat diatasi.
Sejarah keberhasilan bangsa Indonesia menangkal ancaman
komunis tersebut menginspirasi para petinggi negara (khususnya para
petinggi militer) untuk merumuskan sebuah konsep yang dapat
menjawab, mengapa bangsa Indonesia tetap mampu bertahan
menghadapi serbuan ideologi komunis, padahal negara-negara lain
banyak yang berguguran?
Jawaban yang dimunculkan adalah karena bangsa Indonesia
memiliki ketahanan nasional khususnya pada aspek ideologi. Belajar dari
pengalaman tersebut, dimulailah pemikiran tentang perlunya ketahanan
sebagai sebuah bangsa.
Pengembangan atas pemikiran awal di atas semakin kuat setelah
berakhirnya gerakan Gerakan 30 September/PKI. Pada tahun 1968,
pemikiran di lingkungan SSKAD tersebut dilanjutkan oleh Lemhanas
(Lembaga Pertahanan Nasional) dengan dimunculkan istilah kekuatan
bangsa. Pemikiran Lemhanas tahun 1968 ini selanjutnya mendapatkan
kemajuan konseptual berupa ditemukannya unsur-unsur dari tata kehidupan
nasional yang berupa ideologi, politik, ekonomi, sosial dan militer. Pada tahun
1969 lahirlah istilah Ketahanan Nasional yang intinya adalah keuletan dan
daya tahan suatu bangsa untuk menghadapi segala ancaman. Kesadaran akan
spektrum ancaman ini lalu diperluas pada tahun 1972 menjadi ancaman,
tantangan, hambatan, dan gangguan (ATHG). Akhirnya pada tahun
1972 dimunculkan konsepsi ketahanan nasional yang telah diperbaharui. Pada
tahun 1973 secara resmi konsep ketahanan nasional dimasukkan ke dalam
GBHN yakni Tap MPR No IV/MPR/1978.
Berdasar perkembangan tersebut kita mengenal tiga
perkembangan konsepsi ketahanan nasional yakni ketahanan nasional
konsepsi 1968, ketahanan nasional konsepsi 1969, dan ketahanan
nasional konsepsi 1972. Menurut konsepsi 1968 dan 1969, ketahanan
nasional adalah keuletan dan daya tahan, sedang berdasarkan
konsepsi 1972, ketahanan nasional merupakan suatu kondisi dinamik
yang berisi keuletan dan ketangguhan.
Jika dua konsepsi sebelumnya mengenal IPOLEKSOM
(ideologi, politik, ekonomi, sosial, militer) sebagai Panca Gatra,
konsepsi 1972 memperluas dengan ketahanan nasional berdasar asas
Asta Gatra (delapan gatra). Konsepsi terakhir ini merupakan
penyempurnaan sebelumnya (Haryomataraman dalam Panitia
Lemhanas, 1980).
• Pancagatra (Gatra Sosial)

Pancagatra atau gatra sosial adalah aspek-aspek kehidupan nasional


yang menyangkut kehidupan dan pergaulan hidup manusia dalam
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dengan ikatan-ikatan, aturan-
aturan dan norma-norma tertentu.
Gatra Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial dan Budaya, Pertahanan dan
Keamanan. Kelima gatra Sosial tersebut mengandung unsur-unsur yang
bersifat dinamis. Tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan yang
dihadapi oleh bangsa Indonesia selalu ditujukan pada kelima gatra Sosial
tersebut. Dan oleh karena itu penanggulangannya adalah dengan upaya
meningkatkan ketahanan dalam gatra ideology, politik, ekonomi, social
budaya, pertahanan dan keamanan secara utuh menyeluruh dan terpadu.
Kualitas Pancagatra dalam kehidupan nasional Indonesia tersebut secara
terintegrasi serta dalam interaksinya dengan Trigatra mencerminkan tingkat
Ketahanan Nasional Indonesia.
Kontribusi Pancagatra

Setiap gatra dalam Pancagatra memberikan kontribusi tertentu pada


gatra-gatra lain, dan sebaliknya setiap gatra menerima kontribusi dari gatra-
gatra lain secara terintegrasi.
1. Antara Gatra Ideologi dengan Gatra Politik, Ekonomi, Sosial-Budaya,
Pertahanan dan Keamanan, dalam arti ideologi sebagai falsafah bangsa dan
landasan idiil negara merupakan nilai penentu bagi kehidupan nasional yang
meliputi seluruh gatra dalam Pancagatra dalam memelihara kelangsungan
hidup bangsa dan pencapaian tujuan nasional.
2. Antara Gatra Politik dengan Gatra Ideologi, Ekonomi, Sosial Budaya,
Pertahanan dan Keamanan; Berarti kehidupan politik yang mantap dan
dinamis menjalankan kebenaran ideologi, memberikan iklim yang kondusif
untuk pengembnagan ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan.
Kehidupan politik bangsa dipengaruhi oleh bermacam hal yang satu dengan
yang lainnya saling berkaitan. Ia dipengaruhi oleh tingkat kecerdasan dan
kesadaran politik, tingkat kemakmuran ekonomi, ketaatan beragama,
keakraban sosial dan rasa keamanannya.
3. Antara Gatra Ekonomi dengan Gatra Ideologi, Politik, Sosial Budaya, Pertahanan dan
Keamanan; Berarti kehidupan ekonomi yang tumbuh mantap dan merata, akan
menyakinkan kebenaran ideologi yang dianut, mendinamisir kehidupan politik dan
perkembangan sosial budaya serta mendukung pengembangan Pertahanan dan
Keamanan. Keadaan ekonomi yang stabil, maju dan merata menunjang stabilitas dan
peningkatan ketahanan aspek lain.

4. Antara Gatra Sosial Budaya dengan Gatra Ideologi, Politik, Ekonomi, Pertahanan dan
Keamanan; Dalam arti kehidupan sosial budaya yang serasi, stabil, dinamis, berbudaya
dan berkepribadian, akan menyakinkan kebenaran ideologi, memberikan iklim yang
kondusif untuk kehidupan politik yang berbudaya, kehidupan ekonomi yang tetap
mementingkan kebersamaan serta kehidupan pertahanan dan keamanan yang
menghormati hak-hak individu. Keadaan sosial yang terintegrasi secara serasi, stabil,
dinamis, berbudaya dan berkepribadian hanya dapat berkembang di dalam suasana
aman dan damai. Kebesaran dan keseluruhan nilai sosila budaya bangsa mencerminkan
tingkat kesejahteraan dan keamanan nasional baik fisik materiik maupun mental
spritual. Keadaan sosial yang timpang dengan kontradiksi di berbagai bidang
kehidupan memungkinkan timbulnya ketegangan sosial yang dapat berkembang
menjadi gejolak sosial.
5. Antara Gatra Pertahanan dan Keamanan dengan Gatra Ideologi, Politik,
Ekonomi dan Sosial Budaya; Dalam arti kondisi kehidupan pertahanan dan
keamanan yang stabil dan dinamis akan meyakinkan kebenaran ideologi,
memberikan iklim yang kondusif untuk pengembangan kehidupan politik,
ekonomi dan sosial budaya. Keadaan pertahanan dan keamanan yang stabil,
dinamis, maju dan berkembnag di seluruh aspek kehidupan akan
memperkokoh dan menunjang kehidupan ideologi, politik, ekonomi dan
sosial budaya.
Astagatra Dalam Pendekatan Kesejahteraan dan Keamanan, Peranan tiap-tiap
gatra untuk kesejahteraan dan keamanan tergantung dari sifat masing-masing
gatra, yakni:
– Gatra Alamiah mempunyai peranan sama besar baik untuk kesejahteraan
maupun untuk keamanan.
– Gatra Ideologi, Politik dan Sosial Budaya mempunyai peranan sama besar
untuk kesejahteraan dan keamanan.
– Gatra Ekonomi relatif mempunyai peranan lebih besar untuk kesejahteraan
dari pada peranan untuk keamanan.
– Gatra Pertahanan dan Keamanan relatif mempunyai peranan lebih besar
untuk keamanan dari pada peranan untuk kesejahteraan.
Gatra di Bidang Pertahanan Keamanan

Pertahanan keamanan suatu negara merupakan unsur pokok


terutama dalam menghadapi ancaman militer negara lain. Oleh karena itu,
unsur utama pertahanan keamanan berada di tangan tentara (militer).
Pertahanan keamanan negara juga merupakan salah satu fungsi
pemerintahan negara.
Ketahanan Nasional Indonesia dikelola berdasarkan unsur Astagatra
yang meliputi unsur-unsur:
(1) Geografi,
(2) Kekayaan alam,
(3) Kependudukan,
(4) Ideologi,
(5) Politik,
(6) Ekonomi,
(7) Sosial budaya, dan
(8) Pertahanan keamanan.

Anda mungkin juga menyukai