Anda di halaman 1dari 45

KELOMPOK 3

MALARIA
ANGGOTA KELOMPOK
 Afifah Alwi Aziz
 Anggraini Oktafira
 Ichtiarni Sulung Pertiwi
 Izza Fauziyah Rohmah
 Mutiara Putri Nanda Rizki
 Nurisna Ummu Hafitasari
 Tamara Asriningtyas Putri
 Windy Ayu Lestari
DEFINISI
PENYEBAB

EPIDEMIOLOGI
PATOLOGI KESEHATAN DAN
GEJALA KLINIS
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
TERAPI
MALARIA
FAKTOR TERJADI INFEKSI
KOMPLIKASI
PENCEGAHAN
PROGNOSIS PENYAKIT

PEWARNAAN GIEMSA

END
DEFINISI MALARIA

Bahasa Italia • mal : buruk dan area : udara,

• penyakit yang sering timbul di


daerah dengan udara buruk
akibat dari lingkungan yang
Secara buruk
Harfiah • penyakit infeksi dengan gejala
demam berkala yang
disebabkan oleh parasit
Plasmodium (Protozoa) dan
ditularkan oleh nyamuk
Anopheles betina.
PENYEBAB MALARIA
Jenis Parasit

Plasmodium falciparum
(Welch, 1897)

Plasmodium vivax Plasmodium ovale


(Labbe, 1899) (Stephens, 1922)

Plasmodium malariae
(Grassi dan Feletti,
1890)
Plasmodium falciparum (Welch,
1897)

menyebabkan
malaria falciparum
atau malaria
tertiana
maligna/malaria
tropika/malaria
pernisiosa.
Plasmodium vivax (Labbe,
1899)

 menyebabkan malaria
vivax atau malaria
tertiana benigna.
Plasmodium
ovale (Stephens, • menyebabkan
1922) malaria ovale atau
malaria tertiana
benigna ovale.
Plasmodium malariae
(Grassi dan Feletti,
1890)

• menyebabkan
malaria malariae
atau malaria
kuartana.
 Selain empat spesies Plasmodium diatas, manusia
juga bisa terinfeksi oleh Plasmodium knowlesi, yang
merupakan plasmodium zoonosis yang sumber
infeksinya adalah kera.
 Penyebab terbanyak di Indonesia adalah
Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax. Untuk
Plasmodium falciparum menyebabkan suatu
komplikasi yang berbahaya, sehingga disebut juga
dengan malaria berat.
Siklus Hidup Plasmodium, Siklus aseksual

 Sporozoit infeksius dari kelenjar ludah


nyamuk anopheles betina dimasukkan kedalam
darah manusia melalui tusukan nyamuk
tersebut. Dalam waktu tiga puluh menit jasad
tersebut memasuki sel-sel parenkim hati dan
dimulai stadium eksoeritrositik dari pada daur
hidupnya. Didalam sel hati parasit tumbuh
menjadi skizon dan berkembang menjadi
merozoit (10.000-30.000 merozoit, tergantung
spesiesnya) . Sel hati yang mengandung parasit
pecah dan merozoit keluar dengan bebas,
sebagian di fagosit. Oleh karena prosesnya
Lanjutan...
 Pada suatu saat bila imunitas tubuh menurun,
akan menjadi aktif sehingga dapat menimbulkan
relaps (kekambuhan). Siklus eritrositik dimulai
saat merozoit memasuki sel-sel darah merah.
Parasit tampak sebagai kromatin kecil, dikelilingi
oleh sitoplasma yang membesar, bentuk tidak
teratur dan mulai membentuk tropozoit,
tropozoit berkembang menjadi skizon muda,
kemudian berkembang menjadi skizon matang
dan membelah banyak menjadi merozoit.
Dengan selesainya pembelahan tersebut sel
darah merah pecah dan merozoit, pigmen dan
Siklus Hidup Plasmodium, Siklus seksual Terjadi
dalam tubuh nyamuk

Apabila nyamuk anopheles betina menghisap


darah yang mengandung gametosit. Gametosit
yang bersama darah tidak dicerna. Pada
makrogamet ( jantan) kromatin membagi
menjadi 6-8 inti yang bergerak kepinggir parasit.
Dipinggir ini beberapa filamen dibentuk seperti
cambuk dan bergerak aktif disebut mikrogamet.
Pembuahan terjadi karena masuknya
mikrogamet kedalam makrogamet untuk
membentuk zigot.
Zigot berubah bentuk seperti cacing pendek
disebut ookinet yang dapat menembus lapisan
 Siklus hidup Plasmodium terdiri dari 2, yaitu siklus sporogoni
(siklus seksual) yang terjadi pada nyamuk dan siklus skizogoni (siklus
aseksual) yang terdapat pada manusia. Siklus ini dimulai dari siklus
sporogoni yaitu ketika nyamuk mengisap darah manusia yang
terinfeksi malaria yang mengandung plasmodium pada stadium
gametosit (8). Setelah itu gametosit akan membelah menjadi
mikrogametosit (jantan) dan makrogametosit (betina) (9). Keduanya
mengadakan fertilisasi menghasilkan ookinet (10). Ookinet masuk ke
lambung nyamuk membentuk ookista (11).

 Ookista ini akan membentuk ribuan sprozoit yang nantinya akan


pecah (12) dan sprozoit keluar dari ookista. Sporozoit ini akan
menyebar ke seluruh tubuh nyamuk, salah satunya di kelenjar ludah
nyamuk. Dengan ini siklus sporogoni telah selesai.
MORFOLOGI

Penelitian berikut akan


membahas tentang malaria
falciparum, sehingga morfologi
yang akan dibahas adalah
morfologi dari Plasmodium
falciparum secara mikroskopis Gambar 2. Bentuk tropozoit muda
yaitu sebagai berikut :
Plasmodium falciparum. Skizon

 Tropozoit muda
Berbentuk cincin, terdapat
dua buah kromatin, bentuk
marginal, sel darah merah tidak
membesar, tampak sebagian
sitoplasma parasit berada di
bagian tepi dari eritrosit ( bentuk Gambar 3. Bentuk skizon Plasmodium
accole atau form appliqué). Pada falciparum.
bentuk tropozoit lanjut terhadap retikulosit, Plasmodium
mengandung bintik-bintik Maurer falciparum tidak pandang umur sel,
(Maurer dots). dan Plasmodium malariae
mengutamakan sel-sel tua.
Vektor
• tempat perindukan di rawa, sepanjang pantai berair asin atau
Anopheles air tawar campur air asin terutama yang banyak mengandung
alga.
sundaicus • Termasuk night biter (pukul 20-24), tempat istirahat di luar dan
dalam rumah, mampu terbang 5 km dari perindukan.

• tempat perindukan di sawah, saluran irigasi dan anak sungai


Anopheles di pedalaman, terlebih air yang mengandung jerami busuk
aconitus • Termasuk day biter dan tempat istirahatnya di rumah,
kandang atau semak.
Anopheles • tidak memilih tempat perindukan seperti, air di tanah bekas
injakan kaki, kolam, sungai kecil
balabacensis
Anopheles •di tempat berair yang banyak ditumbuhi tanaman, baik sekitar
barbirostris rumah maupun sawah. Termasuk day biter.
ANOPHELES SUNDAICUS ANOPHELES ACOITUS

ANOPHELES BARBIROSTRIS ANOPHELES BALABACENCIS

VEKTOR
Cara infeksi

Penyakit malaria dapat ditularkan dengan dua cara, yaitu cara


alamiah, contohnya melaluiu gigitan nyamuk dan non alamiah,
misalnya tranfusi darah maupun malaria dari ibu ke bayinya.
Sedangkan menurut Garcia dan Bruckner (1996) terdapat
beberapa penyebab yang mengakibatkan terjadinya infeksi
Plasmodium.
1. Gigitan nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi.
2. Transfusi darah dari donor penderita.
3. Penggunaan jarum suntik yang terkontaminasi.
4. Infeksi impor.
5. Infeksi kongenital.
EPIDEMIOLOGI MALARIA

Malaria termasuk penyakit kosmopolit yang tersebar sangat luas di seluruh dunia,
baik di daerah tropis, subtropics maupun daerah beriklim dingin. Malaria
ditemukan pada 64o LU (Archangel di Rusia) sampai 32o LS (Cordoba di
Argentina), dari daerah ketinggian 2666 m sampai daerah 433 m dibawah
permukaan air laut (Laut Mati). Diantara garis lintang dan bujur, terdapat daerah
yang bebas malaria, yaitu Pasifik Tengah dan Selatan (Hawaii, Selandia Baru).
Keadaan ini dikarenakan tidak ada vektor di tempat bebas malaria tersebut,
sehingga siklus hidup parasit tidak dapat berlangsung.
Suatu daerah dikatakan endemis malaria jika secara konstan angka kejadian
malaria dapat diketahui serta penularan secara alami berlangsung sepanjang
tahun.
Klasifikasi dari epidemiologi malaria menggunakan
parameter ukur spleen rate (angka limpa) atau
parasite rate (angka parasit), yaitu sebagai berikut :
 Hipoendemik : spleen rate atau parasite rate 0-10%
 Mesoendemik : spleen rate atau parasite rate 10-50%
 Hiperendemik : spleen rate atau parasite rate 50-75%,
dewasa biasanya lebih tinggi
 Holoendemik : spleen rate atau parasite rate > 75%,
dewasa biasanya rendah.21
PATOLOGI KESEHATAN DAN GEJALA
KLINIS
Keluhan yang biasanya muncul sebelum gejala demam adalah gejala prodromal, seperti
sakit kepala, lesu, nyeri tulang (arthralgia), anoreksia (hilang nafsu makan), perut tidak
enak, diare ringan dan kadang merasa dingin di pungung.
Keluhan utama yang khas pada malaria disebut “trias malaria” yang terdiri dari 3 stadium
yaitu :
1. Stadium menggigil
Pasien merasa kedinginan yang dingin sekali, sehingga menggigil. Nadi cepat tapi
lemah, bibir dan jari-jari tangan biru, kulit kering dan pucat. Biasanya pada anak
didapatkan kejang. Stadium ini berlangsung 15 menit sampai 1 jam.
2. Stadium puncak demam
Pasien yang semula merasakan kedinginan berubah menjadi panas sekali. Suhu tubuh
naik hingga 41o C sehingga menyebabkan pasien kehausan. Muka kemerahan, kulit
kering dan panas seperti terbakar, sakit kepala makin hebat, mual dan muntah, nadi
berdenyut keras. Stadium ini berlangsung 2 sampai 6 jam.
3. Stadium berkeringat
Pasien berkeringat banyak sampai basah, suhu turun drastis bahkan
mencapai dibawah ambang normal. Penderita biasanya dapat tidur
nyenyak dan saat bangun merasa lemah tapi sehat. Stadium ini berlangsung
2 sampai 4 jam.
Pemeriksaan fisik yang ditemukan lainnya yang merupakan gejala
khas malaria adalah adanya splenomegali, hepatomegali dan anemia.
Anemia terjadi bisa disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu :
 Sel darah merah yang lisis karena siklus hidup parasit
 Hancurnya eritrosit baik yang terinfeksi ataupun tidak di dalam limpa
 Hancurnya eritrosit oleh autoimun
 Pembentukan heme berkurang
 Produksi eritrosit oleh sumsum tulang juga berkurang
 Fragilitas dari eritrosit meningkat
Malaria Berat
malaria yang disebabkan oleh infeksi Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax
aseksual dengan satu atau lebih komplikas

Malaria
• Adanya kelainan otak yang menyebabkan terjadinya gejala penurunan
cerebral kesadaran hingga koma, GCS (Glasgow Coma Scale) < 11, atau lebih dari 30
menit setelah serangan kejang yang tidak disebabkan oleh penyakit lain.

Anemia
• Hb < 5 gr% atau hematokrit < 15% pada hitung parasit > 10.000/μL, bila
Berat anemianya hipokromik/mikrositik dengan mengenyampingkan adanya anemia
defisiensi besi, talasemia/hemoglobinopati lainnya

Gagal • Urin < 400 ml/24 jam pada orang dewasa atau < 12 ml/kgBB pada anak
ginjal setelah dilakukan rehidrasi, dan kreatinin > 3 mg%.
akut

• Edema paru / ARDS (Adult Respiratory Distress Syndrome).

• Hipoglikemi (gula darah < 40 mg%).

• Tekanan sistolik < 70 mmHg disertai keringat dingin atau perbedaan


Syok temperatur kulit-mukosa > 10C.
Lanjutan.....

• Perdarahan spontan dari hidung, gusi, traktus digestivus atau disertai


kelainan laboratorik adanya gangguan koagulasi intravaskuler.

• Kejang berulang lebih dari 2x24 jam setelah pendinginan pada


hipertemia.

• Asidemia (pH < 7,25) atau asidosis (plasma bikarbonat < 15


mmol/L).

• Makroskopik hemoglobinuri (blackwater fever) oleh karena infeksi


pada malaria akut (bukan karena obat anti malaria).

• Diagnosis post-mortem dengan ditemukannya parasit yang padat


pada pembuluh kapiler pada jaringan otak.
Selain itu juga terdapat beberapa
keadaan yang digolongkan dalam
Gangguan kesadaran ringan malaria berat, yaitu :
(GCS < 15) atau dalam
keadaan delirium dan
Kelemahan otot (tidak bisa
somnolen.
duduk/berjalan) tanpa
Hiperparasitemia > 5%
kelainan neurologik.
pada daerah hipoendemik
atau daerah tak stabil
malaria.
Ikterik (bilirubin > 3 mg%).
Hiperpireksia (temperatur
rectal > 400C) pada
dewasa/anak.
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Untuk menegakkan diagnosis malaria dapat dilakukan beberapa pemeriksaan, antara lain:
1. Pemeriksaan mikroskopis
Darah
Terdapat dua sediaan untuk pemeriksaan mikroskopis darah, yaitu sediaan darah hapus
tebal dan sediaan darah hapus tipis.
Untuk melihat kepadatan parasit, ada dua metode yang digunakan yaitu semi-kuantitatif
dan kuantitatif. Metode yang biasa digunakan adalah metode semi-kuantitatif dengan
rincian sebagai berikut :
(-) : SDr negatif (tidak ditemukan parasit dalam 100 LPB)
(+) : SDr positif 1 (ditemukan 1-10 parasit dalam 100 LPB)
(++) : SDr positif 2 (ditemukan 11-100 parasit dalam 100 LPB)
(+++) : SDr positif 3 (ditemukan 1-10 parasit dalam 100 LPB)
(++++) : SDr positif 4 (ditemukan 11-100 parasit dalam 100 LPB)
Lanjutan...
2. TES DIAGNOSTIK CEPAT

Biokimia Hematologi Parasitologi

• Hipoglokemia : < • Leukosit : > • Hiperparasitemia


2.2 mmol/L 12000 /μL : > 100000/μL –
• Hiperlaktasemia : • Koagulopati : peningkatan
> 5 mmol/L platelet < mortalitas
• Asidosis : pH 50000/μL • >500000/μL –
arteri < 7.3 • Fibrinogen < 200 mortalitas tinggi
• Vena plasma mg/dL • > 20% parasit
HCO3 < 15 yang
mmol/L mengandung
• Total bilirubin : > tropozoit dan
50 μmol/L skizon.
TERAPI MALARIA

Berdasarkan atas aktivitasnya, obat anti malaria dapat dibagi


menjadi :
Gametosida : untuk membunuh bentuk seksual plasmodium (misalnya
klorokuin, kuinin dan primakuin).
Sporontosida : untuk menghambat ookista (misalnya primakuin,
kloroguanid).
Skozintisida : untuk memberantas bentuk skizon jaringan dan
hipnozoit (misalnya primakuin dan pirimetamin).
Skizontisida darah : untuk membunuh skizon yang berada di dalam
darah (misalnya klorokuin, kuinin, meflokuin,
halofantrin, pirimetamin, sulfadoksin, sulfon dan
tetrasiklin).
Lanjutan...
3. Pengobatan Malaria 4. Pengobatan malaria Kemoprofilaksis
dengan Komplikasi berat
• Malaria berat adalah • Artemeter dan • Ditujukan bagi orang
malaria yang artesunate yang yang akan pergi ke
terinfeksi Plasmodium merupakan qinghaosu, daerah endemis
falciparum, diberikan dengan malaria yang pergi
pengobatan lama dosis 160 mg dalam jangka waktu
menggunakan kinin artemeter i.m diikuti tertentu. Biasanya
dihidroklorida drip, 80 mg per hari diberikan pada
sedangkan selama 4 hari atau infeksi Plasmodium
pengobatan terbaru 120 mg artesunat falciparum karena
menggunakan infus i.v diikuti 60 mg merupakan spesies
Artesunat i.v dan perhari selama 4 hari. dengan virulensi yang
Artemether i.m. tinggi. Obat yang
diberikan adalah
Doksisiklin 2 mg/kgBB
setiap hari selama
tidak lebih dari 4-6
minggu. Doksisiklin
tidak boleh dikonsumsi
oleh ibu hamil dan
anak usia < 8 tahun.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terjadi
Infeksi Plasmodium
Selain faktor manusia dan vektor dari malaria, juga terdapat faktor lain, seperti :

• Apabila seorang penderita malaria


Faktor nutrisi juga mengalami malnutrisi, imunitas
akan menurun, sehingga malaria
jadi lebih berat.

• Transmisi dipengaruhi oleh iklim :


• a. Paling baik pada suhu 20-30oC.
• b. Kelembapan udara yang lebih
Faktor dari 60% (umur nyamuk >
lingkungan panjang).
• c. Musim hujan (breeding site >,
kelembapan >).
• d. Pada keadaan hujan deras
malaria berkurang, karena larva
dan jumlahnya berkurang karena
terbawa oleh air
KOMPLIKASI PENYAKIT MALARIA
Penyakit malaria dapat mengakibatkan beberapa komplikasi, diantaranya adalah :

Rupture lienalis

Malaria cerebral

Anemia hemolitik

Black water fever

Algid malaria
PENCEGAHAN MALARIA
Pengendalian • Bisa menggunakan larvasida untuk memberantas jentik-
jentik.
vektor • Semprot insektisida untuk membasmi nyamuk dewasa.

• Menghindari gigitan nyamuk pada waktu puncak nyamuk


Personal protection mengisap (petang dan matahari terbenam).
• Penggunaan jala bed (kelambu) yang direndam insektisida
sebelumnya, kawat nyamuk, penolak serangga.

• menghambat terjadinya gejala klinis maupun transmisi


penyakit di daerah endemis(circumsporozoite protein (CSP),
Vaksin Malaria Thrombospondin-related adhesion protein (TRAP), Liver stage
antigen (LSA).
• menghambat atau mengurangi transmisi malaria di suatu
daerah. Contohnya, Pfs 28 dan Pfs 25.
Prognosis Penyakit Malaria

Pada serangan primer dengan Plasmodium vivax,


Plasmodium ovale dan Plasmodium malariae akan terjadi
penyembuhan sempurna pada pemberian terapi yang
adekuat dan prognosisnya baik.

Pada Plasmodium falciparum prognosis berhubungan


dengan tingginya parasitemia, jika parasit dalam darah
> 100.000/mm3 dan jika hematokrit < 30% maka
prognosisnya buruk. Apabila cepat diobati maka
prognosis bisa lebih baik, namun apabila lambat
pengobatan akan menyebabkan angka kematian
meningkat.
Pewarnaan Giemsa
METODE PEMBUATAN HAPUSAN DAN PENGECATAN PREPARAT MALARIA (BLOOD
SMEAR)

Alat Bahan Pewarna giemsa

• Blood lanset • Etanol 70% • Pengenceran 5%


(1:20=Giemsa:bpg) di
• Obyek glass • Metanol lakukan selama 45
• Kapas • Giemsa menit
• Pinset • Buffer pro • Pengenceran 10%
giemsa (bpg) (1:10=Giemsa:bpg) di
• Stening jar lakukan selama 30
• Botol • Aquades menit
• Pengenceran 20%
(1:5=Giemsa:bpg)
dilakukan
selama 15 menit
Lanjutan...
Cara Kerja
1. Ambil 1 mL giemsa stock solution
2. Tambahkan 9 mL bpg
3. Aduk hingga terlarut merata
4. Warnai specimen dengan pewarna ini selama 25 menit
III. Prosedur Penelitian
1. Beri label pada obyek glass (nama pasien, tgl dan waktu pengambilan darah)
2. Biasakan untuk menggunakan sarung tangan
3. Bersihkan obyek glass menggunakan alcohol 70-90%, tunggu sampai kering.
(jangan menyentuh permukaan yang akan digunakan hapusan)
4. Mulai proses pengambilan darah dengan membersihkan ujung ekor mencit dan
gunting bedah menggunakan alcohol 70%
5. Guntinglah ujung ekor mencit
Lanjutan...

6. Teteskan /Oleskan darah mencit pada obyek glass


7. Buatlah hapusan pada tetesan darah tersebut
Pada waktu bikin hapusan tekan dengan stabil untuk
menggeser dengan derajat kemiringan 25-30o
8. Tunggu sampai darah kering
9. Hapusan darah difiksasi dengan methanol
10. Ditunggu kering
11. Dilakukan pengecatan dengan direndam dalam giemsa:
bpg (10%) selama 30 menit
12. Dibilas dengan aquades
13. Ditunggu kering baru diamati pada mikroskop
IV. Penilaian kualitas preparat yang sudah dibuat
Lebar x panjang = 2,5×3 cm
Ekor tidak seperti bendera robek
Preparat tidak berlobang dan tidak putus
Ada bagian yang tebal dan tipis:
- Terlalu tebal sel-sel eritrosit menutupi satu sama lainnya sehingga
mempersulit penilaian
- Terlalu tipis sel-sel akan kehilangan bentuk bikonkafitasnya terutama
daerah tepi
Cara perhitungan parasitemia:
1. diamati pada mikroskop
2. dihitung jumlah eritrosit total dalam 1 luas lapang pandang
3. dihitung juga jumlah eritrosit terinfeksi dalam 1 luas lapang
pandang yang sama
4. diamati lagi pada luas lapang pandang yang lain, dihitung
lagi sperti cara 2. dan 3. ulangi langkah ini hingga
mencapai jumlah eritrosit total = 1000
5. dari jumlah eritrosit total =1000 dan dengan menghitung
jumlah total eritrosit terinfeksi dalam 1000 eritrosit
(sejumlah Y), maka dapat dihitung persen parasetemia sbb:
%parasitemia = (Y/1000)x 100
catatan : penentuan lapang pandang harus di lihat secara
zigzag bisa secara horizontal ataupun vertical