Anda di halaman 1dari 33

SALEP, KRIM, GEL, PASTA

Kuni Zu’aimah B., S.Farm., M.Farm., Apt.

Bagian Farmasetika
Fakultas Farmasi Universitas Jember
Salep, krim, gel dan pasta  sediaan semipadat yang
pada umumnya digunakan pada kulit.

Syarat sediaan semisolid yang baik adalah sebagai


berikut:
-Mudah dioleskan pada kulit dan tidak menimbulkan rasa
sakit ketika diaplikasikan oleh pasien.
-Memiliki konsistensi tertentu yang stabil selama
penyimpanan (tidak berubah bentuk).
-Tidak mengiritasi kulit  perhatikan masing-masing
komponen yang digunakan.
Merupakan sediaan semisolid yang ditujukan untuk
pemakaian eksternal pada kulit atau mukosa.
Dapat mengandung obat atau tidak mengandung obat

Basis salep  terdiri dari 4 kelompok yaitu basis minyak


(oleaginous bases), basis salep serap (absorption bases),
basis tercucikan air (water-removable bases) dan basis
larut air (water-soluble bases)
Disebut juga dengan basis hidrokarbon.
Aplikasi pada kulit  memberikan emollient, yaitu
menjaga kelembapan kulit,memberikan efek oklusif,
dapat menempel pada kulit dalam waktu lama karena
tidak tercampurkan dengan air dan sulit tercuci air.

Contoh : petrolatum, petrolatum putih, salep putih dan


salep kuning.
Petrolatum : berwarna kekuningan dengan titik lebur 38-
60oC, dapat digunakan bersamaan atau kombinasi dengan
basis salep lainnya vaselin.

Petrolatum putih. : memiliki sifat yang sama dengan


petrolatum, tetapi berwarna putih sehingga lebih disukai
dari segi estetika.  Vaselin album
Salep kuning USP : terdiri dari 50 g parafin kuning dan 950
g petrolatum. Parafin kuning berasal dari sarang lebah Apis
melifera. Salep dibuat dengan melebur parafin kuning pada
waterbath kemudian menambahkan petrolatum hingga
campuran homogen. Campuran kemudian diaduk hingga
dingin dan mengeras. Campuran ini memiliki viskositas
yang lebih tinggi daripada petrolatum.

Salep putih USP : terdiri dari parafin putih dan petrolatum


putih dengan perbandingan yang sama seperti salep kuning
USP.
Dua tipe  basis yang memungkinkan penambahan air
membentuk emulsi air dalam minyak (misal: petrolatum
hidrofilik) dan basis emulsi W/O yang memungkinkan
penambahan air tambahan dalam basis (misal : lanolin).

- Basis ini dapat digunakan sebagai emollient (efek oklusif


<< basis minyak).
- Tidak mudah tercucikan dengan air karena fase eksternal
dari emulsi adalah minyak.
- Dapat digunakan untuk membantu mencampurkan
sedikit larutan air pada basis hidrokarbon.
Petrolatum hidrofilik USP : terdiri dari 30 gram kolesterol,
30 gram stearil alkohol, 80 g parafin putih dan 860 g
petrolatum putih.

Dibuat dengan cara melebur stearil alkohol dan parafin


putih kemudian mencampurkannya dengan kolesterol dan
petrolatum putih hingga homogen. Campuran kemudian
diaduk hingga dingin dan mengeras. Basis petrolatum
hidrofilik dapat digunakan untuk mencampurkan obat larut
air dalam basis hidrokarbon.
Lanolin USP (lanolin anhidrat) : didapatkan dari bulu
domba (mengandung air tidak lebih dari 0,25%), dan
merupakan bahan menyerupai parafin yang telah
dimurnikan.

Air tambahan dapat dimasukkan dalam lanolin dengan


pengadukan.
Merupakan emulsi minyak
dalam air atau disebut juga
dengan krim.
Mudah tercucikan dengan air
karena fase luar dari sistem
adalah air.
Dapat digunakan untuk
menyerap serous, atau
eksudat dari lesi atau luka
yang berbentuk cairan.
Contoh hydrophilic
ointment USP.
Merupakan basis salep yang tidak mengandung basis minyak.
Dapat tercucikan sempurna dan paling sering digunakan
untuk mencampurkan bahan padat.
Contoh  salep polietilen glikol (PEG) NF.

PEG merupakan polimer etilen oksida yang mengandung air,


BM 200 sampai 8000.
BM < 600 merupakan basis yang jernih, tidak berwarna dan
berbentuk cair. BM > 1000 berbentuk padat, BM 600-1000 
semisolid.
Walaupun dapat larut dalam air, basis PEG tetap tidak dapat
menampung larutan air dalam jumlah besar.
Metode Incorporation  tanpa menggunakan panas

Metode Fusion  menggunakan panas


Dibuat dengan cara mencampurkan semua komponen hingga
diperoleh campuran yang homogen.
Skala kecil  menggunakan mortir dan stamper atau spatula
untuk menghomogenkan komponen.

Bahan Padat  dilakukan pengecilan ukuran partikel 


mendapatkan tekstur yang tidak kasar.
Pengecilan ukuran partikel :
Levigasi  padatan + pelarut yang tidak melarutkan
Pelarutan  padatan + pelarut yang melarutkan
Cairan /Larutan  penambahan harus memperhatikan
kapasitas maksimal jumlah air yang dapat ditampung basis.
Kapasitas basis hidrokarbon < basis salep hidrofilik

Pencampuran komponen  GEOMETRIC DILUTION


Dilakukan dengan melebur sebagian atau semua
komponen salep secara bersamaan dilanjutkan dengan
pengadukan konstan hingga salep homogen dan
mengeras seiring dengan penurunan suhu.

Komponen yang tidak dilebur : bahan yang mudah


menguap dan tidak tahan panas  ditambahkan pada
campuran yang mulai mengeras (sudah terjadi
penurunan suhu)
Metode peleburan melibatkan beberapa cara, yaitu:

-Bahan dengan titik lebur tertinggi dipanaskan pada suhu


terendah bahan dapat melebur, kemudian bahan lain
ditambahkan ke dalamnya.

-Masing-masing bahan dilebur sesuai titik leburnya masing,


kemudian dicampurkan hingga homogen.

- Semua bahan dicampur jadi satu dan dilebur bersamaan.


Peleburan dengan cara ini pada umumnya membutuhkan
peleburan campuran yang lebih rendah.
 R/ Acid Salicyl 2
Sulfur Praecip 4
Vaselin flav 100
s.u.e
Merupakan sediaan semisolid yang terdiri dari satu atau
lebih bahan obat dalam konsentrasi tinggi dan ditujukan
untuk pemakaian topikal.

Bahan obat dalam pasta terdistribusi secara merata dalam


bentuk serbuk halus

Farmakope dua kelompok  single-phase aqueous gel


(misal : pasta CMC Na) dan pasta berlemak (fatty pastes)
Pasta berlemak  salep padat, kaku, dan tidak meleleh
pada suhu tubuh sehingga digunakan sebagai lapisan
pelindung pada bagian yang diolesi (misal : pasta ZnO).

Pasta berlemak  mampu mengabsorbsi lebih baik


dibandingkan dengan salep karena konsentrasi obat dalam
pasta yang tinggi. Sediaan ini biasa digunakan untuk
mengabsorbsi eksudat serous
Prinsip pembuatan:

- Pengecilan ukuran  penggerusan.


- Dilakukan dengan metode incorporation atau
mencampurkan basis dan bahan padat secara geometric
dilution.
 R/ Acid Salicyl 2
Zinci Oxyd 25
Amyl Triciti 25
Vas. Flav ad 100
m.f.pasta
s.u.e
FI V  krim adalah bentuk sediaan setengah padat
mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau
terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Sediaan krim
dapat berupa emulsi W/O maupun O/W.

Kelebihan dibandingkan dengan salep :


Lebih mudah digunakan (lebih mudah merata pada kulit)
dan lebih mudah dibersihkan.
Krim O/W : banyak digunakan dalam formulasi kosmetik
karena sifatnya yang mudah tercucikan oleh air, tidak
meninggalkan kesan lengket saat pemakaian. Salah satu
jenis krim dengan sistem O/W adalah vanishing cream yang
mengandung air jumlah besar dan asam stearat atau
komponen minyak lainnya.

Krim W/O : digunakan untuk mendapatkan efek oklusif dan


tidak mudah tercucikan dari kulit
-Fase dalam, emulgator, bahan tambahan lain materi emulsi

Bahan pengeras/ stiffening agent/ rheological modifier 


meningkatkan konsistensi sediaan menjadi semisolid.
Contoh : asam lemak amfifilik padat  setostearil alkohol, setil
alkohol, stearil alkohol, dan gliseril monostearat. Bahan ini
meningkatkan stabilitas sediaan krim melalui dua mekanisme,
yaitu:
Meningkatkan viskositas sediaan  hukum stokes
Memiliki sifat sebagai emulgator sehingga ketika digunakan
secara kombinasi dengan emulgator lain maka stabilitas
meningkat.
Secara garis besar, prinsip peracikan sediaan krim
merupakan gabungan metode peracikan emulsi oral dan
salep (metode fusi) yang melibatkan pemanasan.

1. Fase minyak dicampur jadi satu  dilebur.


2. Fase air dicampur jadi satu  ditambahkan air dengan
suhu mendekati fase minyak
3. Fase dalam dimasukkan perlahan-lahan ke fase luar
dengan pengadukan cepat dan konstan. Pengadukan
dilakukan hingga krim memadat.
RESEP VANISHING CREAM

R/ Ol. Cacao 5
Asam stearat 15
Cera alba 2
Vaselin album 8 PERACIKAN ??

TEA 1,5
Propilen glikol 8
Aquadest ad 300
Gel  sediaan semisolid yang terdiri dari dispersi molekul
kecil atau besar dalam basis air yang telah ditambahkan
gelling agent.

Satu fasa  ketika bahan obat terlarut dalam basis 


sediaan jernih
Dua fasa  ketika bahan aktif tidak terlarut dalam basis gel
dan disebut dengan magma  aluminium hidroksida gel.
Atau emulgel  emulsi dalam basis gel
1. Gelling agent  membentuk basis gel
Contoh :
Makromolekul sintetik : karbomer (polimer asam akrilat
dengan berat molekul tinggi).
Karbomer dalam air membentuk dispersi koloid asam
dengan viskositas rendah, dan membentuk gel dengan
viskositas tinggi ketika dinetralkan. Beberapa senyawa
yang dapat dipakai untuk menetralkan karbomer antara
lain asam amino, boraks potassium, Na2CO3, NaOH dan
senyawa organik polar, misal TEA.

Derivat selulosa : CMC Na, HPMC.


Derivat alam : tragakan, karagenan.
2. Pengawet  fase luar dari gel merupakan air yang cocok
untuk pertumbuhan mikroba.
Contoh : metil paraben, propil paraben, natrium benzoat.
1. Gelling agent dikembangkan dalam air aduk homogen
hingga membentuk massa gel
2. Bahan aktif  dilarutkan dalam air (gel 1 fasa) atau
didispersikan dalam air (gel 2 fasa).
3. (2) dimasukkan dalam (1) sedikit demi sedikit dengan
pengadukan hingga homogen.
4. Bahan tambahan lain (pengawet)  dilarutkan dalam
pelarut yang sesuai ditambahkan dalam (3).
 Allen, L.V., Popovich, N.G., Ansel, H.C. 2011.
Ansel’s Pharmaceutical Dosage Forms and Drug
Delivery Systems 9th Ed. Philadelphia: Lippncott
Williams and Wilkins.
 Aulton, M.E. 2002. Pharmaceutics : The Science
of Dosage Form Design 2nd Ed. Edinburgh :
Chuchill Livingstone.
 Aulton, M.E., Taylor, K.M.G. 2013. Aulton’s
Pharmaceutics : The Design and Manufacture of
Medicines 4th Ed. Edinburgh : Chuchill
Livingstonem

Anda mungkin juga menyukai