Anda di halaman 1dari 42

PERAN SERTA MASYARAKAT

DALAM PROGRAM P2 DBD


MELALUI GERAKAN 1
RUMAH 1 JUMANTIK
PRINSIP PEMBERDAYAAN
 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT SETEMPAT DALAM UPAYA MENCEGAH MUNCUL
PENGAMATAN &
DAN BERKEMBANGNYA SUATU PENYAKIT MELALUI
PEMANTAUAN SECARA TERUS MENERUS

PRINSIP KEMANDIRIAN
MASYARAKAT MENGUPAYAKAN PENCEGAHAN &
PENANGGULANGAN SEC. MANDIRI SESUAI KEMAMPUAN YG
DIMILIKI, THD ANCAMAN PENYAKIT YG AKAN MUNCUL/
BERKEMBANG DI BANTU PETUGAS KESEHATAN/ TERKAIT.
MASYARAKAT MENGETAHUI

 TANDA2 PENYAKIT SEC.DINI DAN


MELAPORKANNYA KE PETUGAS KESEHATAN/
PETUGAS TERKAIT.
 FAKTOR RISIKO MUNCUL/ BERKEMBANGNYA
SUATU PENYAKIT.
 UPAYA PENANGGULANGAN SECARA
SEDERHANA
KADER KESEHATAN

 tenaga yang berasal dari


masyarakat, dipilih oleh
masyarakat itu sendiri dan bekerja
secara sukarela.
 "dinamakan juga promotor
kesehatan desa (prokes) adalah
tenaga sukarela yang dipilih oleh
dan dari masyarakat yang
bertugas untuk mengembangkan
masyarakat”

4
Persyaratan menjadi kader

1. Berasal dari masyarakat setempat,


2. Tinggal di desa tersebut,
3. Tidak sering meninggalkan tempat
untuk waktu yang lama,
4. Diterima oleh masyarakat setempat,

5
Tugas Kader…
1. Kegiatan di posyandu
2. Kegiatan di luar Posyandu:
a. Mengajak ibu-ibu untuk datang para hari kegiatan
Posyandu,
b. Melaksanakan kegiatan yang menunjang upanya
kesehatan lainnya yang sesuai dengan permasalahan yang
ada:
 pemberantasan penyakit menular.
 Penyehatan rumah dan pembuangan sampah.
 Pembersihan sarang nyamuk.
 Penyediaan sarana air bersih.
 Pnyediaan sarana jamban keluarga.
 Pembuatan sarana pembuangan air limbah.
 Pemberian pertolongan pertama pada penyakit. 6
 P3K dan Dana sehat.
PENYAKIT/MASALAH KESEHATAN
YG SERING TERJADI & PERLU
DIWASPADAI
 DIARE
 DEMAM BERDARAH DENGUE
 MALARIA
 CAMPAK
 INFEKSI SALURAN PERNAFASAN ATAS
 KERACUNAN MAKANAN
 GIZI BURUK
 PERILAKU KESEHATAN YG BURUK
FAKTOR RISIKO PENYAKIT YG MUNGKIN
MUNCUL
a. Masyarakat melihat banyak
nyamuk di wilayahnya.
b. Masyarakat melihat banyak
air yg tergenang. ?
c. Banyak kaleng-kaleng bekas
yg tidak dikubur.
d. Banyak menemukan jentik
pada tempat-tempat
penampungan air.
LANDASAN HUKUM PENGENDALIAN
ARBOVIROSIS
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

PP No. 40 Th. 1991 tentang Penanggulangan Wabah Penyakit Menular

PP No.66 Tahun 2014 tentang Kesehatan Lingkungan

Permenkes No. 1501 Tahun 2010 tentang Jenis Penyakit Menular Tertentu yang
Dapat Menimbulkan Wabah dan Upaya Penanggulangan.

Permenkes No.82 Tahun 2014 tentang Penanggulangan Penyakit Menular

Kepmenkes No. 581 Tahun 1992 tentang Pemberantasan Demam


Berdarah Dengue

Kepmendagri No. 31-VI tahun 1994 tentang Pembentukan Kelompok Kerja


Operasional Pemberantasan DBD (POKJANAL DBD)

International Health Regulations (IHR) 2005


LATAR BELAKANG

Pengendalian penyakit Deman Berdarah


Dengue (DBD) telah diatur dalam Keputusan
Menteri Kesehatan Nomor
581/MENKES/SK/VII/1992 tentang
Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah

Manajemen pengendalian vektor secara


umum diatur dalam Peraturan Menteri
Kesehatan RepublikIndonesia Nomor
374/MENKES/PER/III/2010 tentang
Pengendalian Vektor.
Jumlah Penderita
1,000
926
900
806
800

700
611 620
600

500
453 452
431
387 394 402
400 364 354 356

286 271 278


300 265
249 242
237 230 247
226 233
203 196
200 157 171
155 156 154 152 152 153
134 139
115 123
105 110
103 108 97 106 105
100 54 59
53 46 46 5044 46 51
33 3943 2838 3824 30 22 3120
12 9 - -4 14 -
-

2014 2015 2016


Angka Kematian
7

6 6
6

5 5
5

4 4
4

3 33
3

2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
2

1 1 1 1 1 11 1 1 1 1 1 1
1

-- -- - --- - -- -- --- - - - -- -- --- - -- --- - --- ---


-

2014 2015 2016


KASUS DBD MENURUT KECAMATAN,
KABUPATEN MAROS TAHUN 2014-2016
Kecamatan 2014 2015 2016
BANTIMURUNG 18 24 24

BONTOA 32 23 52

CAMBA 5 1 28

CENRANA 25 23 11

LAU 22 40 57

MALLAWA 5 5 17

MANDAI 156 50 93

MAROS BARU 30 11 48

MARUSU 18 15 28

MONCONGLOE 1 5 6

SIMBANG 20 25 44

TANRALILI 12 13 35

TOMPOBULU 3 4 3

TURIKALE 102 158 182

MAROS 449 397 628


DATA DBD TAHUN 2017 DI SULSEL
Per NOVEMBER 2017
KABUPATEN JUMLAH KABUPATEN JUMLAH
TERTINGGI KASUS TERENDAH KASUS

MAROS 178 LUWU UTARA 5

BANTAENG 168 SIDRAP 4

MAKASSAR 123 PINRANG 2

GOWA 118 LUWU 2

TAKALAR 92 BARRU 1
LATAR BELAKANG
GERAKAN 1 RUMAH 1 JUMANTIK
Ada 4 Fase dalam siklus hidup
nyamuk:
1. Telur Lebih mudah melakukan
2. Larva pemberantasan/pemutusan
rantai hidup nyamuk
3. Pupa
4. Nyamuk
SE Menkes
Pelaksanaan PSN 3M Plus dengan 1R1J
INDIKATOR PROGRAM (OUTCOME)

1. Insidens Rate < 49/100.000 Penduduk pada Tahun 2017


2. Angka kesakitan < 1 %

INDIKATOR OUTPUT TH 2017


1. Angka bebas Jentik > 95 % pada tahun 2017
2. Angka kesakitan < 1 %
3. 40 % kab/kota melaksanakan G1R1J  40 %
kecamatan di kab/kota (Dibuktikan adanya SK
G1R1J)
4. 60 % Puskesmas melaksanakan penegakan
diagnosis kasus DBD.
Pelaksanaan PSN 3M Plus dengan Konsep 1
Rumah 1 Jumantik

Langkah-langkah pencegahan dan pengendalian penyakit


DBD dan penyakit virus Zika:
1. Secara rutin seminggu sekali melakukan pemantauan jentik
nyamuk dan Pemberatasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus
2. Mengaktifkan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik di lingkungan rumah
tempat tinggal dengan upaya :
3. Mengajak keluarga dan tetangga di lingkungan sekitar untuk
menjadi Jumantik Rumah dan melakukan pemantauan jentik
nyamuk serta PSN 3M Plus di rumah masing-masing;
4. Berkoordinasi dengan Ketua/Pengurus RT setempat membentuk
Jumantik Lingkungan dan Koordinator Jumantik;
5. Berkoordinasi dengan Ketua/Pengurus RW dan RT setempat
membentuk Supervisor Jumantik.
Skema Gerakan 1 Rumah 1
Jumantik
Membuat analisa data ABJ SUPERVISOR
dan melaporkan ke JUMANTIK
Puskesmas

Memantau kinerja
Jumatik
rumah/lingkungan KOORDINATOR KOORDINATOR
Mencatat hasil JUMANTIK JUMANTIK
pemantauan jentik

Melakukan pemantauan JUMANTIK JUMANTIK JUMANTIK JUMANTIK


jentik/ minggu dan RUMAH/LI RUMAH/LI RUMAH/LI RUMAH/LI
mencatat pada kartu NGKUNGA NGKUNGA NGKUNGA NGKUNGA
jentik N N N N
Tatacara Pemantauan Jentik
Mengajak pemilik rumah bersama-sama memeriksa tempat-
tempat yang berpotensi menjadi sarang jentik nyamuk.
Misalnya bak penampungan air, tatakan pot bunga, vas
bunga, tempat penampungan air dispenser, penampungan
air buangan di belakang lemari es, wadah air minum
burung serta barang-barang bekas seperti ban, botol air
dan lain-lainnya.
a) Pemeriksaan dimulai di dalam rumah dan dilanjutkan di
luar rumah.
b) Jika ditemukan jentik nyamuk maka kepada tuan
rumah/pengelola bangunan diberi penjelasan tentang
tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk dan
melaksanakan PSN 3M Plus.
c) Jika tidak ditemukan jentik maka kepada tuan
rumah/pengelola bangunan disampaikan pujian dan
Contoh tempat perkembangbiakan nyamuk
Tempat penampungan air (TPA)
NON TPA
Habitat Alami
PENGENDALIAN VEKTOR
TERPADU
 Pengendalian vektor terpadu/
PVT (integrated vector
management/ IVM) adalah
kegiatan pengendalian vektor
dengan memadukan berbagai
metode baik fisik, biologi dan
kimia, yang dilakukan secara
bersama-sama, dengan
melibatkan berbagai sumber
daya; lintas program dan
lintas sektor.
PSN 3M PLUS

Sasaran

Semua tempat
perkembangbiakan
nyamuk penular Arbovirus
(tempat penampungan air)
Plus ??
Selain 3M tersebut, ditambah (plus) dengan cara lainnya, seperti:

• Mengganti air vas bunga, tempat minum burung atau tempat-tempat


lainnya yang sejenis seminggu sekali.
• Memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar/rusak
• Menutup lubang-lubang pada potongan bambu/pohon, dan lain-lain
(dengan tanah, dan lain-lain)
• Menaburkan bubuk larvasida, misalnya di tempat-tempat yang sulit
dikuras atau di daerah yang sulit air
• Memelihara ikan pemakan jentik di kolam/bak-bak penampungan air
• Memasang kawat kasa atau menggunakan kelambu
• Menghindari kebiasaan menggantung pakaian dalam kamar
• Mengupayakan pencahayaan dan ventilasi ruang yang memadai
• Memakai obat yang dapat mencegah gigitan nyamuk
• Cara-cara spesifik lainnya di masing-masing daerah.

• Keseluruhan cara tersebut diatas dikenal dengan istilah dengan ’3M-


Plus’.
Contoh agent biologi pengendali jentik
nyamuk
ALAMI
• Pemanfaatan tanaman pengusir nyamuk

ZODIA LAVENDER GERANIUM SERAI

• Penaburan ikan pemakan jentik

IKAN CUPANG IKAN KEPALA TIMAH


PV SECARA KIMIAWI
• Pengendalian vektor cara kimiawi dengan menggunakan insektisida
merupakan salah satu metode pengendalian yang lebih populer di
masyarakat dibanding dengan cara pengendalian lain.
• Sasaran insektisida adalah stadium dewasa dan pra-dewasa.
• Karena insektisida kimiawi adalah racun maka penggunaannya
harus mempertimbangkan dampak terhadap lingkungan dan
organisme bukan sasaran termasuk mamalia.
• Disamping itu penentuan jenis insektisida, dosis, dan metode
aplikasi merupakan syarat yang penting untuk dipahami dalam
pengendalian vektor.
• Aplikasi insektisida yang berulang dalam jangka waktu lama di
satuan ekosistem akan menimbulkan terjadinya resistensi.
Insektisida tidak dapat digunakan apabila nyamuk resisten/kebal
terhadap insektisida.
PENGASAPAN (FOGGING)

• Dilakukan di lokasi fokus


penularan/transmisi kasus termasuk
wilayah terjangkit KLB/ Wabah.
 Didahului Penyelidikan
Epidemiologi

• Dilakukan sesuai ketentuan serta


koordinasi dengan puskesmas dan
dinas kesehatan setempat.
PENGASAPAN (FOGGING)

•SALAH SATU UPAYA PENGENDALIAN NYAMUK DEWASA


•MEMUTUS RANTAI PENULARAN (ADA KASUS)
•MERUPAKAN KEGIATAN FAVORIT YANG DIHARAPKAN
MASYARAKAT
•BELUM TENTU EFEKTIF (LOKASI, WAKTU, DOSIS, ALAT,
KONDISI SETEMPAT) DAN TDK EFISIEN (MAHAL)
•HANYA MEMBUNUH NYAMUK DEWASA, BILA MASIH ADA
JENTIK / PUPA MAKA KEESOKAN HARI AKAN MUNCUL
NYAMUK BARU.
PEMBERANTASAN JENTIK NYAMUK
PENULAR DBD
TERIMA KASIH
MARS G1R1J
Gerakan 1 rumah 1 Jumantik
Melawan Demam Berdarah, Chikungunya,
Zika dan Japanese Encephalitis
Semua Kita berantas habis
Menguras dan menutup mendaur ulang
Bersihkan sarang nyamuk dan jentik
`Budayakan PSN
Keluarga Sejahtera
Indonesia Sehat
Indonesia Jaya