Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN KASUS

SKIZOFRENIA KATATONIK

WIRA AMAZ GAHARI


N 111 18 023

PEMBIMBING KLINIK
dr. Nyoman Sumiati, M.Biomed.,Sp.Kj
Identitas Pasien
 Nama : Tn. S
 Jenis Kelamin : Laki-laki
 Usia : 26 tahun
 Alamat : Ds. Tinabonga Kab. Toli-Toli
 Pendidikan : SMA
 Pekerjaan :-
 Agama : Islam
 Tanggal Pemeriksaan: 11 Desember 2018
 Tempat Pemeriksaan: Ruang Rawat Inap RSD Madani Palu (
Anggur )
Riwayat Psikiatri
Anamnesis
 Keluhan Utama
Mengamuk (emosi tak stabil)
 Riwayat Gangguan Sekarang
 Seorang pasien laki-laki berusia 26 tahun masuk di rumah sakit dibawa
oleh keluarganya karena mengamuk (emosi tak stabil). Pasien juga sulit tidur,
namun tidak ada keluhan pasien memukul orang atau menyakiti diri sendiri,
emosi jarang terjadi, saat tidak emosi pasien lebih banyak diam, dan tidak peduli
dengan lingkungan sekitarnya.
 Dari keluarga pasien, menjelaskan pertama kali keluhan emosi yang tak stabil
disadari saat pasien dikunjungi oleh keluarga di area kebun keluarga ± 2 tahun
yang lalu, pasien mengamuk saat merasa terganggu dan kadang dengan pencetus
yang tidak jelas. Sejak ± 1 tahun yang lalu pasien lebih sering diam, dan tak acuh
dengan lingkungan sekitarnya. Pasien sebelumnya adalah orang yang
komunikatif dan tidak menetap lama di satu tempat, sejak lulus SMA. Pasien
kemudian dimintai oleh keluarga untuk menjaga kebun milik keluarganya
sendirian. Pasien tidak memiliki riwayat trauma, riwayat imunisasi lengkap.
Pasien tidak memiliki riwayat gangguan jiwa sebelumnya, dan dikeluarga pasien
tidak memiliki riwayat gangguan jiwa.
 Hendaya / Disfungsi
Hendaya Sosial : (+)
Hendaya Pekerjaan : (+)
HendayaWaktu senggang : (+)

 Faktor Stressor Psikososial


Stressor berkaitan dengan lingkungan dan keluarga

 Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat gangguan infeksi
Pasien tidak pernah mengalami gangguan infeksi sebelumnya
Riwayat gangguan neurologis
Pasien tidak pernah mengalami gangguan neurologis (kejang, epilepsy,dan tetanus)
sebelumnya.
Riwayat trauma
Pasien tidak pernah mengalami trauma sebelumnya
 Riwayat Penggunaan Zat
Merokok (-)
Alkohol (-)
Obat-obatan lainnya (-)

 Riwayat Gangguan Psikiatrik


Pasien sebelumnya tidak memiliki gangguan psikiatrik
Riwayat Kehidupan
Sebelumnya
 Riwayat prenatal dan perinatal
Pasien lahir normal, dengan persalinan yang normal. Pada saat ibu pasien
mengandung, ibu pasien tidak memiliki penyakit ataupun infeksi
(Alloanamnesis).
 Riwayat masa kanak-kanak awal (1-3 tahun)
Pasien mengaku pada masa ini pasien baik-baik saja. Tidak ada riwayat
kejang, trauma atau infeksi pada masa ini (Alloanamnesis)
 Riwayat masa kanak-kanak pertengahan (3-11 tahun)
Pasien mengaku masuk SD dan dapat bergaul dengan teman-temannya.
Pasien dapat menulis dengan baik, dapat membaca dan menghitung
(Alloanamnesis)
 Riwayat masa kanak-kanak akhir/pubertas/remaja (12-18
tahun)
Pada masa ini pasien tidak memiliki riwayat gangguan dalam psikososialnya
(Alloanamnesis)
 Riwayat Kehidupan Keluarga
Pasien merupakan anak ke enam dari dua belas orang bersaudara,
pasien tidak memiliki riwayat masalah komunikasi atau permasalahan
intra keluarga dengan saudara ataupun keluarga lainnya. Sebelum
sakit, komunikasi normal.
 Situasi Sekarang
Pasien hanya diam, tidak merespon ketika diajak berbicara, dan
tampak kaku dengan mempertahankan posisi yang sama diwaktu
yang lama
 Persepsi Pasien Tentang Diri Dan Kehidupan
Tidak dapat di evaluasi
Pemeriksaan Status Mental
Deskripsi Umum
 Penampilan : Tampakan pasien sesuai umur, namun tampak
wajah pasien kusam, dan pakaian tidak rapi
 Kesadaran : composmentis
 Perilaku dan aktivitas psikomotor : Pasien cenderung diam
kaku (posturing), walau digerakkan oleh pemeriksa
(fleksibilitas cerea) & ketika diarahkan untuk bergerak
mengikuti perintah, tidak dilakukan (negativism)
 Pembicaraan : pasien selalu diam dan tidak menanggapi
orang-orang disekitarnya (mutisme)
 Sikap terhadap pemeriksa : pasien hanya diam (tidak
kooperatif)
Keadaan Afektif

 Mood : tidak dapat dievaluasi


 Afek : datar
 Keserasian : tidak dapat dievaluasi
 Empati : tidak dapat dievaluasi
Fungsi Intelektual

A. Taraf pendidikan, pengetahuan umum dan kecerdasan : tidak dapat dievaluasi


B. Daya konsentrasi : tidak dapat dievaluasi
C. Orientasi :
 Waktu : tidak dapat dievaluasi
 Tempat : tidak dapat dievaluasi
 Orang : tidak dapat dievaluasi
D. Daya ingat:
 Segera : tidak dapat dievaluasi
 Jangka pendek : tidak dapat dievaluasi
 Jangka panjang : tidak dapat dievaluasi
E. Pikiran abstrak : tidak dapat dievaluasi
F. Bakat kreatif : tidak dapat dievaluasi
G. Kemampuan menolong diri sendiri : cukup baik
Gangguan Persepsi

 Halusinasi : tidak dapat dievaluasi


 Ilusi : tidak dapat dievaluasi
 Depersonalisasi : tidak dapat dievaluasi
 Derealisasi : tidak dapat dievaluasi
Proses Berpikir

 Arus pikiran
 Produktivitas : tidak berbicara
 Kontinuitas : tidak dapat dievaluasi
 Hendaya berbahasa : disfungsi berat (mutism)
 Isi pikiran
 Preokupasi : tidak dapat dievaluasi
 Gangguan isi pikir : tidak dapat dievaluasi
 Pengendalian Impuls : tidak dapat dievaluasi
 Daya Nilai
 Normo sosial : tidak dapat dievaluasi
 Uji daya nilai : tidak dapat dievaluasi
 Penilaian realitas : tidak dapat dievaluasi
 Tilikan
 tidak dapat dievaluasi
 Taraf Dapat Dipercaya
 -
Pemeriksaan Fisik dan Neurologis
PEMFIS
 Keadaan umum : Composmentis
 Tanda-tanda vital : TD = 100/70 Mmhg
 N = 76X/MENIT
 R = 16X/MENIT
 S = 36,6ºC
 Konjungtiva : anemis (-)/(-)
 Sklera : ikterus (-)/(-)
 Pem.jantung-paru : dalam batas normal
Status neurologis:
 GCS : E4M6V5
 Pemeriksaan motorik dan sensorik : Kaku seluruh bagian
badan
 Reflex cahaya : (+)/(+)
 Pemeriksaan kaku kuduk & meningeal’s sign : tidak dapat dievaluasi
 Refleks fisiologis : tidak dapat dievaluasi
 Reflex patologis : tidak dapat dievaluasi
 Pemeriksaan n. Cranialis & perifer : tidak dilakukan
pemeriksaan
 Pemeriksaan tekanan intrakranial : tidak dilakukan
pemeriksaan
IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA

Pasien dibawa kerumah sakit karena mengamuk (emosi tak


terkontrol) ± 2 tahun terakhir, namun menggambarkan gejala
katatonia (mutism, posturing, fleksibilitas cerea, dan
negativism) baru ± 1 tahun terakhir, pasien didapati mulai sulit
berjalan, nafsu makan menurun, dan sulit tidur
Evaluasi Multiaksial
Axis I
 Berdasarkan alloanamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan ada gejala
klinik bermakna dan menimbulkan penderitaan (distress) berupa sulit
tidur, mengamuk namun sudah reda, dan lebih condong menjadi diam
sehingga menimbulkan disabilitas berupa terganggunya melakukan
aktifitas harian pasien sehingga dapat disimpulkan bahwa pasien
mengalami Gangguan Jiwa
 Pada pasien terdapat hendaya berat dalam melakukan aktifitas sehari-
hari, dan interaksi sosial pasien yaitu terdapat mutisme, posturing,
fleksibilitas cerea, dan negativism, tanpa adanya gangguan dalam
pemeriksaan fisik maupun penunjang pasien yang dapat menimbulkan
gangguan medis umum yang bisa menyebabkan gangguan fungsi di otak
serta dapat mengakibatkan gangguan jiwa yang di derita pasien ini,
sehingga pasien didiagnosa Sebagai Gangguan Jiwa Psikotik non
Organik.
 Berdasarkan deskripsi kasus diatas, dapat disimpulkan bahwa pasien
mengalami gangguan psikotik. Pasien pada kasus ini mengalami gejala
tersebut sejak 2 tahun yang lalu. Pasien juga memiliki gejala mutism,
posturing, fleksibilitas cerea, dan negativism yang menjadi tanda adanya
gejala katatonia. Berdasarkan PPDGJ III memenuhi kategori dari
skizofrenia yaitu terdapat alogia (tidak berbicara), emosi tumpul, dan
adanya perilaku katatonik sehingga diagnosis pasien yaitu F 20.2
Skizofrenia Katatonik
 Axis II
 F 60.2 Gangguan kepribadian dissosial
 Axis III
 Tidak ada
 Axis IV
 Stresor, berasal dari lingkungan dan keluarga
 Axis V
 GAF scale 30-21: disabilitas berat komunikasi & daya nilai,
dan tidak mampu berfungsi hampir diseluruh bidang
Daftar Problem
Organobiologik
Tidak ada
Psikologi
Pasien mengamuk dan sulit tidur
Pasien tidak mau berbicara (mutism
Pasien mempertahankan posisi kaku (posturing) walau dilakukan
pergerakan paksa dari luar (fleksibilitas cerea), dan tidak mau
melakukan perintah atau arahan yang diberikan oleh pemeriksa
(negativism)
Sosiologi
Pasien kurang berinteraksi dengan orang lain, dan kurangnya
support dari keluarga terhadap kondisi pasien sebelum sakit.
Prognosis
Dubia Ad bonam

Faktor yang mempengaruhi:


 Pasien terkena gejala psikotik saat usia muda
 Pasien tidak ada riwayat untuk melukai diri sendiri, atau me
mbahayakan diri nya sendiri
 Kurangnya dukungan dari keluarga
 Selama perawatan pergerakan minimal mulai terlihat, pasien
mulai terlihat kooperatif saat dilakukan mobilisasi
Rencana Terapi
Farmakologi
 Haloperidol (lodomer) inj 5 mg 1 amp/ 12 jam IM
 Diphenhydramine inj 2 mg (1-0-1) IM
 Diazepam inj 5 mg 1 amp/hari (0-0-1) IM
 Vitamin (Farbion drips) 3 ml, 1 amp / hari dilarutkan
bersama RL / Dex 5%
Non-Farmakologi
Melakukan pendekatan psikososial, seperti :
 Terapi perilaku dan fungsi motoric membaik
 Terapi suportif berorientasi mobilisasi
Follow Up

Memantau keadaan umum pasien dan perkembangan pasien


serta menilai efektifitas pengobatan yang diberikan dan
kemungkinan munculnya efek samping obat yang diberikan.
Pembahasan Tinjauan Pustaka

Menurut PPDGJ-III, Skizofrenia merupaka suatu deskri


psi sindrom dengan variasi penyebab (banyak belum diketahui)
dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau deteriorati
ng) yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada perim
bangan pengaruh genetic, fisik, dan social budaya. Pada umumn
ya ditandai oleh penyimpangan yang fundamental dan karakteris
tik dari pikiran da persepsi, serta oleh afek yang tidak wajar (ina
ppropriate) atau tumpul. Kesadaran yang jernih (clear consciousnes
s) dan kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara, walau
pun kemunduran kognitif tertentu dapat berkembang.
Kriteria diagnostik di Indonesia menurut PPDG-III yang
menuliskan bahwa walaupun tidak ada gejala-gejala
patognomonik khusus, dalam praktek dan manfaatnya membagi
gejala-gejala tersebut ke dalam kelompok - kelompok yang
penting untuk diagnosis dan yang sering terdapat secara bersama-
sama yaitu:
a. Thought echo yaitu isi pikiran dirinya sendiri yang berulang
atau bergema dalam kepalanya dan isi pikiran ulangan, walaupun
isinya sama, namun kualitas berbeda atau thought insertion or
withdrawal yaitu isi pikiran yang asing dari luar masuk kedalam
pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh
sesuatu diluar dirinya (withdrawal) dan tought broadcasting yaitu
isi pikiran tersiar keluar sehingga orang lain mengetahuinya.
b.Waham atau Delusinasi
1)Delusion of control yaitu waham tentang dirinya sendiri dikendalilkan
oleh suatu kekuatan tertentu
2) Delusion of influen yaitu waham tentang dirinya sendiri dipengaruhi
oleh suatu kekuatan tertentu dari luar
3) Delusion of passivity yaitu waham tentang gerakan tubuh, pikiran
maupun tindakan tak berdaya terhadap suatu kekuatan dari luar.
4) Delusion of perception yaitu pengalaman indrawi yang tidak wajar
yang bermakna sangat khas dan biasanya bersifat mistik atau mukjizat.

c. Halusinasi Auditorik
1) Suara halusinasi yang berkomentar terus menerus terhadap perilaku
pasien.
2) Mendiskusikan perihal pasien diantara mereka senndiri (dia antara
berbagai suara yang berbicara).
3) Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah bagian tubuh.
d. Waham-waham menetap jenis lain yang menurut budaya dianggap
tidak wajar dan mustahil seperti waham bisa mengendalikan cuaca
atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada
secara jelas.
e. Halusinasi yang menetap dari setiap panca indara baik disertai
waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa
kandungan afektif yang jelas atau ide-ide berlebihan yang menetap
atau terjadi setiap hari selama bermingu-minggu atau berbulan-
bulansecara terus menerus.
f. Arus fikiran yang terputus (break) atau mengalami sisipan
(interpolasi) yang berakibat inkoherenskiatau pembicaraan tidak
relevan atau neologisme.
g. Perilaku katatonik seperti keadaan gaduh, gelisah (excitement)
sikap tubuh tertentu (posturing) atau fleksibilitas serea,
negattivisme, mutisme dan stupor.
h. Gejala-gejala negative seperti apatis, bicara jarang serta respon
emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya mengakibatkan
penarikan diri dari pergaulan social dan menurunnya kinerja social,
tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh
depresi atau neuroleptika.Adanya gejala-gejala kas tersebut diatas
telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau lebih (tidak
berlaku untuk setiap fase non psikotik prodormal). Harus ada suatu
perubahan yang konsisten dan bermakna dalam muttu keseluruhan
(overall quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi,
bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak
berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri dan penarikan diri
secara social.
Klasifikasi Skizofrenia
a. Skizofrenia Paranoid
Tipe ini paling stabil dan paling sering. Awitan subtype ini biasanya terj
adi lebih belakangan bila dibandingkan dengan bentuk-bentuk skizofre
nia lain. Gejala terlihat sangat konsisten, pasien dapat atau tidak bertin
dak sesuai dengan wahamnya. Pasien sering tak kooperatif dan sulit un
tuk kerjasama, mungkin agresif, marah, atau ketakutan, tetapi pasien j
arang sekali memperlihatkan perilaku disorganisasi. Waham da halusin
asi menonjol sedangkan afek dan pembicaraan hamper tidak terpengar
uh.
b. Skizofrenia Disorganisasi
Gejala-gejalanya adalah :
Afek tumpul, ketolol-tololan atau tak serasi
Sering inkoheren
Waham tak sistematis
Perilaku disorganisasi seperti menyeringai dan menerisme
c. Skizofrenia Katatonik
Pasien mempunyai paling sedikit satu dari (atau kombinasi) beberapa
bentuk katatonia :
Stupor katatonik atau mutisme yaitu pasien tidak berespons terhadap
lingkungan atau orang. Pasien menyadari hal-hal yang sedang berlangs
ung di sekitarnya
Negativism katatonik yaitu pasien melawan semua perintah-perintah
atau usaha-usaha untuk menggerakkan fisiknya
Rigiditas katatonik yaitu pasien secara fisik sangat kaku atau rijit
Postur katatonik yaitu pasien mempertahankan posisi yang tidak bias
a atau aneh
Kegembiraan katatonik yaitu pasien sangat aktif dan gembira

d. Skizofrenia Tak Terinci


Pasien mempunyai halusinasi, waham, dan gejala-gejala psikoaktif
yang menonjol (misalnya kebingungan) atau memenuhi kriteria
skizofrenia tetapi tidak dapat digolongkan pada tipe paranoid,
katatonik, hebefrenik, residual, dan depresi pasca skizofrenia.
e. Skizofrenia Residual
Pasien dalam keadaan remisi dari keadaan akut tetapi
masih memperlihatkan gejla-gejala residual (penarikan
diri secara social, afek datar atau tak serasi, perilaku e
ksentrik, asosiasi melonggar, atau pikiran tak logis)

f. Depresi Pasca Skizofrenia


Suatu episode depresif yang mungkin brlangsung lama
dan timbul sesudah suatu serangan penyakit skizofrenia
. Beberapa gejala skizofrenia masih ada tapi tidak mend
ominasi.
g. Skizofrenia Simpleks
Skizofrenia simpleks adalah suatu diagnosis yang sulit dibuat se
cara meyakinkan karena bergantung pada pemastian perkemba
ngan yang berlangsung perlahan, progresif darigejala “negative
” yang khas dari skizofrenia residual tanpa adanya riwayat halus
inasi, waham atau manifestasi lain tentang adany suatu episode
psikotik sebelumnya, dan disertai dengan perubahan-perubaha
n yang bermakna pada perilaku perorangan, yang bermanifest
asi sebagai kehilangan minat yang mencolok, kemalasan, dan p
enarikan diri secara social.
h. Skizofrenia Lainnya
 Termasuk : Skizofrenia senestopatik, Gangguan Skizofrenifo
rm,YTT
 Termasuk : Skizofrenia siklik, Skizofrenia laten, gangguan lir
-skizofrenia akut
 Katatonia atau perilaku katatonik adalah gangguan
perilaku yang melibatkan gerakan ekstrim yang dapat
disebabkan secara psikologis atau neurologis. Bentuk yang
paling terkenal melibatkan posisi kaku tak bergerak untuk
jangka waktu yang lama, seringkali berhari-hari atau minggu,
bahkan lebih (disebut katalepsi). Katatonia juga dapat
merujuk pada perilaku motorik gelisah tanpa tujuan yang
tidak dirangsang oleh hal apa pun di lingkungan. Gerakan
cepat atau berulang terus-menerus, seringkali diikuti
meringis dan ekspresi wajah yang aneh, dan gerakan tubuh
yang tidak biasa adalah ujung ekstrim lain dari katatonia.
 Catatonia dapat juga disebabkan oleh penyakit neurologis,
untuk itu anamnesis dan pemeriksaan penting untuk memilah
apakah catatonia termasuk psikogenik atau neurologik,
penyakit yang dapat menyebabkan gejala catatonia antara lain
:
 Neuroleptic malignant syndrom (NMS)
 Encephalitis
 Nonconvulsive status epilepticus
 Acute psychosis
 Anti-NMDA receptor encephalitis
TERIMA KASIH