Anda di halaman 1dari 31

HUSRIANTI

ASTIN
NUR AFNI ADELIA
LISMA YUNITA
Definisi
Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan sebelum janin mencapai
berat 500 gram atau usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau janin
belum mampu untuk hidup di luar kandungan.
Epidemiologi
Rata-rata terjadi 114 kasus aborsi per jam. Sebagian besar studi menyatakan kejadian
abortus antara 15-20% dari semua kehamilan. Kalau dikaji lebih jauh abortus
sebenarnya bisa mendekati 50%. Hal ini dikarenakan tingginya angka chemical
pregnancy loss yang tidak bisa diketahui pada 2-4 minggu setelah konsepsi2.
WHO memperkirakan di seluruh dunia, dari 46 juta kelahiran pertahun terdapat 20
juta kejadian abortus. Sekitar 13% jumlah dari total kematian ibu di seluruh dunia
diakibatkan oleh komplikasi abortus, 800 wanita diantaranya meninggal karena
komplikasi abortus dan sekurangnya 95% (19 dari setiap 20 abortus) di antaranya
terjadi di negara berkembang. Di Amerika Serikat angka kejadian abortus spontan
berkisar antara 10-20% kehamilan. .
Sarwono (2008) membagi abortus menjadi beberapa klasifikasi yaitu
1.Abortus spontan
Abortus yang terjadi tanpa tindakan mekanis atau medis untuk mengosongkan uterus, maka
abortus tersebut dinamai abortus spontan. Kata lain yang luas digunakan adalah keguguran
(Miscarriage)
2. Abortus imminens (keguguran mengancam)
Peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil
konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasi serviks.
3. Abortus incipiene (keguguran berlangsung)
Peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks
uteri yang meningkat, tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. Dalam hal ini rasa mules menjadi
lebih sering dan kuat, perdarahan bertambah.
 Abortus incomplet (keguguran tidak lengkap) Pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada
kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. Pada
pemeriksaan vaginal, kanalis servikalis terbuka dan jaringan dapat diraba dalam kavum
uteri atau kadangkadang sudah menonjol dari ostium uteri eksternum.
 Abortus complet (keguguran lengkap) Perdarahan pada kehamilan muda di mana
seluruh hasil konsepsi telah di keluarkan dari kavum uteri. Seluruh buah kehamilan telah
dilahirkan dengan lengkap.
• Penyebab abortus ada berbagai macam yang diantaranya adalah (Mochtar,
2002):
• Faktor maternal
• a. Kelainan genetalia ibu Misalnya pada ibu yang menderita:
• 1) Anomali kongenital (hipoplasia uteri, uterus bikornis, dan lain-lain).
• 2) Kelainan letak dari uterus seperti retrofleksi uteri fiksata.
• 3) Tidak sempurnanya persiapan uterus dalam menanti nidasi dari
ovum yang sudah dibuahi, seperti kurangnya progesteron atau
estrogen, endometritis, dan mioma submukosa.
• 4) Uterus terlalu cepat teregang (kehamilan ganda, mola hidatidosa).
• 5) Distorsia uterus, misalnya karena terdorong oleh tumor pelvis
PENCEGAHAN
Yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut sebaiknya wanita berusia 30 atau
40 tahun yang merencanakan untuk hamil harus konsultasikan diri dulu ke dokter.
Bagaimanapun, berikan konsentrasi penuh mengenai kehamilan di atas usia 35 tahun,
diantaranya:
 Rencanakan kehamilan dengan konsultasi ke dokter sebelum pasti untuk kehamilan
tersebut. Kondisi kesehatan, obat-obatan dan imunisasi dapat diketahui melalui
langkah ini.
 Konsumsi multivitamin yang mengandung 400 mikrogram asam folat setiap hari
sebelum hamil dan selama bulan pertama kehamilan untuk membantu mencegah
gangguan pada saluran tuba.
 Konsumsi makanan-makanan yang bernutrisi secara bervariasi, termasuk makanan
yang mengandung asam folat, seperti sereal, produk dari padi, sayuran hijau daun,
buah jeruk, dan kacang-kacangan.
 Mulai kehamilan pada berat badan yang normal atau sehat (tidak terlalu kurus atau
terlalu gemuk). Berhenti minum alkohol sebelum dan selama kehamilan.
 Jangan gunakan obat-obatan, kecuali obat anjuran dari dokter yang mengetahui
bahwa si ibu sedang hamil (Saleh, 2003).
Komplikasi yang berbahaya pada abortus
• 1. Perdarahan
• Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian
transfusi darah. Kematian karena perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya.
• 2. Perforasi
• Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi hiperretrofleksi. Jika terjadi
peristiwa ini, penderita pelu diamati dengan teliti. Jika ada tanda bahaya, perlu segera dilakukan laparotomi, dan
tergantung dari luas dan bentuk perforasi, penjahitan luka perforasi atau perlu histerektomi. Perforasi uterus
pada abortus yang dikerjakan oleh orang awam menimbulkan persolan gawat karena perlukaan uterus biasanya
luas, mungkin pula terjadi perlukaan pada kandung kemih atau usus.
• 3. Infeksi
• Infeksi dalam uterus atau sekitarnya dapat terjadi pada tiap abortus, tetapi biasanya ditemukan pada abortus
inkompletus dan lebih sering pada abortus buatan yang dikerjakan tanpa memperhatikan asepsis dan antisepsis.
Apabila infeksi menyebar lebih jauh, terjadilah peritonitis umum atau sepsis, dengan kemungkinan diikuti oleh
syok.
• 4. Syok
• Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan infeksi berat (syok endoseptik).
• 5. Gagal ginjal akut
• Gagal ginjal akut yang persisten pada kasus abortus biasanya berasal dari efek infeksi dan hipovolemik yang
lebih dari satu. Bentuk syok bakterial yang sangat berat sering disertai dengan kerusakan ginjal intensif. Setiap
kali terjadi infeksi klostridium yang disertai dengan komplikasi hemoglobenimia intensif, maka gagal ginjal pasti
terjadi. Pada keadaan ini, harus sudah menyusun rencana untuk memulai dialysis yang efektif secara dini
sebelum gangguan metabolik menjadi berat (Cunningham, 2005).
Definisi
Kehamilan Ektopik adalah kehamilan yang
terjadi bila sel telur dibuahi berimplantasi
dan tumbuh di luar endometrium kavum
uteri
Keadaan gawat → kehamilan ektopik
terganggu.
Penyebab
Gangguan transportasi dari hasil konsepsi sebagai akibat dari
adanya :
 Radang panggul (PID)
 Alat kontrasepsi dalam rahim (IUD)
 Penyempitan lumen tuba akibat tumor
 Pasca tindakan bedah mikro pada tuba
 Abortus
Kelainan hormonal
 Induksi ovulasi
 Fertilisasi in vitro
 Ovulasi yang terlambat
 Transmigrasi ovum
Faktor Risiko
Resiko tinggi
 Operasi pada daerah tuba
 Sterilisasi
 Kehamilan ektopik sebelumnya
 Pemasangan IUD
 Penggunaan kontrasepsi (dietilstilbestrol)
Resiko sedang
 Infertilitas
 Infeksi genital
Resiko ringan
 Operasi abdomen
 Hubungan seksual usia muda (<18 tahun)
Patofisiologi
Kehamilan ektopik → akibat gangguan transportasi ovum yang telah
dibuahi dari tuba kerongga rahim
Sebagian besar terganggu pada umur kehamilan 6 – 10 minggu dan
dapat terjadi :
 Hasil konsepsi mati dini dan direabsorpsi
 Abortus ke dalam lumen tuba
 Ruptur dinding tuba
 Kehamilan abdominal sekunder
Lokasi kehamilan ektopik
1. Tuba Fallopi (>>>)
 Pars intertisialis
 Isthmus
 Infundibulum
 Fimbria
2. Uterus
 Kanalis servikalis
 Divertikulum
 Kornu
 Tanduk rudimenter
3. Ovarium
4. Intraligamenter
5. Abdominal
6. Kombinasi kehamilan dalam dan luar uterus
Prognosis

Kehamilan ektopik merupakan sebab kematian yang penting maka


diagnosa harus cepat
Kematian karena kehamilan ektopik terganggu cenderung menurun
dengan diagnosis dini dan persediaan darah.
Pada umumnya, kelainan yang menyebabkan kehamilan ektopik
bersifat bilateral.
Angka kematian ektopik yang berulang dilaporkan antara 0 – 14,6%.