Anda di halaman 1dari 38

Sosialisasi

Self Assessment
Peningkatan Kapabilitas SPI
Berbasis IACM
LATAR BELAKANG
Orientasi
Hasil
Akuntabilitas

Demokratisasi, Partisipasi Transparansi


Reformasi,
Globalisasi.
Good Corporate Governance
PERSOALAN BANGSA DAN DINAMIKA BUMN/D

 Adanya penyelenggara negara yang


 Perlunya peningkatan Peran SPI BUMN/D
tersangkut kasus korupsi (OTT KPK)
 Belum diterapkannya Kapabilitas SPI
 Peran BUMN/D belum maksimal sebagai
BUMN/D Berbasis IACM
Agent Pembangunan dan Penciptaan Nilai

Peningkatan Kapabilitas SPI BUMN/D


2
BANGUNAN SPI BUMN Outcome
Peran SPI BUMN
Proses Bisnis Manajemen (Elemen IACM)
Fondasi / Dasar Auditor Internal

GOOD IMAGE AND GOOD PERFORMANCE


GOOD CORPORATE GOVERNANCE
VALUE ADDED / NILAI TAMBAH
PERAN SPI BUMN YANG EFEKTIF

TATA KELOLA, MANAJEMEN RISIKO, PENGENDALIAN INTERN

Assurance Consulting Insight Foresight

Peningkatan Kapabilitas SPI BUMN

Praktik Manajemen / Budaya Struktur


Peran dan Layanan Pengelolaan SDM Profesional Akuntabilitas Organisasi Tata Kelola

Values Kode Etik Standar Audit Prinsip – Prinsip Pokok


KAPABILITAS SPI

Kapabilitas SPI adalah Kemampuan untuk melaksanakan tugas‐tugas


pengawasan yang terdiri atas tiga unsur yang saling terkait yaitu
Kapasitas, Kelembagaan, dan Kompetensi Sumber Daya Manusia
(SDM) yang harus dimiliki SPI agar dapat mewujudkan peran SPI
secara efektif.

Kegiatan yang dilakukan dalam rangka menilai efektivitas SPI,


tercermin dari level kapabilitasnya dengan mengacu kepada praktik
tata kelola yang baik dan berlaku secara universal di seluruh dunia.
KAPABILITAS
Kapabilitas secara tidak langsung memberikan gambaran mengenai tingkat
efektivitas tata kelola SPI karena salah satu kriteria dari suatu tata kelola yang
baik adalah adanya pengembangan kapabilitas organisasi.

Oleh karenanya SPI sebagai auditor internal BUMN/D harus terus


meningkatkan kapabilitasnya untuk dapat memberikan penilaian independen
dan objektif atas efektivitas operasi dari proses tata kelola organisasi guna
memberi nilai tambah bagi organisasi.

Peningkatan efektivitas SPI dapat mendorong peningkatkan efektivitas tata


kelola BUMN secara keseluruhan.
PENGERTIAN DAN PENTINGNYA IACM

PENGERTIAN IACM
• Sebuah model yang dikembangkan oleh The Institute of Internal Auditor (IIA) dalam
mengindentifikasi aspek fundamental audit intern yang efektif untuk memenuhi tata
kelola organisasi ke arah profesional

PENTINGNYA IACM
• Sarana Komunikasi yang efektif bagi SPI dan berperan membantu organisasi dan
pemangku kepentingan dalam mengambil keputusan
• Kerangka untuk penilaian kemampuan SPI dalam memenuhi standar profesional dan
praktik audit intern
• Road map untuk peningkatan kapabilitas secara sistematis dalam membangun
kapabilitas dengan menetapkan langkah-langkah organisasi
Metode Penilaian

Pedoman Reviu Fungsi SPI Pedoman Teknis PK SPI


BUMN/D VS

IPPF IACM

International Proffesional Practices Framework (IPPF)

IACM
5.A
ELEMEN AUDIT INTERN
1.PERAN DAN LAYANAN
AUDIT INTERN
2.MANAJEMEN SDM
3.PRAKTIK PROFESIONAL
4.MANAJEMEN KINERJA
DAN AKUNTABILITAS
5.HUBUNGAN DAN
BUDAYA ORGANISASI
6.STRUKTUR TATA KELOLA

5
B
KETENTUAN UNTUK Srt Sesmen BUMN No: 1
PENINGKATAN KAPABILITAS 16/S.MBU/2012 ttg
SPI KORPORASI Reviu Berkala untuk
Menilai Kepatuhan
terhadap Audit
Standar
Permeneg BUMN Charter, Kode Etik dan Pelaksaanaan
Nomor PER- Standar Audit Fungsi SPI artikel
01/MBU/2011 1300 Assestment
dilakukan oleh
“Direksi wajib Assesor
menjaga dan Independen
mengevaluasi sekurang-
Fungsi SPI” kurangnya dalam
3 tahun
Diperlukan Ketentuan yg
Mewajibkan
BUMN/BUMD melakukan
Penilaian Kapabilitas SPI
Korporasi Berbasis IACM
5
FRAMEWORK PENINGKATAN KAPABILITAS SPI

Tahapan Peningkatan
Kapabilitas SPI
PENILAIAN MANDIRI
(SELF ASSESSMENT)
KAPABILITAS SPI KORPORASI BERBASIS IACM
Pengertian
Penilaian mandiri (self assessment) adalah kegiatan yang dilakukan
dalam rangka menilai efektivitas SPI Korporasi yang tercermin dari level
kapabilitasnya dengan mengacu kepada praktik tata kelola yang baik
dan berlaku secara universal di seluruh dunia melalui penilaian
elemen‐elemen yang tercantum dalam Internal Audit Capability Model
(IACM).
6 ELEMEN YANG DINILAI DALAM IACM

Peran dan
Layanan

Struktur Tata Pengelolaan


Kelola SDM

6 Elemen
Penilaian IA-CM

Hubungan
Praktik
dan Budaya
Profesional
Organisasi

Manajemen
Kinerja &
Akuntabilitas
PROSES PENINGKATKAN KAPABILITAS SPI

Tahapan Peningkatan
Kapabilitas SPI
OUTPUT
LEVELING IACM OUTCOME

SPI menjadi sumber pembelajaran dari dalam


LEVEL 5
dan luar organisasi untuk perbaikan SPI menjadi agen perubahan
berkelanjutan Optimizing

SPI mengintegrasikan informasi dari seluruh SPI mampu memberikan assurance secara
LEVEL 4 keseluruhan atas tata kelola, manajemen risiko
organisasi untuk meningkatan tata kelola dan
manajemen risiko Managed dan pengendalian intern

SPI mampu menilai 3 E kegiatan dan mampu


Pengelolaan SPI dan praktik profesional LEVEL 3
memberikan konsultasi pada tata kelola, manajemen
diterapkan secara seragam Integrated risiko dan pengendalian intern

SPI mampu memberikan keyakinan yang


Praktik dan prosedur SPI berkesinambungan LEVEL 2
memadai proses sesuai dengan peraturan,
dan berulang Infrastructure mampu mendeteksi terjadinya korupsi

SPI belum dapat memberikan jaminan atas


Kapabilitas SPI tidak berkesinambungan, tidak LEVEL 1
proses tata kelola sesuai peraturan dan
berulang tergantung pada upaya individual Initial mencegah korupsi
PENINGKATANSELF
KAPABILITAS SPI KORPORASI
IMPROVEMENT

Melalui Sosialisasi/Diklat Peningkatan Kapabilitas SPI

Tahap Pelaksanaan Mandiri oleh SPI

Self assessment Kapabilitas


SPI

Tahapan
Peningkatan
Kapabilitas SPI

Menyusun Action Plan oleh SPI

/Asesor
eksternal
HASIL SELF ASSESSMENT DIJADIKAN DASAR
SELF IMPROVEMENT KAPABILITAS SPI

QA- Validasi/Verifikasi
Self Assessment awal sebagai base line
oleh BPKP/Asesor Eksternal dengan
oleh SPI dengan 240 pernyataan
memperhatikan prioritas/ risiko

Simpulan Existing Kapabilitas SPI

AREA PERBAIKAN MENUJU KE SATU LEVEL KAPABILITAS BERIKUTNYA

Penyediaan Help Desk


dan memonitor nasional
dengan TI
SPI menyusunan action plan untuk meningkatkan kapabilitasnya
MATRIKS IACM
4. Manajemen Kinerja dan 5. Hubungan dan Budaya
1. Peran dan Layanan 2. Pengelolaan SDM 3. Praktik Profesional 6. Struktur Tata Kelola
Akuntabilitas Organisasi
Level 5-Optimizing Audit Intern diakui sebagai Pimpinan Audit Intern berperan Praktik Profesional Laporan Efektivitas Audit Intern Hubungan berjalan efektif dan Independensi, Kemampuan,
Kunci Agen Perubahan aktif dalam Organisasi Profesi dikembangkan secara kepada Publik terus-menerus dan Kewenangan Penuh
berkelanjutan Kegiatan Audit Intern
Proyeksi Tenaga/Tim Kerja Perencanaan Strategis Audit
Intern
Level 4-Managed Jaminan (assurance) Audit Intern berkontribusi Strategi audit memanfaatkan Penggabungan Ukuran Kinerja Pimpinan Audit Intern mampu Pengawasan independen
menyeluruh atas Tata Kelola, terhadap Pengembangan manajemen risiko organisasi Kualitatif dan Kuantitatif memberikan Saran dan terhadap Kegiatan Audit Intern
Manajemen Risiko, dan Manajemen mempengaruhi Manajemen
Pengendalian
Audit Intern mendukung
Organisasi Profesi

Perencanaan Tenaga/Tim
Kerja
Level 3-Integrated Layanan Konsultansi Membangun Tim dan Kerangka Kerja Manajemen Pengukuran Kinerja Koordinasi dengan Pihak lain Laporan Pimpinan Audit Intern
(Advisory) Kompetensi Kualitas yang memberikan Saran dan kepada Pimpinan Tertinggi
Penjaminan Organisasi
Audit Kinerja/ Audit Value-for- Pegawai yang berkualifikasi Perencanaan Audit berbasis Informasi Biaya Komponen Tim Manajemen Pengawasan Manajemen
Money Profesional Risiko yang Integral terhadap Kegiatan Audit Intern
Pelaporan Manajemen Audit Mekanisme Pendanaan
Koordinasi Tim Kerja Intern
Level 2-Infrastructure Audit Ketaatan Pengembangan Profesi Kerangka Kerja Praktik Anggaran Operasional Audit Pengelolaan Organisasi Audit Akses Penuh terhadap
Individu Profesional dan Prosesnya Intern Intern Informasi Organisasi, Aset dan
SDM
Identifikasi dan Rekrutmen Perencanaan Audit Perencanaan Kegiatan Audit
SDM yang Kompeten berdasarkan Prioritas Intern Hubungan Pelaporan telah
Manajemen/Pemangku Terbangun
Kepentingan
Level 1-Initial Ad hoc dan tidak terstruktur, audit terbatas untuk ketaatan, output tergantung pada keahlian seseorang pada posisi tertentu, tidak menerapkan praktik profesional secara spesifik selain yang
ditetapkan asosiasi profesional, pendanaan disetujui oleh manajemen sesuai yang diperlukan, tidak adanya infrastruktur, auditor diperlakukan sama seperti sebagian besar unit organisasi,
18
tidak ada kapabilitas yang dibangun, tidak memiliki key process area (KPA) yang spesifik.
IMPROVEMENT OF MATURITY LEVEL
(PEMENUHAN KPA PADA LEVEL 2)
<-------- ELEMEN --------> <-------- KPA -------->

Peran dan Layanan • Audit Ketaatan (Compliance Auditing)

• Identifikasi dan Rekrutmen SDM yang kompeten (Skilled People Identified and Recruited)
Manajemen SDM
• Pengembangan profesi individu (Individual Proffessional Develpment)

• Perencanaan pengawasan berdasarkan prioritas manajemen/pemangku kepentingan


Praktik Profesional
• Kerangka Kerja praktik profesional dan prosesnya.

• Perencanaaan kegiatan SPI (IA business Plan)


Manajemen Kinerja & Akuntabilitas
• Anggaran operasional kegiatan SPI (IA Operating Budget)

• Pengelolaan organisasi SPI (Managing within The IA Activity)


Hubungan dan Budaya Organisasi

• Hubungan pelaporan telah terbangun


Struktur Tata Kelola
• Akses penuh terhadap informasi organisasi, aset dan SDM
IMPROVEMENT OF MATURITY LEVEL
(PEMENUHAN KPA PADA LEVEL 3)
<-------- ELEMEN --------> <-------- KPA -------->

• Audit Kinerja/Program Evaluasi (Performance/Value for Money Audit)


Peran dan Layanan
• Layanan Konsultansi (Advisory Service)

• Koordinasi Tim (Workforce Coordination)


Manajemen SDM • Pegawai yang Berkualifikasi Profesional (Professionally Qualified Staff)
• Membangun Tim dan Kompetensinya (Team Building and Competency)

• Perencanaan Audit Berbasis Risiko (Risk Based Audit Plan)


Praktik Profesional
• Kerangka Kerja Pengelolaan Kualitas (Quality Management Framework)

• Pelaporan Manajemen SPI BUMN (IA Management Reports)


Manajemen Kinerja & Akuntabilitas • Informasi Biaya (Cost Information)
• Pengukuran Kinerja (Performance Measures)

• Komponen Manajemen Tim yang Integral (Integral Component of Management Team)


Hubungan dan Budaya Organisasi • Koordinasi dengan Pihak Lain yang memberikan Saran dan Penjaminan (Coordination With Other Review
Group)

• Mekanisme Pendanaan (Funding Mechanism)


Struktur Tata Kelola
• Pengawasan Manajemen terhadap kegiatan SPI BUMN (Management Oversight of the IA Activity)
IMPROVEMENT OF MATURITY LEVEL
(PEMENUHAN KPA PADA LEVEL 4)

<-------- ELEMEN -------->

Manajemen Kinerja Hubungan dan Struktur Tata


Peran dan Layanan Manajemen SDM Praktik Profesional
& Akuntabilitas Budaya Organisasi Kelola
• SPI memberikan • Perencanaan • Adanya strategi • Adanya intergritas • Pimpinan SPI BUMN • Adanya laporan
jaminan satuan kerja SDM pengawasan yang atas pengukuran mampu pimpinan SPI BUMN
menyeluruh atas SPI BUMN dapat kinerja kuntitatif memberikan kepada pimpinan
tata Kelola, (Workforce meningkatkan maupun kualitatif saran-saran dan tertinggi
<-------- KPA -------->

manajemen risiko , Planning) pengelolaan risiko mempengaruhi organisasi


dan pengendalian • SPI BUMN organisasi jajaran manajemen BUMN/BUMD
organisasi mendukung organisasi. • Adanya
organisasi profesi pengawasan
• Adanya kontribusi terhadap SPI BUMN
kegiatan oleh pihak
pengawasan independen
terhadap
pengembangan
manajemen
IMPROVEMENT OF MATURITY LEVEL
(PEMENUHAN KPA PADA LEVEL 5)
Peran dan Layanan
• Internal auditing dianggap sebagai agen perubahan kunci

Manajemen SDM
• Adanya proyeksi satuan kerja SDM SPI BUMN (Workforce Projection)
• Para Pimpinan SPI BUMN dan auditor internal terlibat aktif dalam kepengurusan inti organisasi profesi

Praktik Profesional
• Adanya rencana Strategis Pengawasan Intern

Manajemen Kinerja & Akuntabilitas


• Adanya pelaporan kepada publik atas efektivitas kegiatan pengawasan internal

Hubungan dan Budaya Organisasi


• Adanya hubungan yang efektif dan berkesinambungan

Struktur Tata Kelola


• Adanya independensi, kemampuan, dan kewenangan yang penuh
JENIS PENILAIAN KAPABILITAS SPI BUMN
Initial Assessment (Penilaian Pertama)

• Ini merupakan kegiatan penilaian kapabilitas yang pertama kali dilakukan pada satu unit
SPI tertentu. Hasil penilaian yang diperoleh dari kegiatan Initial Assessment merupakan
titik awal atau dasar (baseline) dalam program peningkatan kapabilitas SPI.

Repeat Assessment (Penilaian Berulang)

• Ini merupakan kegiatan penilaian kapabilitas yang dilakukan pasca pelaksanaan tindak
lanjut hasil penilaian Initial Assessment atau Repeat Assessment sebelumnya. Seluruh
Assessment yang dilakukan pasca Initial Assessment adalah merupakan Repeat
Assessment.
• Kegiatan Repeat Assessment diperlukan untuk mengetahui apakah pasca pelaksanaan
perbaikan atau peningkatan terhadap seluruh area yang perlu diperbaiki terjadi
peningkatan level kapabilitas SPI tersebut.
SEBARAN 41 KEY PROCESS AREA (KPA)
PADA 6 ELEMEN

24
41 KEY PROCESS AREA (KPA) DAN 240 PERNYATAAN

25
41 KEY PROCESS AREA (KPA) DAN 240 PERNYATAAN
Level 2 Level 3 Level 4 Level 5
Jumlah SD Level 5 (IACM 2017) Total
P1 P2 P3 P1 P2 P3 P1 P2 P3 P1 P2 P3
Elemen I 5 9 - - 6 4 - 5 - - 6 - - 30
Elemen II 10 5 7 - 3 9 8 4 5 5 3 6 - 55
Elemen III 7 6 7 - 10 7 - 4 - - 5 4 - 43
Elemen IV 7 7 3 - 6 5 8 9 - - 5 - - 43
Elemen V 5 6 - - 9 5 - 7 - - 8 - - 35
Elemen VI 7 5 3 - 5 8 3 5 - - 5 - - 34
Total Pernyataan 41 KPA 10 KPA 15 KPA 8 KPA 8 KPA 240

Untuk Berada Pada Level 2 (Infrastruktur) terdapat 58 Pernyataan yang menggambarkan 10 KPA yang harus Terpenuhi

Untuk Berada Pada Level 3 (Integrated) terdapat 96 Pernyataan yang menggambarkan 15 KPA yang harus Terpenuhi

Untuk Berada Pada Level 4 (Managed) terdapat 44 Pernyataan yang menggambarkan 8 KPA yang harus Terpenuhi

Untuk Berada Pada Level 5 (Optimizing) terdapat 42 Pernyataan yang menggambarkan 8 KPA yang harus Terpenuhi
Cara Penilaian Kapabilitas SPI BUMN
JENIS PENILAIAN KAPABILITAS SPI KORPORASI

Initial Assessment (Penilaian Pertama)

• Ini merupakan kegiatan penilaian kapabilitas yang pertama kali dilakukan pada satu unit
SPI tertentu. Hasil penilaian yang diperoleh dari kegiatan Initial Assessment merupakan
titik awal atau dasar (baseline) dalam program peningkatan kapabilitas SPI.

Repeat Assessment (Penilaian Berulang)

• Ini merupakan kegiatan penilaian kapabilitas yang dilakukan pasca pelaksanaan tindak
lanjut hasil penilaian Initial Assessment atau Repeat Assessment sebelumnya. Seluruh
Assessment yang dilakukan pasca Initial Assessment adalah merupakan Repeat
Assessment.
• Kegiatan Repeat Assessment diperlukan untuk mengetahui apakah pasca pelaksanaan
perbaikan atau peningkatan terhadap seluruh area yang perlu diperbaiki terjadi
peningkatan level kapabilitas SPI tersebut.
28
Ruang Lingkup Penilaian

 Penilaian kapabilitas SPI secara mandiri ini akan dibatasi pada


penilaian aspek‐aspek yang keberadaannya atau ketersediaan
dokumen atau bukti pendukungnya terbatas di lingkungan internal
unit SPI Korporasi itu sendiri. Hal ini biasanya terkait dengan faktor
input, proses dan sistem serta output.
 Dalam pemenuhan pernyataan tersebut, prinsip dasar yang harus
dipahami adalah jangan menjadikan ‘level kapabilitas’ sebagai target
yang ingin dicapai (orientasi output‐level). Target yang semestinya
dicapai adalah mengupayakan agar kapabilitas SPI dapat berkembang
sedemikian rupa sehingga SPI mampu memberikan kontribusi yang
maksimal dalam pengawalan kegiatan korporasi (orientasi
outcome‐manfaat).
Petunjuk Pengisian
• Untuk menentukan jawaban atas masing‐masing pernyataan perlu didukung dengan bukti yang
memadai dan relevan dan/atau sistem yang sudah berjalan di lingkungan SPI. Dalam menentukan
alternatif jawaban “ya”, “sebagian” atau “tidak”, harus didasarkan pada bukti yang ada pada unit SPI
yang bersangkutan dan sudah diimplementasikan secara terus menerus, minimal (namun tidak
terbatas) sesuai contoh infrastruktur yang ada dalam Lampiran.
• Dalam memilih jawaban, tidak hanya mendasarkan pada prosentase (banyaknya) kepemilikan
dokumen seperti yang tercantum dalam Lampiran, namun mendasarkan pertimbangan profesional
(professional judgment) .
 Jawaban “ya” dipilih dengan asumsi bahwa unit SPI telah memenuhi pernyataan dan/atau
mempunyai dokumen minimal (namun tidak terbatas) seperti dalam contoh infrastruktur pada
Lampiran 2, dengan kondisi bahwa unit SPI yang bersangkutan telah mengimplementasikan
seluruhnya secara terus menerus dan berulang‐ulang.
 Jawaban “sebagian” dipilih dengan asumsi bahwa unit SPI hanya memenuhi sebagian pernyataan
dan/atau mempunyai dokumen yang lebih sedikit dibandingkan dengan contoh infrastruktur pada
Lampiran 2, dengan kondisi bahwa unit SPI Korporasi yang bersangkutan sebagian besar
mengimplementasikan dokumen tersebut secara tidak terus menerus dan tidak berulang‐ulang.
 Jawaban “tidak” dipilih dengan asumsi jika unit SPI yang bersangkutan tidak memenuhi
pernyataan dan/atau tidak mempunyai dokumen (namun tidak terbatas) seperti dalam Lampiran
2, sehingga tidak ada yang diimplementasikan di unit SPI Korporasi tersebut.
CONTOH SIMPULAN LEVEL
Level
NO Uraian Elemen
Contoh Contoh Contoh Contoh Contoh Contoh
1 2 3 4 5 6
1 Peran dan Layanan 1 1 3 3 2 2

2 Pengelolaan SDM 2 2 3 3 2 3

3 Praktik Profesional 1 1 2 1 2 2

4 Manajemen Kinerja & Akuntabilitas 2 2 3 3 2 3

5 Hubungan dan Budaya Organisasi 1 2 2 3 2 3

6 Struktur Tata Kelola 1 1 1 3 3 2

Simpulan Level Kapabilitas 1 2 DC 2 DC 2 DC 2 3 DC


31
Tindak Lanjut Hasil PenilaianRenaksi
 Pimpinan SPI harus segera melakukan identifikasi KPA, pernyataan dan
infrastruktur yang perlu perbaikan (Area of Improvement) secara terbatas yaitu
pernyataan yang relevan dengan level kapabilitas yang ingin dicapai saja.
 Area of Improvement tersebut merupakan pernyataan‐pernyataan yang
dijawab dengan nilai 0,5 dan Nol.
 Pernyataan yang sudah dijawab dengan nilai 1, artinya seluruh indikator telah
dipenuhi sehingga tidak diperlukan lagi upaya perbaikan/peningkatan.
 Merumuskan dan mengembangkan rencana tindak perbaikannya (action plan)
untuk mencapai level kapabilitas yang ditargetkan. “Rencana Tindak” dapat
dipecah/diturunkan menjadi lebih rinci ke dalam satuan waktu/periode yang lebih
pendek misalnya per triwulan.
STRATEGI PENINGKATAN KAPABILITAS SPI KORPORASI

Peningkatan Kesadaran Memiliki Kapabilitas Berkelas


Dunia

Diperlukan dukungan dan komitmen dari seluruh Direksi Korporasi


sebagai shareholders SPI dan pimpinan SPI sendiri
STRATEGI PENINGKATAN KAPABILITAS SPI

Self Assessment Kapabilitas SPI berdasarkan Internal


Audit Capability Model (IA-CM)

Penilaian Mandiri terhadap Key Process Area (KPA) yang harus


dipenuhi sehingga diketahui Area of Improvement untuk menuju ke
level kapabilitas yang lebih tinggi
Tersedianya pedoman teknis self assessment yang akan didukung
dengan sistem aplikasi
STRATEGI PENINGKATAN KAPABILITAS SPI

Quality Assurance oleh BPKP/ Asesor Eksternal


terhadap Proses Peningkatan Kapabilitas SPI

Penyediaan bantuan dalam proses peningkatan kapabilitas SPI,


khususnya dalam melakukan self assessment
STRATEGI PENINGKATAN KAPABILITAS SPI KORPORASI

Self Improvement Kapabilitas SPI


Sesuai Hasil Self Assessment

Pengembangan secara mandiri Kapabilitas SPI berdasarkan hasil self


assessment
Penyediaan pedoman teknis self improvement
bagaimana meningkatkan dari Level-1 ke Level-2; dan dari Level-2 ke Level-3
STRATEGI PENINGKATAN KAPABILITAS SPI KORPORASI

Peningkatan Kompetensi SDM SPI


melalui e-Learning

Penyediaan diklat-diklat JFA dan teknis substansi yang mendukung


peningkatan Kapabilitas SPI;
dikembangkan melalui proses diklat secara elektronik (e-learning)