Anda di halaman 1dari 9

Gajah Mada Bergelut dalam

Takhta dan Angkara

KELOMPOK 8
Ananda Dika M. 04
Ario Duta J. 07
Fathricia Angel 17
Rafi Awandika 27
Sofyan zainul 37
ORIENTASI
Duka membanyang di kaki langit,duka sekali lagi membungkus mata hati. …
Ada banyak hal yang dicatat pancaksara,banyak sekali.kesedihan kali ini terjadi
bagai pengulangan peristiwa sembilan belas tahun yang lalu,yang dituliskannya
berdasarkan kisah yang dituturkan ayahnya,samenaka,karena ketika peristiwa
itu terjadi pancaksara masih belum bisa dibilang dewasa.

Kala itu tahun 1309.Segenap rakyat berkumpul di alun-alun.Semua


berdoa,apapun warna agamanya,apakah siwa,buddha,maupun hindu.Semua
arah perhatian ditujukkan dalam satu pandang,ke Purakwaktra yang tidak
dijaga terlalu ketat.Segenap prajurit bersikap sangat ramah kepada siapapun
karena memang demikian sikap keseharian mereka.
MENUJU KONFLIK
Yang mencuri perhatian kali ini bukan hanya soal desas-desus itu.sepeninggal
kalagamet Sri Jayanegara dengan segera muncul pertanyaan,siapa yang akan
naik takhta menggantikaannya.

Dua pewaris yang masing-masing berwajah cantik itu memang bersih,tetapi


apa yang terlihat tidak sesederhana yang tampak.Pancaksara bahkan melihat
persaingan maut amat tajam bakal terjadi,terutama riuhnya barisan orang-
orang di belakang Kudarmata.
PUNCAK KONFLIK
“Siapa yang terbunuh di Bale Gringsing”?
“Lurah Prajuri Ajar Langse,”jawab Bhayangkara Macan Liwung.Gajah Mada
menarik napas lega setelah mengetahui bukan Gajah.

Enggon yang terbunuh di Bale Gringsing.Akan tetapi,bahwa pembunuhan itu


terjadi di tempat itu membuat Gajah Mada penasaran.Apalagi yang terbunuh
adalah Ajar Langse yang belum lama berpapasan dengannya.
RESOLUSI
Balai Prajurit ramai sekali.Berita mengenai ditangkapnya pemimpin orang-
orang yang berniat melakukan makar dengan cepat menyebar.Ketika melintas
Pasar Daksina prajurit Bhayangkara yang membawa pulang pimpinan
pemberontak yang tertangkap di Karang Watu,maka dengan segera berita itu
menyebar ke penjuru kota.Lebih-lebih ketika hari merambat siang tawanan
dalam jumlah lebih banyak diangkut dengan kereta kuda menuju kotaraja
dibawah pengwalan gabungan pasukan pasukan Jalapati dan Sapu Bayu.
KODA
Dyah Menur Hardiningsih yang menggendong anaknya dan
Pradhabasu yang juga menggendong anaknya,berjalan makin
jauh dan makin jauh ke arah surya dilangit barat.Dan sang waktu
sebagaimana kodratnya akan mengantarkan kemanapun mereka
melangkah.Sang waktu pula yang menggilas semua peristiwa
menjadi masa lalu.
Kaidah Kebahasaan
• Menggunakan banyak kalimat bermakna lampau.
Ada banyak hal yang dicatat pancaksara,banyak sekali.kesedihan kali ini terjadi
bagai pengulangan peristiwa sembilan belas tahun yang lalu,yang dituliskannya
berdasarkan kisah yang dituturkan ayahnya,samenaka,karena ketika peristiwa
itu terjadi pancaksara masih belum bisa dibilang dewasa
• Menggunakan banyak kata yang menyatakan urutan waktu.
Kala itu tahun 1309.Segenap rakyat berkumpul di alun-alun.
• Menggunakan banyak kata kerja yang menggambarkan suatu tindakan.
Dyah Menur Hardiningsih yang menggendong anaknya dan Pradhabasu yang
juga menggendong anaknya,
• Menggunakan kata kerja kalimat tak langsung sebagai cara menceritakan
tuturan tokoh oleh pengarang.
kesedihan kali ini terjadi bagai pengulangan peristiwa sembilan belas tahun
yang lalu,yang dituliskannya berdasarkan kisah yang dituturkan
ayahnya,samenaka,
• Menggunakan banyak kata yang menyatakan sesuatu yang dipikirkan atau
dirasakan tokoh.
Enggon yang terbunuh di Bale Gringsing.Akan tetapi,bahwa pembunuhan itu
terjadi di tempat itu membuat Gajah Mada penasaran.
• Menggunakan banyak dialog.
“Siapa yang terbunuh di Bale Gringsing”?
“Lurah Prajuri Ajar Langse,”jawab Bhayangkara Macan Liwung.Gajah Mada
menarik napas lega setelah mengetahui bukan Gajah
• Menggunakan kata-kata sifat untuk menggambarkan tokoh,tempat,dan
suasana
Dua pewaris yang masing-masing berwajah cantik itu memang bersih,tetapi
apa yang terlihat tidak sesederhana yang tampak.
Jenis Teks
Merupakan Rekon Imajinatif karena teks tersebut memuat kisah faktual
yang dikhayalkan dan diceritakan secara rinci.

Merupaka Teks Novel Sejarah karena memuat kisah yang faktual yang
kemudian dikisahkan kembali dengan sudut pandang lain.