Anda di halaman 1dari 39

CLINICAL PATHWAY

ISTILAH

 PPK (Panduan Praktik Klinis)


 PAK (Panduan Asuhan Keperawatan)
 PAFf (Panduan Asuhan Kefarmasaian)
 PAG (Panduan Asuhan Gizi)
PERUBAHAN PARADIGMA PELAYANAN
PASIEN

1. Patient Safety
2. Patient centered care
3. Interprofessional collaboration
4. Continuum of care
5. Continuous quality improvement
Patient Centered Care
1988

 Harvey Picker ( 1915 – 2008)


 He was the founder of the Boston-based Picker Institute,
whose goal is to promote patient-centered healthcare.
 The term patient-centered care was coined by Harvey Picker,
1988
 He believed that the American health care system was
technologically and scientifically outstanding, but overall
was not sensitive to patients' concerns and their comfort
 In The Year 1986, they founded the Picker Institute,
dedicated to developing a patient-centered approach to
healthcare

PCCth2000  Patient Safety 


 “…care that is respectful of and responsive to
individual patient preferences, needs and values,
ensuring that patient values guide all clinical
decisions. (Institute of Medicine, Crossing the Quality
Chasm,2001)

5
Model Patient Centered Care
(Interdisciplinary Team Model – Interprofessional Collaboration)

DPJP
Perawat Apoteker
• Clinical/Team
Leader Fisio Ahli
• Review Asuhan terapis Pasien, Gizi
Keluarga
• Secara kolaboratif
melakukan sintesa Radio
& integrasi asuhan Analis
grafer
pasien
Lainnya
1. Patient Centered Care (PCC)  Pasien adalah pusat pelayanan, Pasien adalah
bagian dari tim
2. Profesional Pemberi Asuhan (PPA) diposisikan di sekitar pasien, dgn kompetensi
yg memadai, sama pentingnya pada kontribusi profesinya, tugas mandiri, delegatif, kolaboratif,
merupakan model Tim Interdisiplin
3. Peran & fungsi DPJP : sebagai Clinical Leader, melakukan Review, Sintesa , Integrasi
asuhan pasien, Koordinasi
4. PCC merupakan pendekatan modern, inovatif, sudah menjadi trend global dalam
pelayanan RS
 Pada Model tradisional
dalam yan kes, dokter
merupakan unit sentral/
pusat dalam model yan kes
Pedekatan yg lebih modern dlm
yan kes sekarang, diterapkan dgn
cepat di banyak RS di seluruh
dunia, model tim interdisiplin :
 model ini telah menggeser
semua PPK menjadi disekitar
pasien
 berfokus pada PCC
 Sbg tambahan, semua
profesi sama pentingnya bila
tiba pada kontribusi setiap 7

profesional yan kes tthd pasien


PELAYANAN BERFOKUS PADA PASIEN
MEMBUTUHKAN

COMMUNICATION

COORDINATION

COLLABORATION

PARTNERSHIP

EDUCATION
SHARED DECISION
MAKING
INTERPROFESSIONAL COLLABORATION
COLABORATE

 Kolaborasi sebagai hubungan timbal balik dimana pemberi pelayanan memegang tanggung jawab paling besar untuk
perawatan pasien dalam kerangka kerja bidang respektif mereka.

 Praktik kolaborasi menekankan tanggung jawab bersama dalam menajemen perawatan pasien, dengan proses
pembuatan keputusan bilateral didasarkan pada masing-masing pendidikan dan kemampuan praktisi.
(Gillies, 1984; Siegler & Whitney, 1994).
Pendidikan Interprofessional dan
Praktik Kolaboratif (WHO, 2010)

• Tenaga kesehatan dari berbagai profesi memberikan


pelayanan komprehensif bekerjasama dengan pasien,
Praktik keluarga, kader kesehatan dan komunitas untuk
memberikan asuhan lintas tatanan bermutu tinggi
Kolaboratif •

• klinik dan non klinik yang berhubungan


Praktik dengan kegiatan mendiagnosis, tritmen,
surveilans, komunikasi kesehatan,
manajemen dan sanitasi
Apa Praktik Kolaboratif dan Terpadu
1

Telah belajar bagaimana bekerja dalam tim interprofessional dan


memiliki kompetensi untuk melakukannya

2
Terjadi jika pekerja kesehatan dari berbagai latarbelakang profesi bekerjasama
dengan pasien, keluarga, care giver dan komunitas untuk memberikan asuhan
berkualitas tinggi

Memungkinkan pekerja kesehatan yang memiliki kompetensi dapat


mencapai tujuan kesehatan lokal
Elements of collaborative practice include responsibility,
accountability, coordination, communication, cooperation,
assertiveness, autonomy, and mutual trust and respect 15

(Kasperski M. Implementation strategies: ‘Collaboration in primary care - family doctors and nurse practitioners delivering
shared care.’ Toronto, ON: Ontario College of Family Physicians, 2000)
CLINICAL PATHWAY

 Care pathway
 Care Map
 Integrated care pathways
 Multidisciplinary pathways of care
 Pathways of care
 Collaborative care pathway
 CP dibuat untuk memberikan rincian apa yang harus dilakukan pada kondisi klinis tertentu
 CP memberikan rencana tata laksana hari demi hari dengan standar pelayanan yang dianggap sesuai
 CP bersifat multidisiplin sehingga semua pihak yang terlibat dalam pelayanan dapat menggunakan format yang
sama.
 CP dapat memonitor perkembangan pasien setiap hari baik intervensi maupun outcomenya.
FAKTOR YANG MEMBUAT OUTCOME TIDAK SESUAI CP

 Sifat penyakit pada setiap individu


 Terapi tidak diberikan sesuai dengan ketentuan
 Pasien tidak mentoleransi obat
 Terdapat ko-morbiditas
DEFINISI CP

 Clinical Pathway (CP) adalah suatu konsep perencanaan pelayanan terpadu yang
merangkum setiap langkah yang diberikan kepada pasien berdasarkan standar
pelayanan medis dan asuhan keperawatan yang berbasis bukti dengan hasil yang
terukur dan jangka waktu tertentu selama di Rumah Sakit.
 European Pathway Association (EPA) pada kongres yang terakhir di Slovenia telah
merevisi definisi Clinical Pathway sebagai berikut :
 Clinical Pathway adalah metodologi dalam cara mekanisme pengambilan keputusan
terhadap layanan pasien berdasarkan pengelompokkan dan dalam periode waktu
tertentu.
PRINSIP-PRINSIP DALAM MENYUSUN CLINICAL PATHWAY

 Pelayanan yang diberikan harus terpadu, integrasi dan berfokus terhadap pasien (PCC) serta bekesinambungan
(continuing of care)
 Melibatkan seluruh profesi (dokter, perawat, bidan, piñata, laboratories dan farmasis)
 Dalam batasan waktu yang telah ditentukan sesuai dengan keadaan perjalanan penyakit pasien dan dicatat dalam
bentuk periode harian (untuk kasus rawat inap) atau jam (untuk gawat darurat di IGD)
 Pencatatan Clinical Pathway seluruh kegiatan pelayanan yang diberikan kepada pasien secara terpadu dan
berkesinambungan tersebut dalam bentuk dokumen yang merupakan bagian dari rekam medis.
 Setiap penyimpangan langkah dalam penerapan Clinical Pathway dicatat sevagai varians dan dilakukan kajian analisa
dalam bentuk audit
 Varians tersebut dapat terjadi karena kondisi perjalanan penyakit, penyakit penyerta atau
 Komplikasi maupun kesalahan medis (medical errors) dan dipergunakan sebagai salah satu parameter dalam rangka
mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan
 Suatu alat untuk mendapatkan perawatan yang terkoordinasi dan hasil yang prima dalam suatu rentang waktu
tertentu dengan menggunakan sumber daya yang tersedia.
 Suatu metodologi untuk suatu pembuatan keputusan yang saling menguntungkan dan pengorganisasian pelayanan
untuk suatu kelompok pasien dalam suatu jangka waktu tertentu
 Suatu rancangan penatalaksanaan multi disiplin klinis terbaik untuk suatu kelompok pasien dengan diagnosis
tertentu yang dapat membantu koordinasi dan memberikan kualitas pelayanan yang prima
 Suatu alat audit untuk manajemen dan klinis, dimulai sejak kegiatan pasien saat mendaftar dan berakhir saat pasien
dinyatakan sembuh dan boleh pulang ke rumah. Ia menyatukan rencana pelayanan kesehatan dan asuhan
keperawatan dengan terapi lain seperti terapi; gizi, fisioterapi dan kejiwaaan
 CP bukan merupakan standar pelayanan atau pengganti penilaian klinis atau pengganti perintah dokter, melainkan
suatu dokumen yang terintegrasi untuk memudahkan proses perawatan pasien dan mengefektifkan pelayanan klinis
dan finansial dengan menggabungkan pendekatan tim dan klinis
PRIORITAS PEMBUATAN CP

 Kasus sering ditemui


 Kasus yang terbanyak
 Biayanya tinggi
 Perjalanan penyakit dan hasilnya dapat diperkirakan
 Telah tersedia Standar Pelayanan Medis dan Standar Prosedur
Operasional
4 KOMPONEN CP (FEUTH DAN CLAES, 2008)

 Time Line/kerangka waktu


 Kategori asuhan/pelayanan, aktivitas dan intervensinya
dari masing-masing profesi.
 Kriteria hasil dengan menetapkan kriteria jangka pendek
dan jangka panjang
 Variasi pencatatan
TUJUAN PEMBERLAKUAN CLINICAL PATHWAY
(LUTTMAN,2002)

1. Meningkatkan mutu pelayanan medis dengan proses pelayanan yang lebih


terstandarisasi dan terkoordinasi dengan baik.
2. Meningkatkan mutu dokumentasi.
3. Meningkatkan pengukuran proses dan luaran pelayanan klinis.
4. Meningkatkan koordinasi antara tim yang terlibat dalam proses pelayanan
medis.
TUJUAN UTAMA IMPLEMENTASI CLINICAL PATHWAY MENURUT
DEPKES RI (2010)
 Memilih “best practice” pada saat pola praktek diketahui berbeda secara bermakna.
 Menetapkan standar yang diharapkan mengenai lama perawatan dan penggunaan pemeriksaan klinik
serta prosedur klinik lainnya.
 Menilai hubungan antara berbagai tahap dan kondisi yang berbeda dalam suatu proses serta menyusun
strategi untuk mengkoordinasikan agar dapat menghasilkan pelayanan yang lebih cepat dengan tahapan
yang lebih sedikit.
 Memberikan peran kepada seluruh staf yang terlibat dalam pelayanan serta peran mereka dalam proses
tersebut.
 Menyediakan kerangka kerja untuk mengumpulkan dan menganalisa data proses pelayanan sehingga
provider dapat mengetahui seberapa sering dan mengapa seorang pasien tidak mendapatkan pelayanan
sesuai standar.
 Mengurangi beban dokumentasi klinik. g. Meningkatkan kepuasan pasien melalui peningkatan edukasi
kepada pasien, misalnya dengan menyediakan informasi yang lebih tepat tentang rencana pelayanan.
FORMAT PPK

1. Pengertian 10. Prognosis


2. Anamnesis 11.Tingkat Evidance
3. Pemeriksaan Fisik 12.Tingkat Rekomendasi
4. Kriteria Diagnosis 13. Penelaahan Kritis
5. Diagnosa Kerja 14. Indikator
6. Diagnosa Banding 15. Kepustakaan
7. Pemeriksaan Penunjang
8. Tatalaksana
9. Edukasi
FORMAT PAK
1. Pengertian
2. Assesmen Keperawatan
3. Diagnosa Keperawatan
4. Kriteria Evaluasi / Nursing Outcome
5. Intervensi
6. Informasi Edukasi / Discharge
Planning
7. Evaluasi
8. Evidance Base Nursing Practice*
9. Penalaahan Kritis
10.Kepustakaan
14 KEBUTUHAN DASAR

1. Kebutuhan Oksigenisasi 8. Kebutuhan kebersihan diri


2. Kebutuhan Makan dan Minum 9. Kebutuhan kenyamanan dan
Keamanan
3. Kebutuhan Eliminasi 10. Kebutuhan komunikasi dan emosi
4. Kebutuhan mobilisasi 11. Kebutuhan beribadah
12. Kebutuhan bekerja dan ADL
5. Kebutuhan Istirahat dan Tidur 13. Kebutuhan bermain dan rekreasi
6. Kebutuhan Berpakaian 14. Kebutuhan belajar dan
pengetahuan
7. Menjaga suhu tubuh
ISI FORMAT CLINICAL PATHWAY

1. Judul
2. Identitas Pasien (lihat Pedoman lengkap)
3. Isi Clinical Pathway (lihat Pedoman lengkap)
4. Penangung Jawab
5. Keterangan
LANJUTAN…..
LANJUTAN…..
 Cari salah satu dari jurnal dengan tingkatan Meta analisis/Sistemtik Review atau CRT
 Bagaimana prosedur penelitian dilakukan?
 Apa hasil dari penelitian tersebut?
 Bagaimana rekomendasi yang bias dipakai untuk evidence base dalam clinical pathway