Anda di halaman 1dari 7

Auditing 1

( Kasus Keuangan Garuda Indonesia)

Nama : Novia Melati


Nim : 1701035041
Memberikan opini pribadi apakah kasus keuangan
Garuda Indonesia termasuk Kelalaian ( Negligence
) atau Kecurangan (Fraud)

Menurut pendapat saya kasus Keuangan Garuda Indonesia


termasuk dalam kecurangan (fraud) dan kelalaian
(negligence).

1. Fraud (Kecurangan)
Menurut pendapat saya kecurangan didalam kasus ini
terletak pada pihak internal yaitu manajemen maskapai
Garuda Indonesia yang melakukan rekayasa laporan
keuangan dengan mengakui utang yang belum terbayarkan
sebagai pendapatan , hal ini menghasilkan laba bersih bagi
maskapai tetapi sebenarnya terjadi adalah rugi karena
utang belum terbayarkan.
Hal ini dilakukan oleh pihak internal maskapai karena
pada tahun sebelumnya maskapai Garuda Indonesia
mengalami kerugian dan berimbas kepada harga saham
yang anjlok dari Rp 500 per saham menjadi Rp 466 per
saham. Kecurangan dilakukan agar pemegang
kepentingan beranggapan bahwa kinerja maskapai
penerbangan Garuda Indonesia berjalan baik dan tidak
mengalami kerugian.

2. Negligence ( Kelalaian)
Dalam kasus keuangan maskapai penerbangan Garuda
Indonesia dikategorikan sebagai kelalaian atau
neglicence karena kurangnya ketelitian yang dilakukan
Oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) untuk menilai
transaksi kegiatan perlakuan akuntansi terhadap
pendapatan piutang walaupun belum diterima oleh
perusahaan dan menyimpulkan bahwa laporan
keuangan yang disajikan oleh pihak internal maskapai
telah sesuai dengan PSAK
Memberikan bukti yang menguatkan
argumen diatas
1. Fraud (Kecurangan)
• Mengakui laba bersih tahun 2018 sebesar USD 809.85
ribu setara Rp 11.33 miliar, berbanding terbalik dengan
tahun 2017 yang menderita kerugian sebesar USD 216.5
juta.
• Laporan keuangan Garuda Indonesia tahun 2018
tidak sesuai dengan PSAK
Dengan memasukan laba ( keuntungan) dari PT Mahata
Aero Teknologi yang memiliki utang kepada maskapai
Garuda Indonesia terkait pemasangan WIFI yang belum
dibayarkan. dalam kasus ini karena utang PT
Mahata Aero Teknologi belum dibayarkan
maka tidak dibenarkan untuk dicatat dalam
laporan keuangan bagian pendapatan

2. Negligence ( Kelalaian)
• Akuntan publik yang bersangkutan belum secara
tepat menilai substansi transaksi untuk kegiatan
perlakuan akuntansi pengakuan pendapatan piutang
meski secara nominal belum diterima oleh
perusahaan
• Akuntan publik belum sepenuhnya
mendapatkan bukti audit yang cukup untuk
menilai perlakuan akuntansi sesuai dengan
substansi perjanjian transaksi tersebut
• Tidak bisa mempertimbangkan fatka- fakta
setelah tanggal laporan keuangan sebagai
dasar perlakuan akuntansi