Anda di halaman 1dari 71

Visum Et Repertum Kecelakaan

Lalu Lintas Tertabrak Kereta Api

Pembimbing :
dr. Wahyu Dwi Atmoko, Sp.F

Kepaniteraan Klinik Ilmu Forensik dan Medikolegal


Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura
Surakarta
2019
Presentasi Kasus
Disusun oleh:

Juwita Valen Ramadhania, S.Ked I4061171009


Vica Vionita Rosalim, S.Ked I4061191045
Albertus Are Satriadi, S.Ked I4061172085
Risa muthmainah, S.Ked I4061171014
Pamela Rita Sari, S.Ked I4061172080
Agung Triatmojo, S.Ked I4061152066
Sarah Ersha Mutiari, S.Ked I4061191030
Ullya Aisyafitri, S.Ked I4061191033
Muhammad Fathur Arief Kurniawan, S.Ked I4061172029
Yosepha Stephani, S.Ked I4061171019
Lia Pramita, S.Ked I4061191023
Bayu Wendy Ary, S.Ked I4061191040
Deska Gratama Novtareno, S.Ked I4061191003
Tan Sri Ernawati, S.Ked I4061171017
Kecelakaan Lalu Lintas (KLL)

• Salah satu penyebab morbilitas dan mortalitas terbanyak di Dunia.1


Dunia • Terdapat 1.35 juta kematian tiap tahunnya.1

• Indonesia merupakan negara kelima dengan kejadian KLL terbanyak.2


• Kecelakaan lalu di Indonesia merupakan penyebab kematian terbesar ketiga.2
Indonesia • Pada tahun 2011 tercatat kasus KLL dengan korban meninggal dunia 31.185 orang,
luka berat 36.767 orang, dan luka ringan 108.811 orang.

• Instalasi Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUP Dr. Sardjito melaporkan


terdapat 33 kematian akibat kecelakaan kereta api pada tahun 2008-2012.3
Kereta
Api • Pasien diketahui di tabrak kereta api serta penyidik meminta pemeriksaan luar.

World Health Organization. 2018. Road traffic Injuries. Diakses Agustus 2019.
World Health Organization. 2013. Global status report on road safety. Diakses Agustus 2019.
Muslim I. Insidensi Kasus Kematian Pada Kecelakaan Kereta Api di RSUP Sardjito tahun 2008-2012. Universitas Gadjah Mada. Indonesia. 2013.
Visum et Repertum
Sabtu, 18 Agustus 2019
Pukul 00.10 WIB

Nama : PATRICK FINTO ANDRIANTO


Jenis kelamin : Laki-laki
Umur : 14 tahun
Agama : Katholik
Pekerjaan : Pelajar SMP Ursulin Surakarta
Alamat : Singkrit Rt.01 Rw.08 Parangjoro
Grogol Sukoharjo
Pemeriksaan Luar
Keadaan Jenazah (1)
• Jenazah terletak di atas
meja otopsi berbahan
stainless steel
• TIdak bermaterai.
• Dibungkus dengan kantong
jenazah berwarna kuning
bertuliskan “POLISI”
Keadaan Jenazah (2)

Jaket panjang Kaos hitam pendek


Celana jeans panjang
berwarna hijau ukuran ukuran M dengan
biru muda ukuran 27
S dengan merk tulisan “Racer Tees”
merk “EMBA”
“AVTECH”
Keadaan Jenazah (3)

Celana abu-abu, hitam Kaos kaki hitam Sepatu kanan hitam


putih ukuran XL ukuran 43 merk “Air
Jordan”, dengan tali
sepatu berwarna abu-
abu
Keadaan Jenazah (4)

Uang kertas 5000 rupiah di Uang kertas 1000 rupiah


saku kanan belakang celana di saku kanan depan
jaket
Sikap Jenazah
• Jenazah dalam posisi
terlentang
• Wajah menghadap ke
atas
• Lengan kanan
membentuk sudut 100˚
terhadap sumbu tubuh
dengan tangan kanan
berada di samping tubuh.
Lengan kiri membentuk
sudut 110˚ terhadap
sumbu tubuh dengan
tangan kiri berada di
samping tubuh. Kaki
kanan dan kiri lurus.
Kaku Jenazah
Kaku jenazah ditemukan
pada seluruh persendian
tubuh yang sukar
digerakkan

Kaku pada sendi Kaku pada sendi-sendi


besar kecil
Ukuran Jenazah

Panjang jenazah 160 cm


Rambut
Berwarna hitam tak beruban dengan
panjang 10 cm, suka dicabut, dan dalam
Kepala keadaan luruh basah

Jenazah
(1)
Bagian Tertutup
Rambut
Sebuah luka robek:
Kepala • Panjang 7 cm, lebar 1 cm
• Berbentuk huruf U
Jenazah • Posisi: 5 cm dari puncak
kepala dan 11 cm dari telinga
(2) kiri, dengan dasar pecah
tulang kepala dan keluar
jaringan otak
Teraba derik tulang dari puncak
kepala 1 cm dari belakang
telinga kiri 3 cm, panjang luka 14
cm dan lebar 12 cm
Dahi

Terdapat sebuah luka terbuka:


Kepala • Panjang 1,5 cm dan lebar
0,5 cm
Jenazah • Posisi 1 cm dari batas
rambut, dan 1 cm dari garis
(3) tengah tubuh
Tidak teraba derik tulang
Kepala
Jenazah (4)
Mata kanan
Sebuah luka lecet Mata membuka 0,5 cm Panjang luka lecet 4,5 cm
panjang 4,5 cm dan lebar
1 cm; selaput bening
mata berwarna jernih,
selaput lendir mata
berwarna pucat, pupil
melebar berukuran 0,5
cm, bola mata tampak
normal, kenyal. Tidak ada
retak tulang
Panjang rambut mata 0,5 cm Lebar luka lecet 0,5 cm
Mata Kiri
• Terdapat sebuah luka lecet
Kepala dengan panjang 4 cm dan
lebar 2 cm
Jenazah • Selaput bening mata berwarna
jernih, selaput lendir mata
(5) berwarna pucat
• Pupil melebat berukuran 0,5
cm
• Bola mata tampak normal, dan
pada perabaan teraba kenyal
• Tidak ada retak tulang
Hidung
Kedua lubang keluar cairan
berwarna merah, tidak terdapat
hematum dan derik tulang

Kepala Jenazah (6)


Mulut
• Mulut dalam keadaan tertutup
• Warna bibir pucat
• Terdapat sebuah luka lecet di
bagian tengah bibir bawah
berukuran panjang 0,5 cm dan
lebar 0,5 cm
• Kondisi dalam mulut dan gigi
geligi sulit dievaluasi karena
kaku jenazah

Kepala Jenazah (7)


• Pada pipi kiri terdapat
Kepala sebuah luka lecet
berukuran panjang 3
Jenazah (8) cm dan lebar 0,2 cm
Posisi luka lecet pada posisi 7 cm dari
telinga bawah kiri.
Pipi • Tidak ditemukan
hematom dan tidak ada
retak tulang

Panjang luka lecet


Luka lecet geser
Perut di perut kiri
• Permukaan perut sama tinggi dengan permukaan
Jenazah dada
• Pada perut sebelah kiri bawah terdapat sebuah
luka lecet geser berjarak 6 cm dari ketiak kiri, 1
cm dari garis tengah tubuh, dengan panjang luka
23 cm dan lebar 19 cm dan tidak terlihat
perubahan warna
• Pusar terlihat datar
• Pada perabaan teraba kenyal
• Pada ketukan terdengar suara redup pada
seluruh lapangan perut.
Anggota gerak atas kanan

Lengan kanan atas didapatkan 2


luka lecet geser:
- Pertama: panjang 10 cm, lebar
Luka lecet geser pertama, di Luka lecet geser pada 5 cm
lengan atas kanan bagian lengan bawah kanan
belakang bagian belakang
- Kedua: panjang 8 cm, lembar 3
cm
Lengan kanan bawah belakang
terdapat luka lecet geser,
panjang 2 cm dan lebar 1 cm
Tangan kanan terdapat luka lecet
Luka lecet di jari-jari tangan
di jari-jari dengan panjang 1 cm
Luka lecet geser kedua, di kanan. Pada kuku tangan dan lebar 0,2 cm
lengan atas kanan bagian didapatkan warna jaringan
belakang dibawah kuku tangan pucat
di semua jari
Anggota gerak atas kiri

• Lengan kiri atas didapatkan 2 luka


terbuka panjang 2 cm dan lebar 1,5
cm, dasar luka patah tulang.
• Lengan kiri bawah sisi dalam
terdapat luka robek panjang 4 cm
Luka terbuka pada Luka robek pada dan lembar 3 cm.
lengan kiri atas sisi lengan bawah kiri • Teraba derik tulang
depan dasar luka patah sisi dalam
• Tangan kiri terdapat luka lecet di jari-
tulang
jari dengan panjang 1 cm dan lebar
0,2 cm
Luka lecet di jari-
jari tangan kiri. • Kuku tangan berwarna pucat
Kuku tangan pucat
Anggota gerak bawah kanan
• Paha kanan putus 20 cm dari lipat
paha, 18 cm dari lutut
• Tungkai bawah putus 38 cm dari
pergelangan kaki
• Kaki kanan terdapat luka terbuka
6 cm dari pergelangan kaki, dasar
Paha kanan putus Tungkai bawah putus luka tulang
• Ibu jari, telunjuk dan jari manis
terputus
• Terdapat luka robek di kaki yang
Luka terbuka berjarak 2 cm dari tumit dengan
pada kaki lebar 4 cm, panjang 4 cm,
kanan
kedalaman 2,5 cm, dasar tulang
• Kuku kaki warna pucat
Anggota kerja bawah kiri

• Pada paha bagian luar terdapat


3 buah luka lecet
• Tungkai bawah putus 13 cm
dari lutut, terdapat luka terbuka
Luka terbuka dengan dasar dengan dasar tulang, panjang
3 luka lecet di paha luar kiri tulang pada, terdapat jaringan 31 cm, terdapat jaringan otot
otot yang hilang yang hilang
• Pada punggung kaki terdapat
luka lecet geser, panjang 1 cm
Punggung dan lebar 2 cm.
kaki kiri
terdapat luka • Kuku kaki berwarna pucat
lecet geser
Punggung Pantat

• Terdapat luka robek, lokasinya


2 cm dari pantat kiri, panjag 9
cm dan lebar 1,5 cm,
kedalaman 2 cm, dasar • Pantat kanan terdapat luka
jaringan otot lecet geser, panjang 13 cm dan
• Tidak ada hematom dan tidak lebar 14 cm
teraba derik tulang • Tidak teraba derik tulang
Tinjauan Pustaka
KLL
• Tingkat kematian akibat
kecelakaan lalu lintas di Indonesia
jauh lebih tinggi jika dibandingkan
dengan negara-negara maju di
Eropa dan Amerika Utara
• Di Indonesia, kecelakaan
Kecelakaan Lalu transportasi jalan pada tahun 2012
tercatat sebanyak 109.038 kasus
Lintas dengan jumlah korban meninggal
dunia 25.131 orang

Kecelakaan lalu lintas adalah suatu peristiwa Sugiyanto, G. & Malkhamah S. Kajian Biaya Kemacetan, Biay
a Polusi dan Biaya Kecelakaan Lalu Lintas Jalan.Simposium I
di jalan yang tidak diduga dan tidak disengaja nternasional XI Forum Studi Transportasi antar Perguruan Tin
ggi (FSTPT). Semarang: Universitas Diponegoro. 2013.
melibatkan kendaraan dengan atau tanpa Direktorat Jenderal Perhubungan Darat (Ditjen Hubdat). Ceta
k Biru Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Jakarta:
pengguna jalan lain yang mengakibatkan Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Direktorat Perhubu
ngan Darat. 2011.
korban manusia dan/atau kerugian harta benda
KLL

Klasifikasi
Undang-Undang No.2 Tahun 2009, Pasal 229
Kecelakaan lalulintas dapat digolongkan sbb:

Kecelakaan Kecelakaan Kecelakaan


lalulintas ringan: lalulintas sedang: lalulintas berat:
Kecelakaan Kecelakaan yang Kecelakaan
yang mengakibatkan yang
mengakibatkan luka ringan dan mengakibatkan
Peraturan Menteri Perhu
kerusakan kerusakan korban luka
bungan Republik Indones
ia No.PM 13 Tahun 2014
kendaraan atau kendaraan atau berat sampai
tentang Rambu Lalu Linta
s.
barang barang meninggal dunia
KLL

Penyebab Pemeriksaan Penunjang


1. Manusia • Diperlukan untuk membuat jelasnya
2. Kendaraan suatu perkara kasus, dalam
3. Lingkungan menentukan identitas, saat kematian,
sebab kematian
• Pemilihan pemeriksaan penunjang:
sesuai indikasi

Sugiyanto, G. & Malkhamah S. Kajian Biaya Kemacetan, Biaya Polusi dan Biaya Kecelak
aan Lalu Lintas Jalan.Simposium Internasional XI Forum Studi Transportasi antar Pergur
uan Tinggi (FSTPT). Semarang: Universitas Diponegoro. 2013.
Budianto A., dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Cetakan II. Jakarta: Bagian Ilmu Ked
okteran Forensik FKUI. 1997.
Thanatos: Yang
berhubungan dengan
kematian
1.Mati somatik
+ (klinis)
Logos: Ilmu
2.Mati suri
Tanatologi adalah (suspended
Tanatologi (1) bagian dari ilmu
kedokteran forensik animation)
yang mempelajari 3.Mati seluler (mati
kematian dari
perubahan yang terjadi
molekul
setelah kematian serta 4.Mati serebral
faktor yang
mempengaruhi 5.Mati otak
perubahan tersebut
Budianto A., dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Cetakan II. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FKUI. 1997.
Tanda Kematian Tidak Pasti
1. Pengeringan kornea menimbulkan
keruhan dalam waktu 10 menit yang
masih dapat dihilangkan dengan
meneteskan air
Tanatologi 2. Pernapasan berhenti, dinilai selama >10
(2) menit
3. Terhentinya sirkulasi, dinilai selama 15
menit, nadi karotis tidak teraba
4. Kulit pucat
5. Tonus otot menghilang dan relaksi
6. Pembuluh darah retina mengalami
segmentasi beberapa menit setelah
kematian
Budianto A., dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Cetakan II. J
akarta: Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FKUI. 1997.
Tanda Pasti Kematian
1. Lebam Mayat (Livor Mortis)
Tanatologi 2. Kaku Mayat (Rigor Mortis)
3. Penurunan Suhu Tubuh (Algor Mortis)
(3) 4. Pembusukan (Dekomposisi)

Budianto A., dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Cetakan II. Jakarta: Bagian Ilmu Kedoktera
n Forensik FKUI. 1997.
Tanatologi

Lebam Mayat (Livor Mortis)


• Biasanya mulai tampak 20-30 menit pasca mati
• Makin lama intensitasnya bertambah dan menjadi
lengkap dan menetap setelah 8-12 jam
• Lebam mayat yang belum menetap atau masih
hilang pada penekanan menunjukkan saat
kematian kurang dari 8-12 jam sebelum saat
pemeriksaan

Budianto A., dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Cetakan II. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FKU
I. 1997.
Tanatologi

Kaku Mayat (Rigor Mortis) [1]


• Dibuktikan dengan memeriksa persendiaan. Kaku
mayat mulai tampak kira-kira 2 jam setelah mati
klinis
• Dimulai dari bagian luar tubuh (otot-otot kecil) ke
arah dalam
• Kaku mayat dipergunakan untuk menunjukkan
tanda pasti kematian dan memperkirakan saat
kematian

Budianto A., dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Cetakan II.


Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FKUI. 1997.
Tanatologi
Kaku Mayat (Rigor Mortis) [2]
Terdapat kekakuan pada mayat yang menyerupai
kaku mayat, yaitu:

Cadaveric spasm: bentuk kekakuan otot


yang terjadi pada saat kematian dan menetap

Heat stiffening: kekakuan otot akibat


koagulasi protein otot oleh panas

Cold stiffening: kekakuan tubuh akibat


lingkungan dingin, sehingga terjadi
pembekuan cairan tubuh
Budianto A., dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Cetakan II. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FKUI. 1997.
Tanatologi

Penurunan Suhu Tubuh (Algor


Mortis)
Kecepatan penurunan suhu dipengaruhi oleh
suhu keliling, aliran dan kelembaban udara,
bentuk tubuh, posisi tubuh, dan pakaian.

Budianto A., dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Cetakan II. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Forens
ik FKUI. 1997.
Tanatologi

Pembusukan (Dekomposisi)
Pembusukan adalah proses degradasi jaringan
yang terjadi akibat autolisis dan kerja bakteri
• 24 jam pasca mati: warna kehijauan pada perut
kanan bawah, yaitu daerah sekum yang isinya
lebih cair dan penuh dengan bakteri serta terletak
dekat dinding perut
• 36-48 jam: kulit ari akan terkelupas atau
membentuk gelembung berisi cairan ke merahan
berbau busuk

Budianto A., dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Cetakan II. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Forens
ik FKUI. 1997.
Tanatologi • Adiposera (lilin mayat) adalah terbentuknya
bahan yang berwarna keputihan, lunak atau
berminyak, berbau tengik yang terjadi di dalam
jaringan lunak tubuh pasca mati.
• Faktor yang mempermudah adiposera:
kelembaban tubuh yang cukup, lemak tubuh
yang cukup, suhu hangat, invasi bakteri endogen
pasca mati
Adiposera • Faktor yang menghambat adiposera: air yang
mengalir, udara dingnin
• Pembusukan akan terhambat oleh adiposera

Budianto A., dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Cetakan II. Jakarta:
Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FKUI. 1997.
Tanatologi Mummifikasi adalah penguapan cairan atau
dehidrasi jaringan yang cukup cepat sehingga
terjadi pengeringan jaringan yang selanjutnya
dapat menghentikan pembusukan mummifikasi
terjadi bila suhu hangat, kelembaban rendah,
aliran udara yang baik, tubuh yang dehidrasi, dan
waktu yang lama (12-14 minggu)
Mummifikasi

Budianto A., dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Cetakan II. Jakarta:
Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FKUI. 1997.
Tanatologi

1. Perubahan pada mata, kekeruhan yang menetap


terjadi sejak kira-kira 6 jam pasca mati
2. Perubahan dalam lambung, keadaan lambung dan
Perkiraan isinya
saat 3. Perubahan rambut, dengan mengigat kecepatan
tumbuh rambut rata-rata 0,4 mm/hari
kematian 4. Pertumbuhan kuku yang diperkirakan sekitar 0,1
mm/hari
5. Perubahan dalam cairan serebrospinal, berupa
kadar nitrogen asam amino dan kadar kreatin
6. Cairan vitreus terjadi peningkatan kadar kalium
7. Kadar semua komponen darah berubah
8. Reaksi supravital

Budianto A., dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Cetakan II. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FKUI. 1997.
Trauma:
Luka/kekerasan atas + Logos: Ilmu
jaringan tubuh

Traumatologi
Traumatologi adalah ilmu
yang mempelajari tentang
luka dan cedera serta
hubungannya dengan
berbagai kekerasan (ruda
paksa)
Budianto A., dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Cetakan II. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FKU
I. 1997.
Traumatologi

Trauma Mekanik
1. Kekerasan akibat benda tumpul
2. Kekerasan akibat benda tajam
Klasifikasi 3. Tembakan senjata api

Trauma Fisik
1. Suhu
Etiologi 2. Listrik atau petir
3. Perubahan tekaanan udara
4. Akustik serta radiasi

Trauma Kimia
1. Bersifat asam
2. Basa kuat
Budianto A., dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Cetakan I
I. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FKUI. 1997.
Traumatologi

Suatu ruda paksa (kekerasan) yang diakibatkan


oleh benda tumpul pada permukaan tubuh
yang mengakibatkan luka
Trauma
Tumpul Variasi

Benda tumpul Korban Benda dan


bergerak, bergerak, benda korban sama-
korban diam tumpul diam sama
(pukulan) (jatuh ke aspal bergerak
atau dari (kecelakaan
Budianto A., dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Cetakan I
ketinggian) lalulintas)
I. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FKUI. 1997.
Traumatologi:
Trauma tumpul
Perkumpulan darah dalam jaringan di bawah
kulit (epidermis) atau di bawah permukaan
organ akibat pecahnya pembuluh darah kecil
Luka memar atau kapiler tanpa menyebabkan luka di
permukaan kulit atau membran mukosa

Budianto A., dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I.


Cetakan II. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Forensik
FKUI. 1997.
Traumatologi:
Trauma tumpul
Keadaan luka berupa hilangnya atau rusaknya
permukaan epitel sel epidermis atau membrana
mukosa yang diakibatkan oleh tekanan benda
keras, benda tumpul, maupun senjata
Luka lecet

Lecet geser

Budianto A., dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I.


Cetakan II. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Forensik
FKUI. 1997. Lecet gores Lecet tekan
Traumatologi:
Trauma tumpul Keadaan luka dimana tubuh dikenai oleh benda
pada kulit sehingga tertarik dan tegang hingga
melampaui batas elastisitasnya dan tekanan
benda hingga ke dasar kulit (bahkan ke otot)

Luka terbuka/
robek

Budianto A., dkk. Ilmu Kedokteran Forensik.


Edisi I. Cetakan II. Jakarta: Bagian Ilmu Ked
okteran Forensik FKUI. 1997.
Traumatologi

Luka trauma
benda tajam Dibagi menjadi:
merupakan
- Luka tusuk
putusnya atau
(stab wound)
rusaknya
kontinuitas - Luka iris atau
Trauma Tajam
jaringan karena sayat (incised
trauma akibat wound)
alat/senjata yang - Luka bacok
memiliki sisi (chop wound)
tajam maupun
runcing
Budianto A., dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Cetakan II. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FKUI. 1997.
Traumatologi:
Trauma Tajam
Luka karena irisan senjata tajam yang
menyebabkan luka terbuka dengan pinggir
rata, menimbulkan perdarahan banyak, semua
jaringan otot, pembuluh darah, saraf dalam luka
terputus, juga rambut. Jarang disertai memar di
pinggir luka
Luka iris/
sayat

Budianto A., dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Cetakan II. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FKUI. 1997.
Traumatologi:
Trauma Tajam Ukuran dalamnya luka melebihi lebar luka.
Pinggir luka dapat menunjukkan bagian yang
tajam (sudut lancip) dan tumpul dari pisau
berpinggir tajam satu sisi

Luka tusuk

Budianto A., dkk. Ilmu Kedokteran Forensik.


Edisi I. Cetakan II. Jakarta: Bagian Ilmu Kedo
kteran Forensik FKUI. 1997.
Traumatologi:
Trauma Tajam
- Luka terbuka yang lebar akibat senjata
tajam yang berat dan dianyunkan dengan
tenaga
- Bentuknya hampir sama dengan luka sayat
tetapi dengan derajat luka yang lebih berat
dan dalam sehingga menyebabkan
perdarahan sangat banyak
Luka bacok

Budianto A., dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Cetakan II. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Forensik
FKUI. 1997.
Traumatologi

Perbedaan Luka Trauma Tumpul dan Tajam


Trauma Tumpul Tajam

Bentuk luka Tidak teratur Teratur

Tepi luka Tidak rata Rata

Jembatan jaringan Ada Tidak ada

Rambut Tidak ikut terpotong Ikut terpotong

Berupa garis atau


Dasar luka Tidak teratur
titik

Sekitar luka Ada luka lecet atau memar Tidak ada luka lain

Budianto A., dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Cetakan II. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FKUI. 1997.
Ruang Manfaat Jalur Kereta
Bagian kanan dan kiri jalan kereta
termasuk dalam ruang manfaat jalur
Aspek kereta api. Hal ini dapat dilihat dalam Pasal
37 Ayat(1) Undang-Undang No. 23 Tahun
Medikolegal 2007 tentang Perkerataapian (“UU
Perkeretaapian)
KLL Tabrak
Kereta (1) “Ruang manfaat jalur kereta api sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 36 huruf a terdiri dari
jalan rel dan bidang tanah di kiri dan kanan
jalan rel beserta ruang di kiri, kanan, atas, dan
bawah yang digunakan untuk konstruksi jalan
rel dan penempatan fasilitas operasi kereta
Budianto A., dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Cetakan II. Jak
arta: Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FKUI. 1997. api serta bangunan pelengkap lainnya”
Pasal 181 ayat (1) UU Perkeretaapian, setiap orang
dilarang:
a. Berada di ruang manfaat jalur kereta api
b. Menyeret, menggerakkan, meletakkan, atau
Aspek memindahkan barang di atas rel atau melintas
Medikolegal jalur kereta api; atau
c. Menggunakan jalur kereta api untuk kepentingan
KLL Tabrak lain, selain untuk angkutan kereta api

Kereta (2)

Budianto A., dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Cetakan II. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FKUI. 19
97.
“Setiap orang yang berada di ruang manfaat jalan kereta api,
menyeret barang di atas atau melintasi jalur kereta api tanpa
hak, dan menggunakan jalur kereta api untuk kepentingan lain
selain untuk angkutan kereta api yang dapat mengganggu
Aspek perjalanan kereta api sebagaimana dimaksud dalam Pasal
181 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 3
Medikolegal bulan atau denda paling banyak Rp 15.000.000,00

KLL Tabrak
Kereta (3) Ini berarti jika seseorang berjalan di perlintasan kereta
api, yang berdasarkan UU Perkeretaapian tidak
diperbolehkan, maka orang itu sendiri sebenarnya telah
melakukan kesalahan

Budianto A., dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Cetakan II. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FKUI. 1
997.
Asuransi
Mengenai asuransi terhadap korban
kecelakaan, dapat melihat pada Pasal 10
Aspek ayat (1) Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun
1965 tentang Ketentuan-Ketentuan
Medikolegal Pelaksanaan Dana Kecelakaan Lalu Lintas
Jalan (PP 18/1965)
KLL Tabrak
Kereta (4) “Setiap orang yang berada di luar alat angkutan
lalu lintas jalan yang menimbulkan kecelakaan,
yang menjadi korban akibat kecelakaan dari
penggunaan alat angkutan lalu lintas jalan
tersebut sebagai demikian, diberi hak atas
suatu pembayaran dari Dana Kecelakaan
Budianto A., dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Cetakan II. J Lalulintas Jalan”
akarta: Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FKUI. 1997.
Analisis Kasus
Anamnesis
17 Agustus 17 Agustus 17 Agutus 2019 18 Agustus 2019
2019 2019 pukul 19:45 pukul 00.10 WIB

Instalasi Kedokteran
Forensik dan Medikolegal
Korban Laki-laki Kereta api Gajayana Jenazah ditemukan RSUD Dr. Moewardi
14 tahun dan 3 41C dari arah Stasiun jatuh di dasar SPV : Kepolisian Daerah
temannya selfi Balapan Solo tujuan Jembatan lintas kereta Jawa Tengah Resor Kota
dan membuat Malang-Jakarta datang. api Griyan Surakarta dengan nomor
video di rel Korban terserempet surat B/VER/716/VIII/2019/
kereta api dan terseret 50 meter Reskrim tertanggal 17
18 Agutus 2019
Agustus 2019 → Terpenuhi
pukul 00.10 WIB
syarat untuk pembuatan
Luka multipel  Kekerasan benda Visum et Repertum (VER)
tumpul → KUHAP 179 ayat (1)
Dilakukan
pemeriksaan luar
Perundang-Undangan& Aturan Republik Indonesia Terkait Kegiatan Kedokteran Forensik & Medikolegal.cet I.Jakarta: Bagian Kedokteran Fore
nsik Dan Medikolegal Rumkit Puspol RS Sukanto, 2010.
Visum et Repertum
• “Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran
kehakiman atau dokter atau ahli lainnya wajib memberikan
keterangan ahli demi keadilan
Pasal 179 ayat(1)
KUHAP

• 1. “Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani


seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga
karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang
mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran
kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya
Pasal 133 • 2. “Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam
KUHAP ayat (1) dilakukan secara tertulis yang dalam surat itu disebutkan
dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat
dan atau pemeriksaan bedah mayat

Perundang-Undangan& Aturan Republik Indonesia Terkait Kegiatan Kedokteran Forensik & Medikolegal.cet
I.Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Dan Medikolegal Rumkit Puspol RS Sukanto, 2010.
Pemeriksaan luar
Luka • Luka robek pada kepala dengan pecah tulang dan keluar jaringan otak, luka
Robek robek di lengan bawah kiri, luka robek di kaki kanan, dan luka robek punggung

Luka • Di dahi dan luka terbuka di lengan kiri atas


Terbuka

• Bawah mata kanan dan kiri, bibir, pipi kanan, luka lecet geser perut kiri
bawah, dua luka lecet geser di lengan kanan atas, luka lecet geser di lengan
Luka kanan bawah, beberapa luka lecet di tangan kanan, beberapa luka lecet di
Lecet tangan kiri, tiga buah luka lecet di paha kiri, luka lecet geser punggung kaki
kiri, luka lecet geser di pantat.

Putus • Paha kanan dan Tungkai kiri bawah


UU No. 23 tahun2007
Tentang Perkeretaapian
• Pasal 181 ayat (1):
“Setiap orang dilarang: a. Berada di ruang manfaat jalur
kereta api; b. Menyeret, menggerakan, mengeletakkan;
atau memindahkan barang di atas rel atau melintasi jalur
kereta api; atau c. Menggunakan jalur kereta api untuk
kepentingan lain, selain untuk angkutan kereta api”

• Pasal 199:
“Setiap orang yang berada di ruang manfaat jalan kereta
api, menyeret barang di atas atau melintasi jalur kereta
api tanpa hak, dan menggunakan jalur kereta api untuk
kepentingan lain selain untuk angkutan kereta api yang
dapat mengganggu perjalanan kereta api sebagaimana
dimaksud dalam pasal 181 ayat (1), dipidana dengan
Perundang-Undangan& Aturan Republik Indonesia Terkait
Kegiatan Kedokteran Forensik & Medikolegal.cet I.Jakarta:
pidana penjara paling lama 3 (tiga) bulan atau denda
Bagian Kedokteran Forensik Dan Medikolegal Rumkit paling banyak Rp. 15.000.000,00”
Puspol RS Sukanto, 2010.
• WHO mencatat 1,2 juta orang meninggal setiap tahunnya dalam kecelakaan lalu lintas dan 50
juta orang korban kecelakaan lalu lintas mengalami luka serius maupun catat tetap, umumnya
WHO 2018 yang tewas dalam kecelakaan lalu intas berusia 15 sampai 44 tahun, dan 77% adalah laki-laki.

• Menurut data WHO korban kecelakaan berdasarkan jenis kelamin tertinggi yaitu laki-laki
sebanyak 73%. Hal ini karena laki-laki memiliki mobilitas yang lebih tinggi dan banyak
WHO 2018 beraktivitas di luar rumah untuk bekerja.

• Penelitian dari Denpasar menyatakan frekuensi kecelakaan lalu lintas pada bidang swasta
yaitu, sebesar 53 kasus (71,6%). Pelajar merupakan kategori kedua terbanyak yang
Penelitian mengalami kecelakaan, yaitu 12 kasus (16,2%).
Denpasar

• Kecelakaan lalu lintas tersering terjadi pada malam hari sekitar pukul 18.00 WIB hingga 00.00
Penelitian WIB, karena pada malam hari pencahayaan kurang terutama di ruas jalur kereta api.
Denpasar

World Health Organization. 2018. Road traffic Injuries. Diakses Agustus 2019..
Kaku Mayat

Didapatkan kaku jenazah • Kaku mayat mulai tampak kira-kira


pada seluruh tubuh yang 2 jam setelah mati klinis
sukar digerakkan • Dimulai dari bagian luar tubuh
(otot-otot kecil) ke arah dalam
(sentripetal), menjalar kraniokaudal.
• Setelah mati klinis, 12 jam kaku
mayat menjadi lengkap
• Dipertahankan selama 12 jam dan
kemudian menghilang dalam
urutan yang sama.

Dahlan Sofwan. Ilmu Kedokteran Forensik.Semarang: Bagian Kedokteran For


ensik Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, 2000.
Budianto A.,dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. ed I. cet II. Jakarta: Bagian Ilmu Ke
dokteran Forensik FKUI, 1997
Lebam
• Lebam mayat mulai tampak 20-30 menit
pasca mati, makin lama intensitasnya
bertambah dan menjadi lengkap dan
Pada kasus tidak menetap setelah 8-12 jam
didapatkan lebam • Memucatnya lebam akan lebih cepat dan
jenazah pada tubuh, sempurna apabila penekanan atau
sehingga perkiraan perubahan posisi tubuh dilakukan pada 6
waktu kematian korban jam pertama setelah mati klinis
adalah sekitar 2-8 jam • Menetapnya lebam mayat disebabkan oleh
dari saat pemeriksaan bertimbunnya sel-sel darah dalam jumlah
cukup banyak sehingga sulit berpindah lagi

Dahlan Sofwan. Ilmu Kedokteran Forensik.Semarang: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, 2000.
Budianto A.,dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. ed I. cet II. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FKUI, 1997
Tanda-tanda Pembusukan

Tanda pembusukan baru


Pada korban belum
tampak kira-kra 24 jam pasca
ditemukan tanda-tanda
kematian berupa warna
pembusukan
kehijauan pada perut kanan
bawah, yaitu daerah sekum
yang isinya lebih cair dan
penuh dengan bakteri serta
terletak dekat dinding perut
Warna kehijauan disebabkan
oleh terbentuknya sulf-met-
hemoglobin
Dahlan Sofwan. Ilmu Kedokteran Forensik.Semarang: Bagian Kedokteran Forensik
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, 2000.
Mekanisme
Kematian
Kematian korban dicurigai
karena kerusakan organ vital Pada korban meninggal
(otak) dan perdarahan kecelakaan KA yang dilakukan
pemeriksaan luar jenazah,
didapatkan bahwa korban
mengalami cedera kepala dan
putus paha kanan dan tungkai
kaki kiri
Kerusakan Perdarahan
organ vital
(otak)
• Luka robek kepala, putusnya paha
• Cedera kepala paling sering terjadi dan tungkai kaki kiri dapat
pada kecelakaan lalulintas mengakibatkan perdarahan masif
• Cedera kepala bisa mengakibatkan dan syok hemorhagik
terjadi pembengkakan pada otak
setelah terkena trauma. Hipoperfusi otak
• Pembengkakan otak dapat Hipoksia jaringan
menyebabkan peningkatan
tekanan di dalam rongga kepala Perubahan metabolisme
sehingga mencederai otak aerob menjadi anaerob

Perundang-Undangan& Aturan Republik Indonesia Terkait Kegiatan Kedokteran Forensik & Dihasilkan asam laktat
Medikolegal.cet I.Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Dan Medikolegal Rumkit Puspol RS S
ukanto, 2010.
Dahlan Sofwan. Ilmu Kedokteran Forensik.Semarang: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas
Kedokteran Universitas Diponegoro, 2000.
Kerusakan hemodinamik, disfungis end-
Harbrecht BG, Forsythe RM, Peitzman AB. Management of shock.In: Mattox KL, Feliciano D,
editors. Trauma, 6th ed. McGraw-Hill;2008
organ, kematian sel dan kematian pasien.
Kesimpulan
Kesimpulan
Pada pemeriksaan terhadap mayat seorang laki-
laki berusia empat belas tahun, pada pemeriksaan
luar didapatkan terdapat tanda-tanda traumatologi
akibat benturan benda tumpul. Mekanisme
kematian korban diperkirakan akibat kerusakan
organ vital dan perdarahan. Sebab kematian tidak
dapat dipastikan karena tidak dilakukan
pemeriksaan dalam sesuai dengan surat
permintaan penyidik. Perkiraan saat kematian
antara dua sampai delapan jam dari saat
pemeriksaan
Thank you