Anda di halaman 1dari 73

Gangguan Pembuluh Darah

Perifer

Oleh :
A s r i n, MN

PRODI KEPERAWATAN PURWOKERTO


POLITEKNIK KESEHATAN DEPKES SEMARANG
Apa saja Gangguan Pembuluh
Darah Perifer itu?

1. Penyakit arteri perifer oklusif (PAPO).


2. Thromboangitis obliterans (Buerger Disease).
3. Aneurysme.
4. Trombosis
5. Tromboplebitis.
6. Varises vena.
7. Insufisiensi katup vena.
Penyakit Tromboangitis Obliterans
(Buerger Disease)

Penyakit Buerger adalah suatu keadaan


dimana arteri serta vena ukuran sedang dan
kecil mengalami inflamasi berulang
(rekuren), terutama pada bagian ekstremitas
bawah dan atas (jarang), yang juga
mengakibatkan pembentukan trombus serta
penyumbatan pembuluh darah
Pengertian
Penyakit Buerger adalah suatu keadaan
dimana arteri serta vena ukuran sedang dan
kecil mengalami inflamasi berulang
(rekuren), terutama pada bagian ekstremitas
bawah dan atas (jarang), yang juga
mengakibatkan pembentukan trombus serta
penyumbatan pembuluh darah
Penyebab
Penyebab penyakit buerger tidak diketahui,
namun dipercaya merupakan suatu
vaskulitis autoimun. Kebanyakan terjadi
pada pria usia 20 dan 35 tahun, dan
dilaporkan pada semua ras diseluruh
wilayah dunia. Ada banyak bukti bahwa
merokok dapat merupakan faktor penyebab
atau faktor yang memperberat
Manifestasi Klinik
1. Nyeri pada anggota tubuh (tangan dan atau kaki)
2. Pelebaran pembuluh darah balik (Vena) serta berwarna agak kemerahan
3. Berkurangnya suplai darah arteri
4. Kekakuan pada anggota badan
5. Rasa kesemutan dan panas pada tangan/ kaki
6. Ada luka pada jari-jari , terutama ibu jari
7. Perubahan warna pada tangan dan kaki yang terkena
8. Denyut nadi dirasakan melemah pada tangan/ kaki yang terkena
9. Ujung tangan berubah warnanya apabila terkena dingin, mula-mula pucat agak
kebiruan dan lama kelamaan menjadi kemerahan disertai rasa nyeri
10. Mengenai dua atau lebih anggota tubuh.
Gambar penyakit
Pemeriksaan Diagnostik
Arteriografi dapat menegakkan
diagnosis penyakit arteri oklusif. Pada
arteriografi, kateter radiopak
dimasukkan ke arteri besar kemudian
di dorong ke tempat yang akan di tuju
dengan bantuan fluoroskopi
Penatalaksanaan Medis
Penatalaksaan buerger disease merupakan kombinasi
penatalaksanaan medis dan bedah, serta harus disertai
dengan kerjasama yang kuat dari pasien untuk
menghentikan kebiasaan merokok dan perawatan kaki jika
dengan/atau tanpa ulkus iskemik. Penghentian kebiasaan
merokok secara mutlak merupakan tatalaksana satu-
satunya yang telah terbukti untuk mencegah progresivitas
buerger’s disease
Pengkajian Keperawatan
@ Fokus pada area yang mendapat suplai darah dari
pembuluh darah yang mengalami penyumbatan.
@ Adanya keluhan kram pada kaki (terutama di telapak)
atau tungkai sehabis latihan (klaudikasi intermiten).
@ Nyeri adalah gejala utama pada penyakit buerger.
Keluhan nyeri pada istirahat, perasaan terbakar, atau
sensitif terhadap dingin mungkin merupakan gejala awal.
@ Parestesia dan perubahan pada denyut nadi melemah
atau menghilang.
@ Pada pengkajian fisik klien yang sudah masuk fase kronis sering di
dapatkan adanya kerusakan integritas kulit seperti ulkus dan luka
gangren dan bersifat lokal.
Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri yang berhubungan dengan penurunan suplai darah ke jaringan
sekunder dari adanya oklusi pembuluh darah perifer.

2. Kerusakan integritas jaringan yang berhubungan dengan adanya ulkus dan


gangren ekstremitas sekunder akibat terhentinya aliran darah ke ekstremitas.

3. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan nyeri dan kram pada kaki.

4. Cemas yang berhubungan dengan rasa takut akan kematian, ancaman,


atau perubahan kesehatan
Dx 1 : Nyeri yang berhubungan dengan suplai darah ke jaringan sekunder dari
adanya oklusi pembuluh darah perifer.

Tujuan :
Dalam waktu 1x24 jam terdapat penurunan dari
ekstremitas.

Kriteria Hasil :
Secara subjektif klient mengatakan penurunan
rasa nyeri, secara objektif didapatkan TTV dalam
batas normal dan wajah rileks.
Intervensi #1
1. Catat karakteristik, lokasi, intensitas, lama dan
penyebarannya
2. Atur posisi fisiologis.
3. Manajemen lingkungan : lingkungan tenang
dan batasi pengunjung.
4. Ajarkan teknik relaksasi dan nafas dalam.
5. Ajarkan teknik distraksi pada saat nyeri.
6. Lakukan manajemen sentuhan.
7. Kolaborasi pemberian analgesik.
Dx 2 : Kerusakan integritas jaringan yang berhubungan dengan adanya
ulkus dan gangren pada ekstermitas sekunder dari terhentinya
aliran darah ke ekstremitas.

Tujuan :
7 x 24 jam integritas kulit membaik secara
optimal.

Kriteria Hasil :
Pertumbuhan jaringan meningkat, keadaan
luka membaik, pengeluaran pus pada luka
tidak ada lagi, luka menutup
.
Intervensi #2
1. Kaji kerusakan jaringan lunak yg terjadi pada
klien.
2. Lakukan perawatan luka.
Dx 3 : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan
nyeri dan kram pada kaki
Tujuan :
Aktivitas klien mengalami peningkatan

Kriteria Hasil :
Dalam waktu 3x24 jam aktivitas klien mengalami
peningkatan. Klien tidak mengeluh pusing, alat
dan sarana untuk memenuhi aktivitas tersedia dan
mudah klien jangkau. TTV dalam batas normal,
CRT < 3 detik, urine > 600 ml/hari
Intervensi #3
1. Cek frekuensi dan irama jantung, serta
perubahan tekanan darah selama dan sesudah
aktifitas.
2. Tingkatkan istirahat, batasi aktivitas, dan
berikan aktivitas senggang yang tidak berat.
3. Jelaskan pola peningkatan bertahap dari tingak
aktivitas, contoh : bangun dari kursi bila tak ada
nyeri, ambulasi, dan istirahat selama 1jam
setelah makan.
Dx 4 : Cemas yang berhubungan dengan
rasa takut akan kematian, ancaman,
atau perubahan kesehatan

Tujuan :
Kecemasan klien berkurang

Kriteria Hasil :
Dalam waktu 1x24 jam kecemasan klien
berkurang, klien menyatakan kemcemasan
berkurang, mengenal perasaannya, dapat
mengidentifikasi penyebab atau faktor yang
memengaruhinya, kooperatif terhadap tindakan,
serta wajah rileks
Intervensi #4
1. Bantu klien mengekspresikan perasaan marah,
kehilangan dan takut.
2. Kaji tanda verbal dan nonvebal kecemasan,
dampingi klien dan lakukan tindakan bila klien
menunjukan perilaku merusak.
3. Mulai melakukan tindakan untuk mengurangi
kecemasan. Beri lingkungan yang tenang dan
suasana penuh istirahat.
4. Beri kesempatan kepada klien untuk mengugkapkan
ansietasnya.
5. Kolaborasi dokter : berikan anticemas sesuai indikasi
EVALUASI KEPERAWATAN
1. Nyeri berkurang/hilang.
2. Integritas jaringan kulit membaik.
3. Pasien bisa beraktifitas secara bertahap.
4. Pasien mengatakan rasa cemas berkurang/hilang
Pengkajian DVT

Kaji riwayat keperawatan :


1. Umur : Sering terjadi usia 60 tahun / usia tua.
2. Jenis kelamin tidak membedakan , akan tetapi pada wanita hamildan
sehabis melahirkan rentan terjadi Trombosis vena dalam { biasanya terjadi
varises dulu }
3. Keluhan utama : hampir 50 % mengeluh nyeri pada daerah tungkai / betis
disertai pembengkakan kemerahan
4. Riwayat penyakit sekarang : perlu diperhatikan sejak kapan mulai terjadi
trombosis vena tersebut, sedang hamil apa tidak, sedang menjalanin
pengobatan keganasan /tidak
5. Riwayat penyakit terdahulu : apakah mempunyai sakit seperti : DM, HT,
penyakit jantung, keganasan, pernah emboli paru sebelumnya / tidak,
hiperkoagulane state,hiperlipidemi,sindroma cushinh,trauma, sepsis dll.
Pengkajian DVT

6. Faktor keluarga :study tentang riwayat keluarga


dan anak kembar hampir 60 % merupakan
faktor genetik,riwayat penyakit keluarga seperti : DM,HT, penyakit
jatung dll.
7. Faktor lingkungan : imobilisasi yg lama , duduk yang lama yg
menyebabkan gerak yg minimalmenimbulkan statis aliran darah
8. Pengalaman pembedahan : pembedahan pada ekstremitas bawah,
pembedahan jantung
9. Faktor kebiasaan lain : perokok, obesitas ,dehidrasi. Riwayat
penyakit sekarang.
Pemeriksaan Fisik DVT

1. Aktifitas / Istirahat
Gejala : Tindakan yang memerlukan duduk
atau berdiri lama
Imobilitas lama (contoh ; trauma orotpedik, tirah
baring yang lama, paralysis, kondisi kecacatan)
Nyeri karena aktifitas / berdiri lama
Lemah / kelemahan pada kaki yang sakit
Tanda : Kelemahan umum atau ekstremitas
Pemeriksaan Fisik DVT
2. Sirkulasi
Gejala : Riwayat trombosis vena sebelumnya, adanya
varises
Adanya factor pencetus lain , contoh : hipertensi (karena
kehamilan), DM, penyakit katup jantung
Tanda : Tachicardi, penurunan nadi perifer pada
ekstremitas yang sakit
Varises dan atau pengerasan, gelembung / ikatan vena
(thrombus)
Warna kulit / suhu pada ekstremitas yang sakit ; pucat,
dingin, oedema, kemerahan, hangat sepanjang vena.
Pemeriksaan Fisik DVT
3. Makanan / Cairan
Tanda : Turgor kulit buruk, membran mukosa kering
(dehidrasi, pencetus untuk hiperkoagulasi)
Kegemukan (pencetus untuk statis dan tahanan vena
pelvis)
Oedema pada kaki yang sakit (tergantung lokasi)
4. Nyeri / Kenyamanan
Gejala : Berdenut, nyeri tekan, makin nyeri bila
berdiri atau bergerak
Tanda: Melindungi ekstremitas kaki yang sakiy
Pemeriksaan Fisik DVT
5. Keamanan
Gejala : Riwayat cedera langsung / tidak
langsung pada ekstremitas atau vena (contoh :
fraktur, bedah ortopedik, kelahiran dengan
tekanan kepala bayi lama pada vena pelvic,
terapi intra vena)
Adanya keganasan (khususnya pancreas, paru,
system GI)
Tanda: Demam, menggigil
Pemeriksaan Fisik DVT
6. Penyuluhan / Pembelajaran
Gejala : Penggunaan kontrasepsi / estrogen
oral,
adanya terapi antikoagulan (pencetus
hiperkoagulasi)
Kambuh atau kurang teratasinya episode
tromboflebitik sebelumnya
Diagnosa Keperawatan DVT
Masalah keperawatan yang bisa terjadi :
1. Resti kematian s/d emboli paru
2. Bersihan jlan nafas tidak efektif s/d penumpukan sekret
3. Gangguan pemenuhan kebutuhan oksigen s/d hipoksia
4. Penurunan curah jantung s/d CO menurun
5. Gangguan perfusi jaringan perifer b.d penurunan aliran darah / statis vena (obstruksi
vena sebagian / penuh ), ditandai dengan : oedema jaringan, penurunan nadi perifer,
pengisian kapiler, pucat, eritema
6. Nyeri b/d penurunan sirkulasi arteri dan oksigenasi jaringan dengan produksi /
akumulasi asam laktat pada jaringan atau inflamasi, ditandai dengan ; pasien
mengatakan nyeri, hati-hati pada kaki yang sakit, gelisah dan perilaku distraksi.
7. Resti infeksi b/d pertahanan primer in adekuat
8. Kurang pengetahuan tentang kondisi, program pengobatan b.d kurang terpajan,
kesalan interpretasi, tidak mengenal sumber informasi, kurang mengingat , ditandai
dengan : minta informasi, pernyataan kesalahan konsep, tidak tepat dalam mengikuti
instruksi, terjadinya komplikasi yang dapat dicegah.
Intervensi Keperawatan DVT
1. Resti kematian s/d emboli paru
Hasil yg diharapkan : tidakterjadi kematian
akibat emboli paru
Kriteria hasil :
· kesadaran membaik, composmentis, GCS 4-
5-6
· Pernafasan dalam batas normal RR : 12 -24
x/mnt
· AGD hasilmembaik
· SPO2 normal : 95-100%
· Tidak ada suara nafas tambahan
Intervensi Keperawatan DVT
Intervensi keperawatan ;
1. Berikan posisi head up 15 derajat
R/ memudahkan oksigenasi
2. Berikan oksigen sesuai kebutuhan pasien
R/ memenuhikebutuhan oksigenasi
3. Lakukan obs ketat ttv terutama pernafasan dan kadar oksigen
R/ deteksi dini bilaterjadi kelainan
4. Lakukan obs bila ada suara nafas tambahan
R/ mendeteksi kelainan sedini mungkin
5. Anjurkan pasien tenang
R/ memudahkan istirahat agar konsetrasinya lancar
6. Lakukan HE tentang pentingnyaoksigenasi untuk kebutuhan oksigenasi
R/ memudahkan kerjasamaya
7. Lakukan kolaborasi dokter untuk pemberian obat- obattan
R/ memberikn obat sesuai advis dokter
Intervensi Keperawatan DVT
2. Bersihan jalan nafas tidak efektif s/d penumpukan
sekret
Hasil yang diharapkan: setelah dilakukan
tindakan keperawatan diharapkan masalah
bersihan jalan nafas tidak efektif teratasi
Kriteria hasil:
· Mendemonstrasikan batuk efektif, dan suara
nafas bersih, tidak ada sianosis dan
dispnea.
· Menunjukan jalan nafas yang paten.
Intervensi Keperawatan DVT
Intervensi keperawatan ;
1. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi misal: semifowler.
R/ memudahkan oksigenasi
2. Lakukan fisioterapi dada jika perlu
R/ memudahkan pengeluaran sekret
3. Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
R/ mempercepat pengeluaran sekret
4. Auskultasi suara nafas dan catat adanya suara nafas tambahan misal ronkhi
R/ mendeteksi dini kelainan di paru
5. Observasi hasil pemeriksaan AGD
R/ memeriksa gambaran pertukaran gas di paru
6. Anjurkan untuk minum air hangat
R/ mengencerkan dahak
7. Bantu klien untuk melakukan latihan batuk efektif bila memungkinkan
Lakukan fifioterapi dada sesuai indikasi : Postural drainase, perkusi dan
vibrasi
R/ memudahkjan pengeluaran sekret
Intervensi Keperawatan DVT
Intervensi keperawatan ;
8. Motivasi dan berikan minum sesuai dengan kebutuhan cairan (40-50 cc/kg
BB/24 jam)
R/ memenuhikecukupan cairan
9. PENDIDIKAN KESEHATAN : Jelaskan penggunaanperalatan pendukung
dengan benar (oksigen, pengisapan, spirometer, inhaler, dan intermitten
pressure breathing/IPPB)
R/ menambah pengetahuan gar memudahkan kerjasama
10. Instruksikan pada klien dan keluarga kepada rencana perawatan di rumah
(pengobatan, hidrasi, nebulisasi, peralatan, drainase postural, tanda dan
gejala komplikasi, sumber-sumber di komunitas)
R/ proses perawatan di rumah berjalan lancar
11. TINDAKAN KOLABORASI : Berikan oksigen lembab sesuai program
R/ meunjang pengobatan
Intervensi Keperawatan DVT
3. Gangguan pemenuhan kebutuhan oksigen s/d hipoksia
Hasil yg diharapkan : oksigenasi terpenuhi
Kriteria hasil :
· Pernafasan dalam batas normal RR : 12 -24
x/mnt
· SPO2 normal : 95-100%
· Tidak ada suara nafas tambahan
Intervensi Keperawatan DVT
Intervensi keperawatan ;
1. Berikan posisi head up 15 derajat
R/ memudahkan oksigenasi
2. Berikan oksigen sesuai kebutuhan pasien
R/ memenuhikebutuhan oksigenasi
3. Lakukan obs ketat ttv terutama pernafasan dan kadar oksigen
R/ deteksi dini bilaterjadi kelainan
4. Lakukan obs bila ada suara nafas tambahan
R/ mendeteksi kelainan sedini mungkin
5. Anjurkan pasien tenang
R/ memudahkan istirahat agar konsetrasinya lancar
6. Lakukan HE tentang pentingnyaoksigenasi untuk kebutuhan oksigenasi
R/ memudahkan kerjasamaya
7. Lakukan kolaborasi dokter untuk pemberian obat- obattan
Intervensi Keperawatan DVT
4. Penurunan curah jantung berhubungan dengan
penurunan kontraktilitas miokardia
Hasilyang diharapkan :
· mempertahankan/meningkatkan curah jantung
adekuat yang dibuktikan oleh TD/nadi dalam
rentang normal, haluaran urin adekuat, nadi
teraba sama, status mental biasa
· Menunjukkan penurunan frekuensi/tak adanya
disritmia
· Berpartisipasi dalam aktivitas yang
menurunkan kerja miokardia.
Intervensi Keperawatan DVT
Intervensi keperawatan ;
1. Raba nadi (radial, femoral, dorsalis pedis) catat frekuensi, keteraturan,
amplitudo dan simetris.
R/ observasi deteksi dini
2. Auskultasi bunyi jantung, catat frekuensi, irama. Catat adanya denyut
jantung ekstra, penurunan nadi.
R/observasi ada suara nafas tambahan
3. Pantau tanda vital dan kaji keadekuatan curah jantung/perfusi jaringan.
R/ memantau kondisi perfusi
4. Tentukan tipe disritmia dan catat irama : takikardi; bradikardi; disritmia atrial;
disritmia ventrikel; blok jantung
R/ menentukan tindakan pengobatan
5. Berikan lingkungan tenang. Kaji alasan untuk membatasi aktivitas selama
fase akut
R/ membantu relaksasi.
Intervensi Keperawatan DVT
Intervensi keperawatan ;
6. Demonstrasikan/dorong penggunaan perilaku pengaturan stres misal
relaksasi nafas dalam, bimbingan imajinasi
R/ memberikan instruksi yg benar
7. Selidiki laporan nyeri, catat lokasi, lamanya, intensitas dan faktor
penghilang/pemberat. Catat petunjuk nyeri non-verbal contoh wajah
mengkerut, menangis, perubahan TD
R/mencari data yang akurat
8. Siapkan/lakukan resusitasi jantung paru sesuai indikasi
R/ membantu mencegah kematian
9. Kolaborasi : Pantau pemeriksaan laboratorium, contoh elektrolit, Berikan
oksigen tambahan sesuai indikasi,Berikan obat sesuai indikasi : kalium,
antidisritmi
R/ menunjang pengobatan
Intervensi Keperawatan DVT
5. Gangguan perfusi jaringan perifer b.d penurunan aliran
darah / statisenit vena (obstruksi vena sebagian /
penuh ), ditandai dengan : oedema jaringan, penurunan
nadi perifer, pengisian kapiler, pucat, eritema
Hasil yang diharapkan : Menunjukkan perbaikan
perfusi
Dengan kriteria hasil :
· Yang dibuktikan oleh adanya nadi perifer /
sama, warna kulit dan suhu normal, tidak ada
odema.
· Peningkatan perilaku / tindakan yang
meningkatkan perfusi jaringa
· Menunjukkan peningkatan toleransi terhadap
aktifitas
Intervensi Keperawatan DVT
Intervensi keperawatan ;
1. Observasi ekstremitas, warna kulit, dan perubahan suhu juga oedema
2. Kaji ekstremitas, palpasi tegangan jaringan local, regangan kulit
3, Kaji tanda human
4. Tingkatkan tirah baring selama fase akut
5. Tinggikan kaki bila ditempat tidur atau duduk, secara periodic tinggikan kaki
dan telapak kaki diatas tinggi jantung
6. Lakukan latihan aktif dan pasif sementara di tempat tidur. Bantu melakukan
ambulasi secara bertahap.
7. Peringatkan pasien untuk menghindari menyilang kaki atau hiperfleksi lutut
(posisi duduk dengan kaki menggantung atau berbaring dengan posisi
menyilang).
Intervensi Keperawatan DVT
Intervensi keperawatan ;
8. Anjurkan pasien untuk menghindari pijatan / urut pada ekstremitas yang
sakit
9. Dorong latihan nafas dalam
10. Tingkatkan pemasukan cairan sampai sedikitnya 2000 ml/hari dalam
toleransi jantung
11. Kolaborasi : pemberian kompres hangat/basah atau panas pada
ekstremitas yang sakit ; dan antikoagulan
12. Pantau pemeriksaan laboratorium : masa protrombin (PT), masa
tromboplastin partial (PTT), masa tromboplastin teraktifasi partial (APTT),;
darah lengkap
13. Berikan dukungan kaus kaki elastik setelah fase akut, hati-hati untuk
menghindari efek tornikuet
14. Siapkan intervensi bedah bila diindikasikan
Intervensi Keperawatan DVT
6. Nyeri b.d penurunan sirkulasi arteri dan oksigenasi
jaringan dengan produksi / akumulasi asam laktat pada
jaringan atau inflamasi, ditandai dengan ; pasien
mengatakan nyeri, hati-hati pada kaki yang sakit,
gelisah dan perilaku distraksi.
Hasil yang diharapkan :
Nyeri hilang / terkontrol, menunjukkan tindakan rileks, mampu tidur
/ istirahat dan meningkatkan aktifitas
Intervensi Keperawatan DVT
Intervensi keperawatan ;
1. Kaji derajat nyeri, palpasi kaki dengan hati-hati
R/ mencari derajat keparahan
2. Pertahankan tirah baring selama fase akut
R/ mengurangi aktifitas mencegah beban kerja jantung tinggi
3.Tinggikan ektremitas yang sakit
R/ mencegah aliran balik
4.Berikan ayunan kaki
R/ melatih otot agar tidak relaksasi
5.Dorong pasien untuk sering mengubah posisi
R/ mencegah statis posisi
6.Pantau tanda vital : catat peningkatan suhu
R/ mendeteksi sedin imungkin kelainan
7.Kolaborasi : analgesik, antipiretik, pemberian kompres panas pada
ekstremitas
R/ menunjang pengobatan
Intervensi Keperawatan DVT
7. Resti infeksi b/d pertahanan primer in adekuat
Hasil yang diharapkan : tidak terjadii infeksi selama perawatan
Kriteria hasil :
· luka bersih
· tidak kemerahan
· tidak panas
· Suhu : 36 – 37 C
· Nadi : 60-100 x/menit
· Lekosit normal
Intervensi Keperawatan DVT
Intervensi keperawatan ;
1. Obs. TTV { S,N,R}
R/ untuk mengetahui kemajuan dan penyimpangan dari apa yang
diharapkan
2. Obs. Kondisi luka warna dan bau
R/ deteksi dini masalah mempercepet kesembuhan
3. Rawat luka dengan prinsip steril
R/ mengurangi berkembangnya kuman
4. Kolaborasi untuk tx. Antibiotika
R/ Antibiotika mencegah berkembang biaknya kuman penyebab infeksi
Intervensi Keperawatan DVT
8. Penurunan kesadaran s/d hipoksia
Hasil yg diharapkan : kesadran membaik
Kriteria hasil :
· GCS 4-5-6 , kesadsaran composmentis
· Oksigenasi minimal, kadar oksigen 100 %
· RR dalam batasnormal 12-24x/mnt
Intervensi Keperawatan DVT
Intervensi keperawatan ;
1. Jaga jalan nafas tetap lancar
R/ untukmenghindariadanya sumbatan
2. Obs ttv GCS, RC, pupil tiap15 menits/d 1 jam
R/ deteksi dini msmemudahkan prioritas tindakan dan evaluasi
3. Beri oksigen
R/ mencukupi oksigenasi dan mencegah hipoksia
4. Kolaborasi medis untuk pemberian obat- obatan
R/ memperbaiki sirkulasi darah ke otak, meningkatkan kesadran
5. Jelaskan rencana keperawatan dan terapi
R/ agar kooperatif
Intervensi Keperawatan DVT
8. Kurang pengetahuan tentang kondisi, program
pengobatan b.d kurang terpajan, kesalan interpretasi,
tidak mengenal sumber informasi, kurang mengingat ,
ditandai dengan : minta informasi, pernyataan
kesalahan konsep, tidak tepat dalam mengikuti
instruksi,
terjadinya komplikasi yang dapat dicegah.
Hasil yang diharapkan :
· Menyatakan pemahaman proses penyakit, programpengobatan
dan pembaasan
· Berpartisipasi dalam proses belajar
· Mengidentifikasi tanda dan gejala yang memerlukan evaluasi
medis.
· Melakukan prosedur dengan benar dan menjelaskan alsan
tindakan.
Intervensi Keperawatan DVT
Intervensi keperawatan ;
1 Kaji ulang patofisiologi kondisi dan tanda/gejala, kemungkinan komplikasi
R/ mencari data yg akurat
2 Jelaskan tujuan pembatasan aktifitas dan kebutuhan keseimbangan aktifitas
/ tidur
R/ menambah pengetahuan untuk menunjang pengobatan
3. Adakan latihan yang tepat
R/ treatmen yg tepat mempercepat proses kesembuhan
4. Selesaikan masalah factor pencetus yang mungkin ada, contoh : tindakan
yang memerlukan berdiri /duduk lama, kegemukan, kontrasepsi oral,
imobilisasi, dll
R/ mecari faktor pencetus dapat mencegah terulang kembali.

Anda mungkin juga menyukai