Anda di halaman 1dari 13

ATURAN MODIFIKASI KODING

MORTALITAS
 Setelah menerapkan Aturan Koding Mortalitas (Mulai
Prinsip Umum, Rules 1-3), langkah berikutnya adalah
menentukan apakah terdapat satu atau lebih dari
Rule Modifikasi A sampai dengan F, yang
berhubungan dengan situasi diatas dapat diterapkan.

 Sebagai hasil modfikasiakan diperoleh nomor kode


ICD resultan (UCOD BARU) yang digunakan untuk
tabulasi.
Mengapa ada Aturan Modifikasi?
 Peberapan rule untuk seleksi penyebab dasar kematian
adalah berdasarkan pengetahuan medis tentang
hubungan kausal antar penyakit; yakni penyakit mana
yang bisa dan tidak bisa menyebabkan penyakit
lainnya.

 Proses seleksi penyebab dasar kematian lebih lanjut


dapat menjadi lebih ruwet.
 Bahkan bagi orang yang mempunyai pengetahuan
medis yang lebih rinci, penyebab dasar kematian
“klinis” yang sebenarnya bukan menjadi sebab yang
paling informatif untuk tujuan tabulasi dan pelaporan.
 Sebab kematian yang terpilih tidak selalu merupakan
kondisi yang paling bermanfaat dan paling informatif
untuk tujuan tabulasi.
 WHO telah mengembangkan rule modifikasi yang
diterapkan bila kita perlu menyesuaikan penyebab
dasar kematian yang telah ditentukan menurut Aturan
Koding Mortalitas (Prinsip Umum s/d Rules 3).
Modifikasi dari Sebab Terpilih
 Aturan modifikasi berikut ini dimaksudkan untuk
meningkatkan kegunaan dan ketepatan data
mortalitas.
 Sebaiknya digunakan setelah pemilihan the
Originating Antecedence Cause menggunakan
Aturan Mortalitas sebelumnya.
 Penting artinya untuk melalui proses seleksi,
modifikasi dan bila perlu reseleksi sebelum
menentukan kode sebab kematian.
Aturan Modifikasi “A”
Senility dan Kondisi “ill defined” lain

 Bilamana sebab kematian terpilih adalah senilitas dan


kondisi yang tidak jelas (ill defined) sedangkan
terdapat kondisi yang terklasifikasi di tempat lain juga
dilaporkan dalam sertifikat.

 Reseleksi sebab kematian seolah kondisi ill defined


tadi tak pernah dilaprkan, keculai jika diyakini bahwa
kondisi tersebut akan merubah kodingnya.
Kondisi-kondisi yang dianggap sebagai
kondisi ill-defined, sbb:
 I46.1 (Sudden Cardiac Death, so described);
 I46.9 (Cardiac Arrest, unspecified);
 I95.9 (Hypotension, unspecified);
 I99 (Other and Unspecified Disorders of Circulatory
System).
 J96.0 (Acute Respiratory Failure);
 J96.9 (Respiratory Failure, Unspecified);
 P28.5 (Respiratory Failure of Newborn);
 R00 – R94 DAN R96-R99 (Sysmptoms, Sign...);
 CATAT: bahwa R95 (Sudden Infant Death Sysndrome)
TIDAK DIANGGAP sebagai ILL DEFINED.
RULE MODIFIKASI A
SEDAPAT MUNGKIN UCoD BUKAN KODE R, DAN BEBERAPA KODE LAIN.
SENILITY TIDAK MENJADI SEBAB KEMATIAN

1. (a) Senility dan Pneumonia hipostatik


(b) Arthitis Rheumatoid

Pilih Arthritis rheumatoid sebagai UCoD = M06.9


ATURAN MODIFIKASI B
(Kondisi sepele (trivial)
 Bilamana sebab terpilih merupakankondisi sepele
(trivial) yang tidak pantas menjadi sebab kematian,
sedangkan kondisi yang lebih serius juga dilaporkan,
reseleksi sebab yang mendasari seakan kondisi sepele
tersebut tidak pernah dilaporkan.
 Bila kematian diakibatkan oleh efek samping dari
pengobatan kondisi sepele tersebut, pilih efek
samping sebagai sebab kematian.
 Bilamana suatu kondisi trivial dilaporkan sebagai
kausa dari kondisi lain, kondisi tersebut tidak perlu
dibuang, sehingga Rule B tidak digunakan.
ATURAN MODIFIKASI C
Keterkaitan (Linkage)
 Bilamana sebab terpilih berkaitan dengan satu atau
lebih kondisi lain dalam sertifikat berdasarkan
persyaratan dalam klasifikasi atau dalam catatan
penggunaan dalam koding Underlying Cause
Mortalitas, maka berilah kode kombinasi.

 Kode kombinasi tersebut hanya digunakan bila


hubungan kausatif yang benar dinyatakan dengan
jelas atau dapat disimpulkan melalui aplikasi aturan
seleksi.
ATURAN MODIFIKASI D
Spesifitas
 Bilamana sebab terpilih menggambarkan suatu
kondisi secara umum, sedangkan suau terminologi
yang memberikan informasi lebih presisi tentang letak
atau keadaan kondisi tersebut juga dilaporkan dalam
sertifikat, lebih baik memilih terminologi yang lebih
informatif.
 Aturan ini akan sering digunakan bila terminologi
umum merupakan adjective yang menerangkan
terminologi yang lebih presisi.
ATURAN MODIFIKASI E
STADIUM DINI DAN LANJUT DARI PENYAKIT
 Bilamana sebab terpilih merupakan stadium dini dari
suatu penyakit, sedangkan stadium lebih lanjut dari
penyakit yang sama juga dilaporkan dalam sertifikat,
beri kode sesuai tahapan yang lebih lanjut.

 Aturan ini tidak berlaku untuk kondisi “KRONIK”


yang dilaporkan sebagai akibat dari kondisi “AKUT”
kecuali ada instruksi khusus dalam klasifikasi.
ATURAN F
SEQUELAE
 Bilamana sebab terpilih merupakan bentuk awal
dari suatu kondisi yang oleh klasifikasi diberikan
kategori terpisah berupa”gejala sisa dari...” dan
terdapat bukti bahwa kematian terjadi akibat efek
residual dari kondisi ini dan bukan fase aktif
penyakitnya, maka pilih kode sesuai kategori
“gejala sisa dari...”
 Kategori “Sequelae of...” adalah sbb : B90 – B94,
E64.-, E68, G09, I69, O97, dan Y85-Y89.

Anda mungkin juga menyukai