Anda di halaman 1dari 39

CATARACT

Introduction
• Berasal dari bahasa Latin : “Cataracta” yang berarti air terjun
• Dalam bahasa Indonesia : Disebut bular dimana penglihatan seperti tertutup
air terjun akibat lensa yang keruh
• Lensa “berawan” yang secara perlahan menyebabkan hilangnya fungsi
penglihatan
Angka Kebutaan Akibat Katarak

Global
17jt (47,8%)

Asia:
India 0,7%
Thailand 0,3%

Indonesia Iklim Tropis  Kecenderungan menderita katarak 15


1,5% tahun lebih cepat
Cataract Backlog
• Insiden Katarak 0,1% (21.000 orang) per tahun
• Operasi katarak  80.000 orang per tahun
• 11 universitas (PPDS Mata) 88 Spesialis Mata per tahun
• Spesialis Mata : Operasi Katarak  1 : ±1000
History of cataract surgery
• Sushruta (6 SM), India 
Bedah Couching
• Ammar (990 – 1020 M), Irak 
aspirasi (katarak yang lunak)
• Jacques Daviel (1696-1762) ,
Perancis  ekstraksi katarak
ekstra-kapsuler (ECCE)
• Samuel Sharp (1753),
London ekstraksi katarak
intra-kapsuler (ICCE)
History of cataract surgery
• Harold Ridley (1949)  first IOL
• Charles Kelman (1967) 
Phacoemulsification
• Mazzoco (1984)  foldable
intraocular lens
• Fischman (1993)  First topical
anasthesia

Charles Kelman
REFRACTION

EMETROPIA
Far source Near source

MIOPIA
Far source Near source

HYPEROPIA
Definition
• Katarak adalah kekeruhan pada lensa
• Keluhan kabur diakibatkan katarak menghalangi jalur penglihatan
Stucture of the crystaline lens
ETIOLOGY
• Belum diketahui secara pasti, diduga karena:
• Proses pada nukleus
• Serabut lensa terdorong ketengah  serabut ditengah menjadi
padat (nukleus)  dehidrasi  penimbunan ion kalsium dan
sklerosis  penimbunan pigmen
• Proses pada korteks
• Muncul celah antara serabut lensa  terisi air dan timbunan
kalsium lensa tebal, cembung, dan membengkak
• Penurunan pengambilan oksigen dan peningkatan air, NaCL, Ca
sedangkan potasium, vitamin C dan protein menurun
True Diabetic Cataract Pathway

Sorbitol Pathway
True Diabetic Cataract Pathway

Changes During Formation of Sugar Cataracts


Symptoms
• Penglihatan menurun
• Merasa silau
• Berkabut, berasap
• Sukar melihat di malam hari atau penerangan redup
• Melihat ganda
• Melihat warna terganggu
Diagnostic
• Tanda Subjektif
• Positive Scotoma
• Monoocular polyopia
• Artificial myopia
• Kemunduran tajam pengelihatan
• Pemeriksaan Objektif
• Visus
• Pemeriksaan lokal dengan lampu senter
• Pemeriksaan dengan Oftalmoskopi
• “Slit lamp” Biomikroskop
• Ultrasonografi Sken A dan Sken B
Jenis Katarak

Katarak Nuklear Katarak Kortikal Katarak subkapsuler Katarak subkapsuler


anterior posterior
Risk Factor Faktor risiko

Katarak
Infeksi Usia Trauma Obat
komplikata

Steroid-
Katarak
Glaukoma Uveitis Intrauterine induced
traumatika
cataract

Post
Uveitis anterior TORCH
trabeculectomy

Katarak
Diabetes Uveitis kongenital
mellitus posterior ATTENTION
Classification
• Berdasarkan usia

Kongenital < 1tahun

> 1 tahun s.d


Katarak Juvenile
< 40 tahun

Senilis > 40 tahun


Stadium Katarak Primer
Insipien Imatur Matur Hipermatur
Visus 6/6 Visus < 6/6 s.d 1/60 Visus 1/300 s.d 1/∞ Light Visus 1/300 s.d 1/∞ Light
perception baik perception baik

Lensa keruh tidak rata Lensa keruh tidak rata Lensa putith seperti Lensa keruh merata,
mutiara (rata) putih seperti susu
Iris shadow (-) Iris shadow (+) Iris shadow (-) Lensa berdegenerasi
keluar dari kapsul lensa
 lensa mengecil,
berwarna kuning dan
kering
Bila proses berlanjut
Pencairan di korteks
(nukleus turun) 
katarak Morgagni

Fundus refleks Fundus refleks (+) suram Fundus refleks (-) Fundus refleks (-)
cemerlang
Cataract Maturity

A B C

(A) Katarak Imatur (B) Katarak Matur (C) Katarak Hipermatur


Causes of Traumatic Cataract

(A) Penetrating Trauma (B) Blunt Trauma


Complication
• Glaukoma fakomorfik
• Glaukoma fakolitik
Phacolytic Glaucoma Phacomorphic
Glaucoma

Katarak Matur dengan Katarak Hipermatur dengan


Glaukoma Sekunder Glaukoma Sekunder
Cases

? ?
Management
• Membuang lensa yang keruh
melalui operasi Katarak lalu
dilakukan implantasi lensa
intraokuler yang baru
Operation Technique
EKEK • Memerlukan insisi
1. Ekstraksi katarak (Ekstraksi Katarak yang relatif lebih
besar (10-12 mm)
Ekstra Kapsular)
intrakapsuler
(Intracapsuler Cataract
Extraction/ ICCE)
2. Ekstraksi Katarak
EKIK • Insidens terjadinya
Ekstrakapsuler (Ekstraksi Katarak Intra ablasio retina pasca
operasi lebih tinggi
(Extracapsuler Cataract Kapsular)

Extraction/ECCE)
3. Small Incision
Cataract Surgery • Insisi 2,5 – 3 mm
• Pemulihan visus
(SICS) PHACOEMULSIFICATION lebih cepat
• Komplikasi dan
4. Phacoemulsification inflamasi post op
minimal
BIOMETRY

(A) Optical coherence biometry (B) optical biometry monitor


display
BIOMETRY

(C) contact ultrasonic biometry (D) ultrasonographic monitor display (A/C,


anterior chamber depth; L, lens thickness)
Biometry Results
Tn. Y Ny. X
Local Anesthesia Technique for Cataract Surgery

(A) Diseksi konjungtiva pada (B) Infiltrasi sub-Tenon dengan


anestesi sub-Tenon canula tumpul

(C) Insersi anestesi peribulbar (D) Infiltrasi peribulbar


Manual Cataract Surgery
Keterangan:
(A) Ekstraksi Intrakapsular
(B) Ekstraksi Ekstrakapsular
(C) Manual Small-Incision
Cataract Surgery
(D) Manual Small-Incision
Cataract Surgery
Phacoemulsification

Corneal incision  capsulorhexis  hydrodissection cracking of


the nucleus  phacoemulsification and aspiration of nuclear
quadrants – ‘divide and conquer’ method  cortical aspiration
using a bimanual automated technique
Intra Ocular Lens

(A) IOL fleksibel one-piece (B) IOL in situ in the capsular bag (C) Implanted IOL
Lens Correction for Aphakia

Bikonveks 10.00 dioptri


Future Directions
• Incision getting smaller
• Intraocular lens getting better
• Laser used to break up lens
• Surgeries becoming safer
40