Anda di halaman 1dari 28

ALZHEIMER DISEASE

Disusun oleh :
Melani Oktavia
1102015131

Pembimbing :
dr.Joko Nafianto, Sp.S
KEPANITERAAN KLINIK NEUROLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI
RUMAH SAKIT BHAYANGKARA Tk.I R.S. SUKANTO
PERIODE 29 JULI 2019 – 31 AGUSTUS 2019
PENDAHULUAN
 Alzheimer disease (AD) merupakan bentuk
demensia yang tersering. AD merupakan
penyakit degeneratif dan progresif pada otak
yang menyebabkan defect spesifik pada neuron.
Adanya defect ini dapat mengakibatkan
gangguan memori, berpikir, dan tingkah laku.
ANATOMI

 Susunan saraf terdiri dari dua bagian (1):


1.Susunan saraf sentral/ pusat :
 Otak besar (Cerebrum)

 Otak kecil (Cerebellum)

 Batang otak (Truncus cerebri)

2. Susunan saraf tepi/ perifer


 Susunan saraf somatik

 Susunan saraf otonom (simpatis dan


parasimpatis)
DEFINISI
 Penyakit Alzheimer adalah merupakan gangguan fungsi kognitif
yang onsetnya lambat dan gradual, degenerative, sifatnya progresif
dan permanen. Merupakan penyebab terbesar terjadinya demensia.
Dimana demensia adalah gangguan fungsi intelektual dan memori
didapat yang disebabkan oleh penyakit otak, yang tidak
berhubungan dengan gangguan tingkat kesadaran. Pasien dengan
demensia harus mempunyai gangguan memori selain kemampuan
mental lain seperti berpikir abstrak, penilaian, kepribadian, bahasa,
praksis dan visuospasial. Defisit yang terjadi harus cukup berat
sehingga mempengaruhi aktivitas kerja dan sosial secara bermakna.
EPIDEMIOLOGI
Hal yang terpenting yang merupakan
faktor resiko dari penyakit Alzheimer
adalah umur yang tua dan positive pada
riwayat penyakit keluarga.

Frekuensi dari penyakit


Alzheimer akan meningkat
seiring bertambahnya dekade
dewasa. Mencapai sekitar 20-40%
dari populasi lebih dari 85 tahun.
Wanita merupakan faktor resiko
gender yang lebih beresiko
terutama wanita usia lanjut.
ETIOLOGI
 Faktor genetik atau riwayat keluarga dengan demensia
merupakan salah satu faktor risiko dari kejadian AD. Pada
beberapa kasus yang jarang pada keluarga dengan autosomal
dominan untuk gen AD, perkembangan penyakit terjadi pada
usia 30 dan 50 tahun, setengah dari kasus ini dilaporkan
terjadi mutasi pada gen yang mengkode protein precursor
amiloid, presenilin 1, atau presinilin 2.
 Pengendapan suatu bentuk amiloid, yang berasal dari
penguraian APP merupakan gambaran yang konsisten pada
Alzheimer disease. Produk penguraian tersebut yang dikenal
sebagai β- amiloid (Aβ) adalah komponen utama plak senilis
yang ditemukan pada otak pasien Alzheimer disease, dan
biasanya juga terdapat di dalam pembuluh darah otak.
FAKTOR RISIKO
 Faktor Usia
 Keturunan

 Jenis kelamin

 Penurunan kognitif ringan

 Gaya hidup

 Tingkat pendidikan
KLASIFIKASI

 Terdapat 2 tipe AD, yaitu:


 AD familial

 AD sporadik

 Berdasarkan onset kejadian gejala penyakit, AD


diklasifikasikan menjadi:
 AD awitan dini (30-65 tahun)

 AD awitan lambat (diatas 65 tahun)


PATOFISIOLOGI
PATOFISIOLOGI

 Secara maskroskopik, perubahan otak pada


Alzheimer melibatkan kerusakan berat neuron
korteks dan hippocampus, serta penimbunan amiloid
dalam pembuluh darah intracranial. Secara
mikroskopik, terdapat perubahan structural dan
biokimia pada neuron – neuron
 Pada saat otopsi, gambaran patologis yang paing
sering terlihat adalah adanya protein β amiloid
ekstraseluler pada diffuse plaques dan pada plak
yang mengandung elemnt dari neuron yang
berdegenerasi. Perubahan intraseluler yang diamati
adalah adanya deposit dari tangle neurofibril. Lesi
patologis ini awalnya terletak pada region entorhinal
dari hipokampus dan kemudian akan menyebar ke
daerah lainnya. Semakin lama dari onset awal
penyakit, akan terjadi kehilangan dari neuron dan
sinaps yang luas
 Perubahan morfologis terdiri dari 2 ciri khas lesi yang
pada akhirnya berkembang menjadi degenarasi soma dan
atau akson dan atau dendrit.Satu tanda lesi pada AD
adalah kekusutan neurofibrilaris yaitu struktur
intraselular yang berisi serat kusut dan sebagian besar
terdiri dari protein “tau”.
 Dalam SSP, protein tau sebagian besar sebagai
penghambat pembentuk structural yang terikat dan
menstabilkan mikrotubulus dan merupakan komponen
penting dari sitokleton sel neuron. Pada neuron AD terjadi
fosforilasi abnormal dari protein tau, secara kimia
menyebabkan perubahan pada tau sehingga tidak dapat
terikat pada mikrotubulus secara bersama – sama.
 Tau yang abnormal terpuntir masuk ke filament heliks
ganda yang sekelilingnya masing-masing terluka. Dengan
kolapsnya system transport internal, hubungan
interseluler adalah yang pertama kali tidak berfungsi dan
akhirnya diikuti kematian sel. Pembentukan neuron yang
kusut dan berkembangnya neuron yang rusak
menyebabkan Alzheimer
MEKANISME PENYAKITALZHEIMER
BERDASARKAN PENINGKATAN CSF TAU DAN
PLAK AMILOID SERTA NEUROFIBRIL TANGLES
 Lesi khas lain adalah plak senilis, terutama terdiri
dari beta amiloid (A-beta) yang terbentuk dalam
cairan jaringan di sekeliling neuron bukan dalam sel
neuronal. A-beta adalah fragmen protein prekusor
amiloid (APP) yang pada keadaan normal melekat
pada membrane neuronal yang berperan dalam
pertumbuhan dan pertahanan neuron.
 APP terbagi menjadi fragmen – fragmen oleh
protease, salah satunya A-beta, fragmen lengket yang
berkembang menjadi gumpalan yang bisa
larut.Gumpalan tersebut akhirnya bercampur dengan
sel – sel glia yang akhirnya membentuk fibril – fibril
plak yang membeku, padat, matang, tidak dapat
larut, dan diyakini beracun bagi neuron yang utuh.
Kemungkinan lain adalah A-beta menghasilkan
radikal bebas sehingga mengganggu hubungan
intraseluler dan menurunkan respon pembuluh
darah sehingga mengakibatkan makin rentannya
neuron terhadap stressor. Selain karena lesi,
perubahan biokimia dalam SSP juga berpengaruh
pada AD.Secara neurokimia kelainan pada otak
MEKANISME TERJADINYA DISFUNGSI SINAPS
PADA ALZHEIMER
GEJALA KLINIS

 Orang dengan alzheimer disease mengalami gangguan progresif


daya ingat dan fungsi kognitif lainnya. Gangguan mula-mula
mungkin samar dan mudah disalah-sangka sebagai depresi,
penyakit penting lain pada usia lanjut. Gangguan kognitif
berlanjut terus, biasanya dalam waktu 5 hingga 15 tahun, yang
menyebabkan disorientasi total dan hilangnya fungsi bahasa dan
fungsi luhur korteks lainnya.
MANIFESTASI
 Gangguan memori muncul pada tahap awal, gangguan memori hal-hal yang baru lebih
berat dari yang lama, memori verbal dan visual juga terganggu, memori
procedural relatif masih baik

 Gangguan perhatian muncul pada tahap awal, sulit untuk mengubah mental set, sulit untuk
mendorong perhatian dan perservasi, gangguan untuk mempertahankan gerakan yang
terus menerus.

 Gangguan fungsi visuo-spasial muncul pada tahap awal, gangguan dalam hal menggambar ,mencari dan
menemukan alur.

 Gangguan dalam pemecahan masalah muncul pada tahap awal, gangguan hal abstraksi dan menyatakan pendapat.

 Gangguan dalam kemampuan berhitung muncul pada tahap awal.

 Gangguan kepribadian kehilangan rem, agitasi, mudah tersinggung.

 Gangguan isi pikiran Waham.


 Gangguan afek Depresi.
 Gangguan berbahasa sulit menemukan kata yang tepat, artikulasi dan komprehensi relative masih
baik.
 Gangguan persepsi gangguan visual, penghiduan, dan pendengaran : halusinasi, ilusi

 Gangguan praksis apraksia ideasional dan ideomotor


 Gangguan kesadaran dari penyakit menolak pendapat bahwa dia sakit, mungkin diikuti waham,konfabulasi, dan
indifference

 Gangguan kemampuan sosial muncul dikemudian hari


 Defisit motorik muncul dikemudian hari, relative ringan
 Inkontinensia urin dan alvi muncul dikemudian hari
 Kejang/epilepsi muncul dikemudian hari
DIAGNOSIS

Berdasarkan hasil dari beberapa penelitian,


NINCDS dan ADRDA menganjurkan beberapa
criteria diagnosis dari AD, yaitu:
 Demensia yang dibuktikan dengan hasil
pemeriksaan klinis, Mini-Mental Scale, Blessed
Dementia Scale, atau pemeriksaan status mental
lain.
 Usia pasien (>40 tahun)
 Deficit dari 2 atau 3 area kognitif yang bersifat
progresif, seperti bahasa, persepsi, dan skiil
motorik.
 Tidak ada gangguan kesadaran.
 Kelainan otak lain sudah disingkirkan.
 Pasien dengan gejala demensia sebaiknya
melakukann serangkaian pemeriksaan
penunjang, seperti deteksi gangguan gizi,
endokrin, dan infeksi. Pemeriksaan yang sering
dianjurkan adalah darah lengkap, pemeriksaan
untuk sifilis, kadar elektrolit serum, vitamin B
12, serta uji fungsi tiroid. Selain itu dapat pula
dilakukan CT scan untuk menilai apakah
terdapat tumor atau abses otak maupun
hematom subdural
TATALAKSANA
PENCEGAHAN
Pencegahan penyakit demensia Alzheimer dapat
dilakukan dengan :
 Sering melakukan kegiatan yang melibatkan
kemampuan kognitif.
 Penyakit demensia-alzheimer menyerang bagian
otak yang mengatur fungsi kognitif. Dengan
 lebih sering melakukan kegiatan yang
melibatkan kemampuan kognitif, akan semakin
mengurangi risiko terjadinya degenerasi bagian
ini
 Melakukan olah raga ringan sebagai salah satu
pola hidup sehat.
PROGNOSIS

Dari pemeriksaan klinis pada 42 penderita probable


Alzheimer menunjukkan bahwa nilai prognostik
tergantung pada 3 faktor yaitu: (2)
 Derajat beratnya penyakit

 Variabilitas gambaran klinis

 Perbedaan individual seperti usia, keluarga


demensia, dan jenis kelamin.
Ketiga faktor ini diuji secara statistik, ternyata faktor
pertama yang paling mempengaruhi prognostik
penderita Alzheimer. Pasien dengan penyakit Alzheimer
mempunyai angka harapan hidup rata-rata 4-10 tahun
sesudah diagnosis dan biasanya meninggal dunia
akibat infeksi sekunder.(12)
PENUTUP

 Alzheimer disease (AD) merupakan bentuk demensia yang


tersering. AD merupakan penyakit degeneratif dan
progresif pada otak yang menyebabkan defect spesifik
pada neuron. Pada kasus AD terjadi degenerasi neuron
dalam jumlah besar yang disebabkan oleh gangguan pada
sinaps, metabolisme dan perbaikan sel saraf yang
sebenarnya hal tersebut tidak terjadi dalam proses normal.
 Pada beberapa kasus, AD juga dapat mengenai korteks
serebri khususnya area yang mengatur bahasa dan
pemikiran (area Broca, Wernick dan Prefrontal), sehingga
menyebabkan seseorang kehilangan kemampuan
berbahasa, membuat keputusan dan timbul perubahan
perilaku. Kerusakan ini terjadi secara progresif, akibatnya
ppasien dengan AD akan merasakan emosi yang meledak-
ledak, gangguan perilaku, gangguan tidur, inkontinensia,
kehilangan fungsi komunikasi, dan kehilangan
kemandirian. Progresifitas penyakit sangat cepat. Adapun
pengobatan pada kasus ini bersifat simtomatik.
DAFTAR PUSTAKA
 Hotchkiss, Richard, Andreas S, Jonathan EM, et al., 2009. Cell
Death: Mechanisms of Disease. The New England Journal of
Medicine. Vol 361;1570-1583
 Landgrave-Gomez, Jorge, Octavio MG & Rosalinda GG., 2015.
Epigenetic Mechanism in Neurological and Neurodegenerative
Disease. Frontiers in Cellular Neuroscience. Vol 27 (2);1-11
 Machfoed, MH, M. Hamdan, Abdullah M, et al. ed, 2011. Buku Ajar
Ilmu Penyakit Saraf. Pusat Penerbitan dan Percetakan Unair:
Surabaya.
 Mayeux, Richard., 2010. Early Alzheimer’s Disease. The New
England of Journal Medicine. Vol 362;2194-2201
 Price & Willson., 2012. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit. EGC: Jakarta. Pp 1139-1144
 Ropper, AH & Robert HB, ed., 2005. Adam’s & Victor Principles of
Neurology. McGraw-Hill. Pp 910
 Rowland & Pedley, Ed., 2010. Merrit’s Neurology 10th Edition.
Lippincott Williams & Wilkin..
 Querfurth, HW & Frank, ML., 2010. Mechanisms of Disease
Alzheimer’s Disease. The New Englang Journal of medicine. Vol 362
(4); 392-335