Anda di halaman 1dari 49

MAGNETOMETER

Kelompok:
Rangga Jati S
(15/4359018/TK/43680)
Ridzky Zulfikar W.B
(15/4359019/TK/43681)
Rifqi Hanif
(15/4359020/TK/43682)
Sarah Chairunisa
(15/4359022/TK/43684)
Septi Arini
(15/4359023/TK/43685)
Sesar Andi Prayitno
15/4359024/TK/43686)
Siska Nurul Inayati
15/4359025/TK/43687)
Wilsa Nazuha S
15/4359027/TK/43689)
Yudha Noor R
15/4359028/TK/43690
Yunita Kartika S
15/4359029TK/43691)
Magnetometer
(Definisi Umum)
Suatu alat atau intreumen yang digunakan untuk mengukur
daya magnet , baik itu sifat materialnya, arah medan
magnet dan kekeuatan medan magnet maupun perubahan
medan magnet pada lokasi tertentu.
Pada umumnya digunakan untuk memantau medan
magnet bumi dan merekam data pembacaan medan
magnet bumi secara otomatis untuk mempermudah
pengamatan dan pengukuran medan magnet bumi.
Contoh Sederhana Kompas (Yang bekerja berdasarkan
penetuan medan gaya magnet bumi)
Pada dasarnya Prinsip Kerja Magnetometer (Pengukuran
kemagnetan bumi) adalah melalui pengukuran relative, yaitu nilai
satu atau lebih komponen medan magnet di sembarang titik
dinyatakan sebagai perbedaan terhadap nilai pada titik basis yang
dipilih.
Untuk luas pengamatan yang relatif kecil, yaitu beberapa km2
,medan magnetik normal dipandang konstan dan sama dengan
titik basis. Sedang untuk daerah yang luas, lebih dari ratusan km 2
variasi medan normal berpengaruh terutama dalam arah utara-
selatan, dan perlu koreksi.
(Kepekaan Magnetometer yang diperlukan adalah antara 1 gamma
dan 10 gamma, dalam medan total jarang yang lebih besar dari
50.000 gamma.)
Magnetometer for Marine Survey

(Sumber BPPT,2018)
Pelaksanaan Survey Magnetometer
• Survey mangnetik dilaksanakan untuk mendeteksi adanya
obyek-obyek mental pada atau dekat pemukaan dasar laut,
yang mungkin bisa “membahayakan” ( Bahaya yang
dimaksud antara lain : wrecks, sunken buoys, steel cable, atau
bahaya lain yang mungkin terdapat pada area survey).
• Selain itu juga digunakan untuk kegiatan Survei
magnetometrik dapat berguna dalam menentukan anomali
magnetik yang mewakili bijih (deteksi langsung), atau dalam
beberapa kasus mineral gangue yang terkait dengan deposit
bijih (deteksi tidak langsung atau inferensial). Ini
termasuk bijih besi, magnetit , hematit , dan sering pirhotit.
• Magnetometer juga digunakan untuk mendeteksi situs
arkeologi , bangkai kapal, dan benda-benda yang terkubur
atau terendam lainnya.
• Dalam teknisnya pengukuran Magnetometer
dilakukan bersamaan dengan pengukuran
Batimetri, dimana lajur-lajur survey di sesuaikan
dengan kegiatan survey batimetri.
• Tetapi tidak disarankan bersamaan dengan survey
Side Scan Sonar, karena dikhawatirkan akan
Towfish Side Scan Sonar akan mengangu proses
survey magnetik itu sendiri (kecuali bisa dibuktikan
bahwa Towfish tidak berpengaruh terhadap survey)
• Panjangnya kabel dibuat sesuai dengan kondisi
permukaan dasar laut agar survey dapat dilakukan
secara Optimum.
Panjang kabel dibuat sedemikian hingga agar tetap berada pada 1
meter diatas permukaan dasar laut.
Untuk mendapatkan hasil rekaman digital yang optimum maka
sensor harus dipasang sedemikian rupa sehingga berada pada
jangkauan optimum pengukuran.
Jika terdapat obyek metal yang cukup siginifikan dilakukan
investigasi lebih lanjut dengan jalur survey diperapat.
Contoh Alat
Magnetometer Geometrics G-877

G-822 with Weight Collar


Depth Option and Altimeter
https://www.ashtead-technology.com/rental-equipment/geometrics-g-882-sx-mag-towfish/
G-882TVG Cesium Magnetometer and
transverse Gradiometer
https://www.ashtead-technology.com/rental-equipment/geometrics-g-882tvg-cesium-
magnetometer-transverse-gradiometer/
SeaSPY MARINE
MAGNETOMETER
https://www.ashtead-
technology.com/rental-
equipment/marine-magnetics-
seaspy-magnetometer/
Geometrics g-880 Magnetometer
Spesifikasi
• Sensitifitas : 0.02 nt at 10 sampel per detik
• Multi-sensor gradiometer arrays for precise
search or diurnal correcte total field
• Quick-connect integration to sidescan sonar
systems with simultaneous data display
• Tow cable lenghts to 2500 ft – digital data
immune to shipboard noise
https://www.ashtead-technology.com/rental-equipment/geometrics-g-880-
magnetometer/
PROTON PRECESSION MAGNETOMETER
(PPM) GSM 19-T
https://www.artha-bh.com/product/proton-precession-magnetometer-ppm-gsm-19-t/
PPM GSM 19-T merupakan alat survei magnetik dengan tipe sensor proton.
Alat ini diproduksi oleh GEM System, Canada. PPM GSM 19-T akan
mengukur besar medan total magnetik yang meliputi medan magnet bumi,
medan magnet benda anomali, dan medan magnet eksternal. Alat ini
digunakan dengan mengarahkan sensor alat ke utara dan lalu mengaktifkan
sensor untuk mengukur dengan menekan tombol yang sudah disediakan.
Alat magnetiik ini biasanya diaplikasikan pada survei dan eksplorasi mineral
tambang, batu bara, minyak, dan gas bumi, arkeologi, struktur geologi, dan
hal lainnya yang berkaitan dengan survei objek magnetik bawah permukaan
tanah.
Kalibrasi alat
(Contoh Studi Kasus)
Prosedur kalibrasi yang dilakukan yaitu dengan melewatkan objek
berupa besi batangan dengan berat ± 45 Kg terhadap sensor
magnetometer yang ditempatkan pada suatu posisi tetap.
Hasil kalibrasi magnetometer G-877 yang
memiliki kecenderungan semakin jauh lintasan
semakin kecil intensitas magnetik yang
ditimbulkan (hal ini sesuai dengan dengan hukum
medan potensial, intensitas berbanding terbalik
dengan kuadrat jarak).
Dari hasil diatas lintasan 2 dan 3 memeberikan
hasil yang baik dan memenuhi standar geometrik
sedangkan pada lintasan 4,5, dan 6 memberikan
hasil yang kurang baik , pada lintasan 4 dan 5
pengaruh magnet masih bisa di deteksi
sedangkan pada lintasan 6 benda yang tidak bisa
di deteksi karena noise signal of rationya rendah.
Mendesain Sensor Magnetometer
(Contoh Studi Kasus)

Desain survei yang efektif dalam survei


pendeteksian ranjau seperti terlihat dalam
gambar. Digunakan 2 sensor magnetometer G-
877 dengan jarak masing-masing sensor 2 meter
dan interval lintasan 10 m, Kedalaman sensor
magnetometer dipertahankan untuk tetap berada
diatas seabed dengan jarak 1
Desain Melintang
Desain Tegak
Prosedur Pelaksanaan Desain

NB : dalam melakukan prosedure kalibrasi jauhakan dari pengaruh variasi harian dan
kondisi yang mempengaruhi medan magnet.
Akuisis Data
Akuisisi Data
Lintasan tertutup:
setiap pengambilan data pada titik-titik harus dimulai dan diakhiri dengan
pengambilan data di titik “base” dengan selang waktu pengambilan data awal dan data akhir harus > 2jam.
Semakin kecil selisih waktu maka koreksi data akan semakin akurat.
Lintasan terbuka:
pengambilan data dengan dua buah magnetometer,. Satu buah dtempatkan pada titik base untuk
mengukur medan magnet total pada tiap-tiap waktu tertentu, satu yang lain digunakan untuk pengambilan
data pada titik-titik pengukuran . Hasil yang didapat lebih akurat karena magnetometer pada base dapat
diatur untuk mengambil data dengan selang waktu yangg cukup rapat.
Lintasan pengukuran:
sebaiknya dilakukan pada lintasan yang membentuk garis lurus untuk memudahkan melakukan penafsiran
dua dimensi.
Syarat pengukuran:
hal-hal yangg harus diperhatikan meliputi:
• Operator harus bebas dari benda-benda metal. Ex: jam tangan metal, koin , dll.
• Tidak melakukan pengukuran selama badai magnet belum reda.
• Tidak menempatkn titik base pada daerah yang diperkirakan mengandung banyak metal
(ANOMALI).
• Radio komunikasi dalam keadaan mati ketika pengukuran dilakukan.
Reduksi Magnetometer
(Data Anomali di Intrepretasi ke Bidang Datar)

Data anomali medan magnet yang telah didapat harus


diintepretasikan ke bidang datar melalui reduksi. Data
hasil proses reduksi ini kemudian digunakanuntuk
transformasi data antar bidang datar
Metode reduksi yang dapat digunakan ada tiga yitu:
• equivalent source (?)
• equivalent layer (?)
• taylor series approximate (?)
Pengangkatan keatas / upward continuation
Data anomali medan magnet masih mengandung kesalahan dari
benda magnetik asing yang ada di lapangan, proses upward
continuation ini berfungsi untuk menghilangkan medan magnetik
lokal tersebut
Koreksi efek regional
Anomali magnetik regional juga sering terjadi dalam pengukuran
magnetometer, solusi yang digunakan untuk mereduksinya adalah
dengan melakukan pengukuran dengan ketinggian tertentu dari
permukaan tanah
Intepretasi data geomagnetik
Data geomorfologi wilayah survey juga dapat membantu dalam
intepretasi medan magnet yang dihasilkan tiap material yang
berbeda, dari data tersebut dapat ditentukan nilai anomali medan
magnet antar material
Penelitian Terkait Survey Magnetik
Pemetaan Geomagnet Di Sepanjang Pantai
Barombong Kota Makassar Dengan Menggunakan
Magnetometer.(Pasir besi)
Prosedur pelaksanaan:
• Persiapan
• Survey pendahuluan
Penetuaan lokasi
Penetuan arah dan panjang lintasan
• Teknik akusisi data
• Pengolahan data
• Teknik interpretasi data.
Persiapan
• Survey pendahuluan
1. Penetuaan lokasi
peentuan area yang tepat daerah datar
dan tidak terhalang beton
2. Penetuan arah dan panjang lintasan
Lintasan Iterdiri atas 49 stasiun
pengukuran jarak/ spasi masing-masing
stasiun 20 meter.
Teknik akusisi data
1. Memasang patok-patok terlebih dahulu pada stasiun-stasiun
pengukuran
2. Menentukan stasiun basis dengan menggunakan magnet.
3. Melakukan pengukuran di SB (stasiun Basis).
4. Kemudian melakukan pengukuran pada lintasan 1 .
Pengolahan data
1. Menghitung nilai TIGRF pada titik pengukuran
2. Menentukan variasi harian Tvh yang diukur
dengan magnetometer pada base station
3. Menghitung anomaly medan magnetik local.
∆T = Tobs - TIGRF ± Tvh
Dimana:
Tobs: medan magnetic total yang terukur
oleh magnetometer
TIGRF: Medan magnet teoritis berdasarkan
IGRF pada stasiun Tobs
Tvh : Koreksi medan magnet akibat variasi
harian
4. surfer version 8.0 menunjukkan hubungan antara posisi
pengukuran dan nilai anomali medan magnetik lokal.
5. Pemisahan antara regional dan residual dengan metode
pemisahan moving average dengan program surfer version
8.0
6. Memetakan medan regional dan residual dengan program
surfer version 8.0.

Interpretasi Data
• Dilakukan secara kualitatif
• Penentuan lokasi dengan mengunakan program Excel
• Dilakukan klasifikasi terhadap hasil
Diagram alir
Hasil dan Pembahasan
Secara Umum:
Peta Lokasi Base Station
Anomali total Anomali regional

Anomali Residual
Grafik masing-masing lintasan dengan
menggunakan excel yang menunjukkan hubungan
antara anomali magnetik dengan jarak. (hasil
hampir seragam ) Anomali total merupakan
gabungan dari medan regional dan medan
residual.
Kesimpulan
Pantai Barombong didominasi oleh anomali
magnetik sedang atau paramagnetik, berhubungan
dengan batuan yang relatif bersifat sedikit
magnetik seperti batuan beku yang telah
mengalami pelapukan.
Visualisasi Data
Data medan magnet yang diperoleh dari peralatan
yang telah disebutkan akan divisualisasikan
dengan metode kontur warna yang menunjukkan
seberapa besar medan magnet atau anomali
magnetik yang ada di wilayah tersebut. Berikut
beberapa contoh penggambaran peta medan
magnet:
Sumber:

Ponce, B. D. a, Denton, K. M., & Watt, J. T. (2016). Marine


Magnetic Survey and Onshore Gravity and Magnetic Survey ,
San Pablo Bay , Northern California.

Gambar berikut memperlihatkan data


anomali magnetik yang menonjol di
lepas pantai Point Pinole yang
kemungkinan adalah pantulan dari
batuan ultramafic (serpentinit, batuan
metamorf yang terbentuk dari mineral
serpentin akibat perubahan basalt dasar
laut yang bertekanan tinggi pada
temperatur rendah). Di daerah barat
laut, ada peningkatan dua anomali
aeromagnetik yang menonjol di
sepanjang patahan Hayward di bagian
tengah Teluk San Pablo. Anomali
magnet tersebut mewakili dua sisi
patahan yang kemungkinan bersumber
dari batuan mafic, ultramafic, atau
gunung berapi di sepanjang patahan.
Analisis data magnetik laut resolusi
tinggi dapat memberikan gambaran
struktur rinci batuan dan dapat
digunakan untuk menentukan adanya
bahaya gempa.
Sumber:

Mateos, I., Diaz-Aguiló, M., Gesa, L., Gibert, F., Karnesis, N., Lloro,
I., … Sopuerta, C. F. (2015). Magnetic field measurement using chip-
scale magnetometers in The evolved Laser Interferometer Space
Antenna (eLISA). Journal of Physics: Conference Series, 610(1).
http://doi.org/10.1088/1742-6596/610/1/012028

Gambar berikut memperlihatkan


hasil visualisasi data medan magnet
yang diperoleh menggunakan 8
anisotropic magnetoresistance
(AMR) magnetometer dengan dua
konfigurasi sensor yang berbeda.
Data pada gambar pertama
diperoleh dengan konfigurasi
sensor yang umum yaitu dua kutub
(dipole). Sedangkan data pada
gambar kedua diperoleh dengan
konfigurasi sensor dengan banyak
kutub (multipole).
Ekspansi dengan cara
memperbanyak kutub pada
konfigurasi sensor secara konsisten
menghasilkan hasil yang baik
untuk memperkirakan medan
magnet.
Sumber:

Zulaikhah, S., Harmoko, U., Yulianto, T., Yulianto, G.,


Widada, S., & Yusuf, D. H. (2016). PEMODELAN
INVERSI ANOMALI MAGNETIK 3D DAERAH MATA
AIR PANAS DIWAK DAN DEREKAN, 5(4), 399–408.

Gambar berikut memperlihatkan


hasil dari nilai medan magnet total
yang telah di koreksi harian dan
koreksi IGRF sehingga diperoleh
nilai anomali medan magnet yang
kemudian dibuat kontur. Pola
pada kontur anomali medan
magnet total tersebut terdiri dari
pasangan klosur positif dan klosur
negatif yang menunjukkan bahwa
anomali medan magnet adalah
dipole (dwi kutub), yaitu adanya
pengaruh dua kutub berpasangan
(utara dan selatan) pada magnet.
Sumber:

Doo, W., Hsu, S., & Armada, L. (2015). New Magnetic


Anomaly Map of the East Asia with Some Preliminary
Tectonic Interpretations, 26(1), 73–81.
http://doi.org/10.3319/TAO.2014.08.19.07(GRT)1.

Gambar berikut memperlihatkan


pada wilayah di daerah barat daya
dan tenggara memiliki struktur
linear (lineasi) magnetik antara
LOFZ (Luzon-Okinawa Fracture
Zone) dan GR (Gagua Ridge) yang
menunjukkan penyebaran arah
magnet di daerah tersebut.
Terima Kasih