Anda di halaman 1dari 39

Bilangan dan Himpunan

Kelompok 3
BILANGAN
Bilangan adalah suatu konsep matematika yang digunakan untuk
pencacahan dan pengukuran. Simbol ataupun lambang yang
digunakan untuk mewakili suatu bilangan disebut sebagai angka atau
lambang bilangan. Dalam matematika, konsep bilangan selama
bertahun-tahun lamanya telah diperluas untuk meliputi bilangan nol,
bilangan negatif, bilangan rasional, bilangan irasional, dan bilangan
kompleks.

Operasi uner mengambil satu masukan bilangan dan menghasilkan


satu keluaran bilangan. Operasi yang lebih umumnya ditemukan
adalah operasi biner, yang mengambil dua bilangan sebagai masukan
dan menghasilkan satu bilangan sebagai keluaran.
Istilah lain dari bilangan bulat positif adalah bilangan asli, sedangkan gabungan dari
bilangan positif dan nol adalah bilangan cacah

Sifat-sifat operasi penjumlahan dan pengurangan pada bilangan bulat


Sifat 1: Komutatif:
Secara umum, jika a dan b adalah bilangan bulat, maka berlaku 𝒂 + 𝒃 = 𝒃 + 𝒂
Sifat 2: Asosiatif:
Selain sifat komutatif, pada penjumlahan bilangan bulat juga berlaku sifat Asosiatif
(pengelompokan). Secara umum, jika a,b, dan c adalah sebarang bilangan bulat,
maka berlaku
𝒂 + (𝒃 + 𝒄) = (𝒂 + 𝒃) + 𝒄
Sifat-sifat lain dari bilangan bulat
 Penjumlahan bilangan genap di tambah bilangan genap
Siswa bisa melakukan investigasi hasil penjumlahan dua bilangan genap
 Penjumlahan bilangan genap ditambah bilangan ganjil
Siswa bisa melakukan investigasi hasil penjumlahan bilangan genap dan
bilangan ganjil
 Penjumlahan bilangan ganjil ditambah bilangan ganjil
Siswa bisa melakukan investigasi hasil penjumlahan bilangan genap dan
bilagnan ganjil
Operasi perkalian dan pembagian bilangan bulat
Secara umum, untuk a elemen bilangan bulat positif, dan b elemen
bilangan bulat, 𝑎 × 𝑏 diartikan menjumlahkan 𝑏 sebanyak 𝑎 kali.
𝑎 × 𝑏 = 𝑏 + 𝑏 + 𝑏 +⋯ + 𝑏
𝑏 dijumlahkan sebanyak 𝑎 kali
pada operasi perkalian juga berlaku sifat komutatif, sosiatif, dan
distributif untuk sembarang bilangan bulat 𝑎, 𝑏, dan 𝑐 berlaku.
Komutatif
𝑎 × 𝑏 = 𝑏 × 𝑎
Asosiatif
(𝑎 × 𝑏) × 𝑐 = 𝑎 × (𝑏 × 𝑐)
Distributif
Perkalian terhadap penjumlahan
𝑎 × (𝑏 + 𝑐) = (𝑎 × 𝑏) + (𝑎 × 𝑐)perkalian terhadap
pengurangan
𝑎 × (𝑏 – 𝑐) = (𝑎 × 𝑏) – (𝑎 × 𝑐)
Faktor Bilangan Bulat
Diketahui a dan b adalah bilangan bulat. a disebut faktor dari b jika
ada n sedemikian sehingga b = a × n, dengan n adalah bilangan bulat.

Bilangan Prima
Bilangan prima adalah bilangan yang hanya memiliki dua faktor, yaitu
1 dan bilangan itu sendiri. Misal p adalah bilangan prima maka faktor
dari p hanya 1 dan p
Urutan Operasi
Seandainya tidak ada aturan urutan operasi pada bilangan bulat. Misal ada suatu
soal matematika sebagai berikut:

Tentukan hasil dari 6 + 2 × 4 = . . .


Kemungkinan jawaban pertama 6 + 2 × 4 = 8 × 4 = 32
Kemungkinan jawaban kedua 6 + 2 × 4 = 6 + 8 = 14

Jawaban manakah yang benar, dan jawaban manakah yang salah. Jika tidak dibuat
aturan dalam urutan operasi matematika, maka dalam perhitungan matematika
akan menghasilkan beberapa kemungkinan jawaban yang berbeda seperti di atas.
Oleh karena itu, para matematikawan sepakat untuk membuat aturan tentang
urutan operasi, yaitu:
 Hitung bentuk yang di dalam kurung.
 Hitung bentuk eksponen (pangkat).
 Perkalian dan pembagian secara berurutan dari kiri ke kanan.
 Penjumlahan dan pengurangan secara berurutan dari kiri ke kanan.
BILANGAN PECAHAN
Untuk memudahkan kita dalam memahami bilangan pecaahan, kita
daapt menggunakan ilustrasi di bawah ini.
Cara Membandingkan Pecahan
Metode 1: Untuk penyebut yang sama, hanya membandingkan
pembilangnya.
1 2
Contoh: < karena 1 < 2
3 3

Metode 2: Untuk penyebut yang berbeda, menyamakan penyebut terlebih


dahulu lalu membandingkan pembilangnya. Cara menyamakan penyebut:
Cara I: Mengalikan atau membagi pembilang dan penyebut dengan bilangan
bulat yang sama hingga penyebutnya sama.
Cara II: Penyebutnya sama-sama dibuat menjadi KPK dari penyebutnya.

Contoh:
1 1
dibandingkan ; KPK dari 4 dan 6 = 12
4 6
1 1 1×3 3 1×2 2
dibandingkan ⇔ = dibandingkan =
4 6 4×3 12 6×2 12
1 3 1 2
= > = karena 3 > 2
4 12 6 12
Bilangan pecahan juga bisa disederhanakan menggunakan cara berikut.

Metode 1: Membagi pembilang dan penyebut dengan bilangan bulat positif


yang sama secara berulang-ulang sampai tidak dapat dibagi lagi.
16 16÷2 8 8÷4 2
contoh: = = = =
24 24÷2 12 12÷4 3

Metode 2: Bentuk sederhana dari bilangan pecahan apabila FPB dari


pembilang dan penyebutnya adalah 1. Jika FPB belum sama dengan 1, cara
menyederhanakannya adalah dengan membagi pembilang dan
penyebutnya dengan FPB tersebut.
16 16 16÷8 2
contoh: memiliki FPB 8, maka = =
24 24 24÷8 3
1. Seorang pelari mampu menempuh jarak sejauh 3.000 meter dalam
waktu 8 menit. Berapakah rata-rata kecepatan pelari tersebut dalam
meter per detik?
a. 3,75 b. 6,25
c. 16 d. 37,5
2. Pecahan yang sesuai untuk menyatakan bagian yang terarsir pada
lingkaran berikut adalah ...
1 1 1
a. Antara 0 dan b. Antara dan
4 4 2

1 3 3
c. Antara dan d. Antara dan 1
2 4 4
3. Di antara bilangan berikut yang berada di antara 0,06 dan 0,07 adalah ...
a. 0,00065 b. 0,0065
c. 0,065 d. 0,65
2
4. Pada gambar berikut yang menyatakan arsiran adalah ...
3
Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Pecahan
1 3
Perhatikan penjumlahan + , untuk mencari hasil penjumlahan itu, kita
5 5
dapat menggunakan bangun yang tampak seperti gambar berikut.

1 3 4
Dari gambar di atas, tampak bahwa + = .
5 5 5
5 2
Perhatikan pengurangan −
, untuk mencari hasil pengurangan itu, kita
7 7
dapat menggunakan bangun yang tampak seperti berikut:

5 2 3
Dari gambar di atas, tampak bahwa − =
7 7 7

Penyelesaian dengan algoritma, masalah di atas dapat diselesaikan sebagai


berikut.
1 3 1+3 4 5 2 5−2 3
+ = = , dan − = =
5 5 5 5 7 7 7 7
2 1
Penjumlahan + tidak dapat langsung dijumlahkan karena kedua
5 2
pecahan tersebut memiliki bagian keseluruhan yang berbeda. Untuk
menjumlahkan kedua pecahan tersebut kita harus mengubah
Menjadi pecahan ekuivalen yang penyebutnya sama. Dalam hal ini
2 1 4 5 4 2
+ dapat ditulis + , karena ekuivalen dengan , sedangkan
5 2 10 10 10 5
5 1 2 1 4 5 9
ekuivalen (senilai) dengan . Jadi + = + =
10 2 5 2 10 10 10
Perhatikan bilangan-bilangan berikut.
1 2 2 4 6 5 1 1
, , , , , , 1 , 2 , 0,5 , 1,25 , 3
2 4 5 7 5 2 2 5
Bilangan-bilangan tersebut dapat dikelompokkan menjadi empat bilangan, yaitu:

a) Pecahan sejati: Pecahan yang pembilangnya kurang dari penyebut dan FPB dari
pembilang dan penyebutnya adalah 1.
1 2 4
 Bilangan di atas yang termasuk bilangan pecahan sejati adalah , , .
2 5 7
2
 Untuk bilanganbukan bilangan pecahan sejati karena FPB dari pembilang
4
dan penyebutnya adalah 2.
2
 Seperti yang sudah dibahas sebelumnya pecahan adalah pecahan yang
4
1
ekuivalen atau senilai dengan .
2
 Bilangan pecahan dengan penyebut 100 disebut persen.
 Bilangan pecahan dengan penyebut 1000 disebut permil.
Misal:
5
= 5% (dibaca lima persen).
100
5
= 5‰ (dibaca lima permil).
1000
b) Pecahan tidak sejati : Pecahan yang pembilangnya lebih dari penyebut.
6 5
Bilangan di atas yang termasuk bilangan pecahan tidak sejati adalah dan .
5 2
c) Bilangan campuran
 Bilangan campuran yang dimaksud adalah campuran antara bilangan bulat
dengan bilangan pecahan.
1 1
 Bilangan di atas yang termasuk bilangan campuran adalah 1 dan 2 .
2 5
 Bilangan campuran bisa diubah menjadi bilangan pecahan dengan cara
sebagai berikut.
1 1 × 2 + 1 2 + 1 3 1 2 × 5 + 1 10 + 1 11
1 = = = 2 = = =
2 2 2 2 5 5 5 5
𝑎
 Secara umum, jika ada bilangan campuran 𝑐 dengan 𝑎 dan 𝑏 adalah
𝑏
bilangan bulat positif dan 𝑐 adalah bilangan bulat. Bisa diubah menjadi
𝑎 𝑐×𝑏+𝑎
pecahan 𝑐 =
𝑏 𝑏
d) Bilangan desimal
 Sistem bilangan desimal bilangan tersusun dari angka 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9.
 Bilangan yang termasuk bilangan desimal adalah 0,5 , 1,25 , dan 3.
 Bilangan bulat juga termasuk ke dalam bilangan desimal.
Pada bilangan 1,25
Angka 1 bernilai 1 × 1 = 1
1 2
Angka 2 bernilai 2 × =
10 10
1 5
Angka 5 bernilai 5 × =
100 100
1. Dani mampu menyelesaikan balap lari dalam waktu 49,86 detik. Sedangkan
Sugi mampu menyelesaikan balap lari dalam waktu 52,30 detik. Berapa detik
lebih lama, waktu yang dibutuhkan oleh Sugi dibandingkan Dani?
a. 2,44 detik b. 2,54 detik
c. 3,56 detik d. 3,76 detik
2. Ketika suatu tol dibangun, rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk berkendara
dari kota A ke kota B menurun dari 25 menit menjadi 20 menit. Berapa persen
penurunan waktu yang dibutuhkan untuk berkendara dari kota A ke kota B?
a. 4% b. 5%
c. 20% d. 25%
3. Harga suatu barang, naik 20%. Jika harga sebelum kenaikan adalah 8.000
rupiah, maka harga setelah kenaikan adalah ...
a. 6.400 rupiah b. 9.000 rupiah
c. 9.600 rupiah d. 10.000 rupiah
3
4. Pada suatu seminar, pesertanya adalah perempuan. Jika dinyatakan dalam
25
persen adalah ...
a. 12% b. 3%
c. 0,3% d. 0,12%
Perkalian Bilangan Pecahan
a) Apabila ada suatu bilangan biasa dikalikan dengan bilangan pecahan
maka kalikan bilangan tersebut dengan pembilang dari bilangan
𝑏 𝑎×𝑏
pecahan, atau 𝑎 × = dengan 𝑐 ≠ 0
𝑐 𝑐
b) Untuk mengalikan dua pecahan, kalikan pembilang dengan pembilang
𝑎 𝑐 𝑎×𝑐
dan penyebut dengan penyebutnya, atau × = dengan 𝑏, 𝑑 ≠ 0
𝑏 𝑑 𝑏×𝑑
c) Perkalian pecahan biasa dengan pecahan campuran
Untuk mengalikan bilangan pecahan cCCCCCCCSampuran, nyatakan
terlebih dahulu bilangan pecahan campuran itu sebagai bilangan
pecahan biasa
𝑎 𝑐 𝑝×𝑏+𝑎 𝑞×𝑑+𝑐
𝑝 ×𝑞 = × dengan 𝑏, 𝑑 ≠ 0
𝑏 𝑑 𝑏 𝑑
Pembagian Bilangan Pecahan
Pembagian bilangan pecahan adalah perkalian dengan kebalikan bilangan
pembaginya.
a) Pembagian bilangan pecahan oleh bilangan bulat
𝑎
Jika adalah bilangan pecahan dengan c adalah bilangan bulat maka
𝑏
𝑎 𝑎 1 𝑎
1) 𝑏
÷𝑐 = × =
𝑏 𝑐 𝑏×𝑐
;𝑏 ≠ 0, 𝑐 ≠ 0
𝑎 𝑐 𝑏 𝑐×𝑏
2) 𝑐 ÷ 𝑏 = 1
×
=
𝑎
≠0
𝑎
,𝑎
b) Pembagian bilangan pecahan oleh bilangan pecahan dengan penyebut sama
𝑎 𝑏 𝑎 𝑏 𝑎
Misalnya, Jika dan adalah bilangan pecahan dengan 𝑏 ≠ 0, maka ÷ =
𝑐 𝑐 𝑐 𝑐 𝑏
c) Pembagian bilangan pecahan oleh pecahan dengan penyebut berbeda
Untuk membagi bilangan pecahan dengan bilangan pecahan kita dapat
mengubah kedua bilangan pecagan tersebut menjadi pecahan senilai dengan
penyebut sama.
𝑎 𝑐
Jika dan adalah bilangan pecahan, dengan 𝑐 ≠ 0 maka
𝑏 𝑑
𝑎 𝑐 𝑎 𝑑 𝑎𝑑
÷ = × = ; 𝑏 ≠ 0, 𝑑 ≠ 0
𝑏 𝑑 𝑏 𝑐 𝑏𝑐
Contoh soal :
Andi datang ke dealer mobil dengan tujuan ingin membeli sebuah mobil truk dan
membawa uang sebanyak 245 juta. Ketika melihat brosur dari dealer ternyata
5
harga sebuah mobil truk adalah harga sebuah sedan. Apabila harga sedan 270
6
juta, berapakah sisa uang adi jika ia membeli sebuah mobil truk?
Bilangan Berpangkat Bulat Positif
Bilangan berpangkat juga dikenal dengan istilah bilangan eksponen.
Salah satu alasan penggunaan bilangan berpangkat adalah untuk
menyederhanakan bilangan desimal yang memuat angka (relatif) banyak.
Misal bilangan 1.000.000 dapat dinotasikan menjadi bilangan
berpangkat 106 . Bilangan desimal 1.000.000 memuat tujuh angka dapat
diubah menjadi bilangan berpangkat 106 . yang hanya memuat tiga angka.
Jadi Bilangan berpangkat merupakan bentuk perkalian berulang bilangan (
faktor ) yang sama.

Membandingkan Bilangan Berpangkat Besar


Setelah mengamati bentuk bilangan berpangkat tersebut, diharapkan
diharapkan bisa membandingkan bentuk bilangan berpangkat.
Tentukan bilangan yang lebih besar antara 56 dengan 65 !

Mungkin sebagian dari kita menduga bilangan 56 dengan 65 adalah sama


besar, karena angka angka penyusunnya yang sama, akan tetapi kita harus
membuktikan dugaan tersebut secara lebih rinci yaitu dengan menjadi
bilangan decimal lebih dulu.
56 = 5 × 5 × 5 × 5 × 5 × 5 = 15.625
65 = 6 × 6 × 6 × 6 × 6 = 7.776

Tentukan bilangan yang lebih besar antara bilangan 100101 dan


101100 !
Perpangkatan bilangan pecahan
Jika 𝑎𝑛 = 𝑎 × 𝑎 × 𝑎 × 𝑎 ( Dengan a sebanyak n )
Maka konsep tersebut pun dapat digunakan untuk bilangan pecahan.
𝑎 𝑛 𝑎𝑛
=
𝑏 𝑏𝑛
𝑎 𝑝 𝑎 𝑞 𝑎 𝑝+𝑞
× =
𝑏 𝑏 𝑏
𝑎 𝑝 𝑎 𝑞 𝑎 𝑝−𝑞
÷ =
𝑏 𝑏 𝑏
𝑎 𝑝 𝑞 𝑎 𝑝𝑞
=
𝑏 𝑏

Kelipatan
Kelipatan adalah mengalikan bilangan dengan setiap bilangan asli secara
berurutan.
Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK)
KPK adalah bilangan kelipatan terkecil yang sama dari banyaknya bilangan yang
dimaksud. Banyaknya bilangan yang dimaksud ini bisa berupa 2 bilangan, 3
bilangan, dan seterusnya.

Bilangan a a × 1 a × 2 a × 3 a × 4 a × 5 a × 6 a × 7 a × 8 a × 9 a × 10
1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
2 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

Dari Tabel daftar bilangan-bilangan yang sama antara kelipatan 1 dan 2 adalah 2, 4,
6, 8, dan 10.
Bilangan 2, 4, 6, 8, dan 10 disebut sebagai kelipatan persekutuan dari 1 dan 2.
Sedangkan 2 disebut Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) dari 1 dan 2.
Untuk bilangan yang KPK-nya cukup besar kalian bisa menggunakan cara:
a) Faktorisasi prima
b) Pembagian bersusun
Menentukan KPK dengan faktorisasi prima
Langkah 1: menyatakan bilangan ke dalam bentuk faktorisasi prima. Untuk
menentukannya bisa menggunakan bantuan pohon factor.
Langkah 2: Mengalikan semua faktor-faktor pada masing-masing bilangan dengan
ketentuan: Jika terdapat faktor prima yang sama pada kedua bilangan, maka dipilih
yang pangkat tertinggi.

Menentukan KPK dengan Pembagian Bersusun


Langkah 1: Bagi bilangan bilangan tersebut secara bersusun hingga hasil bagi
semua bilangan adalah 1.
Langkah 2: Kalikan semua pembagi
Faktor Persekutuan
Faktor adalah bilangan-bilangan yang dapat membagi sampai habis suatu bilangan.
Misalnya, kita pilih satu bilangan, yaitu 10. Angka 10 bisa dibagi oleh 1, 2, 5, dan 10. Jadi, 1,
2, 5, dan 10 ini merupakan faktor dari 10.

Faktor Persekutuan Terbesar (FPB)


FPB adalah faktor terbesar yang sama dari banyaknya bilangan yang dimaksud. Sama halnya
dengan KPK, banyaknya bilangan yang dimaksud ini bisa berupa 2 bilangan, 3 bilangan, atau
lebih.
a) Menentukan FPB dengan Faktorisasi Prima
 Langkah 1 : Menyatakan bilangan ke dalam bentuk faktorisasi prima. Untuk
menentukannya bisa menggunakan bantuan pohon faktor, sebagai berikut.
 Langkah 2 : Mengalikan semua faktor-faktor yang sama pada masing-masing bilangan
dengan ketentuan : pilih yang pangkat terendah
b) Menentukan FPB dengan pembagian bersusun
 Langkah 1: Bagi bilangan bilangan tersebut secara bersusun hingga hasil bagi semua
bilangan adalah 1.
 Langkah 2: Kalikan pembagi yang habis membagi semua bilangan.

Contoh: Tentukan KPK dan FPB dari 36 dan 54!


Contoh soal :
1. Rogu mengunjungi perpustakaan setiap 6 hari sekali, dimas setiap 4 hari sekali,
sedangkan rangga setiap 8 hari sekali. Jika pada tangga 28 januari mereka
mengunjungi perpustakaan bersama-sama, pada tanggal berapakah mereka
akan mengunjungi perpustakaan secara bersama-sama lagi?
2. Ibu rogu memiliki 96 buah rambutan, 48 buah jeruk, dan 72 buah manggis.
Buah-buahan tersebut akan dibagi secara rata kepada teman-teman rogu.
Berapakah banyak anak yang mendapatkan buah-buahan tersebut secara rata?
Berapa jumlah masing-masing buah yang dibagikan kepada anak tersebut?
Penyelesaian:
Permasalahan pada soal pertama merupakan aplikasi dari materi kelipatan, Jadi,
sudah pasti kita bisa menyelesaikan masalah tersebut dengan cara mencari KPK
nya terlebih dahulu.
Diperoleh faktor prima dari 6, 4, dan 8 adalah sebagai berikut:
6=2x3
4 = 2 x 2 = 2²
8 = 2 x 2 x 2 = 2³
Sehingga, KPK dari 6, 4, dan 8 adalah 2³ x 3 = 8 x 3 = 24.
Selanjutnya, diketahui pada tanggal 28 Januari Rogu, Dimas, dan Rangga
mengunjungi perpustakaan bersama-sama. Jumlah tanggal pada bulan Januari
adalah 31. dari tanggal 28 ke tanggal 31 itu berlangsung 3 hari. Kemudian, kita
kurangkan saja KPK yang sudah kita dapat tadi dengan selisih tanggal dari 28 ke 31
menjadi 24 - 3 = 21. Jadi, Rogu, Dimas, dan Rangga akan bertemu kembali di
tanggal 21 Februari.
Untuk permasalahan pada soal kedua, ibu Rogu ingin membagi buah-buahan
secara merata kepada teman-teman Rogu. Karena ini merupakan masalah
pembagian, maka ada dengan FPB, Squad. Jadi, kita bisa mencari nilai FPB nya
terlebih dahulu.
Diperoleh faktor prima dari 96, 48, dan 72 adalah sebagai berikut:
96 = 25 x 3
48 = 24 x 3
72 = 2³ x 3²
Sehingga, diperoleh nilai FPB dari 96, 48, dan 72 adalah 2³ x 3 = 8 x 3 = 24.
Berdasarkan nilai FPB tersebut, kita sudah bisa tahu berapa banyak teman Rogu
yang akan diberi buah-buahan oleh ibu Rogu. jumlahnya sebanyak 24 anak. Kalau
kamu mau tahu berapa banyak buah-buahan yang dibagikan secara merata ke
anak-anak tersebut, caranya tinggal kamu bagi saja jumlah dari masing-masing
buah dengan nilai FPB yang sudah kita peroleh.
96
Banyak buah rambutan = = 4
24
48
Banyak buah jeruk = =2
24
72
Banyak buah manggis = = 3
24
Jadi, masing-masing anak mendapatkan rambutan sebanyak 4 buah, jeruk
sebanyak 2 buah, dan manggis sebanyak 3 buah.
HIMPUNAN
Konsep Himpunan
Istilah kelompok, kumpulan, kelas, maupun gerombolan dalam matematika dikenal
dengan istilah himpunan. Namun, tidak semua kumpulan termasuk himpunan.
Kumpulan yang termasuk himpunan:

1. Kumpulan siswa yang lahir pada bulan Agustus


2. Kumpulan siswa laki-laki
3. Kumpulan buah-buahan yang diawali dengan huruf M

Kumpulan yang termasuk bukan himpunan


1. Kumpulan kota-kota besar di Indonesia
2. Kumpulan orang kaya di Indonesia
3. Kumpulan siswa yang pandai di sekolahmu

Penyajian Himpunan
Dalam penyajian himpunan, dapat kita lakukan dengan cara yang berbeda.
Terdapat 3 cara untuk menyajikan suatu himpunan dengan tidak mengubah makna
himpunan tersebut, yakni sebagai berikut.
a) Dinyatakan dengan menyebutkan anggotanya (enumerasi)
Suatu himpunan dapat dinyatakan dengan menyebutkan semua anggotanya yang
dituliskan dalam kurung kurawal.
b) Dinyatakan dengan menuliskan sifat yang dimiliki anggotanya
Suatu himpunan dapat dinyatakan dengan menyebutkan sifat yang dimiliki anggotanya.
c) Dinyatakan dengan notasi pembentuk himpunan
Notasi ini biasanya berbentuk umum {x | P(x)} dimana x mewakili anggota dari
himpunan, dan P(x) menyatakan syarat yang harus dipenuhi oleh x agar bisa menjadi
anggota himpunan tersebut.

Himpunan Kosong dan Semesta


a) Himpunan kosong adalah himpunan yang tidak memiliki anggota yang dinotasikan
dengan φ atau { }.
b) Himpunan semesta adalah himpunan seluruh unsur yang menjadi objek pembicaraan,
dan dilambangkan dengan S.
Diagram Venn
Cara menyajikan himpunan juga bisa dinyatakan dengan gambar atau diagram yang disebut
dengan Diagram Venn. Diagram Venn diperkenalkan oleh pakar matematika Inggris bernama
John Venn (1834 – 1923). Petunjuk dalam membuat diagram Venn antara lain:
a) Himpunan semesta (S) digambarkan sebagai persegi panjang dan huruf Sdiletakkan di
sudut kiri atas.
b) Setiap himpunan yang ada dalam himpunan semesta ditunjukkan oleh kurva
tertutupsederhana.
c) Setiap anggota himpunan ditunjukkan dengan titik.
d) Bila anggota suatu himpunan mempunyai banyak anggota, maka anggota-anggotanya
tidak perlu dituliskan.

Sifat-sifat Himpunan
a) Kardinalitas Himpunan
Kardinalitas Himpunan adalah bilangan yang menyatakan banyaknya anggota dari suatu
himpunan dan dinotasikan dengan n(A).
b) Himpunan Bagian
Suatu himpunan A merupakan himpunan bagian dari himpunan B apabila himpunan A
termuat dalam himpunan B.
c) Himpunan Kuasa
Himpunan kuasa dari himpunan A adalah himpunan-himpunan bagian dari
A,dilambangkan dengan P(A). Banyak anggota himpunan kuasa dari himpunan
Adilambangkan dengan n(P(A)).
Misalkan A himpunan dan P(A) adalah himpunan kuasa A. Jika n(A) = n dengan n
bilangan cacah, maka n(P(A)) = 2n

Contoh Soal:
Diberikan himpunan A = {1, 3, 5}. Berapa banyak semua himpunan bagian dari himpunan
A dan sebutkan?
d) Kesamaan Dua Himpunan
Dua himpunan A dan B dikatakan sama jika dan hanya jika A ⊂ B dan B ⊂ A, dinotasikan
dengan A = B.
Jika n(A) = n(B), maka himpunan A ekuivalen dengan himpunan B.
Contoh Soal:
Diketahui himpunan A = {h, a, r, u, m} dan B = {m, u, r, a, h}.
1. Selidiki apakah A ⊂ B?
2. Selidiki apakah B ⊂ A?
3. Perhatikan anggota himpunan A dan B, kesimpulan apa yang bisa kamu
temukan?Apakah A ekivalen B?
BILANGAN
Operasi Himpunan
1. Irisan dan Gabungan
No Himpunan - himpunan Diagram Venn Irisan Gabungan
1 S = {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9} A∩ B= A B = {1,
A = {1, 2, 3} S A 8 B {} 2, 3, 4, 5,
2 4 6}
B = {4, 5, 6}
3 5
A saling asing (disjoint) 1 6
dengan B 7
9
2 S = {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9} A∩ B= A B = {1, 2,
A = {1, 2, 3, 4} B = S {4} 3, 4,
{4, 5, 6, 7} A B 5, 6, 7}
A berpotongan
(intersected) 1 5
dengan B
2 4 6
3 7
8 9
1. Irisan dan Gabungan

3 S = {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, A∩ B A B = {1,
9} B 8 = 2, 3, 4, 5,
A = {1, 2, 3} 4 { 1, 2, 6} = B
A 5 3} = A
B = { 1, 2, 3, 4, 5, 6}
1 6
A himpunan bagian 2 3
(subset) dari B
4 A ∩ B = A B = {1, 2,
S = {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8,
{1, 2, 3, 3, 4}
9}
AB 5 4} = A= = A= B
A = {1, 2, 3, 4} 3 B
B = {1, 2, 3, 4} 4
A sama dengan B
2. Komplemen dan Selisih
No Himpunan- Diagram Venn Komplemen Selisih
himpunan
1 S = {1, 2, 3, 4, 5, 6, Ac = {4, 5, 6, A–B=
A B
7, 7, 8, 9 } {1, 2, 3 }
1 8 4
8, 9} Bc = {1, 2, 3, B – A =
2 5
A = {1, 2, 3} 7, 8, 9 } {4, 5, 6 }
3 9 6
B = {4, 5, 6}
A saling asing
(disjoint) dengan B
2 S = {1, 2, 3, 4, 5, 6, Ac = A–B=
A B8
7, {5, 6, 7, 8, 9 {1, 2, 3 }
8, 9} } B–A=
1 3 5
A = {1, 2, 3, 4} Bc = {5, 6, 7 }
9 2 4 7 6
B = {4, 5, 6, 7} A
berpotongan {1, 2, 3, 8, 9 }
(intersected)
dengan B
2. Komplemen dan Selisih
3
S = {1, 2, 3, 4, 5, 6, Ac = {4, 5, A–B=
7, 6, 7, 8, 9 } { }
A 4
8, 9} Bc = {7, 8, B–A=
1 2 5 8
A = {1, 2, 3} 9} {4, 5, 6 }
3 6 9
B = { 1, 2, 3, 4, 5,
6} A himpunan
bagian (subset)
dari B

4
S = {1, 2, 3, 4, 5, 6, Ac = A–B=
6 7
7, {5, 6, 7, 8, 9 { }
1 3
8, 9} } B–A=
5 2 4 8
A = {1, 2, 3, 4} Bc = { }
9
B = {1, 2, 3, 4} {5, 6, 7, 8, 9
A sama dengan B
}