Anda di halaman 1dari 8

Masa Kecil

■ Abdullah Idrus lahir di Padang, Sumatra Barat, 21 September 1921


■ Beliau pernah sekolah di HIS, MULO, AMS, dan Sekolah Menengah Tinggi (tamat
1943).
■ Saat masih duduk di bangku sekolah menengah, Idrus sudah mengenal dunia
kesusasteraan, ia sangat rajin membaca karya-karya roman dan novel Eropa yang
dijumpainya di perpustakaan sekolah. Ia pun sudah menghasilkan cerpen pada
masa itu.
Kehidupan Pribadi dan karir
■ Ia menikah dengan Ratna Suri pada tahun 1946. Mereka dikaruniai enam orang
anak, empat putra dan dua putri, yaitu Prof. Dr. Ir. Nirwan Idrus, Slamet Riyadi Idrus,
Rizal Idrus, Damayanti Idrus, Lanita Idrus, dan Taufik Idrus.
■ Ia pernah menjadi redaktur Balai Pustaka (1943-1949), kepala bagian pendidikan
GIA (1950-1952), dan dosen Universitas Monash (1965-1979). Ia juga pernah
menjadi redaktur majalah Indonesia dan Kisah.
■ Dalam bidang penulisan, ia menulis cerpen, novel, dan drama. Selain itu, ia
menerjemahkan karya sastra.[1]
■ Karena tekanan politik dan sikap permusuhan yang dilancarkan oleh Lembaga
Kebudayaan Rakyat terhadap penulis-penulis yang tidak sepaham dengan mereka,
Idrus terpaksa meninggalkan tanah air dan pindah ke Malaysia. Ia tinggal di
Malaysia dari 1960 sampai 1964.
Dunia Sastra
■ Minatnya pada dunia sastra mendorongnya untuk memilih Balai Pustaka sebagai
tempatnya bekerja. Ia berharap dapat menyalurkan minat sastranya di tempat
tersebut, membaca dan mendalami karya-karya sastra yang tersedia di sana dan
berkenalan dengan para sastrawan terkenal. Keinginannya itu pun terwujud, ia
berkenalan dengan H.B. Jassin, Sutan Takdir Alisyahbana, Noer Sutan Iskandar,
Anas Makruf, dan lain-lain.

■ Meskipun menolak digolongkan sebagai Sastrawan Angkatan ’45, ia tidak dapat


memungkiri bahwa sebagian besar karyanya memang membicarakan persoalan-
persoalan pada masa itu. Kekhasan gayanya dalam menulis pada masa itu
membuatnya memperoleh tempat terhormat dalam dunia sastra, sebagai Pelopor
Angkatan ’45 di bidang prosa, yang dikukuhkan H.B. Jassin dalam bukunya.
Kepenulisan
■ Karya-karya idrus ditulis dengan bahasa sehari-hari yang ringkas, sederhana, dan
tanpa hiasan kata-kata. Persoalan yang sering menjadi tema utama karyanya
adalah masalah-masalah sosial yang terjadi pada zamannya. Ia membongkar habis
keadaan buruk dan kacau pada masa revolusi dan zaman Jepang.
■ Dalam karyanya ia menonjolkan berbagai kelemahan manusia. Konsep penceritaan
semacam ini dipelajarinya dari sastrawan ekspresionis Belanda, Willem Elsschot.
Gaya sastra ini memfokuskan pada ketepatan dalam bentuk seharusnya.[1]
Karya
Beberapa karya novel Idrus adalah Aki(1949),Peremmpuan dan Kebangsaan
(1949),Hati Nurani Manusia (1963), Hikayat Petualang Lima, dan Hikayat Putri
Penelope (1973)
Beberapa kumpulan cerpen Idrus adalah Anak Buta, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke
Roma(1948), Dua Episode Masa Kecil (1952), dan Dengan Mata Terbuka (1961)
Karya
Lalu karya terjemahan dia adalah Ibu yang Kukenang, Keju (novel
Willem Elschott). Kereta Api Baja 1496(novel Vsevold Ivanov), Roti Kita
Sehari-hari

Lalu kmpulan cerita anak karya Idrus adalah Cerita Wanita Termulia
(1952), Gorda (1951), Pesawat Terbang (1951)
Akhir Hidup
■ Di dalam dunia sastra, kehebatan Idrus diakui khalayak sastra, terutama setelah karyanya
Surabaya, Corat-Coret di Bawah Tanah, dan Aki diterbitkan. Ketiga karyanya itu menjadi
karya monumental. Setelah ketiga karya itu, memang, pamor Idrus mulai menurun. Namun
tidak berarti ia lantas tidak disebut lagi, ia masih tetap eksis dengan menulis kritik, esai,
dan hal-hal yang berkenaan dengan sastra di surat kabar, majalah, dan RRI (untuk
dibacakan).
■ Beliau meninggal di Padang, Sumatra Barat, 18 Mei 1979 pada umur 57 tahun

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Idrus