Anda di halaman 1dari 43

PANCASILA

ZAMAN SETELAH
KEMERDEKAAN
Akbar Taufik Amrullah, S.H., M,Kn
Semenjak diproklamasikan pada tanggal
17 Agustus 1945, Indonesia secara resmi
menjadi negara merdeka dan berdaulat
secara sah.
PPKI pada tanggal 18 Agustus secara resmi
telah mengangkat Ir. Soekarno dan
Muhammad Hatta sebagai presiden dan
wakil presiden negara Indonesia.
Pada tahun-tahun ini, secara tersirat
negara Indonesia menganut sistem
prisidensial, dimana presiden dan wakil
presiden merupakan pemimpin tertinggi
Negara Indonesia dalam menjalankan
sistem presidensial berubah menjadi sistem parlementer sejak
dikeluarkannya maklumat wakil presiden 16 oktober 1945 dan
maklumat pemerintah 14 november 1945, yakni merupakan awal
sistem presidensial dan pemberlakuan sistem multi-partai dalam
politik formal Indonesia (Wilson, 2013: 68)
Sejak saat itu partai-partai politik tumbuh bak cendawan di
musim hujan. Pemerintahan Indonesia yang dipimpin oleh
seorang perdana menteri bergonta-ganti dalam periode yang
sangat singkat sebelum mereka dapat menjalankan
kebijakannya. Pertentangan ideologi lama antara golongan
nasionalis, Islam, dan bahkan Komunisme malah semakin
menguat dan terlembaga dalam partai politik.
Pada awal dekade 1950-an itu juga mulai muncul silang-
pendapat dan inisiatif dari sejumlah tokoh yang hendak
melakukan interpretasi ulang terhadap Pancasila. Saat itu
muncul perbedaan perspektif yang dikelompokkan dalam dua
kubu.
kelompok pertama :

■ Berusaha menempatkan Pancasila lebih dari


sekedar kompromi politik atau kontrak sosial.
■ Mereka memandang Pancasila tidak hanya
kompromi politik melainkan sebuah filsafat
sosial atau weltanschauung bangsa.
Kelompok kedua :

■ Berusaha menempatkan Pancasila hanya sebagai sebuah


kompromi politik
■ Dasar argumentasinya adalah fakta yang muncul dalam
sidangsidang BPUPKI dan PPKI
■ Pancasila pada saat itu benar-benar merupakan kompromi
politik di antara golongan nasionalis netral agama (Sidik
Djojosukarto dan Sutan takdir Alisyahbana dkk) dan
nasionalis Islam (Hamka, Syaifuddin Zuhri sampai
Muhammad Natsir dkk) mengenai dasar negara
Presiden Republik Indonesia Soekarno
mengeluarkan Dekrit 5 Juli 1959 yang berisi:

1. Pembubaran konstituante;
2. Undang-Undang Dasar 1945 kembali berlaku; dan
3. Pembentukan Majelis Permusyawaratan Rakyat
Sementara.
Dengan keluarnya dekrit presiden tersebut, Republik Indonesia secara
resmi kembali pada undang-undang Dasar 1945 seperti rumusan
pancasila (dasar negara) seperti yang disyahkan oleh PPKI.
Dekrit ini mendapat dukungan oleh masyarakat luas, terutama militer
Dekrit ini dikeluarkan oleh Soekarno karena kekecewaannya terhadap
sistem multi partai yang dianggap tidak mendengarkan aspirasi rkayat
dan tidak memedulikan persatuan bangsa.
Selain itu militer juga sangat mendukung dekrit ini karena mereka telah
kehilangan kepercayaan pada pemimpin sipil
Sejak berlakukannnya demokrasi terpimpin, Pancasila benar-benar
tampil secara hegemonik sebagai “ideologi negara” dengan
penafsiran negara.
Soekarno menafsirkan pancasila sebagai kesatuan paham dan
doktrin“Manipol/USDEK”. Manifesto politik (manipol) adalah materi
pokok dari pidato Soekarno tanggal 17 Agustus 1959 berjudul
“Penemuan Kembali Revolusi Kita” yang kemudian ditetapkan oleh
Dewan Pertimbangan Agung (DPA) menjadi Garis-Garis Besar Haluan
Negara (GBHN).
■ Materi pidato tersebut dikukuhkan dalam
Penetapan Presiden (Penpres) Nomor 1 tahun
1960 dan Ketetapan MPRS No. 1/MPRS1960
tentang GBHN
■ Manifesto politik Republik Indonesia tersebut
merupakan hasil perumusan suatu panitia yang
dipimpin oleh D.N. Aidit yang disetujui oleh DPA
pada tanggal 30 September 1959 sebagai haluan
negara
■ Manipol/USDEK oleh Soekarno dianggap sebagai langkah
untuk menyatukan fragmentasi ideologi dalam tubuh
masyarakat yang terbelah dalam kubu Nasionalis, Islam,
dan Komunis
■ Namun kondisi ‘keterbelahan’ masyarakat ini akhirnya
sudah dipertahankan. Peristiwa G/30/S 1965 pecah.
Pembunuhan pimpinan teras jenderal-jenderal di angkatan
Darat memicu konflik masyarakat.
Jenderal Soeharto yang mengantongi Surat Perintah 11 maret 1966
(supersemar) mengkonsolidasikan kekuatan militer dan bekerja-sama
dengan rakyat membunuh dan memenjarakan ratusan ribu bahkan
jutaan kelompok yang dianggap terlibat dengan PKI.
Pada tanggal 23 februari 1967 akhirnya presiden Soekarno
dilengserkan dan Soeharto dilantik sebagai pejabat Presiden RI.
 Maret 1968, melalui sidang MPRS, Soeharto resmi menjadi Presiden
Republik Indonesia
Zaman Orde Baru
Sejak soeharto secara resmi
menjadi Presiden Republik
Indonesia, Pancasila
sepertinya benar-benar alat
ampuh menopang
kekuaksaanya.
Keberhasilan Soeharto
dalam menumpas Gerakan
30 September 1965 benar-
benar menjadi pengalaman
yang berarti baginya.
Pancasila makin

banyak mengalami
ujian zaman dan
makin bulat tekad kita
mempertahankan
Pancasila”.
Pidato Presiden Soeharto
Pada saat memperingati
Hari Lahir Pancasila 1
Juni 1967
Pancasila sama sekali bukan
sekedar semboyan untuk
dikumandangkan, Pancasila
bukan dasar falsafah negara
yang sekedar dikeramatkan
dalam naskah UUD,
melainkan Pancasila harus
diamalkan
Pidato Presiden Soeharto Pada saat
memperingati Hari Lahir Pancasila 1
Juni 1967
Pidato tersebut menegaskan bahwa pancasila sebagai
dasar negara banyak mengalami ujian yang melibatkan
perdebatan maupun pertentangan-pertentangan sengit
yang melibatkan masyarakat luas. Soeharto olehkarena itu
melihat perdebatan soal pancasila telah menghabiskan
energi bangsa harus segera diakhiri. Selanjutnya, saatnya
bangsa mengamalkan pancasila dan bukan
memperdebatkannya.
■ Pada awal-awal masa kekuasaannya,
Soeharto segera meninjau UndangUndang RI
No. 22 tahun 1961 tentang perguruan tinggi
■ Pasal tentang “mata pelajaran” umum yang
menyebutkan istilah manipol/USDEK
dihapus oleh ketetapan MPRS no
XXXIV/MPRS/1967
■ Manifesto Politik sebagai garis besar haluan
negara dan Manipol USDEK sebagai
terminologi politik dihapus, sembari tetap
mempertahankan istilah Pancasila
Menetapkan secara resmi
tanggal 1 Oktober sebagai hari
Kesaktian Pancasila
mengeluarkan Inpres no.12/1968
pada 13 April 1968. Yakni sebuah
instruksi yang membakukan
susunan dan kata-kata dalam
pancasila
“Pancasila sebagai pegangan
hidup bangsa akan membuat
bangsa Indonesia tidak loyo,
bahkan jika ada pihak-pihak
tertentu mau mengganti,
merubah Pancasila dan
menyimpang dari Pancasila pasti
digagalkan”
Pidato Soeharto
1 Juni 1968
Orde Baru sepertinya benar-benar mendambakan stabilitas dan
persatuan, setelah trauma perselisihan yang terjadi pada orde
sebelumnya.
Soeharto benar-benar ingin menjadikan Pancasila Ideologi
tunggal “demi melaksanakan Pancasila dan amanat UUD 1945
secara murni dan konsekuen”
Pada tanggal 22 Maret 1978
ditetapkan ketetapan (disingkat
TAP) MPR Nomor II/MPR/1978
tentang Pedoman Penghayatan
dan Pengamalan Pancasila
(Ekaprasetya Pancakarsa).
Eka Prasetya Panca Karsa berarti
“tekad bulat untuk
melaksanankan lima kehendak
dalam kelima sila Pancasila”
Obsesi soeharto akan
stabilitas politik
membuatnya sangat
mencurigai berbagai
pandangan dan ideologi
organisasi maupun
kelompok masyarakat baik
yang berhaluan Komunis,
kelompok Islam yang masih
memendam “cita-cita”
negara Islam, maupun
Dalam pidato
kenegaraan di depan
sidang DPR 16 Agustus
1982, Presiden
Soeharto secara resmi
mengajukan konsepsi
Pancasila sebagai azas
tunggal. Hal ini berarti
semua organisasi
politik, organisasi
masyarakat, maupun
organisasi keagamaan
hanya boleh berasas
Pancasila pada orde baru 1945-1998 terlaksananya dengan dasar “super semar”
dan TAP MPRS XXXVII/MPRS/1968 periode ini disebut juga demokrasi pancasila,
karena segala bentuk penyelenggaraan Negara berlangsung berdasarkan nila-nilai
pancasila. Ciri-ciri pancasila:

1. Mengutamakan musyawarah dan mufakat


2. Mengutamakan kepentingan Negara dan masyarakat
3. Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain
4. Selalu diliputi oleh semangat kekeluargaan
5. Adanya rasa tanggungjawab dalam melaksanakan hasil keputusan
musyawarah
6. Dilakukan dengan akal sehat sesuai dengan hati nurani yang luhur
7. Keputusan dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa
berdasarkan nilai kebenaran dan keadilan.
■ Surat Perintah Sebelas Maret atau Surat Perintah 11 Maret
yang disingkat menjadiSupersemar adalah surat perintah
yang ditandatangani oleh Presiden Republik Indonesia
Soekarno pada tanggal 11 Maret 1966.
■ Surat ini berisi perintah yang menginstruksikan Soeharto,
selaku Panglima Komando Operasi Keamanan dan
Ketertiban (Pangkopkamtib) untuk mengambil segala
tindakan yang dianggap perlu untuk mengatasi situasi
keamanan yang buruk pada saat itu.
 Pemerintah Orde Baru untuk
memberlakukan UU Nomor 3/1985 pada 19
Februari 1985
Undang-undang itu mengharuskan semua
partai politik di Indonesia untuk berasas
tunggal pancasila
Undang-undang tersebut menggantikan UU
Nomor 3/1975 yang membolehkan partai
mengusung azas lain selain pancasila
Selain Pancasila, asas lain adalah haram
sejak 19 Februari 1985
Berlakunya Azaz tunggal
■ Sejak diberlakukannya Pancasila sebagai azas tunggal, praktis organisasi-
organisasi baik politik, keagamaan, maupun masyarakat rela-maupun tidak rela
akhirnya menerima asas tunggal ini
■ Organisasi oposisi pemerintah menjadi “tiarap”. Golkar sebagai partai resmi
pemerintah didirikan (1973), aspirasi Islam ditampung oleh satu jalur/wadah MUI
yang didesain mengabdi pemerintah, dan akhirnya PPP maupun PDI dikebiri
aspirasinya dengan secara resmi menrima asas tunggal Pancasila (1985)
■ Organisasi, kelompok, maupun tokoh-tokoh yang menyuarakan suara kritis
terhadap kebijakan pemerintah dicap sebagai “kelompok anti-Pancasila” dan
kemudian dipenjarakan dan ditahan
Ormas besar dan berpengaruh macam
Muhammadiyah maupun Nahdlatul Ulama (NU) juga
diharuskan mendukung dua UU yang disahkan
tahun 1985 itu. NU, sebelum UU tadi disahkan, juga
telah menyatakan diri menerima Pancasila secara
resmi pada Muktamar NU ke-27 yang berlangsung
pada Desember 1984 di Situbondo.

Muhammadiyah baru menerima Pancasila dalam


Muktamar 1985. Ketua Muhammadiyah waktu
itu, A.R. Fachruddin, sebagaimana dikutip Abdul
Munir Mulkhan dalam 1 Abad Muhammadiyah:
Gagasan Pembaruan Sosial Keagamaan (2010),
mengibaratkan Pancasila sebagai "helm yang
harus dipakai supaya Muhammadiyah bisa tetap
berjalan dan berdakwah secara aman ketika
berhadapan dengan pemerintah."
Tragedi Talangsari
1989
Pemerintah berdalih
bahwa kelompok Warsidi
mengajarkan ajaran sesat
karena membangun
komunitas yang tertutup
dan tidak berinteraksi
dengan masyarakat pada
umumnya. Padahal
sedari awal mereka
memang hanya ingin
membangun kampung
yang bisa dengan leluasa
■ Ibu Saudah, salah seorang saksi mata
dari kelompok Warsidi yang masih
hidup, memberi kesaksian bahwa
pada pagi hari ia sudah melihat sekitar
80-an mayat yang bergelimpangan di
sana-sini hasil serangan aparat sejak
pukul 05.30 pagi.
■ Setelah dikumpulkan, sekitar dua
puluh ibu-ibu dan anak-anak dipukul
dan ditarik jilbabnya sambil dimaki-
maki aparat: “Ini istri-istri PKI." Di
depan jemaah, seorang tentara
mengatakan, “Perempuan dan anak-
anak ini juga harus dihabisi, karena
akan tumbuh lagi nantinya”.
KontraS
■ seorang bocah lelaki dari kelompok Warsidi, Ahmad (10
tahun), dipaksa menyiramkan bensin ke arah pondok-
pondok dan membakarnya.
■ Di bawah ancaman senjata aparat, Ahmad berturut-turut
diperintahkan untuk membakar rumah Jayus, Ibu Saudah,
pondok pesantren, dan bangunan-bangunan yang
diduga berisi 80-100 orang. Bayi, anak-anak, ibu-ibu
(banyak di antaranya yang sedang hamil), remaja, dan
orang tua dibakar disertai dengan tembakan-tembakan
untuk meredam suara-suara teriakan lainnya
■ Berakhirlah hasrat kelompok Warsidi untuk hidup secara
Islami dalam sebuah kampung yang eksklusif.
Peristiwa Talangsari, sebagaimana
peristiwa Tanjung Priok (1984) dan
Haur Koneng (1993), tak terlepas dari
usaha Soeharto secara umum untuk
memastikan tidak ada satu pun
kelompok berbahaya yang bisa
mengganggu pemerintahannya.
Dengan dalih menyelamatkan
Pancasila, setiap kelompok ekstrem,
baik kanan maupun kiri, dicurigai.
■ Wajah Orde Baru lambat ■ Stabilitas politik
laun semakin menampilkan
sikap otoriternya. Pancasila dijadikan tameng
sebagai dasar negara ditafsir yang ampuh
secara tunggal dan dijadikan menekan kelompok-
alat untuk menopang
kekuasaan Soeharto, kelompok oposisi
sekaligus juga dijadikan demi langgengnya
benteng ampuh untuk praktik kebijakan
menekan kelompok-
kelompok yang orde baru yang
menyuarakan secara kritis dipenuhi oleh
penyalahgunaan kekuasaan Nepotisme, Kolusi,
Namun kondisi
inipun menemukan
batasnya. Suara-
suara, kerinduan,
maupun tuntutan
akan suasana
keterbukaan
(demokrasi)
menemui
momentumnya
Pada 21 mei 1998, rakyat, mahasiswa, LSM, maupun rakyat
Indonesia secara luas menyerukan “reformasi”,
21 Mei 1998
Soeharto
mengundurkan Diri
Soeharto itu jasanya
besar tetapi
dosanya juga besar
Gus Dur
Info Ujian Tengah Semester (UTS)

 UTS Dilaksanakan setelah 7


pertemuan selesai, Pertemuan ke 8
UTS
 Materi UTS, Sejarah pancasila
sebelum kemerdekaan, setelah
kemerdekaan, ideology pancasila,
materi presentasi klp makalah ttng
pancasila, Pancasila sebagai dasar
negara.
 UTS, bersifat close book, tidak
boleh buka catatan, buka gadget
HP