Anda di halaman 1dari 17

Endo-Perio

Lesion and
Uncontrolled
Diabetes
Shara Doum, Koutar Laslami, Fatimazahraa
Rougani,Amar El Ouazzani, and Mouna Jabri

2017
Case Report
Problem
• Kemungkinan adanya hubungan
peradangan kronis seperti periodontitis
apikalis,perawatan endodontik, dan
penyakit sistemik merupakan salah satu
yang menarik untuk di kaji dalam proses
penyembuhannya, khususnya pada kasus
diabetes
Problem
• Pasien Wanita umur 50 tahun, dengan
diabetes type 2 tidak terkontrol, terdapat
cairan purulen, pada sulkus gigi 13, mobilitas
gigi derajat 3, tidak terdapat lubang, fraktur,
atapun fisur.
• Initial Periodontal > Non responsive
• Test Sensitifitas > Negatif
• Radiography > Kerusakan tulang yang luas
dan lesi periapikal
Intervention
Diagnosis berdasarkan klasifikasi American
Academy of Periodontology (1999) :
Primary periodontal disease with secondary
endodontic involvement and chronic
generalized periodontitis as a manifestation
of systemic diseases
Therapeutic Decision
• Scaling , Root Planning, Dan Edukasi
• Endodontic Treatment dilakukan dengan 2 visit.

1st Appointment
• Pasien diberikan amoxicilin, 2 hari sebelum dilakukan
perawatan RCT, dan kontrol rutin ke internis
• Tahapan RCT dimulai dengan pembukaan akses , dengan
prosedur rubber dam dan tanpa lokal anestesi
• RCT menggunakan protaper universal (Dentsply), NaOCl
2,5%, Tumpatan sementara (3M) dengan Kalsium Hidroksid.
2nd Appointment
• Mekanikal Debridemen dengan K-
File Kombinasi Protaper Universal
• Irigasi NaOCl 2,5%
• Keringkan dengan Paper Cone
• 3D Obturation Thermafil

*Tidak ada eksudat selama proses


RCT sejak kunjungan pertama
2 Weeks Follow Up
• Siler puff hilang
• Terjadi Reorganisasi Tulang
• Cairan purulen menghilang
• Mobilitas berkurang
• Gula darah stabil
2 Weeks Follow Up
• Siler puff hilang
• Terjadi Reorganisasi Tulang
• Cairan purulen menghilang
• Mobilitas berkurang
2 Months Follow Up
• Reorganisasi tulang bertambah
• Tidak terdapat cairan purulen
• Soft Tissue healing
6 Months Follow Up
• Open flap
• Pembuangan jaringan purulen
• Debridemen permukaan akar
dan perbaikan attachment
jaringan periodontal
• Dilakukan periodontal splinting
untuk meningkatkan potensial
penyembuhan.
6 Months Recall Revealed
• Soft Tissue Healing dengan
resesi gingiva
• Tidak terdapat produksi purulen
• Regenerasi tulang dengan
penampakan trabekulasi pada
area radiolusen
18 and 39 Months Recall Revealed
• Progresif bone healing pada
area radiolusen
Kesimpulan
• Dalam perawatan infeksi perlu kesabaran dalam proses
penyembuhan.
• Hal terpenting dalam perawatan lesi endo-perio adalah etiologi bakteri,
yang dapat mempengaruhi rencana perawatan.
• Perubahan sistem imun pada pasien diabetes, peubahan patologis
pada pulpa dan jaringan periradicular, kurangnya kesadaran pasien
dalam menjaga kesehatan rongga mulut, infeksi asimptomatik,
kepatuhan pasien, dan faktor ekonomi mempengaruhi pemilihan
perawatan.
• Perawatan Endodontik dapat dikatakan berhasil jika :
– Hilangnya nyeri,bengkak, dan fistula
– Fungsi gigi normal
– Ligamen Periodontal normal
– Tidak ada periodontitis apikalis ataupun radicular resorption
• *European Society of Endodontology 1994
Catatan
• Pengaruh sistemik sangat besar mempengaruhi penyembuhan tulang, di bandingkan status
periodontal dan umur pasien
• Kelainan peiodontal juga sangat besar kaitannya dengan perubahan subtansial patologis pada
jaringan pulpa yang mempunyai banyak kanal asesori
• Zehnder et al > terjadi angiopati tampak membran basement menebal yang diamati pada pulpa
gigi penderita diabetes. Namun masih belum ada studi sistematis tentang efek langsung
diabetes pada jaringan pulpa.
• Penyembuhan pasca RCT sangat tergantung keadaan biologis pasien termasuk kadar gula darah.
• Lesion’s Age mempengaruhi > Prognosis tidak pasti, pocket periodontal, dan kerumitan
perawatan.
• Ekosistem bakteri yang meningkat dan lesi kronis dapat menyebabkan resistensi terhadap
perawatan endodontik
• Healing proses akan semakin baik jika terdapat 5-6 dinding tulang (Machtou dan Cohen ,1988)
• Kambale et al., and Rudranaik et al mengatakan ““the larger is the part caused by pulpal
infection, the better the prognosis of attachment regeneration”
• Beberapa teori ttg cairan purulen :

 Purulen berupa cairan patologis yang kaya neutrofil polimorfonuklear (sel darah putih) dengan
lebih sedikit cairan (cairan serous, cairan kental / lendir), protein (fibrinogen), sel parenkim
nekrotik, puing-puing selular, jaringan mati.
 Purulen karena infeksi bakteri (penyakit infeksi bakteri) yang menyebabkan agregasi neutrofil
dalam jaringan dan karena infeksi lebih berat seperti abses, sputum dan luka kotor.
 Purulen kaya neutrofil polimorfonuklear (agregasi neutrofil) dan belum terjadi nekrosis liquefaktif
pada jaringan dasar sedangkan supurasi telah terjadi nekrosis liquefaktif.