Anda di halaman 1dari 34

MOLUSKUM

KONTAGIOSUM
Mirtha Anggraeni (1840312651)
Kenzi A Hasyaputra (1510312065)

Preseptor:
Dr. dr. Qaira Anum, Sp.KK(K), FINSDV, FAADV
Dr. Rina Gustia, Sp.KK, FINSDV, FAADV
PENDAHULUAN
BAB 1
LATAR BELAKANG
■ Moluskum kontagiosum merupakan suatu kelainan kulit
yang disebabkan oleh Molluscum Contagiosum Virus(MCV),
kelompok Pox Virus dari genus Molluscipox virus. Penyakit
ini terutama menyerang anak-anak dan dewasa dengan
aktivitas seksual aktif dan imunodefisiensi. Penularannya
melalaui kontak langsung dengan lesi aktif, dan tidak
langsung melalui barang-barang pribadi.
■ Moluskum kontagiosum bersifat endemik pada komunitas
padat penduduk, sanitasi buruk, dan daerah dengan tingkat
ekonomi yang rendah.
■ Batasan Masalah
Case Report Session ini akan membahas definisi, etiologi,
epidemiologi, gambaran klinis, diagnosis, diagnosis banding,
pemeriksaan penunjang, terapi, dan prognosis pada
moluskum kontagiosum.
■ Tujuan penulisan
Tujuan penulisan CRS ini adalah untuk menambah wawasan
sebagai dokter muda mengenai moluskum kontagiosum.
■ Metode Penulisan
Metode penulisan CRS ini merupakan studi kepustakaan yang
merujuk ke berbagai literature.
TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2
■ Definisi Moluskum Kontagiosum
Moluskum kontagiosum adalah penyakit yang disebabkan oleh
virus pox, klinisnya berupa papul berbentuk kubah, berkilat, dan
pada permukaannya terdapat lekukan (delle/umbilikasi), berisi
massa yang mengandung badan moluskum. Masa inkubasi
moluskum kontagiosum 2-8 minggu.
■ Etiologi
Moluskum kontagiosum merupakan suatu kelainan kulit yang
disebabkan oleh Molluscum Contagiosum Virus(MCV), kelompok
Pox Virus dari genus Molluscipox virus. Terdapat 4 subtipe, yaitu
MCV I, MCV II, MCV III, dan MCV IV. Keempat subtype ini
menimbulkan gejala klinis yang serupa, yaitu berupa lesi papul
milier yang terbatas pada kulit dan membrane mukosa. MCV I
adalah subtype yang paling banyak ditemukan pada pasien,
sedangkan MCV III yang jarang ditemukan.
■ Epidemiologi
Prevalensi Moluskum kontagiosum tertinggi terdapat di Afrika Timur,
yaitu sebesar 52%. Di Indonesia, prevalensi moluskum kontagiosum
sebesar 40,4% dibandingkan penyakit kulit lain.
■ Manifestasi Klinis
Gejala klinis dari penyakit ini dapat tersebar di beberapa lokasi, penyakit
ini dapat timbul di daerah wajah, leher, ketiak, badan, dan ekstremitas.
Kelainan kulit berupa papul bulat mirip kubah, berbentuk miliar sampai
lentikular dan berwarna putih dan berkilat seperti lilin. Jika dipijat akan
tampak keluar massa yang berwarna putih mirip butiran nasi. Pada
pasien imunokompremaise, misalnya HIV/AIDS, lesi moluskum menjadi
cepat tumbuh, berjumlah ratusan, besar-besar, dan tersebar melibatkan
daerah genital serta ekstragenital.
Ilustrasi lesi Moluskum Kontagiosum yang berbentuk papul dan
ditengahnya terdapat kubah pada ketiak anak.
■ Diagnosis
Diagnosa biasanya ditentukan berdasarkan temuan klinis pada penderita.
Kelainan kulit berupa papul bulat mirip kubah, berbentuk miliar sampai
lentikular dan berwarna putih dan berkilat seperti lilin, permukaan dapat
disertai delle. Biasanya tanpa inflamasi.3,4
■ Pemeriksaan penunjang
- Virus dapat dideteksi dengan pemeriksaan PCR
- Badan moluskum juga dapat dilihat dengan pewarnaan gram (wright atau
giemsa)
- Pemeriksaan histopatologik dapat dilakukan jika diperlukan. Pada
pemeriksaan histopatologis akan ditemukan epidermis hipertropi dan
hiperplastik. Di atas lapisan basal, dapat dilihat sel yang membesar berisi
inklusi intrasitoplasmik besar (Henderson-Paterson bodies) mengandung
partikel virus.
■ Diagnosis Banding
Secara klinis bisa dibedakan dengan milia, folikulitis, dan lesi
awal varisela.
■ Tatalaksana
■ Pengobatan moluskum berprinsip pada pengeluaran masa
yang mengandung badan moluskum. Bisa digunakan alat
berupa ekstraktor komedo, jarum suntik, atau kuret. Cara
lain adalah dengan mnggunakan elektrokauterisasi ata
bedah beku dengan CO2 dan N2, sebelum tindakan
diberikan anestesi lokal misalnya krim yang mengandung
lidokain.
■ Dikarenakan moluskum dapat sembuh sendiri dalam
beberapa bulan sampai tahunan pengobatan tidak terlalu
diperlukan jika papul tidak mengganggu.
Tatalaksana
Untuk mencegah persebaran virus moluskum ini dapat dilakukan
beberapa hal:
■ Hindari menggaruk atau mencongkel benjolan
■ Jika benjolan gatal atau membentuk eczema berikan steroid
topical (hidrokortison) setiap hari selama 1 sampai 2 minggu
■ Hindari pemakaian handuk bersama dan bersentuhan kulit
ketika anak mandi dengan saudaranya
■ Hindari pemakaian pakaian bersama, atau kontak seksual
dengan are yang terdapat moluskum.
■ Tatalaksana
Jika terapi dibutuhkan oleh anak, terapi yang dianjurkan
adalah kantaridin, kantaridin diberikan ke setiap benjolan dan
dibilas setelah 2 sampai 4 jam. Pada anak yang lebih besar
terapi yang paling sering dilakukan adalah kuretase,
mengeluarkan badan moluskum, dan membekukan benjolan
dengan cairan nitrogen dilakukan pada remaja dan dewasa
LAPORAN KASUS
BAB 3
IDENTITAS PASIEN
■ Nama : Nn. SHA
■ Umur/Tgl Lahir : 2 tahun 3 bulan (26/02/2017)
■ Jenis Kelamin : Perempuan
■ Pekerjaan : Belum bekerja
■ No RM RS : 01047176
■ Alamat : Jalan Dalam Gedung No. 13, RT001, RW008, Lubuk
Begalung, Padang
■ Negeri Asal : Indonesia
■ Agama : Islam
■ Suku : Minang
■ ANAMNESIS
Seorang pasien perempuan, berusia 2 tahun 3 bulan datang
diantar oleh keluarga ke poliklinik kulit dan kelamin RSUP. Dr.
M. Djamil Padang pada tanggal 15 Mei 2019, dengan:
■ Keluhan Utama
Bintik – bintik sewarna kulit yang berisi seperti nasi, terasa
gatal pada bokong, kemaluan, lipatan lutut, selangkangan,
perut, dan betis kiri sejak 11 hari yang lalu.
■ Riwayat Penyakit Sekarang
o Awalnya timbul bintik-bintik sewarna kulit sebanyak 5 buah yang terasa
sedikit gatal di bokong dan saat dipencet oleh orang tua pasien
mengeluarkan massa putih seperti nasi semenjak 5 bulan yang lalu,
o 3 bulan yang lalu bintik sewarna kulit bertambah banyak hingga ke bibir
kemaluan pasien.
o 3 minggu yang lalu pasien datang kembali untuk kontrol, tidak ada bintik
sewarna baru. Bintik-bintik sewarna kulit yang sebelumnya ada yang
mengecil dan ada yang menjadi keropeng kehitaman, gatal berkurang.
o Pasien kembali datang untuk kontrol, terdapat bintik-bintik sewarna kulit
baru di lipatan lutut, betis kiri, pinggul kiri sejak kurang lebih 11 hari yang
lalu. Gatal masih terasa. Bintik-bintik sewarna kulit yang sebelumnya ada
yang mengecil dan ada yang menjadi keropeng kehitaman.
■ Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat timbul bintik-bintik sewarna kulit tidak ada.
■ Riwayat Pengobatan
o Pasien sudah diberikan KOH 10% yang diapakai 2x sehari selama 3
minggu yang lalu untuk mengurangi keluhan bintik sewarna kulit yang
didiagnosa sebagai moluskum kontagiosum.
o Pasien sudah diberikan lanolin yang digunakan sebelum pemakaian
KOH 10% dan salep asiklovir untuk mengurangi keluhan bintik
sewarna kulit serta cetirizine untuk mengurangi gatal selama 2
minggu.
■ Riwayat Keluarga/Atopi
Riwayat anggota keluarga dengan keluhan bintik-bintik sewarna kulit
disangkal
■ PEMERIKSAAN FISIK o Mata : konjungtiva
anemis (-/-), sclera ikterik (-/-).
■ Status Generalis
o Kuku : Tidak ditemukan
o Keadaan umum :Sakit ringan
kelainan.
o Kesadaran :
o KGB : Tidak ditemukan
Komposmentis Kooperatif.
tanda-tanda pembesaran KGB.
o Status Gizi : Baik.
o Pem. Thoraks : Dalam batas
o Tekanan darah :diharapkan normal.
dalam batas normal
o Pem. Abdomen : Dalam batas
o Nadi : diharapkan normal.
dalam batas normal.
o Nafas : diharapkan
dalam batas normal.
o Suhu : diharapkan
dalam batas normal
■ Status Dermatologikus
o Lokasi : Bokong, lipat paha, perut kiri, betis kiri, lipat tungkai
bawah.
o Distribusi : Terlokalisir.
o Bentuk : Bulat.
o Susunan : Tidak khas.
o Batas : Tegas.
o Ukuran : Lentikuler
o Efloresensi: Papul sewarna kulit, ekskoriasi
Moluskum Kontagiosum pada lipat tungkai bawah, perut bagian
kiri, sela paha, dan bokong pasien.
■ Status Venerelogikus : Tidak dilakukan pemeriksaan.
■ Kelainan selaput : Tidak ditemukan kelainan.
■ Kelainan kuku : Tidak ditemukan kelainan.
■ Kelainan rambut : Tidak ditemukan kelainan.
■ Kelainan kelenjar limfe : Tidak ada tanda-tanda pembesaran
kelenjar limfe.
RESUME
■ Pasien perempuan usia 2 tahun datang diantar oleh keluarga ke poliklinik kulit dan
kelamin RSUP. Dr. M. Djamil Padang dengan keluhan utama :
o bintik – bintik sewarna kulit yang berisi seperti butiran nasi terasa gatal pada
bokong, kemaluan, selangkangan, perut, dan betis kiri sejak 11 hari yang lalu.
o Awalnya timbul bintik-bintik sewarna kulit sebanyak 5 buah yang terasa sedikit
gatal di bokong dan saat dipencet oleh orang tua pasien mengeluarkan massa
putih seperti nasi semenjak 5 bulan yang lalu.
o 3 bulan yang lalu pasien berobat ke dokter spesialis kulit dan kelamin di RS BMC
karena keluhan bintik sewarna kulit bertambah banyak hingga ke bibir kemaluan
pasien, kemudian pasien dirujuk ke RSUP Dr M Djamil.
o 3 minggu yang lalu pasien datang kembali untuk kontrol, tidak ada bintik sewarna
baru. Bintik-bintik sewarna kulit yang sebelumnya ada yang mengecil dan ada yang
menjadi keropeng kehitaman, gatal berkurang.
o Pasien kembali datang untuk kontrol, terdapat bintik-bintik sewarna kulit baru di
lipatan lutut, betis kiri, pinggul kiri sejak kurang lebih 11 hari yang lalu. Gatal masih
terasa.
■ Status dermatologikus : lokasi di bokong, lipat paha, perut
kiri, betis kiri, lipat tungkai bawah, distribusi terlokalisir,
bentuk bulat dan susunan tidak khas, batas tegas, ukuran
lentikuler, dengan efloresensi papul sewarna kulit, delle (+).
■ DIAGNOSIS KERJA
Moluskum Kontagiosum
■ DIAGNOSIS BANDING
Lesi awal Varisela
■ DIAGNOSIS
Moluskum Kontagiosum
PENATALAKSANAAN UMUM
■ Edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai perjalanan
penyakit (tujuan pengobatan, hasil yang diharapkan, lama
dan cara penggunaan obat).
■ Edukasi kepada keluarga pasien untuk sabar dan patuh
terhadap pemberian obat kepada pasien.
■ Menjelaskan kepada pasien untuk kontrol ruitn ke rumah
sakit.
PENATALAKSANAAN KHUSUS
■ Topikal
o KOH 10% 2x sehari
o Salep asiklovir 2x sehari

■ Sistemik
Chlorheniramine (CTM) 3x1mg
PROGNOSIS
■ Quo Ad Sanam : Bonam.
■ Quo Ad Vitam : Bonam.
■ Quo Ad Kosmetikum : dubia ad Bonam.
■ Quo Ad Functionam : Bonam.
DISKUSI
BAB 4
■ Pasien perempuan, berusia 2 tahun datang ke Poliklinik
Kulit dan Kelamin RSUP Dr. M. Djamil Padang pada tanggal
15 Mei 2019 dengan diagnosis Moluskum Kontagiosum.
■ Diagnosis pada pasien ditegakkan berdasarkan anamnesis
dan pemeriksaan fisik. Berdasarkan anamnesis diketahui
bahwa terdapat bintik – bintik sewarna kulit yang berisi
seperti nasi, terasa gatal pada bokong, kemaluan,
selangkangan, perut, dan betis kiri sejak 11 hari yang lalu
■ Awalnya timbul bintik-bintik sewarna kulit yang terasa
sedikit gatal di bokong dan saat dipencet oleh orang tua
pasien mengeluarkan masa putih seperti nasi semenjak 5
bulan yang lalu. 3 bulan yang lalu bintik sewarna kulit
bertambah banyak hingga ke bibir kemaluan pasien.
■ Hal ini sesuai dengan teori bahwa Moluskum kontagiosum
merupakan infeksi virus berupa papul dengan massa
didalamnya berupa badan moluskum yang kerap terjadi
pada anak-anak, dan bertambahnya papul pada tubuh anak
dapat diakibatkan karena adanya proses autoinokulasi
pada anak tersebut jika tidak segera dilakukan terapi.
■ Pada pemeriksaan dijumpai adanya papul di bokong,
kemaluan, selangkangan, perut, dan betis kiri, terlokalisir,
dengan bentuk bulat dan susunan tidak khas dan batas
tegas .
■ Hal ini sesuai dengan teori bahwa pada moluskum
kontagiosum lesi tampak berupa papul, berbatas tegas
pada tepi lesi dapat diraba dan terdapat butiran seperti
nasi jika dipencet di bagian tengahnya. Pada infeksi yang
berat biasanya terjadi pada pasien dengan
imunokompremais dapat ditemukan lesi yang cepat
tumbuh, besar-besar, dan tersebar.
■ Tidak ditemukan pembesaran kelenjar getah bening
regional.
Terapi yang diberikan pada pasien ini adalah KOH 10% 2x
sehari, salep asiklovir 10% 2x1 sehari dan CTM 3x1 mg per
hari.