Anda di halaman 1dari 14

Pancasila

Sebagai Dasar
Negara

Abd Mu’id Aris Shofa


Pancasila sebagai cita hukum
 Pancasila adalah Cita Hukum
(Rechtside) yang menguasai Hukum
Dasar negara, baik hukum dasar
tertulis maupun Hukum Dasar tidak
tertulis
 Menurut Rudolf Stammler, Cita
Hukum adalah konstruksi pikir yang
merupakan keharusan untuk
mengarahkan hukum kepada cita-
cita yang diinginkan
Lanjutan…
Cita Hukum berfungsi sebagai
“bintang pemandu” bagi
tercapainya cita-cita
masyarakat
Ada dua fungsi Cita Hukum
1. Fungsi Konstitutif
2. Fungsi Regulatif
Lanjutan…
Fungsi Konstitutif, yang
menentukan dasar suatu tata
hukum, yang tanpa itu suatu
tata hukum kehilangan arti dan
maknanya sebagai hukum
Fungsi regulatif, yang
menentukan apakah suatu
hukum positif adil atau tidak
adil
Pancasila adalah
Staatfundamentalnorm
 Pancasila adalah Norma Fundamental
Negara/staatfundamentalnorm
(Notonegoro)
 Staatfundamentalnorm :Menurutnya,
negara sebagai kesatuan tata hukum
itu terdapat suatu norma yang tertinggi,
yang kedudukannya lebih tinggi dari
konstitusi atau undang-undang dasar
Lanjutan…
 Isistaatfundamentalnorm adalah
norma yang merupakan dasar bagi
pembentukan konstitusi.
 Hakikat hukum suatu
staatfundamentanorm adalah
syarat bagi berlakunya suatu
konstitusi atau undang-undang
dasar. Ia ada terlebih dahulu
sebelum adanya konstitusi
 Suatu hal yang tidak bisa diterima
sebuah sistem norma hukum yang
berdiri sendiri tanpa disertai cita
hukum, karena hal itu tidak sesuai
dengan filsafat hidup bangsa.
 Norma Fundamental Negara atau
Staatfundamentalnorm
membentuk norma-norma hukum
bawahannya secara berjenjang.
PEMBUKAAN
Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu hak segala bangsa dan
oleh sebab itu, maka penjajhan di atas dunia harus dihapuskan, karena
tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.
Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah
sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa
mengantarkan rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan
negara Indonesia,yang merdeka, bersatu,berdaulat,adil dan makmur.
Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan
didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan
yang bebas, maka rakyat Indonesia dengan ini menyatakan
kemerdekaannya.
Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan
Negara Indonesia agar melindungi segenap bangsa Indonesia dan
seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan
umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan
ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi
dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan
Indonesia itu dalam suatu undang-undang dasar negara Indonesia,
yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang
berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha
Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan indonesia dan
kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
MAKSUD /TUJUAN PEMBUKAAN
UUD 1945
1. Untuk mempertanggungjawabkan bahwa
kemerdekaan Indonesia sudah selayaknya
dan berdasarkan atas hak mutlak.
2. Untuk menetapkan cita-cita bangsa
indonesia yang ingin dicapai dengan
kemerdekaannya
3. Untuk menegaskan bahwa kemerdekaan
menjadi permulaan dan dasar hidup
kebangsaan dalam lindungan Tuhan
4. Untuk mewujudkan tujuan negara secara
nasional dan Internasional
Implementasi di bidang politik
 landasan umum dalam pengelolaan politik-kenegaraan meliputi:
 Pertama, Setiap pekerja politik dan penyelenggara negara perlu
memahami hakikat politik sebagai seni mengelola kebaikan dan
kemaslahatan hidup bersama lewat jalan-jalan deliberative
(permusyawaratan) yang damai; bukan seni memperjuangkan
kepentingan pribadi lewat jalan kekerasan dan pemaksaan
 Kedua, Pekerja politik dan penyelenggara negara harus mempunyai
‘modal moral’ (Moral Capital). Moral di sini adalah kekuatan dan
kualitas komitmen pemimpin dalam memperjuangkan nilai-nilai,
keyakinan, tujuan, amanat penderitaan rakyat. Kapital di sini bukan
hanya potensi kebajikan sesorang, melainkan potensi yang secar
actual menggerakkan roda politik untuk menginvestasikan potensi
kebijakan perseorangan ini ke dalam mekanisme politik yang bisa
mempengaruhi perilaku masyarakat (Latief, 2013).
Bidang ekonomi dan hankam
 Ekonomi pancasila didefinisikan sebagai
sistem ekonomi yang dijiwai ideologi
Pancasila yang merupakan usaha bersama
yang berasaskan kekeluargaan dan
kegotongroyongan nasional. Sistem ekonomi
Pancasila bersumber langsung dari Pancasila
sila kelima; Keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia dan amanat pasal 27, 33, 34
Ekonomi Pancasila merupakan sistem
ekonomi integratif yang mengandung pada
dirinya ciri-ciri positif dari kedua sistem ekstrim
(Mubyarto, 1980).
Moralitas ekonomi
 Moralitas Ekonomi Pancasila mencakup
ketuhanan (mencakup moral etik dan
agama, bukan materialisme), kemanusiaan
(tidak mengenal pemerasan/eksploitasi
manusia), persatuan (kekeluargaan,
kebersamaan, nasionalisme dan patriotism
ekonomi), kerakyatan (mengutamakan
ekonomi rakyat dan hajat hidup orang
banyak, demokrasi ekonomi), dan keadilan
sosial (persamaan, masyarakat yang utama,
bukan kemakmuran orang-perorang).
Bidang Hankam
Implementasi Pancasila dalam pembuatan
kebijakan negara dalam bidang pertahanan
keamanan harus diawali dengan kesadaran bahwa
Indonesia adalah negara hukum. Dengan demikian
dan demi tegaknya hak-hak warga negara,
diperlukan peraturan perundang-undangan negara
untuk mengatur ketertiban warga negara dan
dalam rangka melindungi hak-hak warga negara.
Dalam hal ini, segala sesuatu yang terkait dengan
bidang pertahanan keamanan harus diatur dengan
memperhatikan tujuan negara untuk melindungi
segenap wilayah dan bangsa Indonesia (Mukhtasar
Syamsuddin, 2013).
Bidang Hukum
 Pancasila menjadi landasan dalam
hukum di indonesia untuk mewujudkan
azas keadilan tanpa pengecualian
(jabatan, kekuasaan, materi dll)
 Hukum tidak boleh seperti sebuah pisau
yang tajam ke bawah dan tumpul ke
atas, karena semua orang dimuka hukum
kedudukannya sama (equality before the
law).