Anda di halaman 1dari 17

RENUNGAN

MINGGU I BKSN 2019


PENDAHULUAN
KRISIS LINGKUNGAN • Dalam Ensiklik Laudato Si’,
HIDUP “Terpujilah Engkau” (24
Mei 2015) Paus berbicara
tentang perawatan bumi,
rumah kita bersama.
Diilhami oleh Gita Sang
Surya Santo Fransiskus dari
Asisi, Paus mengingatkan
kita bahwa bumi bagaikan
seorang saudari yang
berbagi hidup dengan kita,
dan sebagai seorang ibu
yang mengasuh kita
Tetapi saudari dan
ibu kita ini
sekarang menjerit
karena segala
kerusakan yang
ditimpakan
kepadanya oleh
manusia yang
dengan rakus
menjarah bumi.
Paus berseru agar umat Katolik
bersama seluruh masyarakat
dunia bangun dari sikap acuh tak
acuh, membuka mata bagi
kerusakan bumi dan sebab-
sebabnya, dan tanpa menunda
bersama-sama mencari serta
mengusahakan suatu solusi
sebelum terlambat.
• Aksi keteladanan kita sangat
dibutuhkan di tengah masyarakat yang
masih membuang segala sampah ke
tempat pembuangan akhir (TPA), atau
lebih buruk lagi - membuangnya ke
pinggir jalan, got, dan sungai
• sampah rumah tangga, limbah industri
pembasmi hama, dan pupuk kimia,
sedang meracuni tanah dan perairan
kita.
• Bangsa kita adalah pencemar sungai
dan laut nomor dua di dunia, setelah
Cina! Limbah itu membawa penyakit
SUNGAI PENUH dan kematian kepada tanaman,
SAMPAH serangga, burung, ikan, dan makhluk
hidup lainnya
PENEBANGAN DAN PEMBAKARAN HUTAN UNTUK
MEMBUKA LAHAN PERTANIAN DAN PERKEBUNAN
Dalam hal ini pun,
Indonesia ‘juara’ dua di
dunia, setelah Brasil.
Antara 2000-2009 saja,
24% hutan Sumatera
ditebang, dan 16% hutan
Kalimantan. Deforestasi di
Papua semakin meluas
karena kehadiran
perkebun-an sawit dan
pembalakan (illegal
loging)
Banyaknya gas karbon dioksida, emisi bahan
bakar fosil, tidak lagi dapat diserap oleh
tanaman dan hutan yang terus berkurang; lalu
masuk ke atmosfir dan merusak lapisan ozon
yang mengelilingi bumi di ketinggian 15-35 km
untuk melindunginya terhadap kelebihan
radiasi matahari (ultraviolet).
Karena lapisan ozon rusak, radiasi matahari
makin masuk ke bumi dan menaikkan
suhunya. Kita sudah merasakannya dalam
musim-musim yang bertambah panas, dan
dalam gejala cuaca yang makin ekstrem serta
menyebabkan bencana-bencana alam yang
dahsyat
Model pembangunan sekarang
yang merusak lingkungan hidup,
berdampak buruk juga untuk
kehidupan manusia dan
masyarakat. Kemerosotan eko-
sosial itu tampak dalam banyak
wilayah kota di mana orang
hidup berdesakan tanpa
lingkungan alam yang
menyehatkan.
KEMEROSOTAN EKO-SOSIAL
KISAH NUH
NABI NUH
Gambar Nabi Nuh dipakai
sebagai logo BKSN 2019.
Kisah tentang Nuh dapat
dibaca di dalam Kitab
Kejadian bab 6-9.
Pada zaman Nuh, Allah
menghukum manusia
dengan air bah (banjir)
karena kejahatan manusia
membuat bumi rusak dan
penuh kekerasan.
Ancaman dahsyat air yang
berubah dari sumber BANJIR PADA ZAMAN NUH
kehidupan menjadi
pembawa kematian,
mengundang kita pada
bulan Kitab Suci 2019 untuk
membaca dan mendalami
cerita Nuh, cerita air bah.
Cerita ini membangkitkan
kesadaran ekologis karena
serentak memberi
peringatan keras akan
kerusakan bumi akibat
kesalahan manusia, tetapi
juga memberi harapan baru
akan kelestarian hidup di
bumi
TANDA PERJANJIAN ALLAH
Setelah peristiwa air bah, Allah
berjanji “takkan membinasakan
lagi segala yang hidup seperti
yang telah Kulakukan” (Kej.
8:21), “tidak akan ada lagi air
bah untuk memusnahkan
bumi." (ay.11, 15).
Perjanjian itu disertai tanda
berupa pelangi.
Pelangi yang lazim
menunjukkan berakhirnya
hujan, akan terus mengingatkan
Allah akan perjanjian-Nya untuk
tidak lagi memusnahkan bumi
dan segala makhluk hidup
dengan air bah.
UNTUK DIRENUNGKAN
• Dalam keadaan krisis bumi, manusia dipanggil untuk
membangun sebuah bahtera yang menjadi tempat
pengungsian dan perlindungan bagi yang terancam
punah.
• Nuh bersama bahtera menjadi model pelestarian
makhluk hidup yang terancam.
• Kita pun dipanggil Tuhan untuk turut menyelamatkan
keanekaragaman hayati yang sekarang terancam
punah; dipanggil untuk menyediakan ‘bahtera-
bahtera kita’ demi perlindungan serta pelestarian
keanekaragaman hayati sekarang.