Anda di halaman 1dari 18

Definisi

Bronkopneumonia adalah suatu peradangan pada paruparu dan


bronkiolus, yang disebabkan oleh bakteri, misalnya staphylococcus atau
streptococcus, virus ( influenza), jamur candida albican atau aspirasi karena
makanan atau benda asing.
Bronkopneumonia digunakan untuk menggambarkan pneumonia yang
mempunyai pola penyebaran berbercak, teratur dalam satu atau lebih area
terlokalisasi didalam bronki dan meluas ke parenkim paru yang berdekatan
di sekitarnya.
Etiologi

Penyebab tersering bronkopneumonia pada anak adalah


pneumokokus, sedangkan penyebab lainnya antara lain streptococcus
pneumonia, stapilokokus aureus, haemophilus influenza, jamur (seperti
candida albicans), dan virus. Pada bayi dan anak kecil ditemukan
staphylococcus aureus sebagai penyebab yang berat, serius dan sangat
progresif dengan mortalitas tinggi.
Manifestasi Klinis

Bronkopneumonia biasanya didahului oleh infeksi traktus


respitatorius bagian atas selama beberapa hari. Suhu tubuh dapat naik
mendadak sampai 39-40ºC dan kadang disertai kejang karena demam
yang tinggi. Anak sangat gelisah, dispnea, pernafasan cepat dan dangkal
disertai pernafsan cuping hidung. Batuk biasanya tidak ditemukan pada
permulaaan penyakit, tetapi setelah beberapa hari mula- mula batuk
kering kemudian menjadi produktif.
Patofisiologi

Kuman penyebab bronkopneumonia masuk ke dalam jaringan paru-


paru melalui saluran pernafasan atas ke bronkiolus, kemudian kuman
masuk ke dalam alveolus ke alveolus lainnya melalui poros kohn,
sehingga terjadi peradangan pada dinding bronkus atau bronkiolus dan
alveolus sekitarnya. Kemudian proses radang ini selalu dimulai pada
hilus paru yang menyebar secara progresif ke perifer sampai seluruh
lobus.
Menurut sylvia Anderson pearce (1995) dalam Ridha (2014) proses peradangan ini dapat dibagi
menjadi dalam 4 tahap, antara lain :
1. Stadium kongesti (4-12 jam)
Lobus yang meradang tampak warna kemerahan, membengkak, pada perabaan banyak
mengandung cairan, pada irisan keluar cairan kemerahan (eksudat masuk ke dalam alveoli melalui
pembuluh darah yang berdilatasi).
2. Stadium hepatisasi (48 jam berikutnya)
Lobus paru tampak lebih padat dan bergranuler karena sel darah merah fibrinosa, lecocit
polimorfomuklear.
3. Stadium hepatisasi kelabu ( 3-8 hari)
Paru-paru menjadi kelabu karena lekosit dan fibrinosa terjadi konsolidasi di dalam alveolus yang
terserang eksudat yang ada pada pleura masih ada bahkan dapat berubah menjadi pus.
4. Stadium resolusi (7-11 hari)
Eksudat mengalami lisis dan reabsorbsi oleh makrofag sehingga jaringan kembali pada struktur
semua (Ridha, 2014).
Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan foto toraks, pada foto toraks bronkopneumonia


terdapat bercak-bercak infiltrat pada satu atau beberapa lobus, jika
pada pneumonia lobaris terlihat adanya konsolidasi pada satu atau
beberapa lobus.
2. Pemeriksaan laboratorium, gambaran darah tepi menunjukkan
leukositosis, dapat mencapai 15.000-40.000/mm3 dengan
pergeseran ke kiri. Urine biasanya berwarna lebih tua, mungkin
terdapat albuminuria ringan karena suhu yang naik dan sedikit toral
hialin, analisa gas darah arteri dapat menunjukkan asidosis
metabolik.
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan yang dapat diberikan pada anak dengan bronkopneumonia
yaitu :
1. Pemberian obat antibiotik penisilin ditambah dengan kloramfenikol 50-
70 mg/kg BB/hari atau diberikan antibiotic yang memiliki spectrum luas
seperti ampisilin, pengobatan ini diberikan sampai bebas demam 4-5 hari.
2. Pemberian terapi yang diberikan pada pasien adalah terapi O2, terapi
cairan dan, antipiretik. Agen antipiretik yang diberikan kepada pasien
adalah paracetamol.
3. Terapi nebulisasi bertujuan untuk mengurangi sesak akibat penyempitan
jalan nafas atau bronkospasme akibat hipersekresi mukus.
Peran keluarga pada anak
dengan bronkopneumonia
Dukungan keluarga merupakan unsur terpenting dalam membantu
individu menyelesaikan masalah. Apabila ada dukungan, rasa percaya
diri akan bertambah dan movitasi untuk menghadapi masalah yang
terjadi akan meningkat. Dukungan keluarga saat sedang dirawat di RS
dapat berupa memberikan kesempatan kepada keluarga untuk terlibat
dalam perawatan anak
Keluarga juga dibekali pengetahuan untuk mendeteksi
dini bronkopneumonia dan bagaimana menurunkan angka kesakitan.
Perawatan dirumah pada anak
dengan bronkopneumonia
Pastikan anak selalu minum obat antibiotik, antivirus, dan antijamur sesuai dengan yang
diresepkan dokter. Jangan mengurangi atau menambahkan dosis obat tanpa persetujuan
dokter. Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mempercepat proses pemulihan penyakit
bronkopneumonia adalah:
• Hindari melakukan aktivitas berat untuk sementara waktu
• Minum banyak cairan untuk membantu mengencerkan lendir dan mengurangi rasa
tidak nyaman saat batuk
• Pakai masker apabila ingin bepergian atau berinteraksi dengan orang lain agar tidak
menularkan infeksi
• Hindari rokok dan minum alkohol
• Perhatikan asupan makanan Anda
Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Keluhan Utama
Bronkopneumonia biasanya didahului oleh infeksi taktus respiratoris bagian atas
selama beberapa hari. Suhu dapat naik mendadak sampai 39-40ºC dan mungkin disertai
kejang karena demam yang tinggi. Anak sangat gelisah, dispnea, pernafasan cepat dan
dangkal disertai pernafasan cuping hidung dan sianosis sekitar hidung dan mulut.
b. Riwayat Penyakit sekarang
c. Riwayat Penyakit dahulu
1) Anak sering menderita penyakit saluran pernapasan
2) Prediksi penyakit saluran pernapasan lain seperti ISPA, influenza sering terjadi
dalam rentang waktu 3-14 hari sebelum diketahui adanya penyakit bronkopneumonia.
d. Riwayat kesehatan keluarga
Tempat tinggal : lingkungan dengan sanitasi buruk berisiko lebih besar
e. Riwayat imunisasi
Riwayat imunisasi jenis IPD (Invasive Pneumoccocal Disease) dan HIB (Haemophilus Influenza type B)
f. Riwayat tumbuh kembang
1) Prenatal : riwayat Ante Natal Care
2) Natal : Riwayat Ketuban Pecah Dini, Aspirasi mekonium, Asfiksia
3) Post Natal : Riwayat terkena ISPA (Bilotta, 2012).
g. Pola eliminasi
Penderita sering mengalami penurunan produksi urin akibat perpindahan cairan melalui proses evaporasi
karena demam.
h. Pola tidur-istirahat
Data yang sering muncul adalah anak mengalami kesulitan tidur karena sesak nafas. Penampilan anak terlihat
lemah, sering menguap, mata merah, anak juga sering menangis pada malam hari karena ketidaknyamanan tersebut.
i. Pemeriksaan Fisik
1) Status penampilan kesehatan : lemah
2) Tingkat kesadaran : kesadaran normal, letargi, strupor, koma, apatis tergantung tingkat penyebaran penyakit
3) Tanda-tanda vital
a) Frekuensi nadi dan tekanan darah : takikardi
b) Frekuensi pernapasan : dispnea progresif, takipnea, pernafasan dangkal, penggunaan otot bantu nafas,pelebaran
nasal
c) Suhu tubuh : hipertermi
j. Berat badan dan tinggi badan : kecenderungan berat badan anak akan mengalami penurunan
t. Data fokus pada paru (inspeksi, auskultasi, perkusi dan palpasi)
1) Inspeksi : frekuensi irama, kedalaman dan upaya bernafas antara lain :
takipnea, dispnea progresif, pernafasan dangkal, pektus ekskavatum (dada corong), paktus karinatum (dada burung),
barrel chest
2) Palpasi : adanya nyeri tekan, massa, peningkatan vocal fremitus pada daerah yang terkena
3) Perkusi : pekak terjadi bila terisi cairan pada paru, normalnya timpani (terisi udara) resonansi
4) Auskultasi : suara bronkovesikuler atau bronchial pada daerah yang terkena, suraa pernafasan tambahan ronkhi
inspiratoir pada sepertiga akhir inspirasi (Riyadi & Sukarmin, 2009).
Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan proses inflamasi
2. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan
peningkatan produksi sputum
3. Ganguan pertukaran gas berhubungan dengan meningkatnya
akumulasi sekret
4. Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi
No Diagnosa Keperawatan NOC NIC
1 Ketidakefektifan pola napas Setelah dilakukan asuhan keperawatan 2x24 jam Terapi Oksigen
berhubungan dengan proses diharapkan pola napas efektif dengan KH: a) Bersihkan mulut, hidung dan secret trakea
inflamasi a) Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas b) Pertahankan jalan nafas yang paten
yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu c) Atur peralatan oksigenasi
(mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas d) Monitor aliran oksigen
dengan mudah, tidak ada pursed lips) e) Pertahankan posisi pasien
b) Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak Vital sign Monitoring
merasa tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan a) Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
dalam rentang normal, tidak ada suara nafas b) Catat adanya fluktuasi tekanan darah
abnormal) c) Monitor frekuensi dan irama pernapasan
c) Tanda Tanda vital dalam rentang normal (tekanan d) Monitor pola pernapasan abnormal
darah, nadi, pernafasan) e) Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit

2 Ketidakefektifan bersihan jalan Setelah dilakukan asuhan keperawatan 2x24 jam Airway suction
napas berhubungan dengan diharapkan produksi sputum berkurang dengan KH: a) Pastikan kebutuhan oral / tracheal suctioning
peningkatan produksi sputum a) Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas b) Auskultasi suara nafas sebelum dan sesudah
yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu suctioning.
(mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas c) Informasikan pada klien dan keluarga tentang
dengan mudah, tidak ada pursed lips) suctioning
b) Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak d) Minta klien nafas dalam sebelum suction dilakukan.
merasa tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan e) Berikan O2 dengan menggunakan nasal untuk
dalam rentang normal, tidak ada suara nafas memfasilitasi suksion nasotrakeal
abnormal) Airway Management
c) Mampu mengidentifikasikan dan mencegah factor f) Buka jalan nafas, guanakan teknik chin lift atau jaw
yang dapat menghambat jalan nafas thrust bila perlu
g) Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
h) Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan
nafas buatan
NO Diagnosa NOC NIC
3. Ganguan pertukaran gas Setelah dilakukan asuhan keperawatan 2x24 jam diharapkan gangguan Airway Management
berhubungan dengan meningkatnya pertukaran gas teratasi dengan KH: a) Buka jalan nafas, guanakan teknik
akumulasi sekret a) Mendemonstrasikan peningkatan ventilasi dan oksigenasi yang chin lift atau jaw thrust bila perlu
adekuat b) Posisikan pasien untuk
b) Memelihara kebersihan paru paru dan bebas dari tanda tanda memaksimalkan ventilasi
distress pernafasan c) Identifikasi pasien perlunya
c) Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak pemasangan alat jalan nafas
ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu buatan
bernafas dengan mudah, tidak ada pursed lips) Respiratory Monitoring
d) Tanda tanda vital dalam rentang normal d) Monitor rata – rata, kedalaman,
irama dan usaha respirasi
e) Catat pergerakan dada,amati
kesimetrisan, penggunaan otot
tambahan, retraksi otot
supraclavicular dan intercostal
f) Monitor suara nafas, seperti
dengkur
g) Monitor pola nafas : bradipena,
takipenia, kussmaul,
hiperventilasi, cheyne stokes, biot
Implementasi
Implementasi merupakan komponen dari proses keperawatan, adalah
kategori dari perilaku keperawatan dimana tindakan yang diperlukan untuk
mencapai tujuan dan hasil yang di perkirakan dari asuhan keperawatan
yang di lakukan dan di selesaikan. Implementasi menuangkan rencana
asuhan kedalam tindakan. Setelah intervensi di kembangkan, sesuai
dengan kebutuhan dan prioritas klien, perawat melakukan tindakan
keperawatan spesifik, yang mencakup tindakan perawat dan tindakan
dokter.
Evaluasi
Pasien mampu :
• Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan
dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dengan mudah, tidak ada
pursed lips)
• Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi
pernafasan dalam rentang normal, tidak ada suara nafas abnormal)
• Mampu mengidentifikasikan dan mencegah factor yang dapat menghambat jalan nafas
• Tanda-tanda vital dalam rentang normal (tekanan darah, nadi, pernafasan)
• Memelihara kebersihan paru paru dan bebas dari tanda tanda distress pernafasan
• Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis dan
program pengobatan
• Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar
• Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat/tim
kesehatan lainnya