Anda di halaman 1dari 22

Asuhan Keperawatan pada

Anak dengan Hidrosefalus


Oktavianti N.R 131711133048
Tiara Rosa Indah 131711133049
Definisi
Hidrosefalus merupakan keadaan patologis otak
yang mengakibatkan bertmbahnya cairanserebro spinalis
tanpa atau pernah dengan tekanan intracranial yang
meninggi sehingga terdapat pelebaran ruangan tempat
mengalirnya cairan serebro spinal.
Etiologi
Hidrosefalus terjadi bila terdapat penyumbatan aliran CSS pada salah
satu tempat antara tempat pembentukan CSS dalam sistem ventrikel dan tempat
absorbsi dalam ruang subarackhnoid. Akibat penyumbatan, terjadi dilatasi
ruangan CSS diatasnya. Penyumbatan aliran CSS seringterdapat pada bayi dan
anak ialah :
1. Kongenital, disebabkan gangguan perkembangan janin dalam rahim, atau
infeksi intrauterine meliputi stenosis aquaductus sylvi, Spina bifida dan
kranium bifida, Syndrom Dandy-Walker.
2. Infeksi, akibat infeksi dapat timbul perlekatan meningen. secara patologis
terlihat penebalan jaringan piameter dan arakhnoid sekitar sisterna basalis
dan daerah lain.
3. Neoplasma, hidrosefalus oleh obstruksi mekanik yang dapat terjadi di setiap
tempat aliran CSS. pada anak yang terbanyak menyebabkan penyumbatan
ventrikel IV/ akuaduktus sylvii bagian terakhir.
4. Perdarahan, -erdarahan sebelum dan sesudah lahir dalam otak, dapat
menyebabkan !ibrosis leptomening!enterutama pada daerah basal otak,
selain penyumbatan yang terjadi akibat organisasi dari darahitu sendiri.
Manifestasi Klinis
Hidrosefalus dibagi menjadi 2 yaitu : anak dibawah usia 2 tahun, dan
anak diatas usia 2 tahun.
1.Hidrosefalus dibawah usia 2 tahun
Sebelum usia 2 tahun yang lebih menonjol adalah pembesaran kepala.
 Ubun-ubun besar melebar, serta tegang/menonjol dan tidak berdenyut.
Dahi nampak melebar dan kulit kepala tipis, tegap mengkilap dengan
pelebaran vena-vena kulit kepala.
Tulang tengkorak tipis dengan sutura masih terbuka lebar cracked pot
sign yakni bunyi seperti pot kembang yang retak pada perkusi.
Perubahan pada mata : bola mata berotasi kebawah oleh karena ada
tekanan dan penipisan tulang supra orbita, refleks pupil melambat,
nystagmus.
2. Hydrochepalus pada anak diatas usia 2 tahun.
Yang lebih menonjol disini ialah gejala-gejala peningkatan tekanan intra
kranial oleh karena pada usia ini ubun-ubun sudah tertutup.
Patofisiologi
Jika terdapat obstruksi pada system ventrikuler atau pada ruangan
subarachnoid,ventrikel serebral melebar, menyebabkan permukaan ventrikuler
mengkerut dan merobek garis ependymal. White mater dibawahnya akan
mengalami atrofi dan tereduksi menjadi pita yang tipis. Pada gray matter terdapat
pemeliharaan yang bersifat selektif, sehingga walaupun ventrikel telah
mengalami pembesaran gray matter tidak mengalami gangguan. Proses dilatasi
dapat berupa proses yang akut ( emergency) dan dapat juga selektif tergantung
pada kedudukan penyumbatan.
Pada bayi dan anak kecil sutura kranialnya melipat dan melebar untuk
mengakomodasi peningkatan massa cranial. Jika fontanela anterior tidak tertutup
dia tidak akan mengembang dan terasa tegang pada perabaan. Stenosis
aquaductal (Penyakit keluarga/keturunan yang terpaut seks) menyebabkan titik
pelebaran pada ventrikel lateral dan tengah, pelebaran ini menyebabkan kepala
berbentuk khas yaitu penampakan dahi yang menonjol secara dominan (dominan
frontal blow). Syndroma dandy walkker akan terjadi jika terjadi obstruksi pada
foramina di luar pada ventrikel IV. Ventrikel ke IV melebar dan fossae posterior
menonjol memenuhi sebagian besar ruang dibawah tentorium..
Patofisiologi...
Klien dengan type hidrosephalus diatas akan mengalami
pembesaran cerebrum yang secara simetris dan wajahnya tampak kecil
secara disproporsional.
Pada pelebaran ventrikular menyebabkan robeknya garis
ependyma normal yang pada dinding rongga memungkinkan kenaikan
absorpsi. Jika route kolateral cukup untuk mencegah dilatasi ventrikular
lebih lanjut maka akan terjadi keadaan kompensasi.
Klasifikasi
1.Waktu Pembentukan
•Hydrocepalus Congenital yaitu hydrocepalus yang dialami sejak dalam
kandungan dan berlanjut setelah melahirkan
•Hydrocepalus Akuisita yaitu hydrocepalus yang terjadi setelah bayi dilahirkan
atau terjadi karena faktor lain setelah bayi dilahirkan
2. Proses Terbentuknya Hydrocepalus
•Hydrocepalus Akut yaitu hydrocepalus yang terjadi secara mendadak yang
disebabkan karena gangguan absorbsi CSS (Cairan Serebrospinal)
•Hydrocepalus Kronik yaitu hydrocepalus dimana CSS mengalami obstruksi
beberapa minggu
3. Sirkulasi Cairan Serebrospinal
•Communicating yaitu kondisi hydrocepalus dimana CSS masih bisa keluar dari
ventrikel namun alirannya tersumbat setelah itu.
•Hydrocephalus non - Komunikans berarti terdapat hambatan sirkulasi cairan
serebrospinal dalam sistem ventrikel sendiri
Penatalaksanaan
1.Pencegahan, untuk mencegah timbulnya kelainan genetic perlu
dilakukan penyuluhan genetic, penerangan keluarga berencana serta
menghindari perkawinan antar keluarga dekat. Proses persalinan
kelahiran diusahakan dalam batas-batas fisiologik untuk menghindari
trauma kepala bayi. Tindakan pembedahan Caesar suatu saat lebih dipilih
dari pada menanggung resiko cedera kepala bayi sewaktu lahir.
2.Terapi Medikamentosa, hidrosefalus dengan progresivitas rendah dan
tanpa obstruksi pada umumnya tidak memerlukan tindakan operasi. Dapat
diberi asetazolamid dengan dosis 25-50 mg/kg BB.
3.Pembedahan, tujuannya untuk memperbaiki tempat produksi CSS
dengan tempat absorbsi.
4.Terapi, pada dasarnya ada 3 prinsip dalam pengobatan hidrosefalus,
yaitu :
mengurangi produksi CSS
Mempengaruhi hubungan antara tempat produksi CSS dengan tempat
absorbsi
Pengeluaran likuor ( CSS ) kedalam organ ekstrakranial
Pemeriksaan Penunjang

1.Pemeriksaan fisik
Pengukuran lingkaran kepala secara berkala, pengukuran ini penting untuk
melihat pembesaran kepala yang progresif atau lebih dari normal
Transiluminasi
2. Pemeriksaan darah, tidak ada pemeriksaan darah khusus untuk
hidrosefalus
3. Pemeriksaan cairan serebrospinal
Analisa cairan serebrospinal pada hidrosefalus akibat perdarahan atau
meningitis untuk mengetahui kadar protein dan menyingkirkan kemungkinan
ada infeksi sisa
4. Pemeriksaan radiologi
Foto kepala : tampak kranium yang membesar atau sutura yang melebar
USG kepala : dilakukan bila ubun-ubun besar belum menutup
CT-Scan kepala: untuk mengetahui adanya pelebaran ventrikel dan
sekaligus mengevaluasi struktur-struktur intraserebral lainnya
Asuhan Keperawatan Teoritis
A.Pengkajian
1.Anamnesa
•Pengumpulan data : nama, usia, jenis kelamin, suku/bangsa, agama, pendidikan, pekerjaan,
alamat
•Riwayat Penyakit / keluhan utama : Muntah, gelisah, nyeri kepala, lelah apatis, penglihatan
ganda, perubahan pupil, kontriksi penglihatan perifer.
•Riwayat Penyakit dahulu
– Antrenatal : Perdarahan ketika hamil
– Natal : Perdarahan pada saat melahirkan, trauma sewaktu lahir
– Postnatal : Infeksi, meningitis, TBC, neoplasma
•Riwayat penyakit keluarga
•Pengkajian persistem
•B1 ( Breath ) : Dispnea, ronchi, peningkatan frekuensi napas
•B2 ( Blood ) : Pucat, peningkatan systole tekanan darah, penurunan nadi
•B3 ( Brain ) : Sakit kepala, gangguan kesadaran, dahi menonjol dan mengkilat,
pembesaran kepala, perubahan pupil, penglihatan ganda, kontruksi penglihatan perifer,
strabismus ( juling ), tidak dapat melihat keatas “ sunset eyes ”, kejang
•B4 ( Bladder ) : Oliguria
•B5 ( Bowel ) : Mual, muntah, malas makan
•B6 ( Bone ) : Kelemahan, lelah, peningkatan tonus otot ekstrimitas
2. Observasi tanda – tanda vital
• Peningkatan systole tekanan darah
• Penurunan nadi / bradikardia
• Peningkatan frekuensi pernapasan
3. Pemeriksaan Fisik
• Masa bayi :
kepala membesar , Fontanel Anterior menonjol, Vena pada kulit kepala dilatasi
dan terlihat jelas pada saat bayi menangis, terdapat bunyi Cracked- Pot ( tanda
macewe),Mata melihat kebawah (tanda setting – sun ) , mudah terstimulasi,
lemah, kemampuan makan kurang, perubahan kesadaran, opistotonus dan spatik
pada ekstremitas bawah.pada bayi dengan malformasi Arnold- Chiari, bayi
mengalami kesulitan menelan, bunyi nafas stridor, kesulitan bernafas, Apnea,
Aspirasi dan tidak reflek muntah.
• Masa Kanak-Kanak
Sakit kepala, muntah, papil edema, strabismus, ataxsia mudah terstimulasi ,
Letargy Apatis, Bingung, Bicara inkoheren.
4. Pemeriksaan penunjang
• Lingkar Kepala pada masa bayi
• Translumiasi kepala bayi, tampak pengumpulan cairan serebrospinalis
yang abnormal
• Perkusi pada tengkorak bayi menghasilkan "suara khas"
• Opthalmoscopi menunjukan papil edema
• CT Scan
• Foto Kepala menunjukan pelebaran pada fontanel dan sutura serta erosi
tulang intra cranial
5. Perkembangan Mental/ Psikososial
• Tingkat perkembangan
• Mekanisme koping
• Pengalaman di rawat di Rumah Sakit
6. Pengetahuan Klien dan Keluarga
• Hidrosephalus dan rencana pengobatan
• Tingkat pengetahuan
Diagnosa Keperawatan

1.Resiko tinggi peningkatan tekanan intracranial b.d peningkatan jumlah cairan


serebrospinal
2.Perubahan perfusi jaringan serebral b.d meningkatnya volume cairan
serebrospinal, meningkatnya tekanan intracranial
3.Resiko tinggi terjadinya kerusakan integritas kulit b.d penekanan dan
ketidakmampuan untuk menggerakan kepala.
4.Nyeri b.d peningkatan tekanan intracranial
5.Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d perubahan
mencerna makanan, peningkatan kebutuhan metabolisme.
Kasus 1
By. S, usia 3 bulan, BB= 9 Kg, jenis kelamin laki-laki, sejak lahir
kepala bayi semakin membesar dan perlahan lahan. Bayi sering
mengalami kejang, namun tidak mengalami demam. Hasil pemeriksaan
fisik menunjukkan fontanel lebar dan menegang, kulit kepala tipis,
nampak ada tanda sunset eyes. Gerakan kedua tangan dan kaki baik.
By. S sudah dirawat selama seminggu di RS R, tetapi tidak ada
perbaikan kemudian by S dirujuk ke RS S. Pada saat hamil, Ibu bayi S
memeriksakan kehamilannya ke Puskesmas sebanyak 6 kali. Riwayat
sakit pada saat hamil disangkal. Bayi S lahir normal, di rumah, ditolong
dukun,cukup bulan dan langsung menangis. Berat badan lahir 3,5 kg,
sedangkan panjang badan dan lingkar kepala tidak diukur. Sampai
saat ini bayi hanya bisa baring terlentang. Diagnosa medis pasien
adalah Hidrosefalus non komunikan.
Pertanyaan:
• 1. Buatlah analisa data, dan temukan diagnose keperwatan
• 2. Susunlah intervensi keperawatan yang paling prioritas
Masalah
No. Data Eiologi
Keperawatan
1. DS: Produksi CSS Penurunan
1. Ibu klien mengatakan kapasitas adaptif
bayi sering mengalami Intrakranial (0066)
kejang tanpa disertai Penumpukan cairan (CSS)
demam dalam ventrikel otak secara
2. Ibu klien mengatakan aktif
sejak lahir kepala bayi
semakin membesar
perlahan-lahan Obstruksi aliran pada shunt
DO: di ventrikel otak
1. Fontanel lebar dan
menegang, kulit
kepala tipis, ada tanda Peningkatan volume CSS
sunset eyes
2. BB 9kg
TIK
No. Data Etiologi Masalah Keperawatan

2. DS: Obstrusi aliran CSS Resiko perfusi cerebral


1. Ibu mengatakan tidak efektif (D.0017)
kepala bayi terus Akumulasi CSS diventrikel
menerus membesar
2. Ibu klien
Ventrikel dilatasi dan menekan
mengatakan bayi organ-organ yang terdapat didalam
sering mengalami otak
kejang tanpa disertai
demam Desakan pada otak dan selaput
DO: meningen
1. Bayi hanya bisa
berbaring telentang
Vaso konstriksi pembuluh darah
otak (arteri otak)

Suplay O2 dan nutrisi keotak


terganggu

Hipoksia cerebral

Resiko perfusi cerebral tidak efektif


Diagnosa Keperawatan

1. Penurunan kapasitas adaptif Intrakranial b.d obstruksi


aliran cairan CSS
2. Resiko perfusi cerebral tidak efektif b.d penurunan aliran
arteri dan atau vena diotak
No Diagnosa Tujuan Intervensi

1 Penurunan Setelah dilakukan Manajemen peningkatan tekanan


kapasitas adaptif tindakan keperawatan intrakranial (I.06194)
Intrakranial b.d 1 x 24 jam, diharapkan Observasi
obstruksi aliran kapasitas adaptif 1. Identifikasi penyebab
cairan CSS intrakranial meningkat. peningkatan TIK.
Dengan kriteria hasil : 2. Monitor tanda atau gejala
1. Tekanan intrakranial peningkatan TIK.
membaik (5) 3. Monitor status pernafasan.
4. Monitor intake dan output
cairan.
5. Monitor cairan cerebrospinalis.
Terapeutik
1. Berikan posisi semi fowler.
2. Cegah terjadinya kejang.
3. Pertahankan suhu tubuh normal.
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian sedasi
dan anti konfulsan, jika perlu.
2. Kolaborasi pemberian deuretik
osmosis, jika perlu.
No Diagnosa Tujuan Intervensi

2 Resiko perfusi Setelah dilakukan Manajemen peningkatan tekanan


cerebral tidak keperawatan selama 1 intrakranial (I.06194)
efektif b.d x 24 jam. Diharapkan Observasi
penurunan aliran resiko perfusi cerebral 1. Identifikasi penyebab
arteri dan atau meningkat. Dengan peningkatan TIK.
vena diotak kriteria hasil : 2. Monitor tanda atau gejala
1. Tekanan peningkatan TIK.
intrakranial 3. Monitor status pernafasan.
menurun (5) 4. Monitor intake dan output
2. Kognitif meningkat cairan.
(5) 5. Monitor cairan cerebrospinalis.
Terapeutik
1. Berikan posisi semi fowler.
2. Cegah terjadinya kejang.
3. Pertahankan suhu tubuh normal.
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian sedasi
dan anti konfulsan, jika perlu.
2. Kolaborasi pemberian deuretik
osmosis, jika perlu.