Anda di halaman 1dari 26

RABIES

Agnes Apria Simanjuntak


25010116120053
Rabies
Rabies atau penyakit anjing gila adalah
penyakit hewan yang bersifat zoonosis
(menular ke manusia). Rabies merupakan
penyakit mematikan yang disebabkan oleh
virus (Rhabdovirus) yang dapat menyerang
sistem saraf pusat (SSP) hewan mamalia
termasuk manusia.
Penyakit rabies tersebar di seluruh dunia
dengan perkiraan 55.000 kematian pertahun,
hampir semuanya terjadi di negara
berkembang. Jumlah yang terbanyak
dijumpai di Asia sebesar 31.000 jiwa (56%)
dan Afrika 24.000 jiwa (44%). Diperkirakan
30% – 50% proporsi dari kematian yang
dilaporkan terjadi pada anak-anak di bawah
usia 15 tahun (WHO, 2006).
Kasus rabies pertama kali dilaporkan
di Jawa Barat pada kerbau tahun
1884, pada anjing tahun 1889 dan
pada manusia tahun 1894 (WHO,
2001). Secara rataan setiap tahun di
Indonesia terjadi 150- 300 kematian Rabies pertama kali berjangkit pada
manusia akibat rabies, sehingga manusia di Desa Ungasan dan pada
rabies menjadi salah satu penyakit anjing di Desa Kedonganan, Kuta
prioritas secara nasional (Nugroho et Selatan, Badung (Supartika et al.,
al., 2013). 2009; Windiyaningsih et al., 2009).
Berdasarkan kajian kasus rabies pada
manusia dan hewan, diperkirakan
penyakit rabies masuk ke
Semenanjung Bukit Badung pada April
2008.Penyakit rabies dalam tempo tiga
tahun telah menyebar ke seluruh
daerah Bali.
Penyebaran rabies di Kabupaten Bangli pertama kali terjadi pada anjing di Desa Bebalang,
Kecamatan Bangli pada bulan Oktober tahun 2009 sedangkan, pada manusia dimulai
dengan terdapatnya tiga korban rabies yang menulari tiga wilayah di Bangli yaitu di Banjar
Tambahan Tengah, Desa Jehem, Kecamatan Tembuku pada tanggal 20 April 2010,
kemudian menyebar ke Banjar Pelesetan, Desa Suter, Kecamatan Kintamani (16 Mei 2010),
sampai ke Banjar Tabu, Desa Songan-A, Kecamatan Kintamani (20 Februari 2011) (Andriani
et al., 2016). Setelah itu, kasus rabies paling banyak ditemukan di Desa Kawan, Kecamatan
Bangli, Kabupaten Bangli yakni delapan kasus.
KASUS RABIES

Baru-baru ini terjadi kasus rabies di Bali. Diduga terjadi ketika seorang pemuda pergi ke tempat
wisata dan digigit oleh anjing. Namun pemuda tersebut mengabaikan hal itu.
Beberapa bulan setelah digigit, anak tersebut mengalami gejala rabies seperti takut terkena angin
(aero phobia), sesak. Dan tidak lama kemudian meninggal.
Pemuda tersebut sempat ditawarin utk VAR namun menolak karena mengira lukanya hanya kecil.

https://regional.kompas.com/read/2019/05/21/17465301/digigit-anak-anjing-liar-pemuda-di-bali-
meninggal-karena-rabies?page=all.
Penyebaran Rabies di Dunia
Grafik Rabies di Indonesia
PENULARAN
RABIES
Gejala Klinis pada Hewan
0
1. Rabies bentuk tenang (dumb rabies)

• Hipersalivasi (mengeluarkan saliva yang berlebihan)



• Suara hewan menjadi berubah (menjadi parau)

• Terjadi kelumpuhan pada bagian wajah dan rahang bawah

• Lumpuh, Kejang, mati

2. Rabies bentuk ganas (furious rabies)

• Sangat galak, gelisah, hiperaktif



• Bersembunyi di tempat gelap dan dingin

• Nafsu makan menjadi berkurang

• Menjadi lebih sensitif terhadap suara dan cahaya.

• Memakan benda-benda asing seperti batu, kayu dll

• lumpuh, kejang, mati
Gejala Klinis pada
Manusia
Manusia yang di gigit oleh anjing yang terinfeksi rabies belum tentu
akan terjangkit penyakit rabies

Setiap manusia yang tergigit oleh anjing tertular rabies harus segera
mendapatkan tindakan medis karena penyakit ini umumnya bersifat
fatal setelah gejala klinis muncul dengan CFR dapat mencapai 100%.

Di seluruh dunia hanya ada beberapa orang yang sembuh setelah


terjangkit penyakit rabies.
batuk, kesulitan bernafas

Gejala yg sering timbul antara lain:


• batuk, kesulitan bernafas
• keringat yang berlebihan
• Hipersalivasi
• ketakutan pada air (hidrofobia)
• ketakutan pada udara (aerofobia)
• ketakutan pada cahaya (fotofobia)
• kesulitan bernafas
• kejang-kejang
• kelumpuhan umum
• meninggal
PATOFISIOLOGI

Patofisiologi rabies melibatkan


masuknya virus dari liur hewan
penular melalui bagian kulit
yang terbuka akibat gigitan
atau cakaran, replikasi virus
secara lokal, penyebaran virus
secara neuronal dari saraf
perifer ke sistem saraf pusat,
serta diseminasi virus ke
seluruh tubuh yang
diperantarai saraf perifer.
PATOGENESIS
• Virus rabies masuk melalui kulit yang terluka atau melalui mukosa utuh
seperti konjungtiva mata, mulut, anus, genitalia eksterna, atau transplantasi
kornea.
• Setelah virus rabies masuk melalui luka gigitan, maka selama 2 minggu
virus tetap tinggal pada tempat masuk kemudian bergerak mencapai ujung-
ujung serabut saraf posterior tanpa menunjukkan perubahan-perubahan
fungsinya.
• Masa inkubasi virus rabies sangat bervariasi, mulai dari 7 hari sampai lebih
dari 1 tahun, rata-rata 1-2 bulan, tergantung jumlah virus yang masuk,
berat dan luasnya kerusakan jaringan tempat gigitan, jauh dekatnya lokasi
gigitan ke sistem saraf pusat, persarafan daerah luka gigitan dan sistem
kekebalan tubuh.
• Pada gigitan di kepala, muka
dan leher masa inkubasi selama
30 hari
• Pada gigitan di lengan, tangan,
jari tangan selama 40 hari
• Pada gigitan di tungkai, kaki, jari
kaki selama 60 hari
• Pada gigitan di badan rata-rata
selama 45 hari
• Tingkat infeksi dari kematian
paling tinggi pada gigitan
daerah wajah, menengah pada
gigitan daerah lengan dan
tangan,paling rendah bila
gigitan ditungkai dan kaki.
(Jackson,2003. WHO,2010).
DIAGNOSIS
Berdasarkan pengalaman di lapangan, anjing menggigit lebih dari satu orang tanpa
didahului oleh adanya provokasi dan anjing tersebut mati dalam masa observasi
yang kemudian specimen otaknya diperiksa dilaboratorium hasilnya adalah positif
rabies, selanjutnya indikasi kecenderungan rabies di lapangan tanpa adanya
tindakan provokasi dapat ditentukan sebagai berikut:
- Hewan menggigit 1 orang tanpa provokasi kemungkinan (positif) rabies 25 %
- Hewan menggigit 2 orang tanpa provokasi kemungkinan (positif) rabies 50 %.
- Hewan menggigit 3 orang tanpa provokasi kemungkinan (positif) rabies 75 %.
- Hewan menggigit 4 orang tanpa provokasi kemungkinan (positif) rabies 100%

Diagnosa Lapangan

Cara diagnosis rabies secara laboratoris dapat dilakukan dengan cara:


Mikroskopis untuk melihat dan menemukan badan negri, yakni pewarnaan
cepat Sellers, FAT (Fluorescence Antibody Technique) dan histopatologik.
Antigen-antibody reaksi dengan uji virus nertralisasi, gel agar presipitasi
atau reaksi peningkatan komplemen dan FAT Isolasi virus secara biologis
pada mencit atau in vitro pada biakan jaringan diikuti identifikasi isolat
dengan cara pewarnaan FAT atau uji virus netralisasi.

Diagnosa Laboratorium
PENGOBATAN
Pengobatan dilakukan dengan memberikan imunisasi pasif
dengan serum anti rabies. Pengobatan bersifat suportif dan
simtomatik. Luka gigitan dirawat dengan tehnik tertentu
dengan tujuan menghilangkan dan menonaktifkan virus.

Dengan hewan yang menunjukkan perilaku rabies, dokter akan


memulai pengobatan dengan Human Rabies Immune
Globulin (HRIG) dan Human Disloid Cell Rabies
Vaccine (HDCV). HRIG biasanya diberikan satu kali, setengah
dosis disuntikkan di dekat luka gigitan dan setengah dosis
sisanya disuntikkan pada otot. HDCV diberikan sebanyak 5
dosis di hari ke-0, 3, 7, 14, dan 28.
JENIS RESERVOIR

Yang menjadi reservoir rabies


adalah berbagai Canidae
domestic dan liar, seperti
anjing, serigala,rubah, dan
mamalia menggigit lainnya.
Kelelawar frugivorous
(pemakan buah) dan
insectivorous (pemakan
serangga) ditemukan di
Amerika Serikat dan Kanada
bahkan Eropa. Di Negara
berkembang anjing tetap
menjadi reservoir utama.
TANDA RABIES
PADA ANJING
Pengendalian
Pengendalian reservoir dapat
dilakukan dengan menekan jumlah
populasi anjing atau hewan reservoir
contohnya anjing liar dengan cara
ditembak atau diberi racun. Selain itu
juga dapat dilakukan dengan
memvaksinasi hewan reservoir
peliharaan secara rutin, menghindari
memelihara hewan liar di rumah, dan
jika berpergian ke daerah yang
terjangkit rabies segera ke pusat
pelayanan kesehatan terdekat untuk
mendapatkan vaksinasi rabies.
KENDALA
- Vaksin rabies menjadi kendala
karena dibeberapa daerah
vaksin ini sangat terbatas
padahal hewan harus
divaksinasi setiap tahun dan
jumlah yang harus divaksin
banyak.
- Banyaknya pembuangan
sampah yang sembarangan
menjadi kendala karena sampah
merupakan sumber makanan
dari anjing-anjing liar sehingga
anjing tersebut dapat bertahan
hidup dan berkembang biak
sehingga populasinya terus
meningkat.
- Kendala lain adalah anjing
peliharaan susah ditangkap
untuk divaksin rabies. Ini karena
anjing dilepasliarkan.
Kesimpulan
Rabies adalah penyakit infeksi tingkat akut
pada susunan saraf pusat yang disebabkan
oleh virus rabies. Rabies disebabkan oleh
virus rabies yang masuk ke keluarga
Rhabdoviridae dan genus Lysavirus. Penyakit
ini bersifat zoonotik, yaitu dapat ditularkan
dari hewan ke manusia. Virus rabies
ditularkan ke manusia melalu gigitan hewan
misalnya oleh anjing, kucing, kera, rakun, dan
kelalawar. Rabies disebut juga penyakit
anjing gila.
Saran
Bagi yang memiliki peliharaan , sebaiknya
emberikan vaksin pada hewan peliharaan
(reservoir) yang dapat menularkan virus
rabies seperti anjing, kucing, dll. Dan
apabila tergigit oleh hewan tersebut harus
segera ke dokter dan segera melakukan
penanganan yang tepat untuk menetralisir
virus tersebut. Jika tidak maka dapat
menyebabkan kematian