Anda di halaman 1dari 44

Kelompok 1

9/15/2019 2
1. Social determinant : Kondisi sosial yang
mempengaruhi seseorang untuk mendapatkan
kesempatan dalam memperoleh pelayanan
kesehatan.
2. Ilmu kesehatan masyarakat : Ilmu kesehatan
tentang pemberdayaan masyarakat yang
bertujuan untuk meningkatkan kesehatan
masyarakat itu sendiri.
3. Care seeking behavior : suatu tindakan individu
yang menganggap dirinya sakit dan mencari
pengobatan.
4. Stigma : Ciri negatif yang menempel pada
pribadi seseorang akibat pengaruh lingkungan.

9/15/2019 3
1. Bagaimana cara melakukan promkes di puskesmas?
>> - pengenalan kondisi puskemas
- identifikasi masalah kerja
- musyawarah dan perencanaan partisipasif
- Pelaksanaan dan pembinaan

2. Apa saja faktor determinan sosial yang mempengaruhi kesehatan?


>> - Internal ( paritas & usia )
- eksternal (kesenjangan sosial, stress, pekerjaan, transfortasi, pangan,
dll)

3. Bagaimana metode dan media promkes?


>> - Metode : individual dan kelompok
- media : proyeksi & non proyeksi ; langsung & tidak langsung

9/15/2019 4
4. Apa saja sasaran promkes yang dilakukan oleh pusesmas?
>> Primer, sekunder dan tersier

5. Bagaimana strategi merubah perilaku pada ibu hamil?


>> strategi :kekuatan, informasi dan diskusi partisipasi
tahapan : sensitasi>publikasi>edukasi>motivasi

6. Apa kebutuhan promkes yang dapat diberikan pada ibu hamil?


>> - Kebutuhan nutrisi
- senam hamil
- imunisasi
-Istirahat dengan pola yang cukup

7. Bagaimana cakupan imunisasi di indonesia?


>> belum mencukupi,
Target imunisasi :
- Tercapainya cakupan imunisasi dasar lengkap kepada 93% bayi 0 -11
bulan
- Tercapainya 95% kab/kota yang mencapai 80% IDL pada bayi

9/15/2019 5
8. Bagaimana paradigma baru dalam
kesehatan?
>> promkes yang memiliki sasaran sehingga
perubahan program yang terjadi
menyesuaikan keadaan dan perubahan
program diakibatkan pengaruh politik.

9. Bagaimana konsep terkait issue gender


dalam kesehatan?
>> berdasarkan WHO
1. Keadilan dalam kesehatan
2. keadilan dalam pelayanan kesehatan
9/15/2019 6
Perilaku dan
promosi kesehatan

Perubahan Promosi Perubahan Social


paradigma Kesehatan perilaku determinant

Upaya Upaya Gender &


preventif promotif Strategi perubahan stigma
perilaku dalam
kesehatan

9/15/2019 7
1. Promosi kesehatan

2. Perubahan perilaku
a. klasifikasi perilaku
b. strategi perubahan perilaku
c. social determinant
d. gender dan stigma dalam kesehatan

3. Program imunisasi dan pencapaiannya

9/15/2019 8
9/15/2019 9
Promosi kesehatan adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan
masyarakat melalui pembelajaran dari, oleh, untuk dan bersama
masyarakat, agar mereka dapat menolong diri sendiri, serta
mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat,
sesuai sosial budaya setempat dan didukung kebijakan publik yang
berwawasan kesehatan.
 SASARAN PROMOSI KESEHATAN Dalam
pelaksanaan promosi kesehatan dikenal
adanya 3 (tiga) jenis sasaran, yaitu
(1) sasaran primer
(2) sasaran sekunder
(3) sasaran tersier
 Sasaran primer (utama) upaya promosi
kesehatan sesungguhnya adalah pasien,
individu sehat dan keluarga (rumah tangga)
sebagai komponen dari masyarakat. Mereka
ini diharapkan mengubah perilaku hidup
mereka yang tidak bersih dan tidak sehat
menjadi perilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS)

 Keteladanan dari para pemuka masyarakat,


baik pemuka informal maupun pemuka
formal, dalam mempraktikkan PHBS
 Sasaran sekunder adalah para pemuka masyarakat,
baik pemuka informal (misalnya pemuka adat,
pemuka agama dan lain-lain) maupun pemuka formal
(misalnya petugas kesehatan, pejabat pemerintahan
dan lain-lain), organisasi kemasyarakatan dan media
massa.
 Mereka diharapkan dapat turut serta dalam upaya
meningkatkan PHBS pasien, individu sehat dan
keluarga (rumah tangga) dengan cara: Berperan
sebagai panutan dalam mempraktikkan PHBS.
 Turut menyebarluaskan informasi tentang PHBS dan
menciptakan suasana yang kondusif bagi PHBS.
Berperan sebagai kelompok penekan (pressure group)
guna mempercepat terbentuknya PHBS
 Sasaran tersier adalah para pembuat
kebijakan publik yang berupa peraturan
perundang-undangan di bidang kesehatan
dan bidang-bidang lain yang berkaitan serta
mereka yang dapat memfasilitasi atau
menyediakan sumber daya.
 Mereka diharapkan turut serta dalam upaya
meningkatkan PHBS pasien, individu sehat
dan keluarga (rumah tangga) dengan cara:
 Memberlakukan kebijakan/peraturan
perundangundangan yang tidak merugikan
kesehatan masyarakat dan bahkan
mendukung terciptanya PHBS dan kesehatan
masyarakat.
 Membantu menyediakan sumber daya (dana,
sarana dan lain-lain) yang dapat
mempercepat terciptanya PHBS di kalangan
pasien, individu sehat dan keluarga (rumah
tangga) pada khususnya serta masyarakat
luas pada umumnya.
Semua aktivitas/ kegiatan ssorg, baik yang
dapat diamati atau tidak, yang berkaitan
dengan pemeliharaan dan peningkatan
kesehatan.

3 klasifikasi perilaku kesehatan


1. Health Maintenance
2. Health seeking behavior
3. Perilaku kesehatan Lingkungan

9/15/2019 18
 Adalahperilaku individu untuk memelihara/
menjaga kesehatan agar tidak sakit dan
usaha untuk penyembuhan bila sakit

Perilaku pemeliharaan kesehatan terdiri dari 3


aspek:
a.Perilaku pencegahan penyakit, dan
penyembuhan bila sakit serta pemulihan bila
sembuh
b. Perilaku peningkatan kesehatan
c. Perilaku gizi(makanan) dan minuman
9/15/2019 19
=> adalah upaya/ tindakan individu saat menderita
penyakit & atau kecelakaan
Perilaku mulai dari mengobati sendiri (self
treatment) sampai mencari pengobatan keluar
negeri

Perilaku kesehatan lingkungan


 Bagaimana individu merespon lingkungan, baik
lingkungan fisik, sosial budaya dan sebagainya,
sehingga lingkungan tersebut tidak
mempengaruhi kesehatannya Contoh: bagaimana
mengelola pembuangan tinja,air limbah,sampah,
dll

9/15/2019 20
KLASIFIKASI PERILAKU KESEHATAN
Becker (1979)
1. Perilaku sehat (healthy Behavior)
2. Perilaku sakit (Illness Behavior)
3. Perilaku peran orang sakit (The sick Role
Behavior)

9/15/2019 21
1. Perilaku Sehat
( Healthy Behavior )
Merupakan perilaku atau kegiatan yang berkaitan
dengan upaya mempertahankan dan meningkatkan
kesehatan,a.l:
a. Makan dengan menu seimbang
b. Kegiatanfisiksecaracukupdanteratur
c. Tidak merokok,minum minuman keras dan
narkoba
d. Istirahat yang cukup
e. Pengendalian/manajemenstress f.
Perilaku/gayahiduppositif

9/15/2019 22
2. Perilaku Sakit
( Illness Behavior )
Berkaitan dengan tindakan atau kegiatan org yang sakit
dan/ terkena masalah kesehatan pada dirinya atau
keluarganya.
Pada saat ssorg / klg nyasakit,ada beberapa perilaku
yang muncul,a.l:
a. Didiamkansaja (no action )
b. Mengambil tindakan dengan melakukan pengobatan
sendiri( self treatment atau self medication ) cara
tradisional dan cara modern
c. Mencari penyembuhan atau pengobatan kefasilitas
yankes

9/15/2019 23
3. Perilaku Peran Orang Sakit
(the Sick Role Behavior )
Orang yang sakit memiliki peran,yang mencakup
hak-haknya dan kewajiban sebagai orang sakit
Perilaku Peran orang sakit ini adalah:
a. Perilaku untuk mencari kesembuhan
b. Perilaku untuk mengenal fasilitas kesehatan yang
tepat utk memperoleh kesembuhan
c. Tidak melakukan sesuatu yang merugikan bagi
proses kesembuhannya
d. Melakukan kewajiban agar tidak kambuh
penyakitnya

9/15/2019 24
 Strategi Perubahan Perilaku
 a) Inforcement (Paksaan)
- Perubahan perilaku dilakukan dengan paksaan, dan
atau menggunakan peraturan atau perundangan
- Menghasilkan perubahan perilaku yang cepat, tetapi
untuk sementara (tidak langgeng)
 b) Persuasi, Dapat dilakukan dengan persuasi
melalui pesan, diskusi dan argumentasi.

9/15/2019 26
 c) Fasilitasi, Strategi ini dengan penyediaan sarana
dan prasarana yang mendukung. Dengan penyediaan
sarana dan prasarana ini akan meningkatkan
Knowledge (pengetahuan). Untuk melakukan
strategi ini memerlukan beberapa proses yakni
kesediaan, identifikasi dan internalisasi.
 d) Education :Perubahan perilaku dilakukan melalui
proses pembelajaran, mulai dari pemberian
informasi atau penyuluhan-penyuluhan.
Menghasilkan perubahan perilaku yang langgeng,
tetapi makan waktu lama.

9/15/2019 27
Ada sepuluh determinan sosial yang dapat
mempengaruhi kesehatan
1. Kesenjangan sosial
 Masyarakat dengan kelas sosial ekonomi lemah,
biasanya sangat rentan
 dan beresiko terhadap penyakit, serta memiliki
harapan hidup yang
 rendah.
2. Stres
 Stres merupaka keadaan psikologis/jiwa yang labil.
Kegagalan
 menanggulangi stres baik dalam kehidupan sehari-
hari di rumah dan di
 lingkungan kerja akan mempengaruhi kesehatan
seseorang.
9/15/2019 29
3. Pengucilan sosial
 Kehidupan di pengasingan atau perasaan terkucil
akan menghasilkan
 perasaan tidak nyaman, tidak berharga, kehilangan
harga diri, akan
 mempengaruhi kesehatan fisik maupaun mental.
4. Kehidupan dini
 Kesehatan masa dewasa ditentukan oleh kondisi
kesehatan di awal kehidupan.
 Pertumbuhan fisik yang lambat, serta dukungan emosi
yang kurang baik pada
 awal kehidupan akan memberikan dampak pada
kesehatan fisik, mental, dan
 kemampuan intelektual masa dewasa.

9/15/2019 30
5. Pekerjaan
 Stres di tempat kerja meningkatkan resiko terhadap penyakit dan
kematian.
 Syarat-syarat kesehatan di tempat kerja akan membantu
meningkatkan derajat
 kesehatan.
6. Pengangguran
 Pekerjaan merupakan penopang biaya kehidupan. Jaminan
pekerjaan yang
 mantap akan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan bagi
diri dan
 keluarganya.
7. Dukungan sosial
 Hubungan sosial termasuk diantaranya
 adalah persahabatan serta
 kekerabatan yang baik
 dalam keluarga dan juga di tempat kerja

9/15/2019 31
8. Penyalahgunaan napza
 Pemakaian napza merupakan faktor memperburuk kondisi kesehatan,
 keselamat dan kesejahteraan. Napza atau pemakaian narkoba, alkohol, dan
 merokok akan memberika dampak buruk terhadap kehidupan sosial ekonomi
 masyarakat.
9. Pangan
 Ketersediaan pangan, pendayagunaan penghasilan keluarga untuk pangan,
 serta cara makan berpengaruh terhadap kesehatan individu, keluarga dan
 masyarakat. Kekurangan gizi maupun kelebihan gizi berdampak terhadap
 kesehatan dan penyakit.
10. Transportasi
 Transportasi yang sehat, mengurangi waktu berkendara, meningkatkan
 aktivitas fisik yang memadai akan baik bagi kebugaran dan kesehatan. Selain
 itu, mengurangi waktu berkendara dan jumlah kendaraan akan mengurangi
 polusi pada manusia.

9/15/2019 32
Definisi
 Ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungan
 Para ahli psikologi sosial sepakat bahwa stigma adalah
 Labeling: pemberian cap pada seseorang
 Stereotyping: tindakan menyamaratakan seseorang dalam satu kelompok setelah
hanya mengenal 1 atau beberapa diantaranya
 Cognitive separation: anggapan bahwa seseorang berbeda secara kognitif
 Emotional reaction

Jenis-jenis Stigma

1. Self sigma/perceived stigma


 Saat seseorang menyalahkan dan mengisolasi diri mereka sendiri
2. Stigma by assosiation
 Saat selurruh keluarga mendapat stigma karena salah satu anggota keluarganya
3. Rer stigma
 Persepsi/perasaan yang nyata terhadap sesorang dan bukan datang dari orang
tersebut

9/15/2019 34
 Proses terjadinya stigma:

1. Stigma aktual/experience
 Jika ada orang atau masyarakat yg melakukan tindakan nyata, baik
verbal/nonverbal yg menyebabkan orang lain dibedakan dan disingkirkan
2. Stigma potensial
 Jika tindakan stigma belum terjadi tetapi ada tanda atau perasaan tidak
nyaman sehingga orang cenderung tidak mengakses pelayanan kesehatan
3. Stigma internal/stigmatisasi diri
 Seseorang menghakimi dirinya sendiri sebagai “tidak berhak”, “tidak disukai
masyarakat”.

Penyebab stigma
 Tidak adanya pengetahuan, kesalahpahaman dan ketakutan
 Penilaian moral tentang orang lain
 Ketakutan akan kematian
 Tidak adanya pengenalan atau pemahaman

9/15/2019 35
 Definisi WHO : “gender adalah konsep yang mengacu pada peran
dan tanggungjawab perempuan dan laki-laki yang terjadi akibat
dari dan dapat berubah oleh konstruksi/ keadaan sosial budaya
masyarakat”
 Gender adalah konstruksi sosial dan budaya atau ‘jenis kelamin
sosial dan budaya’
 Gender merujuk pada
 perbedaan antara perempuan dan laki-laki sejak lahir
 tumbuh kembang dan besar melalui proses sosialisasi di lingkungan
keluarga dan masyarakat
 Kata “gender” dapat diartikan sebagai perbedaan peran, fungsi,
status dan tanggungjawab pada laki-laki dan perempuan sebagai
hasil dari bentukan (konstruksi) sosial budaya yang tertanam
lewat proses sosialisasi dari satu generasi ke generasi berikutnya
 Dengan demikian gender adalah hasil kesepakatan antar manusia
yang tidak bersifat kodrati. Oleh karenanya gender bervariasi
dari satu tempat ke tempat lain dan dari satu waktu ke waktu
berikutnya. Gender tidak bersifat kodrati, dapat berubah dan
dapat dipertukarkan pada manusia satu ke manusia lainnya
tergantung waktu dan budaya setempat
9/15/2019 36
 kesenjangan perempuan dan laki-laki dalam
hal akses, peran atau partisipasi, kontrol dan
manfaat yang diperoleh mereka dalam
pembangunan kesehatan

 kesenjangan tersebut harus menjadi


perhatian dalam menyusun
kebijakan/program sehingga bisa lebih
terfokus, efisien dan efektif dalam mencapai
sasaran
9/15/2019 37
 Anemia  Sirosis hepatis
 Osteoporosis (8x)  Silikosis
 DM  Kanker paru
 Hipertensi
 Schizofrenia
 Depresi (2-3x)
 Hernia
 Angka kematian
akibat kanker  PJK
payudara / rahim
 Gizi buruk (micro
nutrient)

Perempuan Laki-laki

9/15/2019 38
 Terbatasnya akses terhadap air bersih pada perempuan,
 Perempuan mempunyai akses yang lemah terhadap keuangan
keluarga
 Norma terhadap ketidakadilan gender mempengaruhi interaksi
laki-laki dengan pasangan wanitanya banyak hal
 pencegahan transmisi HIV dan penyakit IMS
 penggunaan alat kontrasepsi
 prilaku laki-laki dalam mencari pelayanan kesehatan
 pembagian peran dan tugas rumah tangga
 pola parenting (proses bertindak sebagai orang tua).
 Streotipi maskulin menyebabkan seorang laki-laki
 harus berani
 pengambil resiko berprilaku agnesi
 tidak menunjukkan sifat lemah berhubungan dengan angka penggunaan
alkohol dan Narkoba lebih tinggi pada laki-laki di seluruh belahan
dunia.
 angka kesakitan dan kematian akibat kecelakaan lalu lintas dan tindak
kriminal.

9/15/2019 39
 Perbedaan peran laki-laki dan perempuan
mempengaruhi persepsi perasaan tidak
nyaman serta mempengaruhi keinginan untuk
menyatakan dirinya sakit.
 Tidak masuknya target perempuan pada
studi-studi klinis patologis,
 Pelayanan Kelurga Berencana lebih fokus
pada perempuan dibanding laki-laki

9/15/2019 40
 Ketimpangan peran dan relasi gender, perempuan tidak
dengan serta merta mengakses pelayanan kesehatan karena:
 Jam pelayanan (waktu) di sarana pelayanan kesehatan seringkali
tidak sesuai dengan kesibukan ibu rumah tangga.
 Dalam keadaan sakit perempuan harus mendapatkan ijin suami
untuk berkunjung ke sarana pelayanan kesehatan.
 Perempuan dengan penyakit IMS cenderung tidak ke sarana
kesehatan karena takut dengan stigma sosial yang ‘miring’
atau negatif tentang perempuan penderita Penyakit Menular
Seksual.
 Terbatasnya akses terhadap
 biaya,
 jarak/transportasi,
 informasi dan teknologi.

9/15/2019 41
 Perempuan lebih rentan dibanding laki-laki
terhadap infeksi HIV melalui hubungan
heteroseksual.
 Perempuan lebih banyak terpajan oleh penyakit
IMS yang menyebabkan peningkatan risiko infeksi
HIV/ AIDS.
 Studi menunjukkan bahwa perempuan
mempunyai risiko terinfeksi dua sampai empat
kali lebih besar
 Banyak kasus IMS pada perempuan bersifat
asimptomatik (tidak bergejala) yang
mengakibatkan lambatnya diagnosis dan
pengobatan

9/15/2019 42
1. Pemahaman petugas kesehatan dan pembuat kebijakan tentang isu
gender
2. Mengintegrasikan gender pada program dan layanan kesehatan seksual
dan reproduksi (termasuk layanan HIV) akan berkontribusi pada
kualitas layanan dan perlindungan klien, terutama mereka yang sangat
rentan.
3. Menantang norma-norma gender yang merugikan, seperti kekerasan,
stereotipe maskulin dan feminin dengan ketrampilan komunikasi
diantara pasangan
4. Memastikan akses pendidikan/ketrampilan untuk semua gender.
5. Edukasi untuk semua anak/remaja/dewasa muda laki-laki dan
perempuan mengenai HIV, IMS, seksualitas, dan relasi.
6. Melibatkan laki-laki (EX. pada kunjungan pemeriksaan antenatal dan
VCT),
7. Membuka akses pada teknologi baru dan metode pencegahan yang
dapat dikendalikan oleh perempuan (seperti kondom perempuan dan
mikrobisida),
8. Menyediakan layanan kesehatan seksual dan reproduksi yang
berkualitas dan konfidensial.

9/15/2019 43
 Terima kasih

9/15/2019 44