Anda di halaman 1dari 13

Penyakit Jantung

Koroner
Herlin Indah Bangalino
Incidence
“An estimated 17.7 million people died from CVDs in 2015, representing 31% of all
global deaths. Of these deaths, an estimated 7.4 million were due to coronary
heart disease and 6.7 million were due to stroke.”

Source : http://www.who.int  17 May 2017


“Data Riskesdas tahun 2013 menunjukkan, prevalensi tertinggi untuk penyakit
Kardiovaskuler di Indonesia adalah PJK, yakni sebesar 1,5%. Dari prevalensi
tersebut, angka tertinggi ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (4,4%) dan terendah
di Provinsi Riau (0,3%). Menurut kelompok umur, PJK paling banyak terjadi pada
kelompok umur 65-74 tahun (3,6%) diikuti kelompok umur 75 tahun ke atas (3,2%),
kelompok umur 55- 64 tahun (2,1%) dan kelompok umur 35-44 tahun (1,3%).”
Source : http://www.depkes.go.id  29 Juli 2017
PJK  Penyempitan arteri
koronaria akibat aterosklerosis.

Gangguan pasokan oksigen dan


nutrient ke dalam jaringan
miokard akibat penurunan aliran
darah koroner.
Canadian Cardiovascular Society Grading System for effort –related angina,

Functional Class Canadian Society (FCCS I-IV)

Grade I - Angina with strenuous, rapid, or prolonged exertion (Ordinary


physical activity such as climbing stairs does not provoke angina.)
Grade II -Slight limitation of ordinary activity (Angina occurs with postprandial,
uphill, or rapid walking; when walking more than 2 blocks of level ground or
climbing more than 1 flight of stairs; during emotional stress; or in the early
hours after awakening.) (1 block = 100-250 m)
Grade III -Marked limitation of ordinary activity (Angina occurs with walking 1-
2 blocks or climbing a flight of stairs at a normal pace.)
Grade IV-Inability to carry on any physical activity without discomfort (Rest
pain occurs.)
1. Angina Pektoris Stabil
Sindrom klinis yang ditandai dengan rasa tidak nyaman di dada atau
substernal agak di kiri, yg menjalar ke leher, rahang, bahu/punggung
kiri sampai dengan lengan kiri dan jari-jari bagian ulnar. APS  dipicu
oleh stres fisik, namun hilang dengan istirahat atau pemberian
nitrogliserin.
2. Sindrom Koroner Akut
Keadaan gangguan aliran darah coroner parsial hingga total ke miokard
secara akut.
- Angina pektoris tidak stabil  manifestasi khas angina, tanpa peningkatan
enzim biomarka jantung, dengan atau tanpa perubahan EKG yang
menunjukkan iskemia.
- Infark miokard tanpa elevasi segmen ST (NSTEMI)  manifestasi khas
angina, disertai peningkatan enzim penanda jantung, tanpa adanya
gambaran elevasi segmen ST pd EKG
- Infark miokard dengan elevasi segmen ST (STEMI)  manifestasi khas
angina, disertai peningkatan enzim penanda jantung, dengan adanya
gambaran elevasi segmen ST pd EKG
Klasifikasi SKA

ESC Guidelines for the management of Acute Coronary Syndrome in patients without
persistent ST Elevation.2011
 Elevasi Segmen ST pada J Point pada 2 lead yg berhubungan
 ≥0.25 mV Pada laki-laki dibawah 40th
STEMI  ≥0.2 mV pada laki-laki diatas 40th, or ≥0.15 mV pada wanita di
lead V2–V3 dan/atau ≥0.1 mV pada lead lainnya

Depresi Segmen ST horizontal/downsloping baru ≥ 0.1 mV pada 2 lead


NSTEMI/UAP yg berhubungan
T Inverted ≥ 0.1 mV

ESC Guidelines for the management of acute myocardial infarction in patients presenting
with ST-segment elevation. 2011.
The Spectrum of ACS
Non-cardiac Stable UAP NSTEMI STEMI
chest pain angina

Clinical finding Atypical Exertional Rest pain, Post-MI, DM, Ongoing


pain pain Prior Aspirin pain
Negative ST-T wave ST
EKG changes elevation

Serum markers Negative Positive

Risk assessment Low Low Medium-high STEMI


probability risk risk

Diagnostic Aspirin, heparin/low-molecular-


rule out MI/ACS Thrombolysis
weight heparin (LMWH) +
pathway Primary PCI
clopidogrel
Anti-ischemic Rx
Early conservative therapy
Negative
Aspirin + GP IIb/IIIa inhibitor
clopidogrel + heparin/
Discharge LMWH + anti-ischemic Rx
DM=diabetes mellitus. Early invasive Rx
Cannon, Braunwald. Heart Disease. 2001.