Anda di halaman 1dari 11

TRANFORMASI UNSUR SULFUR (S)

OLEH:

ALDO AGTALARIK 1610231002


MOLI MONIKA SARI 1610231018
DINA OKTAVIANI 1610232029
SULFUR DI DALAM TANAH

Total S dalam tanah bervariasi mulai dari sangat sedikit sampai dengan 1000 mg S per
kg tanah (0.1%), nilai yang lebih tinggi dapat ditemui pada tanah-tanah bermasalah seperti tanah
salin dan tanah sulfat masam (Takkar, 1988; Genesmurthy et. al., 1989). Sulfur dalam tanah
terdapat dalam bentuk organik dan anorganik.
Bentuk S anorganik penting ada dalam tanah sebab sebagian besar sulfur diambil oleh
tanaman dalam bentuk SO42- (sulfat), begitu juga bentuk S organik juga penting ada dalam tanah
karena dapat meningkatkan total S tanah (Prasad dan Power, 1997). Sebagian besar bentuk sulfur
di dalam tanah adalah S organik (Stevenson, 1982). Hampir semua sulfur dalam tanah tropis yang
tidak dipupuk terdapat dalam bentuk organik. Kadar S dalam tanah bervariasi dan dipengaruhi
oleh penambahan sulfur dari bahan organik, air irigasi, udara, pupuk dan pestisida.
Sulfur diserap oleh tanaman dalam bentuk sulfat (SO42-) dan hanya sebagian kecil
sulfur dalam bentuk gas SO2 yang diserap langsung oleh tanaman dari tanah dan atmosfer.
Bentuk S tersebut merupakan S anorganik yang bersifat aktif di dalam tanah. Sulfur anorganik
dihasilkan dari dekomposisi senyawa organik yang mengandung S dan dari pupuk pembawa S
(Engelstad, 1997). Bentuk sulfur anorganik yaitu SO42- terlarut, SO42- terjerap, SO42- tak larut
dan S anorganik tereduksi. SO42- terlarut dan terjerap merupakan fraksi sulfur
yang dapat tersedia bagi tanaman (Tisdale et.al, 1985).
TRANSFORMASI UNSUR S
SULFUR DI DALAM TANAH

Kandungan sulfat terlarut dalam tanah menurut Prasad dan Power (1997) bervarasi
tergantung dari beberapa faktor yaitu :
• Temperatur : menentukan kecepatan mineralisasi bahan organik tanah.
• Curah hujan : Curah hujan yang tinggi akan meningkatkan pencucian unsur S
• Asosiasi dengan kation : kehilangan akibat pencucian akan meningkat ketika kation
monovalen seperti Na dan K banyak dalam tanah dan berasosiasi dengan sulfat.
• Kadar air tanah : Air tanah berpengaruh terhadap kandungan sulfat dalam larutan tanah
dengan dua cara yaitu konsentrasi sulfat dalam larutan tanah menurun dengan meningkatnya
kadar air tanah (pengaruh pengenceran) dan saat pengeringan tanah karena evapotranspirasi
yang tinggi akan terjadi pergerakan sulfat dari lapisan bawah ke lapisan atas melalui kapiler
dan menyebabkan peningkatan konsentrasi sulfat pada larutan tanah lapisan atas.
• Aplikasi pupuk yang mengandung S : Pemupukan akan meningkatkan kandungan S pada
larutan tanah. Sulfur dalam bentuk SO42- dapat terjerap pada mineral liat, hidroksida dan
oksida dari besi dan alumunium, dan bahan organik tanah. Mineral liat silikat tipe 1:1 seperti
kaolinit menyerap sulfat lebih besar dari pada mineral liat silikat tipe 2:1. Sulfat terjerap
merupakan fraksi penting dari total S yang menyokong tanaman pada tanah oxisol dan ultisol.
SULFUR DI DALAM TANAH

Di daerah tropika basah seperti Indonesia sulfat mudah hilang dari tanah
melalui berbagai cara, yaitu terangkut oleh tanaman dan organisme tanah, tererosi,
dan tercuci. Pengelolaan tanah dan tanaman menentukan keberadaan sulfat karena
erosi. Tekstur yang kasar mempercepat kehilangan sulfat.
Pencucian sulfat dari lapisan bagian atas tanah dapat merupakan
penyebab terjadinya kekurangan S dibagian tersebut. Jerapan sulfat dipengaruhi
oleh sejumlah sifat tanah, antara lain: jumlah (kadar) dan tipe mineral liat,
hidroksida, horison atau ke dalaman tanah, pH, konsentrasi sulfat, waktu
kehadiran anion lain dan bahan organik (Tisdale et al. 1985).
Nisbah C:N:S dalam bahan organik adalah sekitar 125 : 10 : 1.2. Dalam
keadaan aerobik bakteri yang sama dapat mengoksidasi S menjadi H2S04. Unsur S
dapat pula dioksidasi oleh bakteri Khemotropik dari genus Tiobacillus (Mengel
dan Kirkby, 1987).
SULFUR

Ketersediaan S dalam tanah tergantung pada beberapa faktor terutama redoks potensial tanah,
kandungan bahan organik, aktivitas mikroorgnisme tanah, kualitas air pengairan dan air hujan (Blair et.al.,
1977). Penambahan sulfur baik yang berasal dari bahan organik maupun anorganik pada beberapa sistem
pertanian dapat meningkatkan bahan organik, total sulfur organik, dan mineralisasi S. Tanaman mendapatkan
sulfat tersedia selain dari tanah dan pupuk yang membawa S juga mendapatkan sulfur dari air pengairan, air
hujan, dan udara. Oleh karena itu untuk menduga kebutuhan sulfur tanaman dalam rangka penentuan dosis
pupuk tidak cukup hanya berdasarkan pengamatan S tanah. Dalam keadaan anaerob seperti pada lahan sawah
yang tergenang terjadi reduksi sulfat menjadi sulfida.
Menurut Anwar (2000), bahwa sulfat bertendensi tidak mantap dalam lingkungan anaerobik.
Reduksi sulfat menjadi sulfida (H2S) oleh bakteri Desulvovibrio desulfuricans, yang selanjutnya bereaksi
dengan ion Fe2+ dalam larutan dan membentuk ferro sulfida (FeS) atau “macknawite”, kemudian bereaksi
dengan sulfur (S) dan menghasilkan FeS2 (ferro disulfida) dengan reaksi sebagai berikut :
Fe(OH)2 + H2S -> FeS + 2 H2O
FeS + S +e -> FeS2
Reaksi tersebut berkaitan dengan oksidasi bahan organik (elektron donor atau proton donor) atau
respirasi yang memerlukan alternatif elektron akseptor (Oksigen, Nitrat, Oksida mangan, besi, sulfat yang
akan direduksi). Reaksi tersebut akan mengakibatkan berkurangnya sulfat tersedia bagi tanaman di dalam
tanah.
SULFUR

Sulfat dalam tanah aerob dapat tereduksi oleh bakteri membentuk H2S yang pada
gilirannya akan bereaksi dengan logam-logam berat menghasilkan sulfida-sulfida yang sangat tidak
larut. Selain itu, tingginya kandungan Ca2+ pada tanah dapat mengurangi kelarutan SO42-
(Engelstad, 1997). Oleh karena itu pada tanah-tanah alkalin dan tanah yang dikapur berlebihan
tanaman sering mengalami kekurangan sulfur.
Senyawa organik yang dilepaskan eksudat akar dan mikroba memegang peranan
penting dalam menentukan ketersediaan ion sulfat dalam tanah. Kimura et.al. (1991) menyatakan
bahwa ion sulfat dalam tanah akan direduksi oleh H2 yang berasal dari eksudat dan H2 yang
dilepaskan oleh bahan organik. Sejumlah sulfur ditemukan pada horizon permukaan dalam
bentuk S organik. Secara umum S organik pada top soil permukaan lebih tinggi dari pada subsoil.
Secara umum jumlah S yang termineralisasi dari tanah secara tidak langsung
berhubungan dengan tipe tanah, C, N atau S, C:N, N:S, C:S rasio, pH tanah, atau N yang
termineralisasi. Rasio C:S menunjukkan ukuran kemudahan bahan organik melepaskan sulfat ke
dalam tanah. Freney (1986) mengemukakan bahwa SO42+ dilepaskan dari bahan organik pada
saat C:S rasio dibawah 200 dan diimobilisasi saat rasio lebih besar dari 400. Immobilisasi dan
mineralisasi terjadi keduanya pada saat rasio antara 200 dan 400. Oleh
karena itu, pupuk organik yang akan diberikan harus telah dikomposkan terlebih dahulu sehingga
nilai rasio C:S nya dibawah 200.
TRANSFORMASI UNSUR FE (BESI)

OLEH:

ALDO AGTALARIK 1610231002


MOLI MONIKA SARI 1610231018
DINA OKTAVIANI 1610232029
BESI (FE)

Besi adalah logam yang dihasilkan dari bijih besi, dan jarang dijumpai
dalam keadaan unsur bebas. Besi atau ferrum biasanya bersimbol Fe.
Kelarutan besi tergantung kepada nilai pH dan ketersediaan karbon dioksida.
Iron ferro sebagai Fe (OH)2 dapat dilarutkan sampai 100 ppm pada pH 8 dan
sampai 10.000 ppm pada pH 7.
Dalam ketersediaan karbon dioksida kelarutan ferro carbonate 1
sampai 10 ppm pada pH antara 7 dan 8, meskipun dapat menjadi 100 ppm
untuk pH 6 sampai 7. Untuk mendapatkan unsur besi, campuran lain mesti
disingkir melalui pengurangan kimia. Besi dalam bentuk zat besi amat penting
bagi semua organisme, kecuali bagi sebagian kecil bakteria. Tempat huni
bakteri besi ini dalam perairan asam dari pabrik bijih logam yang mengandung
sulfida logam seperti pirit besi (FeS2). Bakteri melakukan penyediaan asam
belerang dan regenerasi dari Fe, komponen ini terpakai pada pelapisan biji
logam
TRANSFORMASI FE (BESI)

Di antara bakteri pengoksidasi besi, yang terkenal ialah Thiobacillus


ferrooxidans. Spesies ini dapat hidup ototrof dengan menggunakan ion besi dan
sulfur sebagai donor elektron. Yang lainnya ialah Sulfolobus dari
golongan Archaea dan bakteri Gallionella, Leptothrix. Reaksi umumnya: Fe2+ +
bakteri besi à Fe3+. Dengan kata lain, ion ferro atau besi (II) dioksidasi oleh
bakteri besi menjadi ion ferri atau besi (III). Oksidasi besi ini dapat
berlangsung secara anaerob maupun aerob.
SIKLUS BESI