Anda di halaman 1dari 43

SUDDEN DEATH

LAPORAN JAGA 20 JANUARI 2019


DPJP
dr. Bianti H.M,. MH. Sp. KF
Residen Jaga :
dr. Anton
dr. Liya
Coass Jaga
19 Januari 2019

• David Sudarman (UKRIDA) • Putri Yunanda (Abdurrab)


• Mohamad Yanuar (UKRIDA) • Avilla Ane Lukito (TRISAKTI)
• R. Bobby W.S (Abdurrab) • Nenny Yunitasari (TRISAKTI)
• Retha Arvina (Abdurrab) • Putri Hidayah (TRISAKTI)
SURAT PERMINTAAN
VISUM
IDENTITAS
A. TEMUAN YANG BERKAITAN DENGAN IDENTITAS JENAZAH:

1. Identitas Umum Jenazah

a. Jenis kelamin : Laki-laki


b. Umur : kurang lebih 25
tahun
a. Berat badan : 54 kg
b. Panjang badan : 162 cm
c. Warna kulit : Sawo matang
d. Warna pelangi mata : Hitam
e. Ciri rambut : Warna hitam, lurus,
panjang, distribusi merata
f. Keadaan gizi : Kesan gizi cukup
(20,7 kg/m²)
IDENTITAS KHUSUS JENAZAH

Tato : sebuah tato pada bahu kiri hingga siku kiri

a. Tato: Bentuk abstrak, Panjang = 36,5 cm,


lebar = 18,5 cm , warna hitam
IDENTITAS KHUSUS JENAZAH
Tahi lalat : Tahi lalat terbesar pada punggung kiri
b. Tahi lalat: Bentuk oval, diameter = 0,5cm, batas tegas,
warna hitam
IDENTITAS KHUSUS JENAZAH

c. Jaringan parut : tidak ada


d. Tanda lahir : tidak ada
e. Cacat lahir : tidak ada
f. Penutup jenazah : sebuah kain warna putih, bahan katun, tanpa merek, berukuran panjang
170 cm x lebar 108 cm dengan motif garis-garis warna biru, kuning, hijau, merah dan ungu
IDENTITAS KHUSUS JENAZAH

g. Pakaian :

h. Perhiasan : tidak ada


TEMUAN YANG BERKAITAN
DENGAN PERKIRAAN WAKTU
KEMATIAN
PERKIRAAN WAKTU KEMATIAN
• Lebam Mayat : terdapat pada tengkuk, punggung, pinggang, bokong dan
anggota gerak bawah, berwarna merah keunguan, hilang dengan penekanan
• Kaku Mayat : terdapat pada kelopak mata, rahang bawah, dan anggota gerak
atas, dapat dilawan
• Pembusukan : tidak ada
TEMUAN DARI
PEMERIKSAAN TUBUH
BAGIAN LUAR
TEMUAN DARI TUBUH BAGIAN LUAR

Permukaan Kulit Tubuh


1. Kepala:
• Daerah berambut : tidak ada kelainan
• Wajah : terdapat sebuah luka lecet pada dahi sisi kanan,
ukuran panjang 1 cm dan lebar 0,8 cm
TEMUAN DARI TUBUH BAGIAN LUAR

2. Leher : tidak ada kelainan


3. Bahu : tidak ada kelainan
4. Dada : tidak ada kelainan
5. Punggung : tidak ada kelainan
6. Perut : tidak ada kelainan
7. Pinggang : tidak ada kelainan
8. Panggul : tidak ada kelainan
9. Bokong : tidak ada kelainan
10. Dubur : tidak ada kelainan
TEMUAN DARI PEMERIKSAAN
TUBUH BAGIAN LUAR
11. Anggota gerak : jaringan di bawah kuku tampak kebiruan
.
BAGIAN TUBUH TERTENTU
BAGIAN TUBUH TERTENTU

• Alis mata : hitam, tidak ada kelainan


• Bulu mata : hitam, tidak ada kelainan
• Kelopak mata : tidak ada kelainan
• Selaput kelopak mata : terdapat pelebaran pembuluh darah
• Selaput bening mata : tidak ada kelainan
• Selaput biji mata : terdapat pelebaran pembuluh darah
• Manik mata : bentuk bundar, ukuran diameter 5 millimeter
• Pelangi mata : warna hitam, tidak ada kelainan
BAGIAN TUBUH TERTENTU

- Bentuk hidung : tidak ada kelainan


- Permukaan kulit hidung : tidak ada kelainan
- Lubang Hidung : tidak ada kelainan
- Bentuk telinga : tidak ada kelainan
- Permukaan daun telinga : tidak ada kelainan
- Lubang telinga : tidak ada kelainan
- Bibir atas & bawah : tampak kebiruan
- Selaput lendir : tampak kebiruan
- Lidah : tidak ada kelainan
- Rongga mulut : tidak ada kelainan
BAGIAN TUBUH TERTENTU

Gigi - Geligi
BAGIAN TUBUH TERTENTU

• Alat kelamin : laki - laki


• Pelir : sudah disunat, tampak keluar
cairan warna putih pada lubang pelir
• Kantung pelir : teraba dua buah biji pelir
dalam kantung pelir.
TULANG - TULANG

• Tulang tengkorak
• Tulang wajah
• Tulang-tulang dada
• Tulang belakang
Tidak ada kelainan
• Tulang-tulang panggul
• Tulang anggota gerak
Kesimpulan

Berdasarkan temuan-temuan yang didapatkan dari pemeriksaan atas


jenazah tersebut maka saya simpulkan bahwa jenazah adalah seorang
laki-laki, umur kurang lebih dua puluh lima tahun, kesan gizi cukup.
Pada pemeriksaan didapatkan tanda akibat kekerasan tumpul berupa
luka lecet pada dahi. Didapatkan tanda mati lemas. Sebab kematian
tidak dapat ditentukan dari pemeriksaan luar yang dilakukan sesuai
permintaan penyidik. Waktu kematian diperkirakan dua hingga enam
jam sebelum pemeriksaan dilakukan.
TINJAUAN PUSTAKA
Traumatologi

– Berasal dari kata ‘trauma’ dan ‘logos’


– ‘Trauma’: kekerasan atas jaringan tubuh yang masih
hidup (living tissue)
– ‘Logos’: ilmu
= Ilmu yang mempelajari semua aspek yang berkaitan
dengan kekerasan
terhadap jaringan tubuh manusia yang masih hidup
Dahlan, Sofwan. Ilmu Kedokteran Forensik. 2
000
Traumatologi

Trauma

Mekanik Fisika Campuran Kimiawi

Baro Senjata Asam Basa


Tajam Tumpul Kaca Listrik Petir Suhu
trauma api

Memar Lecet Robek Suhu Suhu


tinggi rendah
LUKA LECET (VULNUS EXCORIASI)

 Gambaran rusaknya lapisan kulit tapi belum sampai ke bagian di


bawah kulit.
 Lecet dapat disebabkan oleh gesekan atau tekanan, berdarah
maupun tidak (bergantung pada robek tidaknya pembuluh kapiler
dermis).
 Pada kasus lecet akibat gesekan, arah gesekan dapat diperkirakan
dari tampakan kulit yang terkelupas maupun dengan pemeriksaan
mikroskopis (pada ujung luka akan didapatkan gambaran
penumpukan sel kulit).

DiMaio, V. J., DiMaio, D., “Blunt Trauma Wounds”, Forensic Pathology 2nd ed, CRC Press, Boca Raton, 2001.
Burke, M. P., “Classification of Injuries”, Forensic Pathology for Fractures and Mechanisms of Injury: Postmortem CT Scanning, CRC Press, Boca Raton, 2012, p. 37.
Knight, B., Saukko, P., “The Pathology of Wounds”, Knight’s Forensic Pathology 3rd ed., Arnold Publishers, London, 2004, p. 138.
Klasifikasi luka lecet

Budiyanto, Arief, et all. Ilmu Kedokteran Forensik Edisi Pertama. Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. 1997.
FASE PENYEMBUHAN
LUKA LECET
FASE INFLAMASI
Pada luka akibat putusnya pembul
uh darah, terjadi perdarahan dan u
ntuk menghentikan perdarahan ini
maka akan terjadi vasokonstriksi.
Dalam hal ini dangat berperan ada
lah trombosit dan leukosit (proses
fagositosis).
http://www.medicinestuffs.com/2017/02/pros
es-penyembuhan-luka.html
FASE PENYEMBUHAN
LUKA LECET
FASE PROLIFERASI
Pada fase ini terjadi proliferasi fibroblas
t yang berperan dalam pembentukan k
olagen. Luka akan dipenuhi oleh sel rad
ang, fibroblast dan kolagen, membentu
k jaringan yang berwarna kemerahan d
engan permukaan yang berbenjol halus
(granuler), maka jaringan ini disebut jar
ingan granulasi. Jika luka sudah cukup t
http://www.medicinestuffs.com/2017/02/
proses-penyembuhan-luka.html erisi jaringan granulasi maka terjadi pro
ses epitelisasi. Sel epitel tepi luka yang
terdiri dari sel basal terlepas dari dasar
nya dan berpindah mengisi permukaan
luka.
FASE PENYEMBUHAN
LUKA LECET
FASE REMODELING
Tubuh berusaha mengembalikan j
aringan abnormal (penyerapan ke
mbali jaringan yang berlebihan), p
engerutan dan akhirnya perupaan
kembali jaringan baru. Sel-sel mud
a menjadi matang, kapiler-kapiler
baru menutup, kolagen yang berle
bih diserap.
http://www.medicinestuffs.com/2017/02/proses-penyembu
han-luka.html
SUDDEN DEATH

Kematian yang tidak terduga, non traumatis, non self-inflicted fatality, yang
terjadi dalam 24 jam sejak onset gejala
(Simpson, 1985).

Kematian yang terjadi dalam waktu 24 jam sesudah timbul gejala-tanda


penyakit yang tak terduga menyebabkan kematian dengan keadaan
sebelumnya korban normal.
(WHO)
Sistem Kardiovaskular 48%

Sistem Pernapasan 24%

Sistem Saraf 19%


Penyebab Kematian

Sistem Pencernaan 7%

Sistem Urogenital 2,3%


Penyakit jantung iskemik
• Spasme arteri  insufisiensi darah  iskemia miokard  infark
Penyakit katup jantung
• Sianosis aorta /ruptur katup
Penyakit pembuluh darah
• Aneurisma  ruptur aorta
• Koartasio  ruptur dan diseksi aorta
Kardiomiopati alkoholik
• Langsung :toksik
• Tidak langsung :bersamaan psikotropik

Sovari AA. Sudden Cardiac Death. J Cardiology 2014. Available at: https://emedicine.medscape.com/article/151907-overview
FAKTOR RISIKO PENYAKIT JANTUNG

1. Usia > 35

2. Obesitas

3. Laki-laki>perempuan

4. DM Hipertensi

5. Gaya hidup: merokok, aktivitas fisik <<

6. Stress

Katritsis G, Gersh BJ, Camm AJ. Clinical perspective on sudden cardiac death. 2015. AERJournal.
SISTEM PERNAPASAN

PERDARAHAN ASFIKSIA
• tb paru, ca paru, • Pneumonia, spasme
bronkiektasis dan saluran napas, asma,
abses PPOK, & choking

Pneumotoraks

Graham MA. Pathology of Asphyxial Death. J Pathology 2016. Available at : https://emedicine.medscape.com/article/1988699-overview#showal


Arif Budiyanto, Wibisana Widiatmaka, Siswandi Sudiono, T Winardi Abdul Mun'im, Sidhi, Swasti Hertian, et al. Ilmu Kedokteran Forensik. 2 ed1997.
l
SISTEM SARAF

Meningitis
Infeksi yang terjadi pada selaput otak

Syok
gangguan sirkulasidarah  perfusi jaringan dan organ yang tidak adekuat.

Arif Budiyanto, Wibisana Widiatmaka, Siswandi Sudiono, T Winardi Abdul Mun'im, Sidhi, Swasti Hertian, et al. Ilmu
Kedokteran Forensik. 2 ed1997.
PENYAKIT GASTROINTESTINAL
 Penyakit esofagus dan  Penyakit usus halus, usus besar,
lambung dan pankreas
 Pecah varises esofagus  Komplikasi peritonitis dan gangren
(komplikasi sirosishepatis) usus
 Perdarahan akibat gastritis  Strangulasi herniainguinalis, hernia
kronis/ulkus peptikum femoralis dan valvulus

Penyakit hati

Hepatitis virus yang meluas yang dapat


menyebabkan nekrosis luas

Arif Budiyanto, Wibisana Widiatmaka, Siswandi Sudiono, T Winardi Abdul Mun'im, Sidhi, Swasti Hertian, et al. Ilmu
Kedokteran Forensik. 2 ed1997.
ASPEK MEDIKOLEGAL

Bila suatu kasus kematian mendadak menimbulkan kecurigaan bagi penyidik, penyidik
berhak meminta bantuan dokter untuk mencari penyebab kematiannya melalui otopsi
berdasarkan KUHAP Pasal 133, 134, dan 135
PASAL 133

1. Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka keracunan
ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang
mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli
lainnya.
2. Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang
dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat atau
bedah mayat.
3. Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman harus diperlakukan secara baik dengan penuh
penghormatan terhadap mayat tersebut diberi label indentitas mayat dengan diberi cap jabatan
diletakan di ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat

KUHAP, Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981


PASAL 134

1. Dalam hal sangat diperlukan dimana untuk keperluan pembuktian bedah mayat tidak mungkin lagi di
hindari, penyidik wajib memberitahukan terlebih dahulu kepada keluarga korban.
2. Dalam hal keluarga keberatan, penyidik wajib menerangkan dengan sejelas - jelasnya tentang maksu
d dan tujuan perlu dilakukannya pembedahan tersebut.
3. Apabila dalam waktu dua hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga atau pihak yang diberi tahu
tidak dikeketemukan, penyidik segera melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksudkan dalam
pasal 133 ayat (3) undang-undang ini

KUHAP, Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981


PASAL 135

Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan perlu melakukan penggalian mayat,
dilaksanakan menurut ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat (2)
dan pasal 134 ayat (1) undang-undang ini

KUHAP, Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981


ANALISIS KASUS

Jenazah laki-laki, usia


kurang lebih 25 tahun, Identitas
kesan gizi cukup.

Jaringan di bawah kuku tampak kebiruan, selaput lendir mulut kebiruan,


tanda mati selaput kelopak mata dan selaput biji mata tampak pelebaran pembuluh darah
lemas , tampak keluar cairan warna putih pada lubang pelir

Sebab Tidak dapat ditentukan dengan pemeriksaan yang dilakukan


kematian

Waktu
Diperkirakan dua sampai enam jam sebelum pemeriksaan
kematian
THANK YOU