Anda di halaman 1dari 27

PEMBERIAN OBAT MELALUI

ORAL DAN TOPIKAL

WELLY
AKSI OBAT : kemampuan obat

Waktu Paruh : Interval waktu yang


dibutuhkan utk proses eliminasi tubuh utk
mengurangi konsentrasi obat didalam tubuh
separuhnya.
Ex : waktu paruh 8 jam, awalnya 100 %.
Setelah 8 jam : 50 %
Setelah 16 jam : 25 %
Setelah 24 jam : 12,5 %
Setelah 32 jam : 6,25 %
Farmakokinetik : suatu proses yang
mencakup nasib obat dalam tubuh.
Mulai dari absorbsi ekskresi

Bioavailibilitas : kadar obat yg mencapai


sirkulasi darah.
Obat lambung usus 12 jari
Vena porta hepatika hepar
V. Cava inferior jantung
Seluruh TUBUH
Farmakokinetik :
1. Absorbsi : proses penyerapan obat dari
tempat pemberian, menyangkut kelengkapan.

2. Distribusi : setelah diabsorbsi obat akan


didistribusikan keseluruh tubuh melalui
sirkulasi darah.
ex : transportasi obat dari tempat absorsi
ke tempat aksi (target organ)
3. Biotransformasi : proses perubahan
struktur obat yang terjadi dalam tubuh dan
dikatalis oleh enzim.
ex : molekul obat diubah menjadi lebih
polar atau lebih mudah larut dalam air dan
kurang larut dalam lemak. Sehingga lebih
mudah diekskresi melalui ginjal

4. Ekskresi : proses dikeluarkannya obat dari tubuh


melalui berbagai organ eksresi dalam bentuk metabolit
hasil biotransformasi
ex : obat atau metabolit polar diekskresi lebih cepat
dari pada obat larut lemak. Organ ekskresi yaitu
ginjal, paru-paru, dan kulit.
Faktor – faktor yg mempengaruhi
aksi obat :
1. Usia
2. Waktu pemberian
3. Berat badan
4. Jenis kelamin
5. Lingkungan
6. Faktor genetik
7. Kondisi Individu
Efek OBAT ??
1. Efek terapeutik : efek yang diinginkan,
efek utama
Ex :- Morfin sulphat : analgesia
- Diazepam : penenang,mengurangi
kecemasan
2. Efek samping : efek sekunder, efek yg
tidak diinginkan, dapat diprediksi
Ex : Digitalis : meningkatkan konstraksi
miokard
ES : mual, muntah
3. Toksisitas efek obat yang merusak
disebabkan oleh :
- overdosis
- obat eksternal : ditelan
- Gangguan metabolisme / ekskresi :
ggn.hepar, ggn.ginjal
4. Alergi reaksi imunologi terhadap obat
pada orang yang sudah pernah kontak dengan
obat tersebut sebelumnya
ex: alergi -> penisilin

Terpapar pertama kali dengan zat/obat shg


tubuh memproduksi anti body
5. Toleransi Obat: terjadi pada orang yang
respon fisiologi terhadap obat rendah dan
membutuhkan peningkatan dosis utk
mempertahankan efek terapeutik.
- opiat : menghilangkan nyeri
- barbiturat
6. Interaksi Obat : terjadi pada pemberian
obat sebelum, bersamaan atau sesudah obat
lain merubah efek satu obat atau keduanya.
Efeknya : - meningkat
- menurun/menghambat
Contoh interaksi obat:
 Aspirin + kodein : me kan efek
menurunkan sakit
 Tetrasiklin + antasid : membentuk komponen yg
tidak dpt diabsorbsi, menggumpal
 Tetrasiklin + susu : menggumpal
 Cimetidin : menghambat enzim dgn menurunkan
metabolisme teofilin, agar konsentrasi teofilin
dalam plasma meningkat, maka dosis perlu
diturunkan
 Quinidin : menurunkan ekskresi digoksin ->
toxisitas
RIWAYAT PENGOBATAN
1. Obat apa yang diterima saat ini / terakhir kali.
- Obat dokter (dengan resep dokter) ?
- Obat bebas / warung ?
- Obat terlarang ?
2. Riwayat alergi obat
- Tanyakan pada pasien, apakah ada riwayat
alergi terhadap obat tertentu.
- Kemungkinannya : pasien mengetahui/ tdk
3. Kaji kemungkinan ketergantungan obat
Pemberian Obat Secara Oral

• cara yang paling banyak dipakai karena ini


merupakan cara yang paling mudah, murah,
aman, dan nyaman bagi pasien.
• Memberikan obat melalui mulut dan proses
melalui sistem pencernaan
• bentuk obat dapat di berikan secara oral
baik dalam bentuk tablet, sirup, kapsul
atau puyer
Beberapa jenis obat dapat
CARA mengakibatkan iritasi lambung
dan menyebabkan muntah
PEMBERIAN (mislanya garam besi dan
OBAT (ROUTE) Salisilat). Untuk mencegah hal
ini, obat di persiapkan dalam
bentuk kapsul yang diharapkan
1. Oral tetap utuh dalam suasana asam
Indikasi : di lambung, tetapi menjadi
- Pasien harus hancur pada suasana netral atau
dapat menelan basa di usus. Dalam memberikan
- obat dapat obat jenis ini, bungkus kapsul
bertahan dalam gtidak boleh di buka, obat tidak
lambung boleh dikunyah dan pasien di
Kontra indikasi: beritahu untuk tidak minum
- muntah-muntah antasaid atau susu sekurang-
- Kuras/bilas kurangnya satu jam setelah
lambung/usus minum obat.
- pasien tidak
sadar
Jenis – Jenis Obat Per Oral
1. PIL
obat yang di campur dengan bahan kohesif
dalam bentuk lonjong, bulat atau lempengan
2. Tablet
obat bubuk yang dipadatkan dalam bentuk
lonjong atau lempengan. Tablet dapat di
patahkan untuk mempermudah dalam menelan
3. Bubuk
• obat yang di tumbuk halus. Bubuk ini tidak
dapat larut dalam air dan dapat di berikan
kepada penderita
4. Drase
obat - obatan yang di bungkus oleh selaput tipis
gula. Harus di telan secara utuh karena dapat
mengandung obat - obatan yang mempunyai
kemampuan untuk mengiritasi selaput lendir
lambung pasien
5. Kapsul
Suatu obat di persiapkan dalam bentuk kapsul
dengan harapan agar tetap utuh dalam suasana
asam lambung tetapi menjadi hancur pada
suasana netral atau basa di usus. bungkus kapsul
tidak boleh di buka, obat tidak boleh dikunyah
dan pasien diberitahu untuk tidak minum susu
atau antacid sekurang kurangnya satu jam
setelah minum obat.
6. Sirup
Disini kita memakai sendok pengukur, gelas pengukur
(yang kecil), atau botol tetesan. Kadang -kadang sirup
sebelum diminum harus dikocok terlebih dahulu.
Pemberiannya harus dilakukan dengan cara yang paling
nyaman khususnya untuk obat yang pahit atau rasanya
tidak enak. Pasien dapat diberiminum dingin (es)
sebelum minum sirup tersebut. Sesudah minum sirup,
pasien dapat diberi minum, pencuci mulut atau kembang
gula.
Oral
Peralatan
a. Baki obat
b. Kartu rencana pengobatan
c. Cangkir disposible untuk tempat obat
d. Martil dan lumpang penggerus
Oral

Tahap Kerja:
a. Siapkan peralatan dan cuci tangan
b. Kaji kemampuan pasien untuk dapat minum
obat per oral (kemampuan menelan, mual dan
muntah, akan dilakukan penghisapan cairna
lambung, atau tidak boleh makan/minum).
c. Periksa kembali order pengobatan
d. Ambil obat sesuai yang diperlukan.
e. Siapkan obat-obatan yg akan diberikan
(gunakan teknik aseptik, jangan menyentuh
obat dan cocokkan dgn order pengobatan)
Oral
Tahap Kerja:
f. Beri obat pada waktu dan cara yg benar yi dgn
cara :
 Yakin pasien benar
 Atur posisi pasien duduk bila mungkin
 Kaji tanda-tanda vital pasien
 Berikan cairan/air yg cukup u membantu menelan,
anjurkan pasien meletakkan obat di lidah bagian
belakang, kemudian pasien dianjurkan minum
 Bila obat mempunyai rasa tidak enak, beri es
batu/pisang
 Tetap bersama pasien sampai obat ditelan
g. Catat tindakan, kembalikan peralatan, evaluasi
stlh 30 menit
Sublingual
 Letakkan di bawah lidah, jangan ditelan.
 Biarkan sampai tablet hancur dan terserap.
 Obat beraksi dlm 1 menit dan efekx dalam
3 menit.
Sublingual
 Letakkan di bawah lidah, jangan ditelan.
 Biarkan sampai tablet hancur dan terserap.
 Obat beraksi dlm 1 menit dan efekx dalam
3 menit.
 tidak boleh minum atau makan apapun
sampai obat itu hilang.
Bukal
 Letakkan di antara gigi dengan selaput
lendir pda pipi bagian dalam
• buccal dan sublingual hendaklah diracik
dengan bahan pengisi yang lunak, yang tidak
merangsang keluarnya air liur
• obat dilepaskan dari tablet, bahan aktif
diabsorpsi tanpa melewati saluran
gastrointestinal
• kedua tablet ini hendaklah dirancang untuk
tidak pecah, tetapi larut secara lambat,
biasanya dalam jangka waktu 15-30 menit,
agar penyerapan berlangsung dengan baik
(Lachman, dkk, 2008).
KEUNTUNGAN TABLET SUBLINGUAL DAN BUKAL

1. Cocok untuk jenis obat yang dapat dirusak


oleh cairan lambung atau sedikit sekali
diserap oleh saluran pencernaan.
2. Bebas First Pass Metabolism.
3. Proses absorpsinya cepat karena langsung
diabsorpsi melalui mukosa mulut, sehingga
diharapkan dapat memberikan efek yang
cepat juga.
KERUGIAN TABLET
SUBLINGUAL DAN BUKAL
1. Hanya sebagian obat yang dapat dibuat
menjadi tablet sublingual dan bukal
karena obat yang dapat diabsorpsi melalui
mukosa mulut jumlahnya sangat sedikit.
2. Untuk obat yang mengandung
nistrogliserin pengemasan dan
penyimpanan obat memerlukan cara
khusus karena bahan ini mudah menguap.
Contoh tablet sublingual

tablet nitrogliserin dan bukal adalah


tablet hormon–hormon steroid.
TOPIKAL
• Pemberian obat topikal untuk kulit bertujuan untuk
mempertahankan hidrasi lapisan kulit, melindungi permukaan
kulit, menciptakan anestesi lokal dan mengatasi infeksi,
abrasi dan iritasi
• Penggunaan obat topkal kulit harus dilakukan secara
bijaksana karena penggunaan yang berlebihan pada kulit akan
mengganggu absorpsi obat
• Pada anak-anak penggunaan obat topikal perlu ditutup area
yang sakit dengan pembalut kering karena anak suka
berusaha menggosok obat.

• Penggunaan obat topikal pada lanjut usia harus dilakukan
dengan hati-hati karena kulit telah menipis dan rapuh.