Anda di halaman 1dari 28

KELAS IX C

 DINDA RUHZHITA
 ARKA PRATAMA
 AFIRA DELIANA SATRIA
 MUHAMMAD AZMI ATHALLAH
 SHOPI
 FAJAR BARUHHDIN
 Orde berasal dari bahasa Latin yaitu kata “ordo” yang berarti
deretan, susunan, kelas, aturan, atau ketertiban. Oleh karena itu,
pengertian orde dapat diartikan sebagai suatu bagian/anggota
yang memiliki banyak unsur yang diatur melalui prinsip
tertentu. Prinsip-prinsip tersebut dapat mengatur bagaimana
hubungan antara unsur yang satu dengan yang lainnya,
sehingga timbul suatu kesatuan yang tersusun baik.
 Orde lama adalah masa pemerintahan Setelah kemerdekaan,
Indonesia mengalami beberapa periode pemerintahan
diantaranya orde lama, orde baru, dan reformasi.Orde
lama adalah sebutan bagi periode pemerintahan di bawah
kepemimpinan Presiden Soekarno yang berlangsung pada
tahun 1945 sampai tahun 1968. Pada periode ini, Presiden
Soekarno berlaku sebagai Kepala Negara dan Kepala
Pemerintahan.
 Pada masa orde lama, sistem pemerintahan di Indonesia
mengalami beberapa peralihan. Indonesia pernah
menerapkan sistem pemerintahan presidensial,
parlementer, demokrasiliberal, dan sistem pemerintahan
demokrasi terpimpin. Berikut penjelasan sistem
pemerintahan masa Soekarno:
 Pada tahun 1945-1950, terjadi perubahan sistem pemerintahan dari
presidensial menjadi parlementer. Dimana dalam sistem pemerintahan
presidensial, presiden memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai badan
eksekutif dan merangkap sekaligus sebagai badan legislatif.
 Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno ini juga terjadi
penyimpangan UUD 1945. Berikut Penyimpangan UUD 1945 yang
terjadi pada masa orde lama:
 Fungsi Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) berubah, dari
pembantu presiden menjadi badan yang diserahi kekuasaan legislatif
dan ikut menetapkan GBHN yang merupakan wewenang MPR.
 Terjadinya perubahan sistem kabinet presidensial menjadi
kabinet parlementer.
 Pada tahun 1950, Soekarno menetapkan sistem pemerintahan
bagi Indonesia. Sistem yang dipakai adalah sistem pemerintahan
demokrasi liberal. Di dalam sistem ini, presiden hanya bertindak
sebagai kepala Negara, presiden hanya berhak mangatur
formatur pemilihan kabinet. Oleh karena itu, tanggung jawab
pemerintahan ada di tangan kabinet. Presiden tidak dapat
bertindak sewenang-wenang terhadap jalannya pemerintahan.
Adapun kepala pemerintahan dipegang oleh seorang Perdana
Menteri.
 Pada masa demokrasi liberal ini, partai-partai seperti PNI dan
PKI, Masyumi memiliki partisipasi yang sangat besar di dalam
pemerintahan. Mereka mendapatkan kursi-kursi di dalam
parlemen (Dewan Perwakilan Rakyat) sebagai perwakilan rakyat
Indonesia. Atas dasar amanat Undang-undang Dasar Sementara
1950, maka dibentuklah kabinet yang bertanggung jawab kepada
parlemen. Setiap kabinet yang berkuasa harus mendapatkan
dukungan mayoritas dari perlemen, jika tidak mandate yang
telah diberikan haru sdikembalikan lagi kepada presiden. Setelah
itu, dibentuk kembai kabinet baru untuk menggantikan kabinet
selanjutnya agar dapat menjalankan roda pemerintahan.
 Kabinet-kabinet yang pernah berkuasa sejak dimulainya
penerapan sistem pemerintahan demokrasi liberal adalah
kabinet Natsir (1950-1951), kabinet Sukiman-Suwirjo (1951-
1952), kabinet Wilopo (1952-1953), kabinet Ali
Sastroamidjojo I (1953-1955), kabinet Burhanuddin Harahap
(1955-1956), kabinet Ali Sastroamidjojo II (1956-1957), dan
kabinet Djuanda (1957-1959). Oleh karena itu, satu hal yang
menjadi ciri dasar pada sistem pemerintahan ini adalah
kabinet yang sering berubah-ubah.
 Dalam menjalankan kebijakannya, kabinet-kabinet yang
terbentuk banyak mengalami hambatan terutama dari tubuh
parlemen itu sendiri. Bentuk Negara yang belum sempurna,
adanya beberapa daerah yang masih dibawah kekuasaan
Belanda, dan adanya perbedaan kepentingan politik antar
anggota parlemen membuat kabinet yang ada susah untuk
menjalankan kebijakan-kebijakannya.
 Pada masa demokrasi liberal ini, Indonesia berhasil
menjalankan pemilu pertama pada tanggal 29
September 1955 dengan agenda untuk memilih anggota
parlemen yang akan dilantik pada 20 Maret 1956. Pada
pemilu ini juga, Indonesia berhasil membentuk suatu
badan yang bertugas untuk menyusun konstitusi tetap
dari Negara Indonesia yang diberi nama dengan Badan
Konstituante.
 Berbagai kekacauan yang terjadi saat diterapkannya demokrasi liberal,
memaksa Indonesia untuk mulai membentuk suatu sistem
pemerintahan baru yang lebih baik. Maka pada tahun 1959, Soekarno
selaku presiden pada saat itu memperkenalkan suatu sistem
pemerintahan baru yang diberi nama Demokrasi Terpimpin.
Perbedaan mendasar antara sistem pemerintahan demokrasi liberal
dan demokrasi terpimpin terletak pada kekuasaan presiden. Di dalam
demokrasi liberal, parlemen memiliki kekuasaan yang luas untuk
menjalankan pemerintahan dan pengambilan keputusan Negara.
Namun di dalam sistem demokrasi terpimpin, presiden lah yang
memiliki kekuasaan tersebut, bahkan presiden memikili kekuasaan
hampir seluruh bidang pemerintahan.
 Secara resmi, Indonesia mulai menerapkan sistem demokrasi
terpimpin sejak dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 oleh
presiden Soekarno. Maka pada saat itu, kabinet Djuanda
dibubarkan dan digantikan dengan kabinet kerja yang dipimpin
oleh Soekarno sendiri selaku perdana menteri dan Ir.Djuanda
selaku menteri pertama. Pada masa pemerintahan ini, focus
kebijakan berada di sector pangan, sandang, dan pembebasan
Irian Barat. Di masa ini juga, Indonesia membentuk badan-
badan eksekutif maupun legislative seperti MPRS, DPRS, DPA,
Depernas, dan Front Nasional.
 Salah satu peristiwa yang paling membekas dalam sejarah perjalanan
bangsa Indonesia adalah peristiwa G30S/PKI yang masih menuai
kontroversi sampai sekarang. Salah satu versi tentang pergerakan ini
timbul dari pemerintahan orde baru yang menyatakan bahwasanya
gerakan ini dilakukan untuk merebut kekuasaan tertinggi yang
berada di tangan Soekarno selaku pimpinan tertinggi Angkatan
Bersenjata dan Presiden Seumur Hidup berdasarkan konsep dalam
sistem Demokrasi terpimpin. Tindakan ini dipimpin oleh Partai
Komunis Indonesia (PKI) dengan bantuan beberapa organisasi-
organisasi underbouw yang masih tersisa pasca peristiwa 1948.
 Dampak-dampak yang ditimbulkan akibat gerakan ini antara lain
adalah :
 Penyelesaian terhadap G30S/PKI ini sejatinya akan
diputuskan saat sidang Dwikora pada tanggal 6 Oktober
1965. Namun, massa yang sudah tidak sabar menuntut
agar penyelasaian ini dilaksanakan secepatnya dengan
cara seadil-adilnya. Maka timbullah berbagai
demonstrasi massa menuntut hal tersebut.
 Pada saat tengah berlangsungnya sidang Kabinet Dwikora yang
dipimpin oleh Presiden Soekarno, ajudan presiden melaporkan
bahwa di luar istana terdapat pasukan yang tidak dikenal.
Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Soekarno
menyerahkan pimpinan sidang kepada Wakil Perdana Menteri
Dr.Johannes Leimena dan beliau berangkat menuju istana Bogor
didampingi oleh Waperdam I Dr.Subandrio dan Waperdam II
Chairul Saleh.
 Di tempat yang lain, tiga orang perwira tinggi Angkatan Darat
yaitu Mayor Jenderal Basuki Rachmat, Brigadi rJenderal
M.Yusuf, dan Brigadir Jenderal Amir Mahmud bertemu dengan
Letnan Jenderal Soeharto selaku Panglima
Kostrad/Pangkopkamtib untuk meminta izin menghadap
Presiden. Setelah mendapatkan izin, mereka berangkat menuju
Bogor dan melaporkan kepada Soekarno bahwa ABRI
khususnya AD sudah dalam kondisi siap siaga, namun mereka
juga meminta presiden untuk mengambil kebijakan untuk
mengatasi keadaan ini.
 Menanggapi laporan tersebut, presiden Soekarno
mengeluarkan Surat Perintah Sebelas Maret atau yang
lebih dikenal dengan nama Supersemar yang ditujukan
kepada Letjen Soeharto selaku Pangkopkamtib untuk
mengambil tindakan dalam rangka menjamin
keamanan, ketenangan, dan stabilitas pemerintahan
demi keutuhan NKRI.
 Dalam rangka menjalankan Supersemar, Soeharto menjalankan
beberapa kebijakan untuk menangkap dan meruntuhkan rezim
PKI dan pengikut-pengikutnya di Indonesia. Kebijakan-
kebijakan tersebut meliputi :
 Pembubaran dan pelarangan PKI dan ormas-ormasnya
 Menangkap 15 orang menteri kabinet Dwikora yang dicurigai
terlibat PKI
 Membersihkan DPRGR dan MPRS dari orang-orang PKI
 Pembentukan Kabinet Ampera
 Kebijakan-kebijakan ini dirasa cukup untuk menanggapi Tiga
Tuntutan Rakyat (Tritura) yang dilancarkan untuk menjaga
stabilitas Negara sejak dilancarkannya G30S/PKI. Di dalam
Kabinet Ampera itu sendiri, Soekarno medapatkan tempat
selaku pimpinan. Akan tetapi, pelaksanaan kebijakan tetap
dipegang oleh Presidium Kabinet yang dipimpin oleh
Jend.Soeharto. akibatnya, terjadi dualisme kepemimpinan yang
menjadi kondisi kurang menguntungkan mengingat stabilitas
Negara yang belum normal.
 Soekarno kala itu masih memiliki pengaruh politik, namun
kekuatannya perlahan-lahan dilemahkan. Kalangan militer
kebertaan dengan kebijakan-kebijakan yang dimabil oleh
Soekarno yang dirasa berpihak kea rah komunisme. Ditambah
dengan mengalirnya bantuan dari Uni Soviet dan Tiongkok
semakin menambha kecurigaan mereka terhadap presiden
Soekarno.
 Akibatnya, pada 22 februari 1967, dalam rangka untuk mengatasi konflik yang
semakin memanas, presiden Soekarno menyerahkan kekuasaan kepada
Jend.Soeharto. penyerahan kekuasaan ini dilengkapi dengan Pengumuman
Presiden Mandataris MPRS, Panglima Tertinggi ABRI tanggal 20 februari
1967. Pengumuman tersebut dilatarbelakangi atas ketetapan MPRS
No.XV/MPRS/1966 yang menyatakan apabila presiden berhalangan, maka
pemegang Supersemar yang memegang jabatan presiden. Pada 4 Maret 1967,
Jenderal Soeharto memberikan keterangan pemerintah di hadapan sidang
DPRHR mengenai terjadinya penyerahan kekuasaan. Namun, pemerintah
tetap berpendirian bahwa sidang MPRS perlu dilaksanakan agar penyerahan
kekuasaan tetap konstitusional. Karena itu, diadakanlah Sidang Istimewa
MPRS pada tanggal 7-12 Maret 1967 di Jakarta, yang akhirnya secara resmi
mengangkat Soeharto sebagai presiden Republik Indonesia hingga terpilihnya
presiden oleh MPR hasil pemilihan umum.
 KELEBIHAN
 Indonesia berhasil merebut kembali Irian Barat dari Belanda
melalui jalur diplomasi dan militer
 Indonesia berhasil menginisiasi berdirinya Gerakan Non- Blok
melalui KTT Asia- Afrika di Bandung pada tahun 1955
 Indonesia berhasil menunjukkan eksistensi yang patut
diperhitungkan oleh kedua blok raksaksa dunia pada masa itu
 Mampu membangun integritas nasional
 Merupakan negara yang mempunyai prinsip yang kuat
 Kelemahan
 Sistem demokrasi terpimpin
 Situasi politik yang tidak stabil terlihat dari banyaknya
pergantian kabinet yang mencapai 7 pergantian kabinet yaitu:
 -1950-1951-Kabinet Natsir
 -1951-1952-Kabinet Sukiman-Suwirjo
 -1952-1953-Kabinet Wilopo
 -1953-1955-Kabinet Ali Sastroamidjojo I
 -1955-1956-Kabinet Burhanuddin Harahap
 -1956-1957-Kabinet Ali Sastroamidjojo II
 -1957-1959-Kabinet Djuanda
 Pertentangan ideologi antara nasionalis, agama dan komunis
(NASAKOM)
 -Tidak adanya kesepakatan antara Dewan Konstituante dan
DPR untuk memutuskan apakah akan diberlakukan UUD yang
baru atau kembali menggunakan UUD 1945
 - Terjadinya inflasi yang mengakibatkan harga kebutuhan
pokok menjadi tinggi
 - Membubarkan DPR oleh presiden (soekarno)
Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa
membawa konsekuensi logis bahwa nilai-nilai pancasila
dijadikan landasan pokok, landasan fundamental bagi
penyelenggaraan negara Indonesia.
TERIMAKASIH