Anda di halaman 1dari 43

Jurnal Translasi

GEJALA KLINIS DAN DIAGNOSTIK


YANG DAPAT DIANDALKAN PADA REFLUKS
FARINGOLARINGEAL ANAK

Oleh
Tince Sarlin Nalle

Pembimbing
dr Putu Amelia Agustini Siadja SpTHT-KL
dr I Wayan Sulistiawan SpTHT-KL
dr A.A.G.B Tri Kesuma M.Biomed SpTHT-KL
dr I Wayan Suwandara SpTHT-KL
dr Luh Witari Indrayani M.Biomed SpTHT-KL
Gejala RFL pada anak biasanya tidak jelas

Refluks Berhubungan dengan komorbid yang


laringofaringeal sering diabaikan dokter THT dan dokter
anak anak

Ada gejala tumpang tindih dengan GERD


sehingga sering diterapi inisial sebagai
GERD
Kesadaran meningkat karena
gejala berhubungan dengan saluran napas
dan perkembangan alat mutakhir
Refluks
laringofaringeal
anak Ada hubungan antara gejala pernapasan,
penemuan endoskopi dan hasil tes
diagnostik
Definisi

Menurut Belafsky 2007 :

Adanya aliran balik asam lambung  laring dan


faring  kontak dengan traktus aerodigestif atas
 jejas pada laringofaring serta saluran napas
bagian atas serta manifestasi faring, laring, oral
dan paru
Etiologi
Refluks secara retrograde dari asam lambung ke
faring dan laring  cedera mukosa karena trauma
langsung terjadi kerusakan silia, pembersihan
tenggorok berupa batuk berdehem,batuk kronis (
Koufman 2002, Tokashiki 2005)
Epidemiologi
• Menurut Qadeer et al(2005) prevalensi dari gejala
yang berhubungan dengan LPR pada anak berkisar
15% sampai 20% dan karena manifestasi
laringofaring yang membuat pasien datang
berobat
• Laki-laki lebih banyak daripada perempuan yaitu
sebesar 73% dan
Patofisiologi

Menurut Lipan Reidenberg dan Laitman (2006) episode refluks :


- Tekanan sfingter bawah esofagus yang rendah
- Relaksasi sfingter yang tidak adekuat saat menelan
maupun tidak menelan
- Peningkatan sementara tekanan intraabdomen di
lambung atau kombinasi antara faktor 1 dan 2
Patofisiologi
Kerusakan mukosa laring karena LPR pada anak
terjadi karena :
• Epitel pada laring lebih rentan rusak karena
refluks daripada epitel esofagus
• Pepsin  kehilangan protein pelindung laring dan
enzim karbonik anhidrase yang ekspresi enzim
karbonik anhidrase pada laring ditekan oleh
pepsin yang berada di laring.
• Perlekatan pepsin ke epitel laring dapat diaktifkan
selama episodik refluks
• Pada pasien LPR juga kekurangan faktor
pertumbuhan epidermal yang sehat (EGF)
Diagnosis

- Anamnesis : suara serak, batuk kronis dengan mukus


berlebihan, adanya stridor, sulit untuk menelan, rasa
mengganjal di tenggorokan, sulit bernapas, nyeri
tenggorok, hidung tersumbat, nyeri telinga.
- Dapat berupa gejala mual muntah gejala pernapasan
lainnya, skor RFS
- Pemeriksaan fisik : Menggunakan kaca larng atau
dengan laringoskop serat optik untuk melihat kelainan
laring, skor RSI

- Pemeriksaan penunjang : Pemantauan pH 24 jam


dengan probe tunggal atau ganda, barium
esofagogram dll
Penelitian
PENDAHULUAN

Masalah Tujuan Keuntungan

• Umur • Menilai validitas • Informasi dan


• Jenis kelamin diagnostik refluks edukasi
• Gejala laringofaringeal • Sarana
klinis diagnostik
• Temuan refluks
klinis yang laringofaringeal
ditemukan pada anak
Metode
Penelitian
Klinik anak dan TH
Kohort RS Pusat Sesre
retrospektif Milosrdnice Kroasia
1 Januari 2007- 31
Desember 2012
Research
Method Anamnesis, gejala klinis,
89 sampel (56 anak
orofaringoskopi dan
perempuan dan 33
laringoskopi,
anak laki-laki
pemantauan pH
Kriteria inklusi Kriteria ekslusi
• Tidak bersedia mengikuti
penelitian
• 1-18 tahun (89
sampel) • Pasien yang mengidap
asma dengan alergi
• Pasien yang diduga musiman
RFL berupa batuk
kronis, suara serak,
laringitis kronis,
post nasal drip, dan
sering berdehem.
• Setuju mengikuti
penelitan
- Data subjektif : Anamnesis, penemuan klinis lokal
- Data objektif : pemantauan pH esofagus selama 24 jam
- Penelitian ini telah disetujui oleh badan bioetik rumah sakit pusat
Sestre milosrdnice, Kroasia berpatokan pada deklarasi Helsinki
tahun 1983
- Inform consent orang tua dan pengasuh resmi dan anak anak yang
hendak dilakukan pemantauan pH disarankan berpuasa
Menggunakan kateter transnasal (Comfortec, USA), perekam pH
(Flexisoft, UK) dikalibrasi pada suhu 37 celcius, pH 7,01 dan pH
1,07 solusi bugger
Sejumlah kejadian refluks dicatat
Pemantauan pH dipantau gastroenterologis anak
- Pasien dengan skor probabilitas resiko LPR tinggi dengan 3 poin
- Pasien dengan skor probabilitas resiko sedang dengan 2 poin
- Pasien dengan skor probabilitas resiko rendah dengan 1 poin
Analisa penelitian

- Analisa penelitian menggunakan statistik


deskriptif standar dengan program
Medcalc
- Data n = 89 dinyatakan sebagai rasio
karena n< 100
- Semua tes signifikansi dianalisa secara
statistik menggunakan tingkat kesalahan
15% dua sisi
- Hubungan antara variabel dinilai dengan uji Eksak Fisher, Uji
Mann- Whitney dan uji Kruskal- Walls untuk sampel non
parametrik berpasangan
- Kriteria terdiagnosa positif LPR jika 5% dari total waktu pH<4 pada
probe proksimal
HASIL PENELITIAN
- Rentang umur pasien 1-18 tahun sejumlah 89 anak
yang diperiksa 50 orang memiliki refluks
laringofaringeal dengan 46 gejala klinis positif
- Sensitivitas 92% ( 95% CI : 80,75-97,73%) tetapi
spesifitas 10,26% 85% (CI 2,93-24,24%)
- Nilai prediktif positif 56,79% dan nilai prediktif negatif
50%
- Hasil pH LPR lebih buruk pada laki-laki p<0,0001.
- Pasien yang disertai skor GERD signifikan lebih buruk
p = 0,00493
Dengan kuesioner probabilitas didapatkan pasien :
1. 49 memiliki resiko rendah LPR
2. 25 memiliki resiko sedang
3. 15 memiliki resiko tinggi
Tingkatan Penyakit

Tanpa GERD

GERD ringan

GERD sedang

GERD berat

Gambar 1 Distribusi GERD menurut tingkat keparahan n = 89


Penemuan klinis
Hiperemi dan granulasi
orofaring

Laringitis posterior

Hiperemi + granulasi
orofaring + laryngitis
posterior
Nodul plika
vokalis

Normal
Gambar 2 Distribusi penemuan klinis n =
89
- Dari 5 gejala diatas yang paling tidak berhubungan secara statistik
dengan RFL dan GERD adalah disfonia dan batuk ( tes Kruskal
wallis p = 0,0133
- Grup asma, asma dan batuk secara statistik signifikan berkorelasi
dengan RFL dan stadium lanjut GERD pada anak ( tes Kruskal wallis
p=0,00493
- Komorbid gastrointestinal dianalisa didapatkan 47/89 tanpa gejala,
15/89 nyeri ulu hati, 14/89 mual, 10/89 regurgitasi, 3/89 asa, di
rongga mulut
- Ada korelasi signifikan ada resiko perkembangan terbaru yang
berhubungan dengan RFL positif ( tes Kruskal-Wallis p=0,0262
dengan tes laringoskopnya negatif.
- Diberikan terapi PPI untuk resiko sedang RFL sedang hingga berat
Gejala gejala LPR yang ditemui

Batuk kronis

Asma dan
batuk

Asma

Disfonia dan batuk

Nyeri dada
R
F
L

Korelasi antara diagnosis RFL selama pemantauan pH 24 jam dengan skor


peluang baru yang dikerjakan peneliti (Kruskal Wallis tes p = 0,0262, n =89
Hubungan antara tingkaran GERD dan skor peluang yang dikerjakan peneliti
( Kruskal-Wallis test) p = 0,0020 n = 89
DISKUSI
- Diagnosa yang andal dan optimal untuk refluks
laringofaringeal terkadang sulit dipahami
- Pola tipikal gejalanya intermiten kronis dan
tidak langsung
- Keandalan laringoskop serat optik masih belum
optimal begitu juga pH 24 jam dual probe
- Kombinasi anamnesa, temuan klinis dan
pemantauan pH saling mendukung dan tidak
dapat berdiri sendiri.
- Sering pasien dengan gejala GERD dan
ada manifestasi gejala pernapasan
kemudian dicurigai LPR ketika dilakukan
pemeriksaan pH dengan gejala dan
temuan lokalnya negatif.
- Berbagai studi melaporkan laringoskopi
serat optik sensitivitas 92% dan spesifitas
10 % kemungkinan disebabkan kriteria
penilaian subjektif
- Studi lain dimasukkan penilaian dengan
broknkoskopi mencatat oedem post
glotik, oedem aritenoid dan oedem plika
vokalis sebagai tanda awal sebagian
besar pasien
- Studi lain dengan sensitivitas tertinggi
meneliti berbagai indikasi endoskopi
seperti pengawasan trakeostomi, suara
nafas tambahan, tindak lanjut
rekonstruksi laringotrakeal, stenosis
trakea atau subglotis
Kesimpulan
01 Refluks laringofaringeal perlu
dipikirkan ketika menghadapi
anak dengan gangguan
pernapasan yang tidak jelas.

Anamnesa, pemeriksaan fisik


02 dan penunjang berupa
pemantauan pH merupakan
satu kesatuan penting
Thank You