Anda di halaman 1dari 17

REFERAT

FOBIA SEKOLAH

Di susun oleh:
Risty Rizki Oktaviana
11-2017-279

Pembimbing :
dr. Andri, Sp.KJ
BAB I
PENDAHULUAN
 Istilah perilaku menolak sekolah (school refusal behaviour), takut
sekolah (school phobia), membolos sekolah (truancy) telah banyak
mengalami perubahan. tahun 1990 berubah menjadi perilaku menolak
sekolah (school refusal behaviour).
 Istilah lain yaitu fobia sekolah telah diaplikasikan menjadi istilah yang
lebih umum, namun yang sering digunakan adalah menolak sekolah
(school refusal).
 Seringnya tidak hadir di sekolah akan mempengaruhi proses belajar
anak, prestasi akademik, dan perkembangan sosial anak. Para guru
dan pimpinan sekolah seharusnya memahami penyebab dari perilaku
menolak sekolah dan menyadari perlunya strategi intervensi yang
efektif. Fobia sekolah sering disebabkan oleh beberapa faktor yang
kompleks.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
• Definisi
Fobia sekolah

 ketidak-hadiran ke sekolah antara lain membolos (truancy),


fobia sekolah dan menolak sekolah (school refusal ).
 Membolos merupakan istilah yang awalnya diperuntukan
bagi anak-anak yang sengaja tidak hadir ke sekolah.
 Istilah fobia sekolah tidak sesuai apabila anak benar-benar
mengalami sakit atau mengalami hambatan untuk datang ke
sekolah
• Fobia sekolah sebagai bentuk fobia
spesifik.

Fobia sekolah adalah suatu ketakutan yang tidak


rasional sehingga menyebabkan penghindaran
yang disadari terhadap suatu obyek (sekolah),
aktifitas atau situasi yang ditakuti reaksi fobik
menyebabkan gangguan dalam kemampuan
seseorang untuk berfungsi dalam kehidupannya.
Etiologi
Etiologi fobia sekolah selalu mengalami perubahan dan
perdebatan dengan menghindar dari kejadian yang tidak
menyenangkan dan positive-reinforcement yang
diterima pada saat berada di rumah, menjadi motivasi
kuat bagi anak untuk menolak sekolah.
 Di lain pihak, orang tua yang gagal bekerja sama dalam
sebuah tim karena kurangnya ketrampilan orang tua
dalam pengasuhan perilaku anak yang fobia sekolah.
Pengalaman pindah sekolah baru atau menjadi siswa
baru dalam suatu komunitas yang berbeda kemudian
diiringi dengan adanya libur panjang atau kejadian
sosial dan kemampuan kecerdasan anak juga menjadi
penyebab fobia sekolah
Faktor-faktor presdiposisi dan presipitasi yang mendukung kuat
pada perkembangan fobia sekolah.
Faktor predisposisi dan presipitasi Contoh
Individu o Sensitif terhadap stres, temperamental,
kecemasan, onset dari depresi
o Tidak hadir kesekolah karena mengalami masalah
kesehatan.
o Kesulitan dalam masalah akademik

Keluarga dan lingkungan rumah o Orang tua dalam kondisi sakit


o Masalah pernikahan dan masalah keluarga
lainnya(kesulitan dalam masalah perekonomian,
tekanan/tuntutan dalam pekerjaan, masalah
dalam hubungan sosial)
o Menolak sekolah karena adanya persaingan
dengan saudara
o Ibu selalu mengkomentari prestasi
Sekolah o Pengalaman tidak menyenangkan di
sekolah (bullying) yang dilakukan
sekelompok murid, pengalaman tidak
menyenangkan ketika di kelas
bersama guru, terkucilkan dari
kelompok
o Adanya perubahan disekolah
o Tidak pernah meraih kesuksesan di
sekolah
Faktor kelompok atau grup o Meningkatnya persaingan dalam
akademik
o Masalah ekonomi yang berpengaruh
pada keefektifan sekolah
o Kekerasan/ peristiwa traumatik
disekitar lingkungan sekolah.
Jenis - Jenis Fobia Sekolah

1. Fobia sekolah tahap awal atau initial school


refusal behavior.
2. Fobia sekolah yang lebih besar atau substantial
school refusal behavior.
3. Fobia sekolah tahap akut atau biasa disebut
dengan istilah acute school refusal behavior.
4. Tingkat fobia yang paling berat adalah chronic
school refusal behavior.
Tanda-tanda atau Gejala Fobia Sekolah

 Menolak berangkat ke sekolah. Selalu mencari alasan untuk tidak sekolah


 Bersedia datang ke sekolah, tetapi tidak lama kemudian ingin pulang.
 Pergi ke sekolah sambil menangis, menempel terus dengan orang tua atau
pengasuhnya, atau menunjukkan sikap rewel seperti menjerit-jerit di kelas,
agresif dan kasar terhadap anak lainnya atau pun menunjukkan sikap-sikap
melawan gurunya.
 Menunjukkan ekspresi wajah sedemikian rupa untuk meminta belas kasih
agar diijinkan pulang – dan ini berlangsung selama periode tertentu.
 Tidak masuk sekolah selama beberapa hari.
 Keluhan fisik sering dijadikan alasan seperti sakit perut, sakit kepala,
pusing, mual, muntah-muntah, gemetaran, keringatan, atau keluhan
lainnya. Mereka berharap dengan alasan sakit, maka ia diperbolehkan
tinggal di rumah.
 Keluhan lainnya di luar keluhan fisik dengan tujuan tidak usah berangkat ke
sekolah.
 Merengek tanpa maksud yang jelas
 Merobek buku dan pakaian
 Meminta tambahan uang jajan (Bisa jadi seseorang
memaksa untuk membayar upeti setiaphari di sekolah)
 Sering kehilangan peralatan belajar di sekolah (seseorang
mungkin merampasnya)
 Sukar tidur
 Tiba-tiba kehilangan selera makan atau Selera makan yang
besar sepulang sekolah (Bisa jadi seseorang merampas
makan siangnya)
 Tiba-iba nilainya merosot
 Menjadi tertutup atau marah-marah di rumah tanpa
alasan.
 Terbirit-birit ke kamar mandi (tanyakan mengapa,
mungkin anak takut menggunakan toilet disekolah).
Diagnosis
Kriteria diagnostik DSM-IV-TR Fobia Spesifik.

o Rasa takut berlebihan yang nyata, menetap dan tidak


beralasan, dicetuskan oleh adanya atau antisipasi
terhadap suatu objek atau situasi spesifik ( contoh :
terbang, ketinggian, hewan, disuntik, melihat darah)
o Perjalann terhadap stimulus fobik hampir selalu
mencetuskan respons ansietas segera, dapat berupa
serangan panik terikat secara situasional atau serangan
panik dengan presdisposisi situasional. Pada anak,
ansietas dapat ditunjukkan dengan menangis, tantrum,
diam tidak bergerak, atau memegang erat
sesuatu/seseorang.
o Orang tersebut menyadari bahwa rasa takutnya
berlebihan tidak beralasan.
o Situasi fobik dihindari atau dihadapi dengan ansietas
maupun penderitaan yang intens.
o Penghindaran, antisipasi ansietas, atau distres pada situasi
yang ditakuti mengganggu fungsi rutin normal, pekerjaan
(atau akademik), atau aktivitas maupun hubungan sosial
secara bermakna, atau terdapat distres yang nyata karena
memeiliki fobia ini.
o Pada seseorang berusia di bawah 18 tahun, durasinya
sedikitnya 6 bulan.
o Ansietas, serangan panik, atau penghindaran fobik yang
berkaitan dengan objek atau situasi spesifik tidak
disebabkan gangguan jiwa lain, seperti gangguan obsesi
kompulsif, gangguan stress pascatrauma, atau gangguan
ansietas perpisahan, fobia sosial, gangguan panik dengan
agorafobia, atau agorafobia tanpa riwayat gangguan panik.
Tatalaksana

Terapi psikologik

 Terapi Perilaku merupakan terapi yang efektif. Seperti


o terapi desensitisasi yang sering dilakukan,
o terapi pemaparan (exposure),
o imaginal exposure,
o participent modelling,
o guided mastery, imaginal flooding.
 Psikoterapi bersifat tilikan
 Terapi lain seperti hypnotherapy, psikoterapi suportif, terapi
keluarga bila diperlukan.
Tatalaksana

Farmakoterapi

 SSRI seperti Fluoksetin, sertralin


 MAO Inhibitor seperti Phenelzine, Tranylcypromine
 Jika pasien gagal memberikan respons terhadap salah satu golongan
obat, golongan obat lain harus dicoba. Data terkini menyokong
efektivitas venfalaxine. Kombinasi SSRI atau obat trisiklik dan
benzodiazepin atau SSRI dan litium atau obat trisiklik dapat dicoba.
Tatalaksana

Psikoterapi

 Terapi Relaksasi
 Terapi Kognitif Perilaku/Cognitive-Behavioral Therapy (CBT)
 Aplikasi Relaksasi
 Psikoterapi Berorientasi Tilikan
 Psikoterapi Kombinasi dan Farmakologi
Prognosis
• Belum banyak diketahui tentang prognosis fobia, namun
kecendrungan adalah menjadi kronik dan dapat terjadi
komorbiditas dengan gangguan lain seperti depresi,
penyalahgunaan alkohol dan obat bila tidak mendapat terapi.

• Menurut National Institute of Mental Health, 75% orang


dengan fobia spesifik dapat mengatasi ketakutannya dengan
terapi kognitif perilaku, dan 80% fobia sosial membaik
dengan farmakoterapi, terapi kognitif perilaku atau
kombinasi. Pada fobia perilaku fobik dapat mengganggu
kemampuan seorang berfungsi, menyebabkan
ketergantungan finansial pada orang lain dan timbulnya
berbagai gangguan dalam kehidupan sosial, bidang
perkerjaan, dan akademik.