Anda di halaman 1dari 51

Faktor-faktor

Pembentukan Citra MRI

RUDI MAULANA BUDIANTO (P23130117075)


WINARNO SUSENO (P23130117080)
D-IV Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi
Rumusan Masalah
 Apa MRI contrast dan spin echo imaging?

 Bagaimana spatial encoding dan image production dalam MRI?

 Bagaimana scan techniques dan ciri-ciri kualitas MRI?

 Apa saja hardware pada MRI?


MR Image Contrast
 T2-weighted image
Short T2 = low signal
Long T2 = high signal
 T1-weighted image
Short T1 = high signal
Long T1 = low signal
 Most Brain pathology has long T2 and long T1
High signal on T2WI
Low signal on T1WI
 Except fat and subacut blood, which have short T1
High signal on T1WI
MR Contrast dengan Media Kontras
Kontras yang berubah dengan memvariasikan T1 dan T2 dari jaringan.

T1 dan T2 nilai-nilai yang diubah dengan mengubah jumlah fluktuasi medan magnet
dekat sebuah inti.

Ion logam paramagnetik berfungsi sebagai media kontras dengan cara meningkatkan
laju relaksasi proton-proton air yang berada dekat ion, melalui interaksi antara spin
elektron pusat paramagnetik dengan inti proton.
Kontras Agen Organ yangApplication dituju

Gd-EDTA

Gd-DTPA sistem saraf pusat

Gd-DOTA

feric amonium sitrat perut dan upper small


intestineatas usus kecil

mangafodipar trisodium luka hati

Gadodiamide sistem saraf pusat


 injeksi agen kontras ke dalam sebuah jaringan, konsentrasi agen kontras
meningkat kemudian mulai menurun karena dihilangkan dari jaringan.
 Secara umum, peningkatan kontras diperoleh oleh satu jaringan yang
memiliki afinitas yang lebih tinggi atau vascularity daripada yang lain.
 Kebanyakan tumor misalnya memiliki Gd uptake yang lebih besar
daripada jaringan sekitarnya, menyebabkan T1 yang lebih pendek dan
sinyal yang lebih besar.

Berikut tampilan kontras pada berbagai pembobotan :


pembobotan Kontras

T1 32%

T2 50%

PD 18%
Spin Echo

gradient
frequency encode readout

 RF pulse  RF pulse

signal
FID spin
echo
 Basic sequence : Spin Echo : urutan 90 – 180 – echo (secara
lengkap 90 – phase encode – 180 – frek encode)
 2 parameters
 TR : waktu antara RF pulse 90 derajat
 TE : waktu antara RF pulse 90 derajat hingga puncak echo
 Single echo : menghasilkan T1
 Aplikasi 180 derajat bisa lebih dari satu
Dikenal dengan dual echo, menghasilkan PD dan T2.
 Artefak minimal
 Kelemahan : waktu scanning lama, sehingga PD dan T2
jarang dipakai untuk pemeriksaan, hanya T1.
Parameter
 TR mengontrol T1 weighting
Short TR(250 - 700 ms) memaksimalkan T1 weighting
Long TR ( 2000 + ms) memaksimalkan PD weighting
 TE mengontrol T2 weighting
Short TE (< 10 - 25 ms) meminimalkan T2 weighting
Long TE ( 80 – 120 ms) memaksimalkan T2 weighting
Contoh Image timing dalam Spin Echo

Signal TR (ms) TE (ms) Characteris


weighting tic timing
Proton 3000 7 Long TR
density Short TE
T1 500 7 Short TR
Short TE
T2 3000 100 Long TR
Long TE
Penggunaan spin echo

 Hampir semua pemeriksaan klinik dapat dilakukan dengan spin echo

 T1 weighting memberikan gambaran anatomis organ

 T2 weghting memberikan gambaran pathologis karena adanya cairan


(odema/haemorhage) dalam jaringan

 PD memberikan gambran berdasar jumlah hidrogen proton dalam


jaringan.
T1, PD, T2
(T1= TE 20ms, TR 500ms; T2= TE 80ms, TR 2000ms)
MRI of the Brain - Sagittal

T1 Contrast T2 Contrast Proton Density


TE = 14 ms TE = 100 ms TE = 14 ms
TR = 400 ms TR = 1500 ms TR = 1500 ms
Gambaran T1 dan T2
Cervical dan Lumbal

 Sag. Cervical T1,T2  Lumbal Sag. T1,T2


Spin Echo
ADAVANTAGES DISADVANTAGES
 high signal to noise  high SAR than gradient echo
because of 900 and 1800 RF
 least artifact prone sequence
pulses
 contrast mechanisms easier to
 long TR times are incompatible
understand
with 3D acquisitions
Fast (Turbo) Spin echo
 Nama lain :
RARE = rapid acquisition with relaxation enhancement.
 Digunakan hampir 40-60% dalam pemeriksaan MRI
 Banyak digunakan untuk T2 weighted image karena waktu bisa lebih
singkat.
FAST SPIN ECHO
 Fast spin echo (FSE) sama dengan spin echo akan tetapi waktu scanning

jauh lebih singkat.

 Pada spin echo,sequencenya adalah 90 kemudian diaplikasi 180

(refocusing echo), dan hanya satu phase encoding step per TR pada

masing-masing slice sehingga hanya satu baris K-space yang terisi per TR.
 Fungsi waktu scanning : TR x NEX x phase encoding.

 Untuk bisa mengurangi waktu scanning dapat ditempuh dengan


mengurangi faktor faktor tersebut. Jika TR dan NEX dikurangi akan
berpengaruh pada image weighting dan SNR. Sedangkan bila
mengurangi phase encoding akan menurunkan resolusi.

 Pada FSE, scan time dikurangi dengan cara melakukan lebih dari
satu phase encode per TR, yang dikenal dengan Echo Train yakni
aplikasi beberapa RF pulse 180 per TR.

 Pada masing2 rephasing/refocusing, dihasilkan satu echo sehingga


dapat melakukan phase encode yang lain.
 Contoh pada SE, bila menggunakan phase matrix 256 maka 256 phase
encode harus dilakukan, bila NEX 1, maka waktu scan membutuhkan
sebesar 256 x TR

 Pada FSE dengan parameter yang sama, dengan echo train misal 16,
artinya akan dilakukan 16 phase encode setiap TR. Sehingga waktu scan
nya menjadi 256/16 x TR ==== waktu lebih singkat 1/16 nya
Penggunaan
 Contrast FSE sama dengan SE shg banyak digunakan untuk pemeriksaan.

 Pada pemeriksaan sistem syaraf pusat, pelvis dan muskuloskeletal – sudah


menggantikan penggunaan spin echo

 Pada thorax dan abdomen, kadang dapat menimbulkan respiratory


artefact shg perlu adanya respiratory compensation techniuqe
Kelemahan FSE
 Kelemahan FSE : fat tampak putih pada T2 diakibatkan karena
multiple RF pulses shg akan mengurangi efek interaksi spin-spin pada
lemak (J-coupling). Untuk mengurangi digunakan tehnik fat
saturation.

 Dengan pengulangan RF pulse dapat meningkatkan efek


magnetisation transfer, sehingga otot tampak lebih gelap pada FSE
daripada SE.

 Dengan pengulangan RF pulse juga akan mengurangi efek magnetic


susceptibility yang sangat penting bilamana melihat hemorhage yang
kecil, namun bila ada implant dr metal artifactnya tidak terlalu
muncul.

 SAR lebih tinggi dari SE


Kelemahan FSE
 Meningkatnya artefak karena flow dan motion

 Incompatible dengan beberapa opsi imaging

 Fat tampak terang pada T2 weighted

 Image blurring dapat terjadi karena koleksi data dilakukan dng TE yang
berbeda-beda

 Mengurangi efek susceptibility, tapi tidak sensitif untuk hemorage


PARAMETER FSE
 TR ; bisa lebih panjang hingga 6000 ms
 TE efektif ; tidak bisa diatur oleh operator
 ETL = ECHO TRAIN LENGTH / TURBO FACTOR
ETL/turbo factor sangat penting dalam weighting:
Short ETL: menurunkan TE efektif
meningkatkan T1 weighting
waktu scan lebih lama
more slice per TR
menurunkan image blurring
Long ETL : meningkatkan TE efektif
meningkatkan T2 weighting
mengurangi waktu scan
mengurangi jumlah slice per TR
meningkatkan image blurring
ETS : ECHO TRAIN SPACING : WAKTU ANTARA 180 DENGAN 180 PARAMETER INI TIDAK
BISA DIUBAH OPERATOR
Contoh parameter pd FSE
 T1 : Short TE eff (kurang dari 20 ms)
Short TR 300-600 ms
Turbo factor (ETL) 2-6
typical scan time 30 dtk – 1 menit
 T2 : Long TE ( 100 ms +)
Long TR ( 4000 ms +)
Turbo factor 8-20
typical scan time 2 menit
 PD/T2* : TE eff short( 20 ms)/ long Te eff 100ms
Long TR ( 2500 ms+)
Turbo factor 8-12.
typical scan time 3-4 min
GRADIENT ECHO
 KONVESIONAL GRADIENT ECHO

FLIP ANGLES ( < 90º ) dan TE

Untuk rephasing tidak menggunakan RF pulse 180, tapi menggunakan


gradient

TR dan scan time singkat.

Menghasilkan T2*, T1 and PD

Berguna utk abdomen (single breath hold), chest, MRA. Pembuluh darah
tampak hiperintense.
 Simplest sequence
alpha flip-gradient recalled echo
 3 parameters
TR
TE
flip angle
 Reduced SAR
 Artifact prone
Gradient Echo

dephase
gradient
rephase

signal

 FID gradient recalled


RF pulse echo
Gradient Echo
pulse timing

RF

slice

phase

readout
echo
signal

TE
Gradient versus Spin Echo

Spin Echo Gradient Echo

dephase
gradient gradient
frequency encode readout rephase

 RF pulse  RF pulse

signal signal

FID spin  FID gradient recalled


echo RF pulse echo
Scan Techniques
 Pertimbangan melakukan teknik scan MRI :
1. Keamanan (MR Safety)
2. Kepentingan
3. Klinis
4. Kecepatan
5. Ketepatan
6. Keindahan
Contoh Teknik Scan
 MRI Kepala (Brain)  MRI Lumbal
Scout/Localizer Scout/Localizer
DWI Cor T2
Flair Sag T2
Sag T1 Sag T1
Axial T1 Axial T2
Axial T2 Axial T1
Coronal T2 Myelografi
Sagital T2
MRI Spatial Encoding
 Memilih pengkodean spasial setiap voxel melibatkan penggunaan
gradien medan magnet. Intensitas medan magnet bervariasi secara
teratur sepanjang sumbu aplikasi gradien.
 Setiap gradien dicirikan oleh kekuatan (lebih besar atau lebih kecil variasi
bidang yang sama untuk satuan jarak), arah dan momen dan waktu
aplikasi.
 Gradien seleksi yang mengiris memodifikasi frekuensi presesi proton
sehingga sebuah RF pulsa dengan frekuensi yang sama akan
menyebabkan mereka bergeser (resonansi).
 Pengkodean frekuensi spasial hanya membutuhkan waktu beberapa
milidetik sinyal membaca, fase encoding spasial melibatkan mengulangi
urutan pencitraan.
 Dalam urutan spin echo, waktu satu langkah pengkodean dilakukan
setiap pengulangan waktu (TR).
 Sebagai nilai TR bisa sampai 3 detik, fase encoding.
 Encoding spasial dilakukan dengan gradien superimposisi terhadap
bidang.
 Ada tiga bidang dalam gradien arah x, y, dan z.
 Perubahan gradien medan magnet akan menghasilkan perubahan
resonansi frekuensi atau perubahan fase.
GRADIENT COIL SEBAGAI PEMBENTUK CITRA
 Dalam membentuk citra MR, ketiga Gradient Coil yaitu Gx, Gy dan Gz,
masing-masing memiliki fungsi khusus.

 FUNGSI GRADIENT :

1. Slice Selection

2. Frequency Encoding

3. Phase Encoding

Ketiga Gradient coil tersebut bekerja sama untuk mengkodekan signal NMR
untuk diproses menjadi citra MR
Slice selection
 Slice selection menentukan potongan / irisan jaringan dari objek yang
dinginkan.

 Untuk pencitraan axial, coronal dan sagital, pemilihan slice terjadi sepanjang
sumbu panjang magnet atau gradient coil.

Pada gambar Axial : Gradient Z melakukan pemilihan irisan (slice selection)

Pada gambar Coronal : Gradient Y melakukan Slice selection

Pada gambar Sagital : Gradient X melakukan Slice selection


Frequency Encoding
Frequency encoding
 Proses menemukan signal MR dalam satu dimensi dengan menerapkan
gradient magnet disepanjang dimensi selama periode ketika signal diterima.
 Frequency Encoding akan ON selama pengumpulan signal. (Read Out
Gradient)
 Spatial Locating (Encoding) signal sepanjang sumbu memanjang dari
Anatomi objek yang diinginkan.
Pada gbr Axial : Gradient Coil Y akan melakukan Frequency Encode

Pada gbr Coronal : Gradient Coil Z akan melakukan Frequency Encode

Pada gbr Sagital : Gradient Coil Z akan melakukan Frequency Encode

*Freq Encod pada Kepala (Brain),

(Freq Encod akan berbeda pada organ yang lainnya)


Phase Encoding
Phase Encoding

 Proses menemukan signal MR dengan mengubah fase berputar dalam


satu dimensi dengan gradient magnet pulsa sepanjang dimensi setelah
akuisisi signal.
 Phase Encoding Gradient akan ON :
Pada saat sebelum aplikasi 180° pada Spin Echo
 Diantara ecitation dan pengumpulan signal pada Gradient Echo.

 Phase Encoding Gradient akan mempengaruhi sumbu pendek citra, yang


biasanya sumbu pendek dari Anatomi objek yang diinginkan.
Pada gbr Axial : Gradient Coil X akan melakukan Phase Encode
Pada gbr Coronal : Gradient Coil Y akan melakukan Phase Encode
Pada gbr Sagital : Gradient Coil X akan melakukan Phase Encode
Frequency dan Phase Encoding
Gradient
 Ampiltudo Frequency Encoding Gradient dan Phase Encoding Gradient
menentukan dua dimensi dari Field of View.

 Pemilihan arah FE atau PE

 Pemilihan arah Frequency Encoding / Phase Encoding berdasarkan pengurangan


artefak dan waktu pencitraan.

 Flow/Motion artifact dan wrap-arround (aliasing) artifact disebarkan dalam arah


Phase Encoding.

 Dimensi anatomi terpendek  Phase Encoding direction


Phase Enc. in AP direction Phase Enc. L-R direction Wrap around in PE direction
Pada Kepala (Brain)
GRADIENT GRADIENT GRADIENT
SELECTION PHASE FREQUENCY
ENCODING ENCODING

AXIAL Z Y X
(F-H) (A-P) (R-L)

SAGITAL X Z Y
(R-L) (F-H) (A-P)

CORONAL Y Z X
(A-P) (F-H) (R-L)
MRI Image Production
 Produksi gambar dimulai dengan proses pembentukan proton dimana
muatan listrik pada medan magnet akan memindahkan proton. Jumlah
proton yang berpindah dan kecepatannya dipengaruhi kekuatan medan
magnet yang ada. Inti hidrogen (proton tunggal) yang memiliki muatan
listrik positif lebih kecil dari medan magnet akan berputar. Dalam hal ini air
adalah sumber terbesar dari proton diikuti oleh lemak.

 Jumlah spin dalam medan magnet yang berhubungan dengan kekuatan


medan magnet
0,5 T 3 proton keluar dari 2.000.000
1,0 T 6 proton keluar dari 2.000.000
1.5 T 9 proton keluar dari 2.000.000
 Sinyal dari kelebihan proton akan digunakan untuk menghasilkan gambar MR.
Peningkatan SNR akan sebanding dengan peningkatan lapangan scanner.
Frekuensi presesi akan berbanding lurus dengan kekuatan medan magnet yang
didefinisikan oleh persamaan Larmor. Pada MRI klinis dengan kuat medan magnet
0,5-2,0 T, frekuensi resonansi (Lanmor) untuk Hidrogen 2.13 sampai 85 MHz. Pulsa RF
yang cocok dengan frekuensi Larmor dari proton diterapkan pada sudut 90 derajat
ke medan magnet. Proton beresonansi dan menyerap energi dari pulsa RF.
Misalignment terjadi pada keadaan energi yang lebih tinggi. Sudut misalignment
dikendalikan oleh pulsa RF

 Bila pulsa RF dimatikan, proton menyetel kembali. Energi yang dihasilkan


dinyatakan sebagai sinyal RF. Energy ini akan diproses oleh komputer untuk
kemudian menjadi gambar. Spin echo akan mengulangi pulsa RF berkali-kali pada
90 derajat dan 180 derajat. Dengan interval antara dua TR 90 derajat pulsa dan
waktu TE (echo time) antara pulsa dan deteksi sinyal yang dipancarkan kembali.
Quality and Hardware
Quality Image
 Untuk menghasilkan gambaran MRI dengan kualitas yang optimal, maka
harus memperhitungkan hal-hal yang berkaitan dengan teknik
penggambaran MRI, antara lain :

a) Persiapan pasien serta teknik pemeriksaan pasien yang baik. Gerakan akan
mengaburkan anatomi organ sehingga mengurangi motion juga menjadi cara
terbaik untuk meningkatkan kualitas gambar.

b) Kontras yang sesuai dengan tujuan pemeriksaanya.


c) Artefak pada gambar, dan cara mengatasinya.
d) Tindakan penyelamatan terhadap keadaan darurat.
Hardware MRI
 Kualitas hardwareyour MRI scanner critically affects its imaging scanner
MRI secara kritis mempengaruhi kecepatan imaging speed and image
qualidan kualitas gambar. Berikut garis besar instrumen MRI :

1. Sistem komputer

2. Sistem magnet

3. Sistem radio frequensi (RF Coil)

4. Sistem pencitraan

5. Sistem pencetakan citra


Sistem komputer
1. Display (Monitor)
2. Input Device (Keyboard & Mouse)
3. Console Unit ( Host Computer, Archival Device, Hardware Scaner Control)
4. Audio Communication
Sistem magnet

Shielding Coil

Shim Coil

Main Coil

Gradient Coil

RF Body Coil
Sistem radio frequensi (RF Coil)
 Radio Frekuensi terdapat 2 type :
1. Koil Pemancar
2. Koil Penerima

 Beberarapa jenis koil RF


Koil Volume (Volume Coil)
Koil Permukaan (Surface Coil)
Koil Linier
Koil Kuadran
Phase Array Coil
Sistem Pencitraan
Sistem Pencetakan Citra
 Ada dua cara untuk gambar lebih cepat:

1. menggunakan kuat gradient

2. menggunakan pencitraan paralel methods


Kesimpulan
 Pemanfatan MRI untuk memeriksa bagian dalam tubuh sangat efektif karena
memi-liki kemampuan membuat citra potongan coronal, sagital, aksial tanpa
banyak memanipulasi tubuh pasien dan diagnosa dapat ditegakkan dengan
lebih detail dan akurat.

 Pesawat MRI menggunakan efek medan magnet dalam membuat citra


potongan tubuh, sehingga tidak menimbulkan efek radiasi pengion seperti
penggunaan pesawat sinar X.

 Gambaran yang dihasilkan oleh pesawat MRI tergantung pada ketepatan


pemilihan parameternya.