Anda di halaman 1dari 41

DETEKSI DINI

GANGGUAN JIWA
ENCEP SUPRIANDI
PENDA
HULUAN

CONTOH
PREVALENSI
DETEKSI DINI

OUTLINE
STRATEGI
LAYANAN PENYEBAB
KESWA

JENIS GJ &
PENGOBATAN
PENDAHULUAN
SEHAT dan SEHAT JIWA
Kesehatan a state of complete
physical, mental and social-being
and not merely the abscence of
disease or infirnity”. ( WHO, 2001)
UU 36/2009 KESEHATAN

Keadaan sejahtera dari badan, mental, sosial dan


spiritual, yang memungkinkan seseorang produktif
secara sosial dan ekonomi
Orang yang sehat jiwanya ; merasa
sehat dan bahagia, mampu
menghadapi tantangan hidup, dan
dapat menerima orang lain apa
adanya  tidak apriori dan bersikap
negatif terhadap orang/kelompok
lain yang berbeda.
PREVALENSI (ANGKA KESAKITAN)
Prevalensi Gangguan Jiwa Berat*), 2013

3.0
Jawa Barat ( Riskesdas 2013 ) 2.7
2.5 Estimasi Gangguan Jiwa Berat 72.000 orang

2.0
1.7
Per 1000

1.5

1.0 0.7

0.5

0.0

Aceh
Jabar

Bali
Sumut

Maluku
Sultra

Babel
Jambi
Riau

NTT

Jatim

DIY
Kep.Riau

Malut
Kalbar

Sumsel
Banten

Jateng
DKI

Kaltim
Kalsel
Sulbar

Pabar

Sulsel
Kalteng

Papua
Sulut

Bengkulu
Sulteng
Sumbar
NTB
Indonesia
Gorontalo
Lampung

*) psikosis/skizofrenia : semua umur

Website: www.litbang.depkes.go.id
Jawa Barat ( Riskesdas 2013 )
Estimasi yang pernah dipasung = 10.010 orang

Proporsi RT dengan ART Mengalami Gangguan Jiwa Berat


yang Pernah Dipasung*) menurut Tempat Tinggal, 2013

20.0 18.2

16.0 14.3

12.0 10.7

8.0

4.0

0.0
Kota Desa Indonesia

*) Keterangan tambahan lihat Penjelasan umum


Jawa Barat ( Riskesdas 2013 )
Gangguan Mental Emosional ( Cemas dan Depresi )
2.811.600 orang
14.0

11.6
Prevalensi Gangguan Mental Emosional*)
12.0

10.0
Umur 15+ tahun menurut Provinsi, 2013
8.0
6.0
6.0

4.0

2.0 1.2

0.0
Lampung

Malut
Sumut

Jatim
Bengkulu

Kalteng

Sumbar

Sulut

NTB

NTT
Bali
Kaltim
Sultra

Banten

DIY
Jabar

Sulteng
Kalsel

Indonesia

Sulsel
Kep.Riau
Riau

Sumsel

DKI

Aceh
Jambi

Kalbar

Maluku

Sulbar
Papua
Pabar

Jateng

Babel
Gorontalo
*) berdasarkan Self Reporting Questionnaire-20, dengan Nilai Batas Pisah (Cut off Point) ≥ 6
PENYEBAB
PENYEBAB

1. Biologik (Gangguan fisik otak)

2. Psiko-edukatif (Kepribadian, Pikiran)

3. Sosio-kultur (Lingkungan)

4. Spriritual (agama)
Keswa Sebagai Akar Masalah
1. Macam-macam Kekerasan
2. Gangguan Penggunaan Napza.
3. Kekerasaan dalam rumah tangga,
4. Eksploitasi anak / Trafficking dan
5. Bermacam gangguan pikiran dan gangguan perilaku, malah
kurang diperhatikan.
GAMBARAN KESWA
DAN LAYANAN KESWA
Gambaran Keswa Jawa Barat
Sumber : Riskesdas Tahun 2013

• Prevalensi Gangguan Jiwa Berat (


Psikotik/ Schizofrenia ) sebesar 1,6
perseribu dari penduduk semua umur
atau sebanyak 72.000 orang.

• Dari jumlah ini 10,7 % di perkotaan dan


18,2 % di pedesaan atau 7.200 orang
mendapat perlakuan salah yaitu
pemasungan dan gelandangan psikotik.
Akses Layanan Kesehatan Keswa
 Penderita Gangguan Jiwa Berat, yang
mengakses layanan kesehatan hanya
kurang dari 10 % saja :
• Puskesmas ( 5 %)
• Rumah Sakit (4,2 %)
• Rehab Sosial (1,2 %)

 Sisanya 90 % tersebar di tengah


masyarakat, tidak terdeteksi, tidak
terdiagnosis, tidak diobati, kemudian
menjadi kronik dan mendapat perlakuan
salah ( pemasungan atau gelandangan
psikotik).
Akses terhadap layanan keswa
1. Penanganan kasus gangguan jiwa berat hanya
menjangkau 2,7 % sasaran, sedang untuk
cemas dan depresi 0,1 % berarti akses
masyarakat terhadap pelayanan kesehatan
jiwa masih rendah

2. Pasien yang berobat ke Puskesmas : 74,2 %


memiliki gangguan somatisasi, 11 %
gangguan depresi dan 6,7 % gangguan cemas
( belum terdeteksi )
LPPM FK UNPAD 2013
Treatment Gap

Orang dengan
Gangguan Jiwa
Berat (72.000 org)

Pengobatan Alternatif
?
Puskesmas
< Diobati RSU
10% RSJ
Sisanya ?
Populasi
Orang dengan tidak
Gangguan Jiwa Berat terjangkau

? “Treatment Gap”
(Kesenjangan
< Pengobatan)
10 %
Dampak Treatment Gap
1. Gangguan Jiwa jumlahnya bertambah
banyak,
2. Sebagian menjadi kronis dan kambuhan
3. Terjadi penurunan fungsi sosial, ekonomi
dan produktivitas yang pada akhirnya
akan menjadi beban yang berat bagi
keluarga, masyarakat dan negara.
JENIS GANGGUAN JIWA
Diagnosis
1. Skizofrenia
2. Gangguan Bipolar
3. Gangguan psikotik
4. Gangguan Depresi
5. Gangguan Kecemasan
6. Gangguan Obsesif-Kompulsif
7. Gangg Mental dan Perilaku akibat PGZ
8. DLL
 Emosi tak terkendali, irritable,
 Insomnia (Gangg tidur)
marah,argumntif, tidak lagi “selamat”
 Hipertensi – jantung
 Agresifitas, kecurigaan
 Kencing Manis
 Gastritis (Maag)  Cemas dan depresi

 Obesitas (Kegemukan)  Introvert, menarik diri


 Kanker  Pribadi tidak matang
 Penyalahguna Zat
 Persaingan tak sehat.
 Accident (KLL, dll)
 Bencana, konflik sosial
 Suicide (Bunuh diri)
 Suddendeath (mati
mendadak)
DEPRESI DAN PENYAKIT FISIK
Hipertensi > 29%

Infark jantung > 22%

Epilepsi > 30%

Stroke > to 31%

Diabetes > 27%

Kanker > 33%

HIV/AIDS > 44%

TBC > 46%

Populasi > 10%


Umum WHO, 2003,
PENGOBATAN
PENATALAKSANAAN

1. Psikofarmaka : obat, Elektro Konvulsif Terapi

2. Psikoterapi / Konseling

3. Terapi Perilaku Kognitif

4. Terapi Keluarga – Sosial

5. REHABILITASI
STRATEGI LAYANAN KESWA
• Semestinya semua orang dengan
gangguan jiwa berat, termasuk
pemasungan dan gelandangan
psikotik mendapatkan pelayanan
medik maupun psikososial.
• Layanan medik dilayani mulai dari
Puskesmas sampai ke RS Jiwa.
• Layanan psikososial berupa
rehabilitasi, termasuk bengkel kerja
dan tempat penampungan.
• 70 - 75 % masalah kesehatan jiwa di
masyarakat sebenarnya dapat
diselesaikan di Puskesmas.

• Hasil penelitian menunjukkan bahwa


sebagian besar Puskesmas sebagai
PPK 1 dan RSUD sebagai PPK 2
belum memiliki layanan untuk
gangguan jiwa
Strategi memenuhi kebutuhan layanan keswa

• Revitalisasi layanan jiwa di puskesmas


• Penyediaan layanan jiwa di RSU
• Meningkatkan layanan tersier di RSJ
• Meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM
• Promotif dan preventif
• Dukungan perundang-undangan
• Dukungan lintas sektor
• Pemberdayaan masyarakat
Cakupan Kegiatan
RSJ RSU Puskesmas Masyarakat

Standard nasional Masuk dalam Awareness:


/international
Alokasi TT
program prioritas psiko-edukasi

Pemberdayaan Pemberdayaan
Fungsi rujukan:
Layanan Poli Jiwa petugas kelompok
Subspesialisasi
(Kompetensi) masyarakat

Layanan Ibu/anak
Pusat pendidikan Pemberdayaan
dengan masalah Penyediaan obat
dan Pendidikan keluarga/cares
kejiwaan

Pembinaan Keterlibatan
Liaison Psikiatri Kunjungan rumah
wilayah sektor bisnis
CONTOH DETEKSI DINI
Deteksi Gangguan Jiwa
Jawab” YA” bila sesuai , “TIDAK” bila tak sesuai dengan keadaan Saudara :

1. Sakit kepala ?

2. Kurang / tidak ada nafsu makan ?

3. Tidur tidak nyenyak ?

4. Mudah takut ?

5. Cemas, tegang dan khawatir ?


6. Tangan gemetar ?

7. Pencernaan terganggu ?

8. Sulit berpikir jernih ?

9. Tidak merasa bahagia ?

10.Lebih sering nangis dari biasa ?


11. Sulit menikmati kegiatan ?

12. Sulit mengambil keputusan ?

13. Pekerjaan sehari-hari tergangu ?

14. Tak mampu berperan aktif dalam kehidupan


sehari-hari ?

15. Kehilangan minat atau gairah ?


16.Merasa tidak berharga ?

17.Berpikir untuk bunuh diri ?

18.Selalu merasa lelah ?

19.Merasa tidak nyaman di perut ?

20.Mudah lelah ?
Skoring

Bila jumlah jawaban YA sebanyak 5 atau lebih pada pertanyaan 1–


20

sebaiknya menghubungi fasilitas psikiatri untuk dapat bantuan


21. Minum alkohol / zat terlarang ?

22.Merasa ada yg akan mencelakai ?

23.Merasa ada yg ganggu pikiran ?

24.Mendengar suara yg tak terdengar orang lain

25.Mimpi tentang musibah atau seakan

mengalami kembali ?
26. Menghindari kegiatan, tempat, orang atau pikiran
yang mengingatkan musibah?

27. Kurang tertarik terhadap teman – teman atau


kegiatan sehari-hari ?

28. Merasa sedih dalam situasi yang mengingatkan


musibah tersebut ?

29. Sulit menghayati atau mengeluarkan perasaan ?


Skoring

Bila jumlah jawaban YA lebih dari 1

pada pertanyaan 21-29

maka sebaiknya menghubung fasilitas psikiatri untuk mendapatkan


bantuan.
TERIMA KASIH