Anda di halaman 1dari 48

• Laporan WHO 2015 menyebutkan bahwa

pneumonia merupakan penyebab kematian


anak sebesar 16% pada anak dibawah 5
tahun. Pneumonia dapat disebabkan oleh
virus, bakteri dan jamur. Pneumonia dapat
dicegah dengan imunisasi, nutrisi yang
adekuat dan memperhatikan pengaruh
lingkungan. Pneumonia yang disebabkan oleh
bakteri dapat diberikan terapi antibiotik.
Etiologi
PRESENTASI KASUS
PNEUMONIA

Pembimbing : dr. Edy Kurniawan, Sp.P


Elva Oktiana Rahmi
1102012075

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT PARU


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
RSUD ARJAWINANGUN
3
2017
Pendahuluan

Laporan WHO 2015 menyebutkan bahwa


pneumonia merupakan penyebab kematian anak sebesar
16% pada anak dibawah 5 tahun.
Pneumonia adalah peradangan yang mengenai
parenkim paru, distal dari bronkiolus terminalis yang
mencakup bronkiolus respiratorius, dan alveoli.
Pneumonia dapat menimbulkan konsolidasi
jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat.
Secara kinis pneumonia didefinisikan sebagai suatu
peradangan paru yang disebabkan oleh mikroorganisme
(bakteri, virus, jamur, parasit).
Definisi

Secara kinis pneumonia didefinisikan


sebagai suatu peradangan paru yang disebabkan
oleh mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, parasit).
Pneumonia yang disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosis tidak termasuk. Sedangkan peradangan
paru yang disebabkan oleh nonmikroorganisme
(bahan kimia, radiasi, aspirasi bahan toksik, obat-
obatan dan lain-lain) disebut pneumonitis.
Epidemiologi

UNICEF memperkirakan bahwa 3 juta anak di


dunia meninggal karena penyakit pneumonia setiap tahun.
Kasus pneumonia di negara berkembang tidak
hanya lebih sering didapatkan tetapi juga lebih berat dan
banyak menimbulkan kematian pada anak. Insiden
puncak pada umur 1-5 tahun dan menurun dengan
bertambahnya usia anak.
Mortalitas diakibatkan oleh bakteremia oleh
karena Streptococcus pneumoniae dan Staphylococcus
aureus, tetapi di negara berkembang juga berkaitan
dengan malnutrisi dan kurangnya akses perawatan.
Di Indonesia berdasarkan hasil Riset Kesehatan
Dasar (Riskesdas) tahun 2007, menunjukkan, prevalensi
nasional ISPA: 25,5%, angka kesakitan ( morbiditas )
pneumonia pada bayi: 2,2%, balita: 3%, angka kematian (
mortalitas ) pada bayi 23,8% dan balita 15,5%. 5
Etiologi
Etiologi Pneumonia
• Pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai
macam mikroorganisme yaitu bakteri, virus,
jamur, protozoa, yang sebagian besar
disebabkan oleh bakteri. Penyebab tersering
pneumonia adalah bakteri gram positif,
Streptococcus pneumonia.
Mikroorganisme penyebab pneumonia
 Communityy-acquired acute pneumonia

Streptococcus pneumonia
Haemophilus influenzae
Moraxella catarrhalis
Staphylococcus aureus
Legionella pneumophila
Enterobacteriaceae (Klebsiella pneumoniae) and Pseudomonas spp.
 Community-acquired atypical pneumonia
Mycoplasma pneumonia
Chlamydia spp. (C. pneumoniae, C. psittaci, C. trachomatis)
Coxiella burnetii (Q fever)
Viruses: respiratory syncytial virus, parainfluenza virus (children); influenza A and B (adults); adenovirus
(military recruits); SARS virus
 Hospital-acquired pneumonia
Gram-negative rods, Enterobacteriaceae (Klebsiella spp., Serratia marcescens, Escherichia coli) and
Pseudomonas spp.
Staphylococcus aureus (usually penicillin resistant)
Klasifikasi Pneumonia
• Menurut sifatnya
a. Pneumonia primer
b. Pneumonia sekunder
• Berdasarkan Kuman penyebab
a. Pneumonia bakterial / tipikal
b. Pneumonia atipikal
c. Pneumonia virus
d. Pneumonia jamur
• Berdasarkan klinis dan epidemiologi
a. Pneumonia komuniti
b. Pneumonia nosokomial
c. Pneumonia aspirasi
• Berdasarkan lokasi infeksi
a. Pneumonia lobaris
b. Bronko pneumonia (Pneumonia lobularis)
c. Pneumonia interstisial
Patofisiologi Pneumonia
Diagnosis Pneumonia
• Gejala Mayor:
1.Batuk
2.Sputum produktif
3.Demam (suhu>38 0c)

• Gejala Minor:
1. sesak napas
2. nyeri dada
3. konsolidasi paru pada pemeriksaan fisik
4. jumlah leukosit >12.000/L
Anamnesis PF PP
Gambaran Radiologis
• Perselubungan/konsolidasi homogen atau
inhomogen sesuai dengan lobus atau segment
paru secara anantomis.
• Air Bronchogram Sign (terperangkapnya udara
pada bronkus karena tidanya pertukaran udara
pada alveolus).
• Silhouette sign (+) : bermanfaat untuk
menentukan letak lesi paru ; batas lesi dengan
jantung hilang, berarti lesi tersebut
berdampingan dengan jantung atau di lobus
medius kanan.
Pemeriksaan Bakteriologis
• Bahan berasal dari sputum, darah, aspirasi
nasotrakeal/transtrakeal, torakosintesis,
bronkoskopi, atau biopsi. Kuman yang
predominan pada sputum disertai PMN yang
kemungkinan penyebab infeksi
Diagnosis Banding Pneumonia
• Tuberculosis Paru (TB)
suatu penyakit infeksi menular yang
disebabkan oleh M. Tuberculosis.
• B.Atelektasis
Atelektasis adalah istilah yang berarti
pengembangan paru yang tidak sempurna dan
menyiratkan arti bahwa alveolus pada bagian
paru yang terserang tidak mengandung udara
dan kolaps.
• Efusi Pleura
Memberi gambaran yang mirip dengan
pneumonia, tanpa air bronchogram. Terdapat
penambahan volume sehingga terjadi
pendorongan jantung, trakea, dan mediastinum
kearah yang sehat.
Kategori I Usia penderita -S.pneumonia - Klaritromisin - Siprofloksasin 2x500mg
< 65 tahun -M.pneumonia 2x250 mg atau Ofloksasin 2x400mg
-Penyakit Penyerta -C.pneumonia - -Azitromisin - Levofloksasin 1x500mg
(-) -H.influenzae 1x500mg atau Moxifloxacin 1x400mg
-Dapat berobat -Legionale sp - Rositromisin - Doksisiklin 2x100mg
jalan -S.aureus 2x150 mg atau
-M,tuberculosis 1x300 mg
-Batang Gram (-)
Kategori II -Usia penderita > 65 -S.pneumonia -Sepalospporin -Makrolid
tahun H.influenzae Batang generasi 2 -Levofloksasin
- Peny. Penyerta (+) gram(-) Aerob -Trimetroprim -Gatifloksasin
-Dapat berobat S.aures M.catarrhalis +Kotrimoksazol -Moxyfloksasin
jalan Legionalle sp -Betalaktam
Kategori III -Pneumonia berat. -S.pneumoniae - Sefalosporin Generasi -Piperasilin + tazobaktam
- Perlu dirawat di -H.influenzae 2 atau 3 -Sulferason
RS,tapi tidak perlu -Polimikroba termasuk - Betalaktam +
di ICU Aerob Penghambat
-Batang Gram (-) Betalaktamase
-Legionalla sp +makrolid
-S.aureus
M.pneumoniae
Kategori IV -Pneumonia berat -S.pneumonia - Sefalosporin -Carbapenem/
-Perlu dirawat di -Legionella sp generasi 3 (anti meropenem
ICU -Batang Gram (-) aerob pseudomonas) + -Vankomicin
-M.pneumonia makrolid -Linesolid
-Virus - Sefalosporin -Teikoplanin
-H.influenzae generasi 4
-M.tuberculosis - Sefalosporin
-Jamur endemic generasi 3 +
kuinolon
• Terapi Suportif Umum
Terapi O2 untuk mencapai PaO2 80-100
mmHg atau saturasi 95-96% berdasarkan
pemeriksaan analisis gas darah.
• Terapi Sulih (switch therapy)
Masa perawatan di rumah sakit sebaiknya
dipersingkat dengan perubahan obat suntik ke
oral dilanjutkan dengan berobat jalan, hal ini
untuk mengurangi biaya perawatan dan
mencegah infeksi nosokomial.
Komplikasi Pneumonia

• Efusi pleura dan empiema


• Komplikasi sistemik
• Hipoksemia akibat gangguan difusi
• Pneumonia kronik yang dapat terjadi bila
pneumonia berlangsung lebih dari 4-6 minggu
PNEUMONIA KOMUNITI

• Pneumonia komuniti adalah pneumonia yang


didapat di masyarakat. Pneumonia komuniti
ini merupakan masalah kesehatan yang
menyebabkan angka kematian tinggi di dunia
Etiologi
• Klebsiella pneumoniae 45,18%
• Streptococcus pneumoniae 14,04%
• Streptococcus viridans 9,21%
Diagnosis Pneumonia Komuniti

• Diagnosis pasti pneumonia komuniti ditegakkan


jika pada foto toraks terdapat infiltrat baru atau
infiltrat progresif ditambah dengan 2 atau lebih
gejala di bawah ini:
Batuk-batuk bertambah
Perubahan karakteristik dahak/purulen
Suhu tubuh > 380C (aksila) /riwayat demam
Pemeriksaan fisis: ditemukan tanda-tanda
konsolidasi, suara napas bronkial dan ronki
Leukosit > 10.000 atau < 4500
Penatalaksanaan pneumonia
komuniti
Pencegahan

• Pola hidup sehat termasuk tidak merokok


• Vaksinasi (vaksin pneumokokal dan vaksin
influenza)
Prognosis Pneumonia
• Prognosis pada orang tua dan anak kurang baik, karena itu
perlu perawatan di RS kecuali bila penyakitnya ringan.
Orang dewasa (<60 tahun) dapat berobat jalan kecuali:
1. Bila terdapat penyakit paru kronik
2. PN Meliputi banyak lobus
3. Disertai gambaran klinis yang berkaitan dengan
mortalitas yang tinggi yaitu:
4. Usia > 60 tahun.
5. Dijumpai adanya gejala pada saat masuk
perawatan RS: frekuensi napas > 30 x/m, tekanan
diastolik < 60 mmHg , leukosit abnormal (<4.500
>30.000)
KESIMPULAN

• Pneumonia adalah salah satu penyakit akibat infeksi parenkim paru yang
dapat menyerang segala usia. Pneumonia paling banyak disebabkan oleh
infeksi bakteri Streptococcus pneumonia dengan gejala yang muncul
seperti demam, batuk berdahak, sesak napas, dan terkadang disertai nyeri
dada.
• Pemeriksaan radiologi, dalam hal ini foto thorax konvensional dan CT Scan
menjadi pemeriksaan yang sangat penting pada pneumonia
• Penatalaksanaan medis pada pneumonia adalah pemberian antibiotik
yang sesuai dengan kuman penyebab pneumonia disamping terapi
supportif lainnya.
• Prognosis pneumonia secara umum baik jika mendapat terapi antibiotik
yang adekuat, faktor predisposisi pasien dan ada tidaknya komplikasi yang
menyertai.
LAPORAN KASUS

• IDENTITAS PASIEN
• Nama : Ny.M
• Umur : 66 tahun.
• Jenis kelamin : Perempuan
• Alamat : Bakung Kidul
• Agama : Islam.
• Status : kawin
• Suku : jawa
• Pendidikan :-
• Pekerjaan : ibu rumah tangga
• RM : 871872
• MRS tanggal : 5-10-2016
• Tanggal Pemeriksaan : 5-10-2016
ANAMNESIS
• Keluhan Utama : Sesak nafas

• Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke IGD RSUD Arjawinangun tanggal 5
Oktober 2016 pukul 10.00 WIB dengan dengan keluhan utama
sesak nafas sejak 3 hari SMRS, sesak nafas dirasakan setiap
hari, sesak dirasa bertambah berat saat malam hari menjelang
tidur. Sesak tidak disertai dengan suara mengi saat bernafas.
Sesak nafas diperingan dengan tidur menggunakan 2 bantal
atau duduk. Pasien mengaku sesak nafas sering muncul bila
pasien melakukan aktivitas ringan. Pasien juga mengalami
demam selama 3 hari sebelum masuk rumah sakit, demam
dirasakan saat malam hari disertai keringat dingin. Keadaan
pasien juga disertai dengan batuk berdahak warna putih
kental tanpa darah.
• Riwayat Penyakit Dahulu
Sesak nafas dan batuk berdahak yang dialami pasien
sudah ada sejak 5 tahun lalu. Pasien memiliki riwayat
asma dan bila saat serangan biasa mengonsumsi
bronkodilator oral. Tidak didapatkan adanya riwayat
alergi pada pasien dan keluarga pasien. Pasien sudah
pernah berobat dan dirawat dirumah sakit.
Riwayat tekanan darah tinggi (+), Batu ginjal (-), DM (-),
penyakit hati kronis (-) asthma (+).
• Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada anggota keluarga pasien yang mengalami
keluhan yang sama
Riwayat tekanan darah tinggi (-), kencing manis (-),
asthma (-), keganasan (-), TBC ( - ).

• Riwayat Pengobatan
Riwayat alergi obat (-)

• Riwayat Pribadi dan Sosial


Pasien tinggal di rumah bersama suami dan anaknya.
Pasien bekerja sebagai ibu rumah tangga
PEMERIKSAAN FISIK

• Keadaan Umum
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Tekanan Darah : 140/70 mmHg.
Nadi : 130 kali per menit, reguler.
Pernafasan : 26 kali per menit,
thorakoabdominal.
Suhu : 36,1o C
• Status Lokalis
• Kepala :
– Bentuk dan ukuran : normal.
– Rambut : hitam dan tidak mudah rontok.
– Udema (-).
• Mata :
– Exopthalmus (-/-).
– Ptosis (-/-).
– Nystagmus (-/-).
– Strabismus (-/-).
• Telinga :
– Bentuk : normal simetris antara kiri dan kanan.
– Lubang telinga : normal, secret (-/-).
• Hidung :
– Simetris, deviasi septum (-/-).
– Napas cuping hidung (-/-).
• Mulut :
– Tidak ada kelainan
• Leher :
– Tidak ada kelainan
• Thorax
Pulmo :
• Inspeksi :
– Bentuk: simetris.
– Ukuran: normal, barrel chest (-)
– Pergerakan dinding dada : simetris, tidak ada pergerakan dada tertinggal
• Palpasi :
– Pergerakan dinding dada : simetris
– Fremitus taktil :
Lobus superior : D/S sama
Lobus medius : D baik
Lobus inferior : D/S sama
– Fremitus Vocal :
Lobus superior : D/S sama
Lobus medius : D baik
Lobus inferior : D/S sama
• Perkusi :
–Sonor (+/+).
–Nyeri ketok (-/-)
• Auskultasi :
*suara tambahan wheezing pada seluruh
lapang paru
*suara tambahan ronkhi pada torak
belakang kanan kiri bagian atas
• Cor :
Inspeksi: Iktus cordis tidak tampak.
Palpasi : Iktus cordis teraba ICS V linea midklavikula
sinistra, thriil (-).
Perkusi : - batas kanan jantung : ICS II linea
parasternal dextra.
-batas kiri jantung : ICS V linea
midklavikula sinistra.
Auskultasi : S1S2 tunggal, regular, murmur (-),
gallop (-).
RESUME

• Perempuan 66 tahun mengalami sesak nafas


sejak 3 hari SMRS disertai demam sejak 3 hari
berturut-turut saat malam hari dan keringat
malam, keadaan pasien juga disertai batuk
berdahak tanpa darah, pada pemeriksaan fisik
didapatkan adanya bunyi tambahan wheezing
pada seluruh lapang paru, dan ronkhi pada torak
posterior dextra dan sinistra bagian atas. Pasien
memiliki riwayat asma. Namun tidak ada riwayat
alergi baik pada pasien maupun keluarga pasien.
Jenis Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Rujukan
Darah Lengkap :
Hemoglobin
PEMERIKSAAN PENUNJANG
14.7 gr/dL 11.5-16.5
Hematokrit 42.1 % 35.0-49.0
Lekosit 15.34 10^3/uL 4000-11000
Trombosit 431 10^3/uL 150000-450000
Eritrosit 4.69 mm3 4.4-6.0
Index Eritrosit :
MCV 89.8 fl 79-99
MCH 31.3 pg 27-31
MCHC 34.9 g/dL 33-37
RDW 12.5 fL 11.5-14.5
MPV 7.7 fL 6.7-9.6
PDW 34.5 % 39.3-64.7
Hitung Jenis (DIFF) :

Eosinofil 0.7 % 0-3


Basofil 1.0 % 0-1
Segmen 91.3 % 50-70
Limfosit 4.0 % 20-40
Monosit 2.5 % 2-8
Stab 0.5 % 35-47
Kimia Klinik
Glukosa sewaktu 112 mg/dL 70-140
Ureum 33.7 mg/dL 10-45
Kreatinin 0.95 mg/dL 0.50-1.10
PEMERIKSAAN RADIOLOGI

Thorax :
Corakan broncovaskuler kasar di paracardial bilateral, air
broncogram (+). Sinus costophrenicus lancip.
Diafragma licin.
Cor : CTR<0.50. Aorta tak tampak kelainan.
Sistema tulang yang tervisualisasi intact.
Kesan :
Bronchopneumonia duplex
• DIAGNOSIS KERJA
Bronchopneumonia

• PENATALAKSANAAN
Medikamentosa:
• Levofloxacin 1x750 mg.
• Ranitidin 2x1
• Nebumeptin/8jam
• Ambroxol 3x1
• Konsul jantung
• Non Medikamentosa:
Tirah baring.
Diet : Makan teratur.
Pasien dan keluarga diberi edukasi
mengenai penyakit yang diderita pasien dan
penatalaksanaannya serta pencegahannya.
• Usulan pemeriksaan :
- Darah Lengkap
- Rontgen Thorax

• Rencana Monitoring :
Evaluasi kesadaran, tanda vital, keluhan, dan DL.

• PROGNOSA
Quo Ad Vitam : Dubia Ad Bonam
Quo Ad Functionam : Dubia ad Bonam
Quo Ad Sanationam : Dubia ad Bonam
ANALISA KASUS
• Daftar Masalah
Bronkopneumonia

• Pengkajian
Bronkopneumonia
• Anamnesis : pasien sesak nafas sejak 3 hari SMRS disertai demam selama
3 hari berturut-turut dan batuk berdahak mukoid.
• Pemeriksaan fisik : ditemukannya wheezing pada seluruh lapang paru dan
ronkhi pada bagian torax posterior dextra sinistra bagian atas.
• Pemeriksaan penunjang :
Gambaran radiologis : foto torax menunjukkan adanya infiltrat serta air
bronchogram (+)
Gambaran laboratorium : terdapat peningkatan leukosit, dan segmen
• Asessment : Bronkopneumonia

Terapi : Farmakologi
Levofloxacin 1x750 mg.
Ranitidin 2x1
Nebumeptin/8jam
Ambroxol 3x 1
Konsul jantung

• Non Farmakologi
Konseling dan edukasi pada keluarga dan
pasien
DAFTAR PUSTAKA
• Dahlan, Z. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Pulmonologi. Pusat Penerbitan Departemen
Ilmu Penyakit Dalam Fakultas kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.
• Price SA, Wilson LM. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Edisi 6,
Volume 2: Penerbit EGC. Jakarta.
• Soedarsono. 2004. Buku Ajar Ilmu Penyakit Paru. Bagian Ilmu Penyakit Paru FK UNAIR.
Surabaya
• Aru W, Bambang, Idrus A, Marcellus, Siti S, ed. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Edisi 4.
Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen IPD RSCM; 2007.
• Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Pedoman Diagnosis dan penatalaksanaan Pneumonia
Komuniti.2003
• Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Pedoman Diagnosis dan penatalaksanaan Pneumonia
Nosokomial.2003
• Barlett JG, Dowell SF, Mondell LA, File TM, Mushor DM, Fine MJ. Practice guidelines for
management community-acquiredd pneumonia in adults. Clin infect Dis 2000; 31: 347-82
• Mandell LA, IDSA/ATS consensus guidelines on the management of community-acquired
pneumonia in adults, CID 2007;44:S27
• Menendez R, Treatment failure in community-acquired pneumonia, 007;132:1348
• Niederman MS, Recent advanc es in community-acquired pneumonia inpatient and
outpatient, Chest 2007;131;1205