Anda di halaman 1dari 14

PERTEMUAN KE -15

JARINGAN KONSERVASI SUMBER DAYA GENETIK

A. JARINGAN PLASMA NUTFAH DUNIA


(JARINGAN KONSERVASI INTERNASIONAL SUMBERDAYA GENETIK)
 Koleksi besar yang diprakarsai oleh Vavilov di "All-Union Institute of plant Industry",
St. Petersburg, memiliki lebih dari 250.000 aksesi yang dikoleksi selama perjalanan
panjang ekspedisi Vavilov. Di USA, suatu koleksi terdiri dari 400.000 aksesi tanaman-
tanaman dan hortikultura telah dilakukan dan dikelola oleh USDA.
 IBPGR (International Board for Plant Genetic Resources) merupakan organisasi dunia
di bawah PBB, yang merupakan jaringan konservasi plasma nutfah dunia, yang
bertujuan untuk mempromosikan dan mengkoordinasi upaya negara-negara di dunia
untuk mengkonservasi plasma nutfah tanaman utama dunia, serta membantu lembaga-
lembaga yang sesuai untuk meningkatkan kemampuan koleksi dan evaluasi koleksi-
koleksi plasma nutfah. IBPGR berhasil menggiring negara-negara di dunia untuk
menghasilkan kesepakan sumber hayati di. dunia, dimana studi yang dilakukan oleh
IBGPR secara besar-besaran, yaitu contohnya studi keanekaragaman genetik dari
tanasman tebu. Di Indonesia daerah-daerah pusat keanekaragaman tebu terdapat di
Sulawesi, Maluku, dan Irian Jaya. Dengan program-program IBPGR maka
produktifivas gula di dunia dapat ditingkatkan.
• Produktivitas kedelai di AS pada tahun 40-an tidak meningkat, walaupun segala
teknologi sudah diterapkan dan ternyata yang perlu diperbaiki adalah genetiknya,
karena kedelai tersebut hanya berasal dari 5 tetua, sehingga sangat sempit variabilitas
genetiknya.
• Jaringan plasma nutfah dunia di dalam lembaga-lembaga "International Agricultural
Research Center" melakukan koleksi, pemeliharaan, dan evaluasi plasma nutfah untuk
tanaman-tanaman spesifik, seperti :
a) International Rice Research Institute (IRRI), Los Banos, Philippine: mengkoleksi
lebih dari 70.000 aksesi padi.
b) International Crops Research Institute fro the Semi-Arid Tropics (ICRISAT),
Patancheru, India : Sorghum, Pearl millet, Chickpea, Pigeonpea, dan Peanut
(groundnut)
c) International Center of Tropical Agriculture (ICTA), Cali, Columbia: Dry bean,
Cassava, Tropical forages
d) Asian Vegetable Research and Development Center (AVRDC), Shanhua, Taiwan:
Mungbean, Soybean, Tomato, Chinese cabbage, pepper
e) International Institute of Tropical Agriculture (IITA), Ibadan, Nigeria: Cowpea,
Cassava, Sweet potato, Yam
f) International Potato Center {IPC), Lima, Peru: Potato, Sweet Potato
g) International Center for Agricultural Research in Dry Areas (ICARDA), Aleppo,
Syria: Wheat, Barley, Board bean, Lentils.
B. UNDANG-UNDANG DAN PERATURAN PEMERINTAH YANG
TERKAIT DENGAN UPAYA PELESTARIAN PLASMA NUTFAH
• UU dan PP yang terkait dengan upaya pelestarian plasma nutfah:
a) UU RI No. 12 tahun 1992 tentangg sistem budidaya pertanian
b) UU RI No. 23 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup
c) PP RI No. 44 tahun 1995 tentang perbenihan tanaman tanaman berinduk
dari UU No. 12 tahun 1992.
• UU RI No. 12 tahun 1992 tentang sistem budidaya tanaman terdapat pasal
yang menyatakan bahwa petani bebas untuk menanam apa saja dan hal
tersebut dilindungi oleh negara.
• Pemerintah sekarang membuat peraturan yang menuju sustainable
development, yaitu ada beberapa UU yang terkait dengan upaya pelestarian,
salah satunya UU RI tentang Sistem Budidaya Pertanian dan UU RI No. 23
tahun 1997 yang sedang disusun adalah UU tentang Pelestarian
Keanekaragaman Hayati.
• Dalam UU RI No. 12 tahun 1992, Bab I Pasal 1 Butir 2 dinyatakan bahwa
Piasma nutfah adalah substansi yang terdapat dalam kelompok makhluk hidup
dan merupakan sumber sifat keturunan yang dapat dimanfaatkan dan
dikembangkan atau dirakit untuk menciptakan jenis unggul atau kultivar baru.
• Dalam UU RI No. 12 tahun 1992 Bab III Pasal 9 :
a) Butir 2 : pencarian dan pengumpulan plasma nutfah dalam rangka
pemuliaan tanaman dilakukan oleh pemerintah.
b) Butir 3 : kegiatan pencarian dan pengumpulan plasma nutfah sebagaimana
dimaksudkan oleh butir 2 dapat dilakukan oleh perorangan atau badan
hukum berdasarkan izin.
c) Butir 4 : pemerintah melakukan pelestarian plasma nutfah bersama
masyarakat.
d) Butir 5 ketentuan mengenai tata cara pengumpulan dan pencarian plasma
nutfah sebagaimana dalam butir 3,dan 4, diatur lebih lanjut dalam PP No.
44 tahun 1995.
• PP No. 44 tahun 1995 Bab II :
a) Pasal 3 Butir 1 : plasma nutfah dikuasai oleh negara dan dimanfaatkan
untuk sebesar-besar kemakrnuran rakyat, tujuannya bahwa segala
kegiatan yang langsung maupun tidak langsung yang membahayakan
plasma nutfah dilarang.
 Pemerintah membentuk bank plasma nutfah
 mencari tanaman langka untuk dilestarikan
 menetapkan wilayah tertentu sebagai habitat
 membuat kebun koleksi (tempat penyimpanan).
b) Pasal 4 : pencarian dan pengumpulan plasma nutfah dapat dilakukan di luar
atau di dalam habitatnya.
c) Pasal 5 Butir 3 : pencarian dan pengumpulan plasma nutfah hanya dilakukan
untuk kepentingan pemuliaan tanaman.
d) Pasal 6 : pencarian dan pengumpulan plasma nutfah di luar atau di dalam
habitatnya harus dilakukan untuk menjaga lingkungan hidup.
e) Pasal 7 : menteri menentukan populasi tumbuhan yang jumlahnya terbatas.
• UU RI No. 23 tahun 1997 Bab I Pasal 1 :
a) Ayat 1 : lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya,
keadaan dan makhluk hidup
b) Ayat 2 pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk
melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijakan penataan,
pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan dan pengawasan
lingkungan hidup.
c) Ayat 3 : pembangunan yang berkelanjutan dan yang berwawasan lingkungan
hidup adalah upaya sadar dan terencana yang memadukan lingkungan hidup
dan sumber daya
C. PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 44 TAHUN 1995 TENTANG PEMBENIHAN TANAMAN
YANG MENGATUR PLASMA NUTFAH
Pasal 1
Plasma nutfah adalah subtansi yang terdapat dalam kelompok mahluk hidup, dan
merupakan sumber sifat keturunan yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan atau
dirakit untuk menciptakan jenis unggul atau kultivar baru.

Pasal 3
1) Plasma nutfah dikuasai oleh Negara, dan dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat.
2) Segala kegiatan yang langsung atau tidak langsung dapat memusnahkan atau
membahayakan kelestarian plasma nutfah, dilarang.

Pasal 4
1) Pencarian, pengumpulan, dan pelestarian plasma nutfah dapat dilakukan di
dalam dan atau di luar habitatnya
Pasal 5
1) Pemerintah melakukan pencarian, pengumpulan, pemanfaatan, dan atau
peletarian plasma nutfah.
2) Pencarian dan atau pengumpulan plasma nutfah dapat dilakukan perorangan
warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia berdasarkan izin menteri.
3) Pencarian dan atau pengumpulan plasma nutfah sebagaimana plasma nutfah
sebagaimana dimaksud dalam ayat(2), hanya untuk keperluan pemuliaan
tanaman.
4) Pencarian dan atau penjgumpulan plasma nutfah sebagaimanan dimaksud
dalam ayat (1) dan ayat (2), dapat pula dilakukan dalam rangka kerjasama
penelitian dengan pihak asing sesuai, dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
5) Kegiatan pencarian dan atau pengumpulan plasma nutfah tumbuhan yang
dilindungi harus terlebih dahulu mendapat izin dari Menteri yang membidangi
tumbuhan yang dilindungi
6) Ketentuan lebih lanjut mengenai perizinan sebagaimana dimaksud dalam ayat
(2) diatur oleh Menteri.
Pasal 6
1) Pencarian dan atau pengumpulan plasma nutfah di dalam atau di luar habitatnya
harus dilakukan dengan menjaga kelestarian plasma nutfah dan lingkungan
hidup.
2) Dalam melaksanakan kegiatan pencarian dan atau pengumpulan plasma nutfah
harus didampingi oleh petugas yang ditunjuk Menteri.
3) Hasil pencarian dan atau pengumpulan plasma nutfah, dilaporkan dan
diserahkan sebagian kepada Menteri yang bertanggung jawab di bidang
perbenihan tanaman.
4) Untuk keperluan pelestarian plasma nutfah hasil pencarian dan atau
pengumpulan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3), Pemerintah membentuk
Bank Plasma Nutfah.
5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaporan dan penyerahan serta Bank Plasma
Nutfah sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dan ayat (4), diatur oleh Menteri.

Pasal 7
1) Untuk kepentingan pelestarian plasma nutfah, Menteri menetapkan jenis
tumbuhan populasinya terbatas.
Pasal 8
1) Pemerintah melaksanakan langkah-langkah pelestarian plasma nutfah yang
populasi tumbuhannya terbatas, dan menggandakannya di berbagai tempat yang
agroklimatnya sesuai.
2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengaduan plasma nutfah sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1), diatur oleh Menteri.

Pasal 9
1) Untuk kepentingan pelestarian plasma nutfah, Pemerintah memberikan
penandaan.
2) Setiap orang wajib menjaga dan mengamankann plasma nutfah yang telah
diberi tanda sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penandaan plasma nutfah sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1), diatur oleh Menteri.
Pasal 10
1) Untuk kepentingan pelestarian plasma nutfah tertentu, Menteri dengan
persetujuan Presiden menetapkan wilayah tertentu sebagai habitatnya.
2) Perubahan peruntukan wilayah habitat plasma nutfah sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1), ditetapkan oleh Menteri dengan persetujuan Presiden.
3) Perubahan peruntukan wilayah habitat plasma nutfah sebagaimanan dimaksud
dalam ayat (2) tidak dapat dilakukan, sesuai bagi plasma nutfah tersebut
4) Pihak yang berkepentingan dengan perubahan wilayah habitat plasma nutfah
sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), harus menyediakahn wilayah habitat
yang sesuai dan memindahkann plasma nutfah ke wilayah dimaksud di baawah
pengawan Menteri.

Pasal 11
1) Pelestarian plasma nutfah di luar habitatnya dilakukan dalamm bentuk kebun
koleksi dan atau tempat penyimpanan.
2) Kebun koleksi dan atau tempat penyimpanan sebagaimanan dimaksud dalam
ayat (1) dapat diselenggarakan oleh perorangan, badan hukum atau Pemerintah.
1) Kebun koleksi dan atau tempat penyimpanan plasma nutfah yang
diselenggarakan oleh perseorangan dan atau badan hukum wajib didaftarkan
pada Menteri.
2) Apabila Kebun koleksi dan atau tempat penyimpanann plasma nutfah yang
diselenggarakan perorangan atau badan hukum akan diubah peruntukannya,
harus dilaprokan kepada Menteri paling lambat enam bulan sebelumnya.
3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pendaftaran dan pelaporan
sebagaimana dimaksudi dalam ayat (3) dan ayat (4) diatur oleh Menteri.

Pasal 12
1) Untuk keperluan pemuliaan tanaman, Pemerintah dapat memanfaatkan plasma
nutfah yang ada pada kebun koleksi dan atau tempat penyimpanan milik
perorangan atau badan hukum dengan memberikan imbalan yang wajar.
2) Apabila dalam kebun koleksi dan atau tempat penyimpanan milik perorangan
atau badan hukum plasma nutfah yang populasi tumbuhannya terbatas,
Pemerintah dapat memanfaatkannya untuk kepentingan pengadaan tanpa
memberikan imbalan.
Pasal 13
1) Kebun koleksi dan atau tempat penyimpanan plasma nutfah yang
diselenggarakan oleh Pemerintah, ditetapkan oleh Menteri.
2) Perubahan peruntukan kebun koleksi dan atau tempat penyimpanan plasma
nutfah sebagaimana dimaksud dalamk ayat (1), ditetapkan oleh Menteri.
3) Dengan memperhatikan ketentuan Pasal 10, Menteri dapat menetapkan kebun
koleksi yang diselenggarakan oleh Pemerintah sebagai wilayah habitat plasma
nutfah.

Pasal 14
1) Pengeluaran plasma nutfah dari wilayah negara Republik Indonesia hanya
untuk keperluan penelitian dalam rangka pemuliaan tanaman dan dilakukan
secara tukar menukar plasma nutfah.
2) Menteri menetapkan jenis tanaman yang plasma nutfahnya dapat dikeluarkan
dari wilayah negara Republik Indonesia.
3) Pengeluaran plasma nutfah sebagaimanan dimaksud dalam ayat (1) dilakukan
oleh Menteri.
4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengeluaran tukar menukar plasma nutfah
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur oleh Menteri.