Anda di halaman 1dari 43

TUJUAN :

1. Menurunkan mikrofilaria rate menjadi < 1%

2. Menurunkan kepadatan rata-rata mikrofilaria

SASARAN :
Seluruh penduduk yang tinggal di daerah endemis
filariasis, kecuali bila ada kondisi kesehatan yang
memerlukan penundaan.
► Salah satu strategi utama eliminasi filariasis
 pemutusan rantai penularan

► Untuk mematikan semua mikrofilaria yang ada


dalam darah setiap penduduk dalam waktu yang
bersamaan  rantai penularan putus

► Dilaksanakan di daerah endemis filariasis (Mf


rate > 1%)

► Unit pelaksanaan (IU)  Kabupaten/Kota


 Semua penduduk di daerah endemis filariasis
 Pengobatan dpt ditunda sementara bagi :
1. Anak berusia < 2 tahun
2. Ibu hamil
3. Penderita ggn fs ginjal
4. Penderita ggn fungsi hati (gagal hati kronik, akut)
5. Penderita epilepsi
6. Sedang sakit berat
7. Penderita kronis filariasis dalam serangan akut
8. Anak dengan marasmus dan atau kwasiorkor
9. Penduduk usia lanjut (≥ 75 tahun)
 DIETHYL CARBAMAZINE CITRATE (DEC)

 ALBENDAZOLE

 OBAT REAKSI PENGOBATAN


 Paracetamol
 Antasida
 CTM
 Prednison tablet 5 mg
 Deksametason 0,5 mg (tablet
& injeksi)
 Adrenalin injeksi
 Amoksisilin
Albendazole 400 mg
Diethylcarbamazine 100 mg
STRATEGI PENGOBATAN
FILARIASIS DAN KECACINGAN

Daerah POMP Filariasis Daerah Non LF


Kelompok Umur
Prev : >20% - <50% > 20% > 50%

2X 2X
Balita
integrasi dengan vit A

Anak Usia Sekolah (7-12 th) 1X 2X


POMP Filariasis
Anak Pra Sekolah (5-6 th) integrasi dgn UKS & PMTAS

1X 2X
Wanita Usia Subur (15 - 39 thn)
integrasi dgn TT sblm menikah

Ibu Hamil low priority low priority low priority low priority
1 ekor cacing
menurunkan 3,75 point IQ
(WHO 2005)
CACING GELANG
( Ascaris lumbricoides )

CACING CAMBUK
KECACINGAN ( Tricuris trichiura )

CACING TAMBANG
Ankylostoma Duodenale
Necator Americanus

Termasuk : Soil Transmitted Helminthiasis


 Dosis : DEC 6 mg/kgBB, Albendazole 400 mg
semua umur, Paracetamol 10 mg/Kg BB sekali
pemberian
 Cara : diberikan sekali setahun selama minimal
5 tahun berturut-turut
 Perhitungan dosis obat berdasarkan umur.
UMUR DEC (100 mg) Abendazole (400 mg)
(Tahun) Tablet Tablet

2-5 1 1

6 - 14 2 1

> 14 3 1
1. Advokasi dan Sosialisasi
 Di tingkat Kabupaten/Kota,
 Kecamatan/puskesmas,
 Desa
 Media massa dll

2. Koordinasi di Kabupaten/Kota  Puskesmas, LP, LS

3. Koordinasi di Puskesmas  PKK, DKM, TOMA, TOGA

4. Perhitungan kebutuhan sumber daya (Tenaga pelaksana,


obat, biaya dll)
a. Bahan & alat (kartu pengobatan, form pelaporan pengobatan,
Form sensus, form pendataan kasus kronis, media penyuluhan,
alat tulis)
b. Obat DEC, Albendazol, Paracetamol, Obat reaksi pengobatan :
Jumlah kebutuhan sesuai dg jumlah sasaran
5. Pelatihan tenaga pelaksanan ( Kader dan Supervisor)
6. Pendataan sasaran
 Kegiatan
 Memberikan info kpd masy ttg tempat, waktu dll mengenai
filariasis dan POMP filariasis
 Pendataan sasaran/ penduduk dan mengisi kartu pengobatan
 Seleksi penduduk yg ditunda pengobatannya
 Pendataan kasus kronis filariasis

7. Rapat-rapat persiapan
8. Pengadaan dan distribusi logistik (obat, bahan KIE)
1. Pencanangan, Pelaksanaan dan Pemantauan
a. Pelaksana
TPE/kader dg pengawasan petugas Puskesmas di pos-pos pengobatan
atau kunjungan dari rumah ke rumah

b. Kegiatan
 Menyiapkan pos pengobatan, obat, kartu pengobatan dan air minum
 Mengundang penduduk utk datang ke pos
 Memberikan obat & minum obat di depan TPE
 Mendatangi rumah penduduk yg tdk datang ke pos
 Mencatat jenis reaksi pengobatan dan melaporkan kpd petugas
Puskesmas
 Membuat laporan

2. Evaluasi
 Sosialisasikan kpd masyarakat pentingnya minum
obat fil dan kemungkinan reaksi pengobatan.
 Seleksi cermat penduduk sasaran.
 Sosialisasikan RS rujukan kpd masyarakat.
 Dokter dan tenaga kesehatan harus ada &
terjangkau dlm 5 hari ssdh pengobatan.
 Stok obat utk ttlksn kejadian ikutan dipastikan
ada & cukup.
 Minum obat filariasis ssdh makan dan didepan
TPE.
a. Sediaan : 100 mg DEC
b. Ciri :
- Bundar datar
- Penandaan DEB 100
& INF
- Hijau muda
- Pahit
- Tidak berbau
c. Indikasi
Drug of choice filariasis.
1. Terhadap Mikrofilaria, yaitu :
- Mematikan mikrofilaria.
2. Terhadap Makrofilaria, yaitu :
- Mematikan makrofilaria
- menghambat reproduksi makrofilaria.

Absorbsi & Ekskresi DEC


- Absorbsi cepat di saluran cerna.
- Diekskresi dalam 48 jam mlli urin.
a. Sediaan : Tablet salut mengandung
400 mg albendazole.
b. Ciri Tablet :
- Bundar
- Penandaan ALB 400 & INF
- Cembung
- Putih
- Pahit
c. Indikasi :
Meningkatkan efek DEC dalam
membunuh mikrofilaria
Mekanisme Kerja Albendazole

1. Meningkatkan efek DEC dlm mematikan


mikrofilaria.
2. Melemahkan otot makrofilaria.
3. Sebagai obat cacing usus (Cacing gelang, kremi,
cambuk dan tambang).

Absorbsi & Ekskresi DEC


- Absorbsi cepat di saluran cerna.
- Diekskresi dalam 48 jam mlli urin.
DEC (tablet Albendazole (tablet
Umur (tahun)
100 mg) 400 mg)

2-5 1 1

6-14 2 1

≥ 14 3 1
CARA PENYIMPANAN OBAT

 Suhu dibawah 30 °.
 Dalam keadaan kering dan tidak di tempat
yang lembab.
 Terlindung dari Sinar Matahari.
 Waktu penyimpanan di gudang lapangan
maksimal 1 tahun 4 bulan, bila lewat waktu
tersebut obat tidak boleh digunakan.
 Jangan digunakan setelah lewat tanggal
kadaluarsa.
CARA MINUM OBAT

 Minum obat sesudah makan,


(beritahu pasien kemungkinan
reaksi obat yang dapat terjadi).
 Obat diminum di depan TPE
Kejadian Ikutan Pasca POMP Filariasis

1. Kejadian ikutan terhadap hasil pengobatan


(matinya makroflaria & mikrofilaria).

2. Kejadian ikutan yg tdk diinginkan.


Gejala Umum Pada 3 Sakit kepala, pusing,
(respon imun, hari demam, mual, muntah,
matinya pertama nafsu mkn turun,nyeri otot,
mikroflaria) nyeri sendi,lemas

Gejala Lokal 1-3 Limfadenitis, limfangitis,


(respon imun, minggu adenlimfangitis, funikulitis,
matinya epididimitis, orkitis,
makrofilaria) orkalgia,abses, ulkus,
limfedema.
Ringan Demam, pusing,sakit kepala, nyeri otot, nyeri
sendi,lemas, mual, muntah, nafsu makan
berkurang, keluar cacing.
Sedang Diare, eritema, urtikaria,limfadenitis,
limfangitis, adenolimfangitis, nodul subkutan,
abses, orkitis, orkalgia, epididimitis,
funukulitis.
Berat Asma bronkial, angioedema, ikterus,
kolestasis, serangan epistaksis.

Mengancam Syok anafilaktik, spasme larings


nyawa
Klasifikasi Gejala Penanggulangan
Ringan Demam, pusing, sakit Istirahatkan.
kepala, nyeri otot, nyeri Berikan paracetamol (10
sensi, lemas. mg/KgBB/kali) setiap 4 jam.
Bila dlm 3 hr demam ttp
berlanjut rujuk PKM

Mual, muntah, nafsu makan Istirahatkan.


berkurang. Berikan minum air hangat.
Bila gejala tdk berkurang
berikan antasida ssi dosis.
Berikan obat anti muntah
bila perlu.

Keluar cacing. Berikan penjelasan bahwa


kejadian tsb tdk berbahaya
bahkan menguntungkan.
KLASIFIKASI GEJALA PENANGGULANGAN

Sedang Diare Nilai derajat dehidrasi :


1.Tanpa dehidrasi  banyak
minum, bila perlu berikan oralit .
2.Dehidrasi ringan  berikan
oralit.
3.Dehidrasi sedang & Berat 
rujuk ke PKM/ RS.

Eritema & Urtikaria Ringan  berikan CTM dan KS


oral.
Bertambah berat  Injeksi KS di
PKM / RS.

Limfadenitis, Kompres daerah meradang &


limfangitis, berikan antibiotik & analgetik.
adenolimfangitis

Nodul subkutan A & antiseptik eksisi nodul 


berikan AB & AG.
Abses A & antiseptik  insisi abses
drainase  AB & AG
Klasifikasi Gejala Penanggulangan

Berat Asma bronkiale, Rujuk RS


angioedema, ikterus,
kolestasis, serangan
epilepsi.

Mengancam nyawa Syok anafilaktik, spasme Rujuk RS


larings.
SURVEILANS KEJADIAN IKUTAN
PASCA POMP FILARIASIS

Tujuan
1. Untuk mengamati, mendeteksi dini, mencatat,
melaporkan serta merespon kasus yang
terjadi dengan cepat dan tepat

2. Mengurangi dampak negatif kasus terhadap :


- Kesehatan individu
- Program filariasis.
Sasaran

Orang yang mendapat dan minum


obat pada saat POMP filariasis
dilaksanakan.
Kasus yang dilaporkan

1. Reaksi ringan (rekapitulasi)


2. Reaksi Sedang (rekapitulasi)
3. Reaksi Berat
4. Reaksi yang mengancam jiwa
Kegiatan :

1. Pencatatan
Seluruh kasus reaksi pengobatan filariasis
(sesui form yang berlaku)

2. Pelaporan kasus
Kasus yang dilaporkan masy atau ptgs 
diduga kasus reaksi pengobatan filariasis
Waktu Pelaporan
(kasus berat/meresahkan masyarakat)

Jenjang Administrasi Kurun Waktu diterimanya


laporan
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota 24 jam dari saat penemuan kasus
Dinas Kesehatan Propinsi 24 – 72 jam dari saat penemuan
kasus
Sub Direktorat Filariasis 24 jam s/d 7 hari dari saat
penemuan kasus
3. Investigasi kasus

adalah pelacakan kasus yang diduga


merupakan reaksi pengobatan filariasis

dilakukan oleh :
- Petugas Dinas Kesehatan Kabupaten
- Petugas puskesmas
Kasus yang perlu diinvestigasi

a. Kasus berat / sedang


b. Kasus ringan yang berkelanjutan
c. Kasus yang tidak bisa ditangani
oleh puskesmas/dokter pratek
d. Menimbulkan keresahan
masyarakat/ menjadi masalah
hukum
e. Kasus kematian
SKEMA ALUR PELAPORAN KEJADIAN
IKUTAN POMP FILARIASIS

MENTERI KESEHATAN

DITJEN PP&PL Cq.


KAPFI
Subdit Filariasis &
Schistosomiasis

KOMDA Dinkes Propinsi

Tim Ahli Dinkes Kab/Kota RS

Puskesmas

TPE / Masyarakat
1. Membentuk Komda di prov dan kab/kota
2. Strategi pengobatan :
- Kepadatan penduduk
- Endemisitas
Bertahap dalam 1 bulan dimulai jlh penduduk
padat dan endemis tinggi, memantau 3-5 hari stlh
minum obat
3. Sistim rujukan, disosialisasikan sblm pengobatan
Lanjutan

4. TPE melaksanakan POMP filariasis dibawah


pengawasan petugas Puskesmas. Tenaga kesehatan
lain dpt membantu pelaksanaan POMP filariasis stlh
mendapat pelatihan
5. Supervisi intensif
6. Sosialisasi POMP filariasis, terutama menjelang
pengobatan
 Sistim rujukan harus terbentuk dan disosialisasikan.
 Selama POMP filariasis diawasi dokter dan ada
perawat/bidan.
 Pos jaga 24 jam selama 5 hari ssdh pengobatan.
 Alat transportasi gawat darurat disiapkan.
TERIMA
KASIH