Anda di halaman 1dari 13

Identifikasi Nilai-Nilai dalam

Teks Cerita Sejarah


Pengetahuan Umum
• Teks cerita sejarah mengandung nilai-nilai kehidupan.
• Teks cerita sejarah merupakan gambaran masyarakat masa lampau.
• Nilai-nilai dalam teks cerita sejarah dapat dikonversikan ke bentuk
teks lain , misalnya: teks eksplanasi.
• Untuk dapat mengeksplanasi nilai-nilai dalam teks cerita sejarah ,
Anda harus memahami struktur teks eksplanasi terlebih dahulu.
Teks Eksplanasi
• Teks eksplanasi merupakan teks yang menjelaskan tentang proses terjadinya atau terbentuknya suatu fenomena
alam atau sosial.
• Struktur Teks Eksplanasi:
1. Pernyataan Umum
Berisi tentang penjelasan umum tentang fenomena yang akan dibahas, bisa berupa pengenalan fenomena tersebut
atau penjelasannya. Dalam contoh teks di atas. Penjelasan umum yang dituliskan dalam teks ini berupa gambaran
secara umum tentang tsunami, mengapa tsunami terjadi, dan bagaimana proses peristiwa tsunami tersebut bisa
terjadi.
2. Deretan Penjelas
Berisi tentang penjelasan proses mengapa tsunami bisa terjadi atau tercipta dan bisa terdiri lebih dari satu paragraf.
Deretan penjelas mendeskripsikan dan merincikan penyebab dan akibat dari tsunami.
3. Interpretasi (Opsional)
Teks penutup yang bersifat pilihan, dan bukan keharusan. Teks penutup yang dimaksud adalah, teks yang merupakan
intisari atau kesimpulan dari pernyataan umum dan deretan penjelas. Opsionalnya dapat berupa tanggapan maupun
mengambil kesimpulan atas pernyataan yang ada dalam teks tersebut.
Mengidentifikasi Nilai – Nilai dalam Teks
Cerita Sejarah
Nilai-nilai yang terkandung dalam teks cerita sejarah:
• Nilai Moral
• Nilai Religius
• Nilai Budaya
• Nilai Kepahlawanan
• Nilai Sosial
Nilai Moral
• Menurut KBBI , Moral merupakan ajaran baik buruk yang diterima umum mengenai
perbuatan , sikap , kewajiban , dan sebagainya.

• Nilai moral dapat diketahui dengan membaca teks cerita sejarah dan dapat ditemukan
pada narasi ataupun dialog yang terkandung dalam teks cerita sejarah.

• Contoh Kutipan:
"Hm." Jan Willem van Rijnst menerka-nerka ambisi Danurejo di balik pernyataan yang
kerang-keroh itu. sambil menatap lurus-lurus ke muka Danurejo, .....

Nilai moral dalam kutipan di atas adalah orang yang cerdik akan bertindak dengan
pengetahuan, tetapi yang bebal akan mengumbar kebodohannya.
Nilai Religius
• Nilai religius adalah nilai yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan.

• Nilai agama dalam suatu teks cerita sejarah dapat dilihat dari dialog , isi , atau narasi cerita tersebut.

• Contoh Kutipan:
Terlebih dulu mestilah dibilang, bahwa Jan Willem van Rijnst adalah seorang oportunis bedegong.
Asalnya dari Belanda tenggara. Lahir di Heerlen, daerah Limburg yang seluruh penduduknya Katolik.
Tapi, masya Allah, demi mencari muka pada pemegang kekuasaan di Hindia Belanda, sesuai dengan
agama yang dianut oleh keluarga kerajaan Belanda di Amsterdam sana yang Protestan bergaris kaku
Kalvinisme, maka dia pun lantas gandrung bermain-main menjadi bunglon, membiarkan hatinya terus
bergerak-gerak sebagaimana air di daun talas.

Nilai ketuhanan dalam kutipan di atas adalah van Rijnst adalah seseorang yang bukan taat beragama,
karena van Rijnst beragama Katolik, tetapi ketika di Hindia Belanda, ia mengikuti agama Protestan.
Nilai Budaya
• Nilai Budaya adalah nilai yang berhubungan dengan konsep masalah dasar yang sangat penting
dan bernilai dalam kehidupan manusia , misalnya adat istiadat , kesenian , kepercayaan , dan
upacara adat.

• Nilai budaya biasanya tergambarkan pada peristiwa atau narasi yang terdapat pada teks cerita
sejarah.

• Contoh Kutipan:
"Tuan," kata Danurejo II, menundukkan kepala untuk menunjukkan sikap rendah hati, tapi dengan
meninggikan rasa percaya diri dalam niat hati untuk mengasut. "Barangkali Tuan akan
menganggap enteng perkara ini. Tapi, sebaiknya Tuan ketahui-sebab maaf, Tuan masih baru di
sini-bahwa kami, bangsa Jawa, sangat peka terhadap suara hati, yaitu perasaan dalam tubuh
insani yang sekaligus menjadi wisesa ruhani"

Nilai budaya dalam kutipan di atas adalah bangsa Jawa sangat peka dengan suara hatinya.
Nilai Kepahlawanan
• Nilai kepahlawanan adalah nilai-nilai yang berhubungan dengan perjuangan dalam memperjuangkan sesuatu.

• Contoh Kutipan:
Kepedulian Pangeran Diponegoro terhadap penderitaan rakyatnya atas kedatangan kolonial Belanda yang menyengsarakan
masyarakat Jawa kala itu. Belanda mulai memberlakukan pembebanan pajak kepada rakyat dan membangung tiang pancang
secara sembarangan untuk pembangunan jalan dengan tidak peduli terhadap adat istiadat dengan membangun jalan di lahan
yang dianggap sakral oleh masyarakat.
Pangeran Diponegoro akhirnya terpanggil untuk melakukan perlawanan kepada Belanda dengan menghimpun kekuatan dari
masyarakat sipil. Memanfaatkan karisma yang dimilikinya, Pangeran Diponegoro berhasil meyakinkan masyarakat untuk
bersama-sama melakukan perlawanan yang dipimpin langsung olehnya

Nilai kepahlawanan dalam kutipan diatas adalah pangeran diponegoro peduli terhadap rakyatnya yang mengalami penderitaan
atas kedatangan kolonial Belanda dan melakukan perlawanan terhadap Belanda.
Nilai Sosial
• Nilai Sosial adalah nilai-nilai yang berkaitan dengan tata pergaulan individu dalam masyarakat.

• Contoh Kutipan:
Ketika Danurejo II datang kepadanya, dia menyambut dengan bahasa Melayu yang fasih, sementara pejabat keraton
Yogyakarta yang merupakan musuh dalam selimut dari Sultan Hamengku Buwono II ini lebih suka bercakap bahasa
Jawa. "Sugeng", kata Danurejo II, menundukkan kepala dengan badan yang nyaris bengkok seperti udang rebus. Jan Willem
van Rijnst bergerak menyamping, membuka tangan kanannya, memberi isyarat kepada Danurejo untuk masuk dan duduk.
Agaknya untuk penampilan yang berhubungan dengan bahasa Belanda beschaafdheid yang lebih kurang bermakna 'tata krama
santun sesuai peradaban', alih-alih Jan Willem van Rijnst sangat peduli, dan hal itu merupakan sisi menarik darinya yang jali di
antara sisi-sisi lain yang menyebalkan.

Nilai sosial dari kutipan di atas tampak pada sikap Danurejo II yang tetap menghormatinya dan bersikap dengan ramah dan
sopan kepada van Rijnst meski merupakan musuh dari Sultan Hamengkubuwono II. Begitu pula dengan van Rijnst yang sangat
peduli dengan tata krama dalam menyambut tamunya.
Langkah-Langkah dalam Mengidentifikasi
Nilai-Nilai dalam Teks Cerita Sejarah
1. Membaca cerita dalam teks cerita sejarah secara seksama
2. Menganalisis perbuatan tokoh dalam cerita
3. Menemukan nilai yang terkandung dalam cerita
4. Menyimpulkan nilai yang terkandung dalam cerita dengan bahasa
sendiri.
Mengonversi Nilai-Nilai Teks Cerita Sejarah
Menjadi Teks Eksplanasi
• Menurut KBBI , Konversi berarti perubahan dari satu bentuk ke
bentuk yang lain.
• Kegiatan mengonversi dilakukan tanpa mengubah isi pokok teks.
• Mengonversi teks dapat dilakukan dengan mengubah teks cerita
sejarah menjadi bentuk teks lain , seperti eksplanasi , drama , pantun
, puisi , dll.
Contoh Mengonversi Nilai-Nilai Teks Cerita
Sejarah Menjadi Teks Eksplanasi
“Air Sedang Tinggi , Pak , kita butuh rakit untuk rakit,” ujar Nolly seraya menggenggam kedua tangan Panewu
menyeberangi kali Opak. Tapi Pak kulo ndak punya rakit,” ujar Kretek.
Panewu Kretek penuh hormat.
“Sami-sami , Pak. Kulo pamit,” katanya seraya
“Kalau membuat rakit , butuh waktu berapa lama?” tanya meninggalkan Tjokropranolo. Bersama para tetangga , Panewu
Nolly. Panewu Kretek itu berpikir sejenak. Kretek membagi tugas. Adad yang memotong pohon bambu ,
membuat tali , dan merakit bagian-bagian itu agar cepat
“Mudah-mudahan bias segera dapat bambu yang baik. selesai. Sementara itu , Nolly setelah mendapat restu
Tengah malam nanti sudah bisa dipakai,” jelasnya kemudian. Soedirman , dibantu penduduk setempat , segera
menghancurkan jembatan yang menjadi penghubung utama.
“Kalau begitu tolong bapak buatkan rakit agar kami bias
menyeberang. Lebih baik lagi kalau tidak sampai tengah malam Tengah malam akhirnya rombongan Soedirman berhasil
, agar Belanda tak keburu sampai disini,” jelas Nolly. menyeberangi kali Opak. Panewu Kretek telah mempersiapkan
Panewu Kretek mengangguk. Lalu pamit. Tapi baru beberapa tempat menginap rombongan Soedirman di Balai Desa Grogol.
langkah ia berhenti dan kembali menemui Tjokropanolo.
“Matur nuwun sanget,” ujar Soedirman. Ia
“Matur nuwun sanget , pak. Sampean sudah menggunakan Bahasa halus seperti yang dipergunakan Panewu
mengingatkan kami semua. Dengan putusnya jembatan itu , kepada dirinya.
Belanda akan terhambat dan Sampean bias leluasa membuat
• Pada kutipan teks cerita sejarah tersebut terdapat nilai moral , yakni berterima kasih atas bantuan orang lain. Nilai
tersebut dapat dibuat menjadi teks eksplanasi.

Nilai moral adalah nilai yang berkaitan dengan kebaikan. Salah satu nilai moral yang sudah jarang ditemui
adalah mengucapkan terima kasih atas pertolongan orang lain. Nilai tersebut terkandung dalam kutipan teks
sejarah dalam nover Kupilih Jalan Gerilya: Roman Hidup Panglima Besar Soedirman karya E. Rokajat Asura.
Mengucapkan terima kasih merupakan nilai yang luhur.Namun , kini dalam beberapa keadaan jarang
ditemui orang mengucapkan terima kasih. Keadaan tersebut diperparah dengan pola hidup individualis di kota-
kota besar.
Walaupun sepele , mengucapkan terima kasih perlu dilakukan. Dengan mengucapkan terima kasih, paling
tidak kita sudah menghormati bantuan orang lain. Selain itu , orang yang membantu kita akan merasa senang.
Mengucapkan terima kasih atas bantuan orang lain merupakan fenomena social yang makin jarang kita
temui. Tindakan mengucapkan terima kasih kepada orang lain hendaknya perlu dilestarikan lagi. Dengan
mengucapkan terima kasih kepada orang lain , berarti kita menghargai orang lain.