Anda di halaman 1dari 27

Imbalan Kerja

Dewi R. Praditya
Contoh 19.1 Cuti Berimbalan
PT Haritua memiliki 20 orang karyawan di mana setiap karyawan berhak atas 6 hari cuti berimbalan
dalam 1 tahun. Setiap karyawan yang cuti akan mendapatkan imbalan sebesar Rp 500.000 per hari.
Pada tahun 2015, 15 karyawan sudah mengambil penuh hak cuti berimbalan, sedangkan 5 karyawan
baru mengambil 4 hari. Jika cuti berimbalan tersebut tidak dapat diakumulasikan, maka pada tahun
2015 PT Haritua akan mengakui beban sebesar Rp 55.000.000 yaitu:
15 karyawan x 6 hari = 90 hari
5 karyawan x 4 hari = 20 hari
Jumlah hari = 110 hari
Beban (110 hari @Rp 500.000) = Rp 55.000.000

Tahun Keterangan Debit Kredit

2015 Beban Imbalan Kerja-Cuti Berimbalan 55.000.000

Kas 55.000.000
Jika cuti berimbalan tersebut dapat diakumulasikan, maka pada tahun 2015 PT Haritua akan mengakui
tambahan beban dan liabilitas sebesar Rp 5.000.000 [(5 x 2 hari) x Rp 500.000], sehingga beban yang
diakui tahun 2015 menjadi Rp 60.000.000

Sementara pada bagi laba dan bonus, perusahaan harus mengakui beban sebesar prakiraan pembayaran
bagi laba dan bonus, apabila:
1. Terdapat kewajiban hukum atau kewajiban konstruktif atas pembayaran beban tersebut sebagai akibat
dari peristiwa masa lalu; dan
2. Kewajiban tersebut dapat diestimasi secara andal

Kewajiban konstruktif dapat timbul berdasarkan kebiasaan yang dilakukan perusahaan di masa lalu. Jika
perusahaan tidak mempunyai alternatif realistis lainnya kecuali melakukan pembayaran, maka bagi laba dan
bonus diakui sebagai liabilitas sebesar jumlah yang belum dibayar.
Contoh 19.2 Bagi Laba dan Bonus
PT Haritua memiliki kebiasaan untuk membagi bonus kepada karyawan tiap tahun. Bonus
tersebut biasanya dihitung sebesar 2% dari laba bersih. Bonus atas suatu tahun ditetapkan
pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dalam rangka pengesahan Laporan Keuangan
tahun tersebut. RUPS biasanya dilakukan 4 bulan setelah tanggal pelaporan yaitu bulan April
tahun berikutnya. Prakiraan laba bersih tahun 2015 adalah Rp 100.000.000.000. Kebiasaan PT
Haritua membagi bonus tiap tahun menyebabkan adanya kewajiban konstruktif dan nilai bonus
dapat diestimasi sehingga pada tahun 2015 PT Haritua mengakui beban dan liabilitas sebesar
Rp 2.000.000.000 (2% x Rp 100.000.000.000).

Tahun Keterangan Debit Kredit

2015 Beban Imbalan Kerja-Bonus 2.000.000.000

Biaya yang Masih Harus 2.000.000.000


Dibayar (Liabilitas)
Contoh 19.3 Pesangon
Pada pertengahan tahun 2015 PT Haritua memutuskan melakukan pemutusan kontrak kerja (PKK) atas 10
orang karyawannya dengan jumlah pesangon keseluruhan senilai Rp 500.000.000. Selain itu, PT Haritua
juga menawarkan kepada 5 karyawan lainnya untuk berhenti secara sukarela. Setiap karyawan yang
menerima secara sukarela akan mendapatkan pesangon masing-masing Rp 60.000.000. PKK direncanakan
efektif dilakukan awal tahun 2016, jika seandainya PT Haritua tidak mungkin lagi membatalkan penawaran
PKK tersebut, maka pada akhir tahun 2015 PT Haritua harus mengakui beban walaupun pembayaran pesang
on belum direalisasi. Untuk PKK secara sukarela, PT Haritua mengestimasi 2 dari 5 karyawan akan
menerima tawaran PKK. Jumlah beban yang harus diakui PT Haritua tahun 2015 adalah:

Pesangon 10 karyawan yang diberhentikan= Rp 500.000.000


Pesangon 2 karyawan yang berhenti sukarela (@Rp 60.000.000)= Rp 120.000.000
Jumlah Pesangon Rp 620.000.000

Oleh karena realisasi dari pesangon PKK seluruhnya baru terjadi pada tahun 2016 sedangkan keputusan sud
ah dibuat pada tahun 2015, maka PT Haritua harus mengakui seluruh beban tersebut sebagai liabilitas di Lap
oran Posisi Keuangan, dengan jurnal:
Tahun Keterangan Debit Kredit

2015 Beban Imbalan Kerja-Pesangon 620.000.000

Provisi 620.000.000

Jika sudah ada sebagian pesangon yang terealisasi di tahun 2015, maka liabilitas yang diakui
setelah dikurangi jumlah yang telah dibayar. Pada tahun 2016, ketika terjadi realisasi, maka PT
Haritua akan membuat jurnal
Tahun Keterangan Debit Kredit
2016 Provisi 620.000.000
Kas 620.000.000

Jika estimasi jumlah karyawan yang secara sukarela berhenti berbeda dengan realisasinya, maka
diterapkan secara prospektif pada tahun 2016, sehingga tidak diperlukan penyesuaian atas bagian
yang sudah diakui pada tahun 2015
Contoh 19.4 Kertas Kerja Tahun 2015
PT Haritua memiliki program pascakerja imbalan pasti untuk karyawannya. Pada tahun 2015.
Posisi saldo terkait program tersebut adalah sebagai berikut.
Nilai Kini Kewajiban Imbalan Pasti – Awal 2015 Rp 100.000.000
Nilai Wajar Aset Program – Awal 2015 Rp 100.000.000
Kini Rp 15.000.000
Tingkat Diskonto 10%
Iuran yang dibayarkan perusahaan pada Dana Pensiun Rp 12.000.000
Imbalan pensiun yang dibayarkan oleh Dana Pensiun Rp 8.000.000
Nilai Kini Kewajiban Imbalan Pasti – Akhir 2015 Rp 125.000.000
Nilai Wajar Aset Program – Akhir 2015 Rp 111.000.000
Langkah-langkah dalam kertas kerja pada tahun 2015 (Tabel 19.3 ) adalah sebagaiberikut:

 Memasukkan saldo awal Nilai Kini Kewajiban Imbalan Pasti (NKKIP) dan Nilai Wajar Aset Program
(NWAP). Nilai NKKIP ditulis negatif karena saldo normal kredit, sedangkan NWAP ditulis positif karena
saldo normal debit.

 Hitung posisi bersih kolom memo dengan membandingkan nilai saldo debit dengan kredit. Dalam kasus
ini nilainya sama (seimbang) yaitu sama-sama Rp 100.000.000, maka tidak ada aset atau liabilitas yang
diakui perusahaan di Laporan Posisi Keuangan (Neraca) pada awal tahun. Namun, jika saldo kredit pada
kolom memo lebih besar dibandingkan debit (defisit), maka kelebihan saldo defisit akan diakui sebagai
liabilitas di Laporan Posisi Keuangan (Neraca). Sebaliknya, jika saldo debit pada kolom memo lebih
besar dibandingkan kredit (surplus), maka kelebihan saldo surplus akan diakui sebagai aset di Laporan
Posisi Keuangan (Neraca) (kolom liabilitas bersaldo debit/positif).

 Masukkan Biaya Jasa Kini pada kolom beban (debit) dan pada kolom NKKIP (kredit) sebesar Rp
15.000.000. Biaya Jasa Kini merupakan komponen beban dan karena imbalannya belum dibayarkan
maka diakui sebagai NKKIP.
Lanjutan 1
 Masukkan Biaya Bunga pada kolom beban (debit) dan pada kolom NKKIP (kredit) sebesar Rp 10.000.000. Nilai
tersebut dihitung dari tingkat diskonto dikali posisi NKKIP awal tahun (10% x Rp 100.000.000). Biaya Bunga juga
merupakan komponen beban dan karena imbalannya belum dibayarkan maka diakui sebagai NKKIP.

 Isilah Pendapatan Bunga pada kolom beban (kredit) dan pada kolom NWAP (debit) sebesar Rp 12.000.000. Nilai
tersebut dihitung dari tingkat diskonto dikali posisi NWAP awal tahun (10% x Rp 100.000.000). Pendapatan Bunga
(kredit) mengurangi beban, sehingga bernilai negatif pada kolom beban. Pendapatan Bunga atas investasi aset
program akan diakumulasikan pada aset program sehingga NWAP bertambah (debit).

 Iuran sebesar Rp 12.000.000 dibayar perusahaan, sehingga terjadi kas keluar (kredit). Iuran dibayarkan ke Dana
Pensiun dan diakumulasikan sebagai aset program sehingga NWAP meningkat (debit)

 Imbalan yang dibayarkan oleh Dana Pensiun tahun ini sejumlah Rp 8.000.000. perlu diingat bahwa pembayaran
dilakukan Dana Pensiun sehingga tidak mengurangi kas perusahaan melainkann diambil dari aset program (NWAP).
Pembayaran imbalan menyebaban penurunan aset program (NWAP di kredit) dan kewajiban perusahaan ke
pensiunan berkurang (NKKIP di debit).
Lanjutan 2
 Pada akhir periode, aktuaris akan menyampaikan posisi NKKIP akhir tahun dengan asumsi aktuaria terkini.
Sementara mutasi saldo NKKIP juga sudah dicatat sepanjang tahun sehingga bisa terjadi perbedaan antara saldo
akhir NKKIP menurut pencatatan dengan saldo NKKIP terkini yang dihitung aktuaris. Perbedaan nilai inilah yang
menimbulkan keuntungan (kerugian) aktuarial dalam bentuk penurunan (kenaikan) nilai NKKIP menuju nilai versi
perhitungan terkini dari aktuaris. Berdasarkan pencatatan yang ada, saldo NKKIP akhir adalah Rp
117.000.000(100.000.0000 + 15.000.000 + 10.000.000 – 8.000.000), sedangkan saldo akhir aktuaria adalah Rp
125.000.000. Perbedaan ini menyebabkan peningkatan nilai NKKIP sebesar Rp 8.000.000 (kredit)) dari Rp
117.000.000 menjadi Rp 125.000.000. Peningkatan NKKIP ini menimbulkan kerugian aktuarial karena nilai
kewajban yang meningkat akibat proses pengukuran kembali (remeasurement). Kerugian ini dicatat pada kolom
Penghasilan Komprehensif Lain (debit).

 Pada akhir periode, manajer investasi pada Dana Pensiun akan menyampaikan posisi NWAP akhir tahun berdasarkan
hasil aktual investasi dan nilai wajar terkini. Sementara itu, mutasi saldo NWAP dan hasil ekspektasi juga sudah
dicatat sepanjang tahun sehingga bisa terjadi perbedaan antara saldo akhir NWAP menurut pencatatan dengan saldo
NWAP terkini. Perbedaaan nilai ini juga menimbulkan keuntungan (kerugian) aktuarial dalam bentuk kenaikan
(penurunan) nilai NWAPmenuju nilai versi perhitungan terkini
Lanjutan 3
Berdasarkan pencatatan yang ada, saldo NWAP akhir adalah Rp 114.000.000 (100.000.000 + 10.000.000 +
12.000.000 – 8.000.000), sedangkan saldo akhir menurut manajer investasi adalah Rp 111.000.000. Perbedaan ini
menyebabkan penurunan nilai NWAP sebesar Rp 3.000.000 (kredit) dari Rp 114.000.000 menjadi Rp 111.000.000.
Penurunan NWAP ini menimbulkan kerugian aktuarial karena nilai aset yang menurun akibat proses pengukuran
kembali (remeasurement). Kerugian ini dicatat pada kolom Penghasilan Komprehensif Lain (debit).

 Sama seperti saldo awal, pada saldo akhir kolom memo dihitung posisi bersih dengan membandingkan nilai saldo
debit dengan kredit. Dalam kasus ini posisi kredit bernilai Rp 125.000.000 dan posisi debit sebesar Rp 111.000.000,
sehingga saldo defisit sebesar Rp 14.000.000 akan masuk ke kolom liabilitas. Nilai inilah yang diakui di Laporan
Posisi Keuangan (Neraca) perusahaan pada akhir periode.

 Menghitung saldo akhir pada kelompok Jurnal Umum yaitu dengan menjumlahkan kolom beban senilai Rp
15.000.000 (debit), kolom kas senilai Rp 12.000.000 (kredit), dan kolom penghasilan komprehensid lain tahun
berjalan senilai Rp 11.000.000 (debit). Saldo debit pada penghasilan komprehensif lain mencerminkan kerugian.
Agar jurnal seimbang, maka sisanya Rp 14.000.000 adalah liabilitas (kredit). Dengan demikian kita sudah dapatkan
jurnal yang harus dicatat perusahaan periode ini terkait program imbalan pasti yaitu sebagai berikut.
Lanjutan 4

Keterangan Debit Kredit


Beban Rp 15.000.000
Penghasilan Komprehensif Lain Rp 11.000.000

Kas Rp 12.000.000
Liabilitas Rp 14.000.000

Dengan demikian nilai beban yang diakui pada Laporan Laba Rugi PT Haritua tahun 2015 sebesar Rp 15.000.000.
Nilai ini berbeda dengan program iuran pasti yang mengakui beban hanya sebesar iuran yang jatuh tempo dan
liabilitas yang diakui sebesar tunggakan iuran yang sudah jatuh tempo.

 Melakukan rekonsiliasi atas jumlah liabilitas akhir tahun. Pada pembahasan langkah 10 telah dihasilkan bahwa nilai
liabilitas akhir tahun yang diakui perusahaan adalah Rp 14.000.000. Nilai ini sama dengan nilai Liabilitas dalam
jurnal langkah 11 di atas. Jika nilai liabilitas yang dihasilkan dari defisit pada langkah 10 sama dengan langkah 11,
maka nilai beban dan liabilitas yang diakui perusahaan sudah benar. Hasil lengkap kertas kerja tahun 2015 ada pada
Tabel 19.3.
Tabel 19.3 Kertas Kerja Tahun 2015
JURNAL UMUM MEMO

2015 Beban Kas Penghasilan Liabilitas Nilai Kini Keuntungan &


Komprehensif Kewajiban Kerugian
Lain Imbalan Pasti Aktuarial Belum
Diakui
Saldo Awal (100.000.000) 100.000.000

Biaya Jasa Kini 15.000.000 (15.000.000)

Biaya Bunga 10.000.000 (10.000.000)

Pendapatan Bunga (10.000.000) 10.000.000

Iuran (12.000.000) 12.000.000

Imbalan 8.000.000 (8.000.000)

Remeasurement- 8.000.000 (8.000.000)


Rugi Aktuarial
Remeasurement- 3.000.000 (3.000.000)
Rugi Aktuarial

Jumlah Tahun 15.000.000 (12.000.000) 11.000.000 (14.000.000)


Berjalan
Saldo Akhir 11.000.000 (14.000.000) (125.000.000) 111.000.000
Contoh 19.5 Kertas Kerja Tahun 2016
Pada tahun 2016, PT Haritua memiliki posisi saldo terkait program tersebut adalah sebagai berikut.
Nilai Kini Kewajiban Imbalan Pasti – Awal 2016 Rp 125.000.000
Nilai Wajar Aset Program – Awal 2016 Rp 111.000.000
Penghasilan Komprehensif Lain (debit) – Awal 2016 Rp 11.000.000
Biaya Jasa Kini Rp 17.000.000
Tingkat Diskonto 11%
Iuran yang dibayarkan perusahaan pada Dana Pensiun Rp 13.000.000
Imbalan pensiun yang dibayarkan oleh Dana Pensiun Rp 10.000.000
Nilai Kini Kewajiban Imbalan Pasti – Akhir 2015 Rp 139.750.000
Nilai Wajar Aset Program – Akhir 2015 Rp 138.300.000
Langkah-langkah dalam kertas kerja pada tahun 2016 (Tabel 19.4 ) adalah sebagaiberikut:

 Memasukkan saldo awal Nilai Kini Kewajiban Imbalan Pasti (NKKIP), Nilai Wajar Aset Program (NWAP),
dan Penghasilan Komprehensif Lain. Nilai tersebut diambil dari saldo akhir pada kertas kerja tahun
sebelumnya. Jangan lupa membedakan tanda positif/negatif untuk membedakan debit/kredit.

 Hitung posisi bersih kolom memo dengan membandingkan nilai saldo debit dengan kredit. Dalam
kasus ini posisi kredit bernilai Rp 125.000.000 dan posisi debit sebesar Rp 111.000.000, sehingga
kelebihan saldo kredit sebesar Rp 14.000.000 (defisit) akan masuk ke kolom liabilitas. Nilai inilah yang
diakui di Laporan Posisi Keuangan (Neraca) perusahaan pada awal periode.

 Langkah selanjutnya sama dengan langkah 3-9 pada contoh tahun 2015 berdasarkan data-data tahun
2016.

 Sama seperti saldo awal, pada saldo akhir kolom memo dihitung posisi bersih dengan membandingkan
nilai saldo debit dengan kredit. Dalam kasus ini posisi kredit bernilai Rp 139.750.000 dan posisi debit
sebesar Rp 138.300.000, sehingga defisit sebesar Rp 1.450.000 akan masuk ke kolom liabilitas, dan
nilainya akan diakui di Laporan Posisi Keuangan (Neraca) pada akhir tahun 2016
 Menghitung saldo akhir pada kelompok Jurnal Umum yaitu dengan menjumlahkan kolom beban senilai
Rp 18.540.000 (debit), kolom kas senilai Rp 13.000.000 (kredit), dan kolom Penghasilan Komprehensif
Lain tahun berjalan senilai Rp 18.090.000 (kredit). Agar jurnal menjadi seimbang, maka sisanya Rp
12.550.000 adalah liabilitas (debit). Dengan demikian kita sudah dapatkan jurnal yang harus dicatat
perusahaan tahun 2016 terkait program imbalan pasti yaitu:

Keterangan Debit Kredit


Beban Rp 18.540.000
Liabilitas Rp 12.550.000
Kas Rp 13.000.000
Penghasilan Komprehensif Lain Rp 18.090.000

Nilai beban yang diakui pada Laporan Laba Rugi PT Haritua tahun 2016 adalah sebesar Rp 18.540.000.
Sementara nilai liabilitas turun dibandingkan posisi tahun lalu menjadi Rp 1.450.000
Lanjutan

 Melakukan rekonsiliasi atas jumlah liabilitas akhir tahun. Pada langkah 4 telah dihasilkan bahwa nilai
liabilitas akhir tahun yang diakui perusahaan adalah Rp 1.450.000 yaitu dari selisih NKKIP dan NWAP
akhir tahun. Nilai ini sama dengan nilai liabilitas dalam jurnal pada langkah 5 di atas. Saldo liabilitas
awal tahun Rp 14.000.000 dikurangi jurnal tahun berjalan Rp 12.550.000 sehingga jumlahnya sama
dengan yang dihasilkan pada langkah 4 di atas. Hasil lengkap kertas kerja tahun 2016 dapat dilihat
pada Tabel 19.4
Tabel 19.4 Kertas Kerja Tahun 2016
JURNAL UMUM MEMO

2015 Beban Kas Penghasilan Liabilitas Nilai Kini Keuntungan &


Komprehensif Kewajiban Kerugian
Lain Imbalan Pasti Aktuarial Belum
Diakui
Saldo Awal 11.000.000 (14.000.000) (125.000.000) 111.000.000

Biaya Jasa Kini 17.000.000 (17.000.000)

Biaya Bunga 13.750.000 (13.750.000)

Pendapatan Bunga (12.210.000) 12.210.000

Iuran (13.000.000) 13.000.000

Imbalan 10.000.000 (10.000.000)

Remeasurement- (6.000.000) 6.000.000


Rugi Aktuarial
Remeasurement- (12.090.000) 12.090.000
Rugi Aktuarial

Jumlah Tahun 18.540.000 (13.000.000) (18.090.000) 12.550.000


Berjalan
Saldo Akhir (7.090.000) (1.450.000) (139.750.000) 138.300.000
Contoh 19.6 Kertas Kerja Tahun 2017
Pada tahun 2017, PT Haritua memiliki posisi saldo terkait program tersebut adalah sebagai berikut.
Nilai Kini Kewajiban Imbalan Pasti – Awal 2017 Rp 139.750.000
Nilai Wajar Aset Program – Awal 2017 Rp 138.300.000
Penghasilan Komprehensif Lain (kredit) – Awal 2017 Rp 7.090.000
Biaya Jasa Lalu Rp 60.000.000
Biaya Jasa Kini Rp 16.000.000
Tingkat Diskonto 9%
Iuran yang dibayarkan perusahaan pada Dana Pensiun Rp 30.000.000
Imbalan pensiun yang dibayarkan oleh Dana Pensiun Rp 11.000.000
Nilai Kini Kewajiban Imbalan Pasti – Akhir 2015 Rp 225.000.000
Nilai Wajar Aset Program – Akhir 2015 Rp 175.000.000
Langkah-langkah dalam kertas kerja pada tahun 2017 (Tabel 19.5 ) adalah sebagaiberikut:

 Memasukkan saldo awal Nilai Kini Kewajiban Imbalan Pasti (NKKIP), Nilai Wajar Aset Program (NWAP),
dan Penghasilan Komprehensif Lain.

 Hitung posisi bersih kolom memo dengan membandingkan nilai saldo debit dengan kredit. Dalam
kasus ini posisi kredit bernilai Rp 139.750.000 dan posisi debit sebesar Rp 138.300.000, sehingga
kelebihan saldo kredit sebesar Rp 1.450.000 (defisit) akan masuk ke kolom liabilitas, dan nilainya akan
diakui di Laporan Posisi Keuangan (Neraca) perusahaan pada awal tahun 2017.

 Pada tahun 2017, perusahaan mengakui Biaya Jasa Lalu. Dengan asumsi rencana amendemen sudah
terjadi, maka seluruh Biaya Jasa Lalu diakui pada tahun 2017 sehingga beban (debit) dan menambah
NKKIP (kredit) senilai Rp 60.000.000

 Hitung ulang saldo awal tahun 2017 setelah memperhitungkan Biaya Jasa Lalu.

 Selanjutnya sama dengan langkah pada kertas kerja tahun sebelumnya. Namun untuk menghitung
beban bunga, menggunakan saldo NKKIP setelah memperhitungkan Biaya Jasa Lalu.
Lanjutan 1
 Sama seperti saldo awal, pada saldo akhir kolom memo dihitung posisi bersih dengan membandingkan
nilai saldo debit dengan kredit. Dalam kasus ini posisi kredit bernilai Rp 225.000.000 dan posisi debit
sebesar Rp 175.000.000, sehingga saldo defisit sebesar Rp 50.000.000 akan masuk ke kolom liabilitas,
dan nilainya akan diakui di Laporan Posisi Keuangan (Neraca) perusahaan pada akhir tahun 2017.

 Menghitung saldo akhir pada kelompok Jurnal Umum yaitu dengan menjumlahkan kolom beban senilai
Rp 81.530.500 (debit), kolom kas senilai Rp 30.000.000 (kredit), dan kolom Penghasilan Komprehensif
Lain tahun berjalan senilai Rp 2.980.500 (kredit). Agar jurnal menjadi seimbang, maka sisanya Rp
48.550.000 adalah liabilitas (kredit). Jurnal yang dicatat perusahaan tahun 2017 terkait program
imbalan pasti yaitu sebagai berikut.

Keterangan Debit Kredit


Beban Rp 81.530.500
Kas Rp 13.000.000
Liabilitas Rp 48.550.000
Penghasilan Komprehensif Lain Rp 2.980.500
Lanjutan 2

 Melakukan rekonsiliasi atas jumlah liabilitas akhir tahun. Pada langkah 6 telah dihasilkan bahwa nilai
liabilitas akhir tahun yang diakui perusahaan adalah Rp 50.000.000. Nilai ini harus sama dengan nilai
dalam penjurnalan pada langkah 7 di atas dilakukan. Saldo liabilitas awal tahun Rp 1.450.000 ditambah
jurnal tahun berjalan Rp 48.550.000 sehingga jumlahnya sama dengan yang dihasilkan pada langkah 6 di
atas. Hasil lengkap kertas kerja tahun 2017 adalah sebagai berikut.
Tabel 19.5 Kertas Kerja Tahun 2017
JURNAL UMUM MEMO
Beban Kas Penghasilan Liabilitas Nilai Kini Keuntungan &
2015
Komprehensif Kewajiban Kerugian
Lain Imbalan Pasti Aktuarial Belum
Diakui
Saldo Awal (S.A) (7.090.000) (1.450.000) (139.750.000) 138.300.000
Biaya Jasa Lalu 60.000.000 (60.000.000)
S.A Disesuaikan 60.000.000 (7.090.000) (1.450.000) (199.750.000) 138.300.000
Biaya Jasa Kini 16.000.000 (16.000.000)
Biaya Bunga 17.977.500 (17.977.500)
Pendapatan Bunga (12.447.000) 12.447.000
Iuran (30.000.000) 30.000.000
Imbalan 11.000.000 (11.000.000)
Remeasurement- 2.272.500 (2.272.500)
Rugi Aktuarial
Remeasurement- (5.253.000) 5.253.000
Rugi Aktuarial
Jumlah Tahun 81.530.500 (30.000.000) (2.980.500) 48.550.000
Berjalan
(10.070.500) (50.000.000) (225.000.000) 175.000.000
Saldo Akhir
~ Ketika diri belum mampu
memantaskan, Mendoakan adalah
cara terbaik untuk berjuang tanpa
harus kehilangan. ~

Jazakallah Khairan Katsiiran

Anda mungkin juga menyukai