Anda di halaman 1dari 40

“ L U K A G I G I TA N ”

Pembimbing
dr. Winoto Hardjolukito, Sp.B

K E PA N I T E R A A N K L I N I K I L M U K E D O K T E R A N B E DA H
R S I J C E M PA K A P U T I H
FA K U LTA S K E D O K T E R A N U N I V E R S I TA S M U H A M M A D I YA H J A K A RTA
201
DEFINISI
• Bekas gigit (Bite Mark) dapat berupa luka lecet tekan berbentuk garis lengkung terputus-putus
hematoma atau luka robek dengan tepi rata, luka gigitan umumnya masih baik strukturnya
sampai 3 jam pasca trauma, setelah itu dapat berubah bentuk akibat elastisitas kulit
(Mansjoer,2000).
• Vulnus morsum merupakan luka yang tercabik-cabik yang dapat berupa memar yang disebabkan
oleh gigitan binatang atau manusia (Morison J,2003)
GIGITAN ANJING
• Gigitan anjing biasanya menimbulkan luka tipe crushing karena gigi mereka bulat dan rahang
kuat. Anjing dewasa dapat mengerahkan tekanan 200 pon per inci persegi (psi), dan beberapa
anjing besar mampu mengerahkan tekanan 450 psi. Kekuatan yang ekstrim tersebut dapat
merusak struktur yang lebih dalam seperti tulang, pembuluh darah, tendon, otot, dan saraf.
• Rabies adalah penyakit virus akut yang menyebabkan encephalomyelitis di hampir semua hewan
berdarah panas termasuk manusia. Di daerah perkotaan, penyakit terutama ditularkan oleh
anjing, yang bertanggung jawab untuk sekitar 95% kasus gigitan hewan.
PENYEBAB RABIES

• Virus rabies. Dimana virus rabies ini terdapat dalam air liur hewan yang terinfeksi. Hewan ini
menularkan infeksi kepada hewan lainnya atau manusia melalui gigitan dan kadang melalui jilatan.
• Virus akan berpindah dari tempatnya masuk melalui saraf-saraf menuju ke medulla spinalis dan
otak, dimana mereka berkembang biak. Selanjutnya virus akan berpindah lagi melalui saraf
menuju ke kelenjar liur dan masuk ke dalam air liur.
GEJALA KLINIS
Masa inkubasi rabies 95% antara 3-4 bulan, masa inkubasi bisa bervariasi antara 7 hari hingga 7
tahun, hanya 1% kasus dengan inkubasi 1-7 tahun. Karena lamanya inkubasi kadang-kadang pasien
tidak dapat mengingat kapan terjadinya gigitan.
STADIUM RABIES
(1) Prodromal non spesifik
(2) Ensefalitis akut yang mirip dengan ensefalitis virus lain
(3) Disfungsi pusat batang otak yang mendalam yang menimbulkan gambaran klasik ensefalitis
rabies, dan
(4) Koma rabies yang mendalam.
PENATALAKSANAAN

• Daerah yang digigit dibersihkan dengan sabun, tusukan yang dalam disemprot dengan air sabun.
• Jika luka telah dibersihkan, kepada penderita yang belum pernah mendapatkan imunisasi dengan
vaksin rabies diberkan suntikan immunoglobulin rabies, dimana separuh dari dosisnya disuntikkan
di tempat gigitan.
PENCEGAHAN

• Vaksinasi memberikan perlindungan seumur hidup. Tetapi kadar antibodi akan menurun, sehingga
orang yang berisiko tinggi terhadap pemaparan selanjutnya harus mendapatkan dosis buster
vaksinasi setiap 2 tahun.
GIGITAN ULAR
• Tidak ada cara sederhana untuk mengidentifikasi ular berbisa. Beberapa spesies ular tidak
berbisa dapat tampak menyerupai ular berbisa. Namun, beberapa ular berbisa dapat dikenali
melalui ukuran, bentuk, warna, kebiasaan dan suara yang dikeluarkan saat merasa terancam.
Beberapa ciri ular berbisa adalah bentuk kepala segitiga, ukuran gigi taring kecil, dan pada luka
bekas gigitan terdapat bekas taring.
(A) Ular tidak berbisa tanpa bekas taring, (B) Ular berbisa dengan bekas taring
BISA ULAR
• Berdasarkan sifatnya pada tubuh mangsa, bisa ular dapat dibedakan menjadi bisa hemotoksik,
yaitu bisa yang mempengaruhi jantung dan sistem pembuluh darah; bisa neurotoksik, yaitu
bisa yang mempengaruhi sistem saraf dan otak; dan bisa sitotoksik, yaitu bisa yang hanya
bekerja pada lokasi gigitan.
• Bisa ular terdiri atas bermacam polipeptida, yaitu fospolipase –A, hialuronidase, ATP-ase, 5
nukleotidase, kolin esterase, protease, fosfomonoesterase, RNA-ase dan DNA –ase
• Enzim ini menyebabkan destruksi jaringan lokal, bersifat toksik terhadap saraf, menyebabkan
hemolisis, atau pelepasan histamin sehingga timbul reaksi anafilaksis
• Gejala dan tanda-tanda tersebut antara lain adalah ;
– Tanda gigitan taring (fang marks), nyeri lokal, pendarahan lokal, memar, pembengkakan kelenjar getah
bening, radang, melepuh, infeksi lokal, dan nekrosis jaringan (terutama akibat gigitan ular dari famili
viperidae).
GEJALA KLINIS
Terdapat lima sindrom standar klinik:
• Envenoming Lokal (pembengkakan dll) dengan perdarahan / gangguan pembekuan (Viperidae)
• Envenoming Lokal (dll pembengkakan) dengan gangguan perdarahan / pembekuan, shock atau
cedera akut ginjal dan nuroparalysis,
• Envenoming Lokal (pembengkakan dll) dengan kelumpuhan.
• Kelumpuhan dengan envenoming lokal minimal atau tidak ada, dan
• Kelumpuhan dengan urin berwarna coklat tua dan cedera ginjal akut
• Ular berbisa yg terkenal  ular tanah, bandotan puspa, ular hijau & ular laut
• Ular cobra & ular welang yg bisanya bersifat neurotoksik
• Gejala & tanda :
– Rasa kesemutan
– Lemas
– Mual
– Salivasi
– muntah
PENGGOLONGAN KEPARAHAN RACUN BISA ULAR

Derajat 0 Tidak ada bisa racun


• Satu atau lebih tanda gigitan < 3 cm
• nyeri minimal, dikelilingi edema.
Derajat I Keracunan bisa minimal
• nyeri sedang sampai berat disekitar tanda gigitan dgn
luas 3-12 cm.
• Dikelilingi edema & eritema pd 12 jam pertama setelah
gigitan.
Derajat II Keracunan bisa sedang
• Nyeri hebat pd daerah gigitan seluas 12-25 cm.
• Dikelilingi edema & eritema pd 12 jam pertama setelah
gigitan.
• Mulai tampak tanda-tanda sistemik.
Derajat III Keracunan bisa parah
• Nyeri hebat pd daerah gigitan > 25 cm.
• Dikelilingi edema & eritema pd 12 jam pertama setelah
gigitan.
• Tanda-tanda kelainan sistemik serta petekie generalisata
& ekimosis
Derajat IV Keracunan bisa sangat parah
• Edema lokal dapat meluas sampai ke ekstremitas dan
permukaan ipsi lateral.
• Selalu ada tanda-tanda kelainan sistemik, dapat berupa
gagal ginjal, sekret b’campur darah, koma & kematian.
PENANGANAN
• Bersihkan bagian yang terluka dengan cairan faal atau air steril.
• Untuk efek lokal dianjurkan imobilisasi menggunakan perban katun elastis dengan
lebar + 10 cm, panjang 45 m, yang dibalutkan kuat di sekeliling bagian tubuh yang
tergigit, mulai dari ujung jari kaki sampai bagian yang terdekat dengan gigitan.
Bungkus rapat dengan perban seperti membungkus kaki yang terkilir, tetapi ikatan
jangan terlalu kencang agar aliran darah tidak terganggu.
• Pemberian tindakan pendukung berupa stabilisasi yang meliputi penatalaksanaan
jalan nafas; penatalaksanaan fungsi pernafasan; penatalaksanaan sirkulasi;
penatalaksanaan resusitasi
• Pemberian suntikan antitetanus, atau bila korban pernah mendapatkan toksoid
maka diberikan satu dosis toksoid tetanus.
• Pemberian suntikan penisilin kristal sebanyak 2 juta unit secara intramuskular.
• Pemberian sedasi atau analgesik untuk menghilangkan rasa takut cepat mati/panik.
• Pemberian serum antibisa. Karena bisa ular sebagian besar terdiri atas protein,
maka sifatnya adalah antigenik sehingga dapat dibuat dari serum kuda. Di
Indonesia, antibisa bersifat polivalen, yang mengandung antibodi terhadap
beberapa bisa ular.
PENANGANAN LANJUTAN
• Imunoterapi adalah satu-satunya pengobatan spesifik untuk keracunan gigitan ular.
Antivenom dihasilkan oleh fraksinasi plasma yang diperoleh dari hewan yang
diimunisasi, biasanya kuda.
• Dosis yang direkomendasikan untuk keracunan adalah 10 botol (protokol gigitan
ular India dan protokol WHO Asia Tenggara).
• Manajemen dari gigitan ular berbisa tidak terbatas pada administrasi antivenom.
Dalam kasus keracunan neurotoksik, ventilasi buatan dan manajemen jalan nafas
sangat penting untuk menghindari sesak napas pada pasien dengan kelumpuhan
pernapasan.
GIGITAN SERANGGA
• Gigitan atau sengatan serangga adalah gigitan yang diakibatkan karena serangga
yang menyengat atau menggigit seseorang.
• Biasanya karena digusar atau diganggu. Kebanyakan gigitan dan sengatan digunakan
untuk pertahanan dan untuk melindungi sarang mereka.
• Sebuah gigitan atau sengatan dapat menyuntikkan bisa(racun) yang tersusun dari
protein dan substansi lain yang mungkin memicu reaksi alergi kepada penderita.
GEJALA KLINIS
• Kemerahan
• Bengkak
• Nyeri
• Gatal di sekitar area gigitan atau sengatan
• Reaksi Anafilaksis
TATALAKSANA
• Sungut yang masih menempel dicari & dicabut
• Daerah sengatan dibersihkan dengan air & sabun
• Untuk mengurangi nyeri dapat disuntikkan lidokain; kadang diperlukan sedatif.
• Antibiotik
• Bila terlihat tanda alergi dapat diberikan antihistamin
LEBAH
• Hapus sengat dengan menggeser atau menggoreskan kuku jari Anda di atasnya,
daripada menariknya. Cuci daerah tersebut dan terapkan es untuk mengurangi
bengkak. Jika orang tersebut memiliki alergi terhadap gigitan lebah, mereka dapat
jatuh ke dalam keadaan syok anafilaksis yang mengancam jiwa. Satu-satunya
pengobatan adalah suntikan adrenalin. Mengimobilisasikan orang tersebut,
menerapkan tekanan untuk gigitan dan mencari bantuan medis segera.
LABA-LABA JARING CORONG
• Segera mencari bantuan medis. Perban luka dengan tegas. Gunakan perban kedua
untuk membungkus lengan atau kaki dan bidai anggota badan yang terkena.
Antivenom diperlukan.
LABA-LABA PUNGGUNG MERAH
• Cuci daerah yang terkena dengan baik dan menenangkan rasa sakit dengan
icepacks atau air es. Jangan perban daerah tersebut.
KUTU
• Jika kutu telah membenamkan ke dalam kulit, pegang belakang kepalanya dengan pinset halus,
sedekat mungkin dengan kulit. Tarik perlahan langsung keluar dengan tekanan yang mantap, pastikan
anda menarik seluruh tubuh.
• Setelah penyingkiran kutu, cuci dengan air sabun yang hangat lalu antiseptik ringan.
• Tutup dengan perban selama 24 jam.
• Simpan kutu yang sudah disingkirkan untuk tujuan identifikasi jika kondisi orang itu semakin
memburuk.
• Jangan gunakan spirtus, alkohol atau hal lain untuk membunuh kutu sebelum mengeluarkannya
karena dapat menyebabkan kutu untuk menyuntikkan racun lebih lanjut.
• Dalam kasus kutu pelumpuh di Australia, dibutuhkan antivenom dan mungkin juga suntikan anti
tetanus.
EUROPEAN WASPS
• Bersihkan daerah yang terkena dengan sabun dan air hangat. Gunakan kantong es untuk
mengurangi pembengkakan dan rasa sakit. Gunakan obat penghilang rasa sakit dan krim. Waspada
untuk tanda-tanda anafilaksis, yang merupakan reaksi alergi jenis parah dan mengancam nyawa.
Pembengkakan yang berkepanjangan di lokasi sengatan dapat diredakan dengan antihistamin.
GIGITAN HEWAN LAUT
HIU
• Cedera akibat gigitan hiu sangat jarng terjadi
• Di antara 250 jenis ikan hiu yang terkenal, hanya 27 yang diketahui dapatmenyerang manusia
• Hiu mudah terangsang oleh bau darah atau gerakkan dalam air
• Gigitan hiu berbentuk lengkungan luka akibat semua gigi
• Kematian sering terjadi karena syok akibat perdarahan hebat
TATALAKSANA GIGITAN HIU

• Upaya pertama membebaskan penderita dari serangan dan mencegahnya tenggelam


• Menghentikan perdarahan
• Memerlukan penanganan di rumah sakit
IKAN PARI

• Berbahaya karena sabetan ekornya bergerigi dua baris pada sisi dorsal
• Racun dihasilkan oleh sel sekretoris integument yang menutup alur pada ventolateral yang
biasanya rusak pada waktu duri menancap pada korban
• Bentuk luka berupa tusukan atau laserasi dengan pinggir kebiruan dan berdarah
IKAN SINGA

• Terdiri atas beberapa jenis mengeluarkan racun dari 12-13 sirip dorsal, tiga sirip anal dan
sepasang sirip panggul
• Umumnya nyeri hebat yang tidak sebanding dengan berat lukanya
• Nyeri menjalar mencapai puncak dalam 90 menit
• Gigitan ikan singanberbentuk luka tusuk dengan tepi membengkak berwarna kemerahan
TANDA DAN GEJALA
(AKIBAT IKAN PARI DAN IKAN SINGA)

• Sinkope
• Rasa lemah
• Mual
• Muntah
• Berkeringat
• Fasikulasi
• Kejang otot
• Syok primer dan sekunder (akibat ikan pari)
TATALAKSANA

• Luka dicuci dengan air garam dan robekan kulit yang teracuni dibersihkan
• Luka direndam dalam air panas dengan suhu tertinggi yang tidak menimbulkan luka bakar
karena toksin rusak pada suhu tinggi
• Pembersihan dan penjahitan luka
• Antitetanus (bila diperlukan)
• Kombinasi atrofin dan diazepam
• Respirator
BULU BABI

• Berbahaya karena duri primer maupun duri sekunder yang panjang dan mudah patah jika
disentuh atau diinjak
• Duri sekunder berakhir pada kelenjar racun yang memuntahkan produknya lewat lubang pada
ujung jari.
• Duri yang bergelembung merupakan organ racun
TANDA DAN GEJALA DARI BULU BABI

• Nyeri
• Bengkak
• Mual
• Sinkope
• Bisa ditemukan parestesi sekitar mulut
• Atonia otot muka, bibir, lidah, kelopak mata serta gangguan pernafasan
TATALAKSANA BULU BABI

• Ujung duri yang tertinggal harus dikeluarkan secepat mungkin


• Pengeluaran duri dapat dicoba dengan merendam luka dalam cairan cuka selama 1 jam,
kemudian 30 menit 4 kali/hari untuk 3 hairi berturut-turut.
TERIMA KASIH