Anda di halaman 1dari 11

Anis Setyawati Supiah (PO.62.20.1.17.

317)
Fajar Maulana (PO.62.20.1.17.324)
Karina Ayu Serin (PO.62.20.1.17.331)
Meinia Preti Anjelina (PO.62.20.1.17.337)
Risha Risna Dewi (PO.62.20.1.17.344)
Yoan Agnes Theresia (PO.62.20.1.17.350)
Yuni Monesa (PO.62.20.1.17.352)
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah
peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140
mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90
mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang
waktu lima menit dalam keadaan cukup
istirahat/tenang.
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah
peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140
mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90
mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang
waktu lima menit dalam keadaan cukup
istirahat/tenang.
Kondisi stres dapat meningkatkan tekanan
darah, karena saat seseorang dalam kondisi stress
akan terjadi pengeluaran beberapa hormon yang
dapat meningkatkan penyempitan pembuluh darah,
dan pengeluaran cairan lambung yang berlebihan
yang kemudian berakibat menyebabkan seseorang
mual, nyeri lambung, serta nyeri kepala. Kondisi
stres terus menerus dapat menyebabkan komplikasi
hipertensi.
1) Hipertensi Esensialis ( Hipertensi Primer )
Adalah penyakit hipertensi yang kronis dan
disebabkan oleh arteriosklerosis.

a) Tanda – tanda hipertensi esensialis post partum ,


adalah ;
 Pembesaran jantung
 Faal yang kurang
 Kelainan pada retina ( haemorhagi atau exudat )
 Tensi pemulaan 200 sistolik dan 120 diastolik
 Jika pada kehamilan yang lampau pernah diberati
dengan eklamsi, maka akan berpengaruh pada
hipertensi post partum
b) Gejala hipertensi esensialis post partum,
yaitu:
 Tensi yang naik, yaitu dengan sistolis 30
mmHg dan diastolis 15 mmHg.
 Proteinuria yang hebat.
 Timbulnya odema.
2) Hipertensi kronis / renal ( hipertensi sekunder
)

Adalah suatu kondisi dimana diperlukan


penurunan tekanan darah segera ( tidak selalu
diturunkan dalam batas normal ) untuk
mencegah dan membatasi kerusakan pada organ.
Yang menyebabkan hipertensi renal pada post
partum ini, juga ibu post partum mempunyai
riwayat yang berhubungan dengan kehamilannya,
misalnya; Pre eklamsi atau eklamsi.
1. Peninggian tekanan darah
2. Telinga berdenging
3. Pusing
4. Mata berkunang – kunang
5. Sukar tidur
6. Emosi meningkat ( mudah marah )
7. Adanya proteinurin
8. Odema
1. Tensi yang naik, yaitu dengan sistolis 30
mmHg dan diastolis 15 mmHg.
2. Proteinuria yang hebat
3. Timbulnya odema
4. Pembesaran jantung
5. Faal yang kurang
6. Kelainan pada retina ( haemorhagi atau
exudat )
7. Tensi pemulaan 200 sistolik dan 120
diastolik
 Berdasarkan perjalanan teori, terdapat 2 tahapan
preeklamsia tergantung pada gejala yang timbul.
Tahap pertama bersifat asimtomatik dengan
karakteristik perkembangan abnormal plasenta pada
trimester pertama. Perkembangan abnormal plasenta
terutama angiogenesis mengakibatkan infisuensi
plasenta dan terlepasnya material plasenta memasuki
sirkulasi ibu. Terlepasnya material plasenta
mengakibatkan gambaran klinis pada preeklamsia
tahap 2, yaitu tahap simtomatik. Pada tahap ini
timbul gejala seperti hipertensi, gangguan renal,
proteinuria, dan potensi terjadinya sindroma HELLP,
eklamsia, dan kerusakan end organ lain (Pribadi et
al.,2015). Preeklamsia diperkirakan disebabkan oleh
invasi sitotrofoblas plasenta tidak memadai, diikuti
oleh meluasnya disfungsi endotel maternal
1. Diet garam, mengurangi konsumsi garam.
2. Diet lemak.
3. Menghentikan kebiasaan konsumsi alkohol.
4. Hindari stres.
5. Istirahat yang cukup.
6. Olahraga teratur.